Petunjuk Nabi & Tidak Boleh Menghina Terhadap Penguasa Muslim yang Dzalim Serta Hubungan antara Penguasa dan Rakyat

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
1. Nasehat Bersabar Dibawah Penguasa YangDzolim.

2.Wajibnya Taat & Mendengar Kepada Penguasa Dalam Kondisi Baik Maupun Jelek. Selagi Tidak Memerintahkan Kepada Kemaksiatan

3. Tahun 2019 Ganti Presiden atau.Ganti Kualitas Rakyat. Ini Adalah Slogan Syubhat Kelompok Sesat dakwah ikhwanul muslimin? Agar ikhwan dan akhwat yang sudah ngaji disibukkan dengan hal ganti presiden. Kami Kaum Salaf Sibuk Dakwah dan Amal

Wajibkah Taat Pada Pemimpin? -Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc

Nasehat buat penuntut ilmu yang menyibukkan diri dengan ganti presiden.
Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat Hafizahullah

KEWAJIBAN TAAT KEPADA PEMERINTAH : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Sikap Ahlus Sunnah Kepada Pemimpin Kaum Muslimin – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr WajibnyaMentaati Waliulamr pada Perbuatan Selain Maksiat 01

Wajibnya Mentaati Waliulamr pada Perbuatan Selain Maksiat 02

Bolehkah Mencela Pemimpin Muslim?-Ust. Abdurrahman Thoyyib atau ini

Bagaimana Menasehati Pemimpin Muslim?-Ust. Abdurrahman Thoyyib atau dsini

Disaat Pemimpin Tidak Sesuai Harapan.(Mizan Qudsiyah, Lc)

Kewajiban Rakyat Terhadap Pemimpin(Mizan Qudsiyah, Lc)

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-1)(Mizan Qudsiyah, Lc)

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-2)(Mizan Qudsiyah, Lc)

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-3)(Mizan Qudsiyah, Lc)

===

Hanya Di Indonesia Pemimpin Dihina



Sepengamatan saya di banyak negara demokrasi yg…pernah saya kunjungi, tak ada satupun tempat yg…rakyatnya melecehkan pemimpinnya se-massive di…Indonesia. Tentunya ini opini subjektif, bisa jadi juga…mungkin karena garis edar saya lebih banyak di negara2 maju, kurang piknik ke negara berkembang. Apapun itu, coba silahkan cek dan tunjukkan (if you can) negara mana yg rakyatnya begitu absurd melecehkan pemimpinnya! Coba pikir urusan kalajengking saja, jadi.bahan bullyan, padahal yg pak jokowi ungkapkan tak ada yg aneh berdasarkan fakta.

Presiden naik motor dibuatkan bahan olok2an, bahkan Presiden sholat pun dibuat jadi candaan. Did you know?.Presiden Vladimir Putin pun pernah naik moge ngebut sampai 150mph, atau pernah lihat foto PM Narendra Modi nyapu jalanan bareng warga New Delhi, atau barangkali foto gubernur Denis Coderre dgn seragam.petugas kebersihan masuk gorong-gorong kota Montreal, atau pernah lihat foto Angela Merkel memimpin doa di gereja di Postdam? Pernah dengar ada warga Rusia, India, Jerman atau Canada yg membully mereka dan mjadikan komoditas politik? No!mBullyian pasca kejadian2 semisal hanya ada di Endonesah.

Mengapa itu terjadi … Tingkat pendidikan? Tidak juga,.lha wong banyak provokatornya itu justru dari kalangan terpelajar. Lalu apa alasannya? apalagi kalau bukan mental khawarij, yakni hasad, iri, dan dengki karenanmerasa diri hidup menderita sedangkan paranpemimpinnya bergelimang kemewahan. Itu pula yg dikatakan Imam Hasan al-Basri dlm dialognya dgn khawarij: “Yang kulihat sesungguhnya adalah penguasanitu menghalangimu memperoleh kesenangan duniawi, dan engkau memeranginya agar kau dapat meraihnya”.

Modus atau alasan kritiknya pasti seputar dua urusan dunia: kesejahteraan dan keadilan, sama persis yg menjadi genre perjuangan kaum komunis, sehingga tak heran jika simbol2 komunis seperti padi, palu, clurit, roda gigi diadopsi oleh beberapa partai dan ormas di tanah air. Gak terima disebut bermental khawarij? Yo wis … komunis saja kalau gitu.

Katon Kurniawan

==

Kaum Khawarij Suka Menghina Pemerintah


Mental Khawarij sok intelek faktanya kualitas Ruwaibidhoh. Khawarij karena kebodohannya daridulu selalu berkelebayan dalam menghukumi pemimpin,
.Al-Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullah berkata:

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺑُﻨْﺪَﺍﺭٌ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﺩَﺍﻭُﺩَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺣُﻤَﻴْﺪُ ﺑْﻦُ ﻣِﻬْﺮَﺍﻥَ ﻋَﻦْ ﺳَﻌْﺪِﺑْﻦِ ﺃَﻭْﺱٍ ﻋَﻦْ ﺯِﻳَﺎﺩِ ﺑْﻦِ ﻛُﺴَﻴْﺐٍ ﺍﻟْﻌَﺪَﻭِﻱِّ ﻗَﺎﻝَﻛُﻨْﺖُ ﻣَﻊَ ﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮَﺓَ ﺗَﺤْﺖَ ﻣِﻨْﺒَﺮِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺎﻣِﺮٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﺨْﻄُﺐُ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ

ﺛِﻴَﺎﺏٌ ﺭِﻗَﺎﻕٌ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺑِﻠَﺎﻝٍ ﺍﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻣِﻴﺮِﻧَﺎ ﻳَﻠْﺒَﺲُ ﺛِﻴَﺎﺏَ ﺍﻟْﻔُﺴَّﺎﻕِﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮَﺓَ ﺍﺳْﻜُﺖْ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَﻳَﻘُﻮﻝُ ﻣَﻦْ ﺃَﻫَﺎﻥَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﻫَﺎﻧَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﻋِﻴﺴَﻰ ﻫَﺬَﺍ ﺣَﺪِﻳﺚٌ ﺣَﺴَﻦٌ ﻏَﺮِﻳﺐٌ

Telah menceritakan kepada kami Bundar telahmenceritakan kepada kami Abu Dawud telahmenceritakan kepada kami Humaid bin Mihran dari Sa’ad bin Aus dari Ziyad bin Kusaib Al ‘Adawi berkata: Aku pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir saat ia berkhotbah, ia mengenakan baju tipis lalu Bilal berkata: Lihatlah pemimpin kita mengenakan baju orang-orang fasik. Abu Bakrah berkata: Diam, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menghina pemimpin Allah di bumi, Allah akan MENGHINAKANNYA.” Berkata Abu’Isa: Hadits ini hasan gharib. [Diriwayatkan oleh Tirmidzi no 2150.Syaikh Al-Albaniy berkata hadits Hasan dalam Shahih Tirmidzi no 1820]

Ahli Tarikh Islam & Pakar Hadits Al Imam Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata: “Abu Bilal namanya adalah Mirdas bin Udiyyah, seorang khawarij tulen. Karena kejahilannya, maka dia menganggap pakaian tipis bagi kaum pria adalah pakaiannya orang fasiq”[Siyar A’lam Nubala’ 14/508

Benar lha penyair yang mengatakan:

ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦ ﻳَﺪ ﺇِﻟَّﺎ ﻳﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻮْﻗَﻬَﺎ … ﻭَﻟَﺎ ﻇَﺎﻟِﻢٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺳَﻴُﺒﻠﻰ ﺑِﻈَﺎﻟِﻢٍ …

Tiada suatu kekuatan pun melainkan kekuatan Allah berada di atasnya, dan tidak ada seorang zalim pun melainkan dia akan mendapat cobaan dari orang zalim lainnya. 

Menjudge pemimpin aja dzalim.. G heran aja lha kalau di dzalimi.. Yang mengherankan G MAU BERKACA DIRI..Allaahul Musta’an

 oleh Abu Isa Al Hanbali

==

Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang Dzalim

Syariat Islam adalah syariat yang sempurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, meskipun hal-hal “kecil” yang mungkin kita anggap remeh, semacam (maaf) adab buang air atau adab hubungan badan antara suami dan istri. Jika hal-hal semacam itu saja diatur dalam syariat yang mulia ini, maka bagaimana lagi dengan “hal-hal besar” yang menyangkut hajat hidup orang banyak? Tentu lebih layak lagi untuk diatur oleh syariat.

Para ulama ahlus sunnah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, telah menggoreskan dalam tinta emas mereka, di buku-buku aqidah yang mereka tulis, tentang kewajiban taat terhadap penguasa muslim, meskipun penguasa tersebut adalah penguasa yang dzalim (jahat) [1]. Dalam kesempatan ini, kami akan menyebutkan secara lebih rinci hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan masalah ini. Semoga hal ini menjadi bekal bagi kita dalam menghadapi situasi yang penuh dengan fitnah ini.


Kewajiban Taat terhadap Penguasa Muslim, Meskipun dalam Kondisi tidak Ideal

✅ Pertama, Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

Dengarlah dan taat, meskipun penguasa (pemimpin) kalian adalah seorang budak Habsyi (budak dari Ethiopia), yang kepalanya seperti kismis (anggur kering) (karena secara fisik, mereka berambut keriting seperti anggur kering yang mengkerut, pen.)” (HR. Bukhari no. 693)

Marilah kita memperhatikan hadits di atas dengan seksama. Dalam kondisi ideal, seorang budak Habsyi tidak sah ditunjuk (dipilih) menjadi khalifah yang mengatur urusan seluruh negeri kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Akan tetapi, jika realitanya demikian (misalnya ada seorang budak Habsyi yang berhasil memberontak dan diangkat sebagai penguasa atau khalifah yang sah atas seluruh negeri kaum muslimin), apa perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita? Tetap mendengar dan taat.

Demikian pula, dalam kondisi ideal, seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin. Akan tetapi, jika realitanya ada seorang wanita berhasil menjadi penguasa, maka kewajiban kita tetap mendengar dan taat.

✅ Ke dua, Hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa membenci tindakan (kebijakan) yang ada pada penguasanya, hendaklah dia bersabar. Karena siapa saja yang keluar dari (ketaatan) terhadap penguasa (seakan-akan) sejengkal saja, maka dia akan mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyyah.” (HR. Bukhari no. 7053 dan Muslim no. 1849. Lafadz hadits ini milik Bukhari.)

Saudaraku …

Hadits ini sungguh sangat berat diterima oleh orang-orang yang bersemangat melakukan berbagai aksi menentang penguasa. Ketika dia melihat kedzaliman penguasa muslim, apakah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan? Apakah melakukan berbagai aksi demonstrasi? Tidak. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersabar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala menjelaskan makna “mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyyah” dalam hadits di atas dengan mengatakan,

فَقَدْ ذَكَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبُغَاةَ الْخَارِجِينَ عَنْ طَاعَةِ السُّلْطَانِ وَعَنْ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ وَذَكَرَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إذَا مَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً؛ فَإِنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ لَمْ يَكُونُوا يَجْعَلُونَ عَلَيْهِمْ أَئِمَّةً؛ بَلْ كُلُّ طَائِفَةٍ تُغَالِبُ الْأُخْرَى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pemberontak yang keluar dari ketaatan terhadap penguasa (pemerintah) yang sah dan keluar dari jamaah kaum muslimin (yaitu ikatan jamaah kaum muslimin di bawah satu komando penguasa, pen.). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan jika mereka mati, mereka mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyyah. Karena orang-orang jahiliyyah tidaklah menjadikan satu orang pemimpin di tengah-tengah mereka yang mengatur kehidupan mereka. Akan tetapi, satu kabilah (suku) akan memerangi suku yang lainnya.” (Majmu’ Al-Fataawa, 28/487)

Berdasarkan penjelasan Ibnu Taimiyyah di atas, “mati jahiliyyah” bukanlah mati di atas kekafiran sebagaimana anggapan sebagian kelompok yang menyimpang dalam masalah ini. Akan tetapi, yang dimaksud adalah orang-orang jahiliyyah dulu (sebelum Islam) tidak mempunyai penguasa. Tidak ada satu penguasa sah (resmi) di Mekah pada masa jahiliyyah yang mengatur urusan-urusan mereka. Padahal, kota Mekah itu terdiri atas berbagai suku (kabilah). Jadilah mereka hidup di atas fanatisme kesukuan, mereka akan memerangi kabilah lain untuk bertahan hidup.

✅ Ke tiga, Hadits dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu

Junadah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami menemui ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu ketika beliau sedang dalam kondisi sakit. Kami mengatakan, “Semoga Allah Ta’ala memperbaiki keadaanmu (menyembuhkanmu, pen.). Sampaikanlah kepada kami suatu hadits yang Engkau dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah memberikan manfaat (pahala) kepadamu dengan sebab hadits yang Engkau sampaikan (kepada kami).”

Sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada kami dan kami pun berbaiat kepada beliau. Maka Nabi mengatakan di antara poin baiat yang beliau ambil dari kami, Nabi meminta kepada kami untuk mendengar dan taat kepada penguasa, baik (perintah penguasa tersebut) kami bersemangat untuk mengerjakannya atau kami tidak suka mengerjakannya, baik (perintah penguasa tersebut) diberikan kepada kami dalam kondisi sulit (repot) atau dalam kondisi mudah (lapang), juga meskipun penguasa tersebut mementingkan diri sendiri (yaitu, dia mengambil hak rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri dan kroni-kroninya, pen.), dan supaya kami tidak merebut kekuasaan dari pemegangnya (maksudnya, jangan memberontak, pen.). Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata (tampak terang-terangan atas semua orang, pen.), dan kalian memiliki bukti di hadapan Allah Ta’ala bahwa itu adalah kekafiran.” (HR. Bukhari no. 7056 dan Muslim no. 1709)

Dalam hadits di atas,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat kepada penguasa muslim yang dzalim, yaitu meskipun perintahnya tidak kita sukai (kita benci), dan meskipun penguasa tersebut mendzalimi hak-hak rakyat demi kepentingan dirinya sendiri.

✅ Ke empat, Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu

Dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Mendengar dan taat adalah kewajiban setiap muslim, (baik perintah yang diberikan oleh penguasa) adalah hal-hal yang dia sukai atau dia benci, selama penguasa tersebut tidak memerintahkan maksiat. Jika penguasa tersebut memerintahkan maksiat, maka tidak ada (kewajiban) mendengar dan taat (dalam perintah maksiat tersebut, pen.).” (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  memerintahkan kepada kita, jika penguasa memerintahkan kita berbuat maksiat dalam satu perkara, maka tidak boleh taat dalam satu perintah tersebut. Akan tetapi, kita wajib taat dalam (seluruh) perintah yang lain yang bukan maksiat.  Perhatikanlah baik-baik maksud hadits ini, supaya kita tidak salah paham. Karena sebagian orang menyangka, bahwa jika penguasa memerintahkan satu perintah maksiat, itu artinya boleh tidak menaatinya dalam semua perintahnya yang lain yang bukan maksiat. Ini adalah kekeliuran dan salah paham yang sangat fatal akibatnya. [2]

Hubungan antara Penguasa dan Rakyat Menurut Ajaran Islam bukanlah Hubungan Timbal Balik

Sebagian orang menyangka bahwa hubungan antara pemerintah dan penguasa adalah hubungan timbal balik. Maksudnya, jika pemerintah berbuat baik kepada rakyat, maka rakyat pun taat kepadanya. Sebaliknya, jika pemerintah berbuat dzalim, maka rakyat boleh untuk tidak taat kepadanya. Ini adalah anggapan yang tidak benar, karena tidak sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit yang telah kami sebutkan di seri sebelumnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat meskipun sang penguasa lebih mementingkan dirinya sendiri,

وَأَثَرَةً عَلَيْنَا

“ … meskipun penguasa tersebut mementingkan diri sendiri (yaitu, dia mengambil hak rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri dan kroni-kroninya, pen.) … “ (HR. Bukhari no. 7056 dan Muslim no. 1709)

Hal ini pun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tegaskan kembali di sabda beliau yang lainnya, dengan mengatakan,

سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا

Sesungguhnya akan terjadi sepeninggalku adanya (penguasa) yang lebih mementingkan pribadinya (dengan menelantarkan hak rakyat, pen.) dan berbagai kemunkaran (yang dilakukan oleh penguasa, pen.) yang kalian ingkari (karena hal itu adalah maksiat dan kemunkaran, pen.).”

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum mengatakan, “Bagaimanakah yang Engkau perintahkan kepada siapa saja di antara kami yang menjumpai masa-masa itu?”

(Lanjut ke halaman 2)

Iklan