Grand Syaikh Al Azhar Kritik Konsep Islam Nusantara, Pilih Islam yg Mana? “Nusantara” Ataukah “Arab (Timur Tengah)”?

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 

1. Islam Bukan Arab

2.Membenci Arab Sama Dengan Membenci Nabi Muhammad

3. Mengapa Hizbut Tahrir(KHAWARIJ) Membenci Arab Saudi…

4. Islam Indonesia Bukan Islam Arab 

5. Islam Nusantara Proyek dan Penerus Islam Liberal

Ustadz Abdullah Taslim- Islam Nusantara

Ustadz Syafiq Basalamah-Akar Pemikiran Liberal

Ustadz Firanda Andirja-Islam Kok Liberal

Islam Nusantara, Proyek Liberal-Konsultasisyariah

Syafiq Basalamah · Agar Tak Terkontaminasi(1)

Syafiq Basalamah · Agar Tak Terkontaminasi(2)

Ustad Mizan Qudsiyah-Jangan Kau Benci Nabimu yg Berasal.Dari Orang Arab

Ust.Mizan Qudsiyah-Pembatal Keislaman(Membenci Petunjuk Rasulullah yang Berasal Dari Arab)

Ust. Afifi Abdul Wadud-Pembatal Keislaman(Benci Islam yg Asal Arab)

Grand Syaikh Al Azhar Kritik Konsep Islam Nusantara

Dialog Grand Syaikh AlAzhar Dgn SAS 01

Dialog Grand Syaikh Al Azhar Dgn SAS 02

Dialog Grand Syaikh Al Azhar Dgn SAS 03

Dialog Grand Syaikh Al Azhar Dgn SAS 04

***

SAID AGIL SIRODJ MENCORENG NAMA BAIK SERTA MEMBUAT MALU UMMAT ISLAM INDONESIA DIHADAPANGRAND SYEKH AL AZHAR SYEKH AHMAD THAYYIB.

Baru baru ini Grand syekh Alazhar kembali datangberkunjung ke Indonesia untuk yang ke sekian kalinya. Sebelumnya di Lirboyo Kediri Said Agil mengeluarkan pernyataan yang tidak pantas keluar dari lisan seorang yang disebut Kiai. Said Agil menjelaskan bahwa kalau ada ulama dari arab sering ke Indonesia (disebut dengan bahasa kluyar kluyur) berarti itu cuma guru ibtidaiyyah (dg nada menghina)

Tak lama setelah itu datanglah grand syekh Alazhar Syekh Ahmad thayyib menggunakan jubah dan sering ke indonesia mungkin sejenis beliau lah yang dihina Said Agil kluyar kluyur Astaghfirullah.

Diantara kunjunganya Syekh Shmad Thayyib diundanguntuk berkunjung ke kantor PBNU, di tempat acaradipasang banner dengan kata kata yang sudah tidak pas dengan bahasa arab yg kurang lebih artinya : Dari Islam Nusantara menuju kedamaian Alam semesta.

Said Agil pun berbicara dengan bahasa Arab yang klatak klatuk dan kurang Fasih berusaha menjelaskan kepadasyekh Ahmad Thayyib tentang apa itu Islam Nusantara. dia bilang “Islam nusantara adalah Islam orang nusantara Indonesia, Malaysa, Brunei yang penuh toleransi anti ektrimisme dan radikal, TIDAK SAMA DENGAN ISLAM ARAB”

(sambil said agil cekikikan bernada hinaan sinis terhadap bangsa Arab).

Singkat cerita “Syekh Ahmad Thayyib” pun langsung menjawab secara tegas menentang pernyataan memalukan Said Agil. Beliau mengatakan: “Seandainya saja Allah Tahu bahwa bangsa Indonesia Lebih pantas dari bangsa Arab untuk menerima dan mengemban Risalah penutup kenabian maka Risalah tidak akan diturunkan kepada Nabi Muhammad” (hadirin pun tertawa) pukulan telak untuk Said Agil.

Syekh Ahmad menjelaskan kembali Allah yang maha tahu dan Allah memilih Bangsa Arab untuk Mengemban dan melanjutkan dakwah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam karena Allah tahu bangsa Arab lah yang mampu.menyebarkan agama ini sampai ke seluruh penjuru dunia. berbeda dengan nabi nabi yang Allah utus sebelumnya yang memang masa kenabianya terbatas dan jangkauan dakwahnya juga terbatas contohnya seperti Nabi-nabi bani Israil maka dipilih Nabi dari selain bangsa Arab. Namun ketika diutus Nabi Muhammad Nabi yang syariatnya akan selalu dijunjung hingga akhir zaman dan wajib di imani oleh seluruh manusia di seluruh penduduk bumi Maka Allah memilih bangsa arab yang pertama menerima dakwah ini dan menyebarkanya ke seluruh penjuru dunia.

Syekh Ahmad Thayyib melanjutkan sungguh tidak sah iman kalian kecuali kalian mencintai orang Arab ini (yakni Nabi Muhammad) lebih dari kalian mencintai diri kalian keluarga kalian bangsa kalian dll, dalam arti lain kalau kalian anti dan sentimen terhadap bangsa Arab maka tidak sah iman kalian.

Kami belajar tentang sejarah masuknya Islam disini. bukankah yang membawa Islam ke negeri kalian ini adalah orang2 arab? seandainya saja orang orang Arab itu tidak datang kesini dan mengajarkan kalian bagaimana ajaran Islam maka mungkin kalian sampai saat ini masih berada dalam keyakinan umumnya orang.orang timur Asia yang keyakinannya bertentangan dengan kebenaran. (Animisme, Dinamisme, Menyembah Patung, Pohon dll).

Bukankah anda tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Marah besar ketika orang orang saling membangga banggakan sukunya ada yang mengucap saya dari suku Auz saya dari Khazraj nabi marah sampai memerah wajahnya. Maksudnya agar Ummat Islam tidak fanatik kesukuan tapi menganggap semua muslimin adalah saudara tanpa membeda bedakan suku dan ras.

➡ SUNGGUH JAWABAN SKAK MAT YANG MEMBUAT SAIDAGIL YANG SENTIMEN SEKALI KE BANGSA ARAB. NAMUN YANG MEMBUAT KITA MALU ADALAH PASTI DALAM BENAK SYEKH AHMAD THAYYIB BAGAIMANA ORANG MODEL BEGINI KOK BISA DIJADIKAN KETUA ORGANISASI ULAMA TERBESAR DI INDONESIA

Atha Ibnu Yussuf

******

Pilih Islam yang Mana?“Nusantara”Ataukah “Timur Tengah”?

✅ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 42)

Kita dikejutkan berita baru di negeri ini dengan munculnya istilah “Islam Nusantara” atau “Islam Pribumi”. Pembelanya justru tokoh umat yang terkenal. Di sisi lain, kita dibenturkan pula dengan istilah “Islam Timur Tengah”, tetapi kita tidak mendengar ada sebutan “Kristen Nusantara”, “Hindu Nusantara”, atau yang semacamnya. Persoalannya, apa gerangan maksud mereka?

Makna ayat secara umum

Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang orang Yahudi mencampuradukkan perkara yang batil dengan yang hak, melarang menyembunyikan yang hak dan menampakkan kebatilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka dua perkara ini. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah mereka agar menampakkan kebenaran, karena mereka mengetahui yang benar.” (Tafsīr Ibn Katsīr 1/245)

Islam sudah sempurna

Islam agama yang telah sempurna dan mencakup segala aspek kehidupan sehingga tidak diperlukan ide-ide dan inovasi baru untuk mengkritik dan menyempurnakan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terakhir ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian bagi kalian, menyempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan meridai Islam sebagai agama kalian.” (QS al-Mā’idah [5]: 3)

Penambahan atau pengurangan atau penyisipan atau perubahan—walau sedikit saja—baik dalam lafaz atau makna hukumnya haram dan tertolak. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

« مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ »

Barang siapa membuat hal baru (muhdats) di dalam urusan kami (syariat) ini yang tidak ada ada asalnya darinya, maka hal itu tertolak.” (HR al-Bukhari: 2697 dan Muslim: 1718)

Maka tidaklah satu pun orang yang punya keahlian bahasa dan sastra mau menyusupkan satu kalimat atau mau memalingkan makna Islam pasti ketahuan, dan pasti dibantah oleh pembela Sunah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji menjamin kemurnian Islam ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepada hamba yang beriman agar hendaknya menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam sebagai cermin kehidupannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا

Tidaklah patut bagi orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS al-Ahzāb [33]: 36)

✅ Abdullah bin Ukaim menyebutkan bahwa Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu pernah berkata, “Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sesungguhnya sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Ingatlah, bahwa semua yang diada-adakan adalah bid‘ah dan setiap kebid‘ahan adalah sesat dan kesesatan itu (tempatnya) di neraka.” (al-Lalika’i 1/84)

Islam hanya satu untuk seluruh umat

Islam hanya satu, bersumber dari al-Qur’an dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dengan keterangan para sahabat dan pengikut mereka yang setia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ وَمَااخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 19)

Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa agama yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah Islam. Selainnya ditolak. Agama Islam ini mengikuti para utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada zamannya sehingga mereka berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam yang menutup semua agama sesudahnya. Barang siapa dia meninggal dunia mengikuti agama selain yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tidak diterima seperti yang dijelaskan oleh Allah di dalam surat Āli ‘Imrān ayat 82.” (Baca Tafsīr Ibn Katsīr 2/25.)

Penjelasan di atas membantah para pengusung dan pembela paham yang mengatakan bahwa Islam berpecah menjadi “Islam Timur Tengah”, “Islam Arab”, “Islam Nusantara”, “Islam Pribumi”, “Islam Jawa”, dan seterusnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menolak istilah bid‘ah tersebut semuanya, dengan sabdanya:

« يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى أَبَلَّغْتُ »

Wahai sekalian manusia! Rabb kalian hanya satu dan ayah kalian satu. Ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan. Bukankah aku telah menyampaikannya?” (HR Ahmad no. 24204 disahihkan oleh Albani di dalam Silsilah al-Shahīhah no. 2700)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menolak adanya agama selain yang beliau sampaikan. Beliau bersabda:

« وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ »

Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nasrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR Muslim no. 403)

Islam bukan untuk kepentingan suatu bangsa atau suku, melainkan rahmat untuk semua lapisan manusia bahkan juga untuk kelompok jin yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiyā’ [21]: 107)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam rahmat untuk alam semesta, maksudnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus beliau agar semua manusia mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa saja yang menerima rahmat dan mau mensyukuri nikmat ini, dia pasti bahagia hidupnya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, barang siapa menolak nikmat ini dan mengingkarinya dia pasti celaka di dunia dan di akhiratnya.” (Tafsīr Ibn Katsīr 5/385)

Itulah makna rahmatan lil ‘ālamīn. Maknanya bukan seperti penafsiran pengusung “Islam Nusantara” bahwa rahmatan lil ‘ālamīn artinya Islam bisa menerima semua budaya daerah atau suku masing-masing, seperti Islam tidak perlu mempermasalahkan hari raya ketupat, takbir hari raya disertai alat musik; budaya pesta pernikahan wanita dicukur alisnya, memakai bulu mata palsu dan rambut palsu; pria mencukur jenggotnya; kedua mempelai didudukkan di kursi ditonton oleh pengunjung; belum lagi adat Minang, adat Sunda, dan adat lainnya. Jika perkara ini kita teliti dengan ilmu syar‘i, tentu banyak penyimpangannya, tidak bisa diterima oleh ajaran Islam karena melanggar syariat Allah.

Islam agama yang universal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam untuk menyebarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Karena sumbernya sama, ajaran Islam sedunia sama. Maka dari itu, ketika ada orang yang memiliki kerangka ajaran yang berbeda, berarti itu bukan Islam ajaran beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

Aku tidak mengutus kamu, melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS Saba’ [34]: 28)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam diutus untuk seluruh makhluk yang mukalaf, baik orang Arab maupun luar Arab. Hanya, yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Tafsīr Ibn Katsīr 6/518)

Islam turun untuk menepis budaya jahiliah

Menurut asal, kita dilarang menghidupkan budaya jahiliah karena budaya mereka pada umumnya bersumber dari hawa nafsu, kecuali perkara yang ditetapkan oleh syariat Islam. Menghidupkan budaya jahiliah berarti mendukung hawa nafsu, menghidupkan kebodohan, kesesatan, dan kezaliman.

Seandainya budaya jahiliah banyak faedahnya dan tidak membahayakan umat, tentu sia-sia Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan menurunkan wahyu-Nya. Diutusnya utusan/rasul dan diturunkannya wahyu menunjukkan bahwa jahiliah itu hina dan berbahaya. Oleh karena itu, di antara isi khotbah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pada waktu haji wadak, tatkala beliau di Arafah, beliau bersabda:

« أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ »

Ketahuilah, sesungguhnya segala perkara pada masa jahiliah dikubur di bawah kedua kakiku, darah pada masa jahiliah telah digugurkan.” (HR Muslim 4/39–43)

Itu salah suatu bukti, bagaimana upaya beliau menolak setiap budaya atau tradisi jahiliah yang bertentangan dengan wahyu. Dari sini kita mendapat pelajaran, bahwa budaya harus disesuaikan dengan Islam, bukan Islam yang disesuaikan dengan budaya. Sering kita mendengar perkataan “inilah budaya Islam”, “inilah filsafat Islam”, inilah “filasafat iqra’”, “filsafat puasa”; maka orang yang mengilmui al-Qur’an dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tentu tidak membenarkan istilah ini, karena “budaya” dan “filsafat”bukan wahyu.

Budaya hari raya ketupat, takbir hari raya bercampur dengan musik, pementasan kedua mempelai saat akad nikah, saling berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya, bangga dengan kedudukan, mencela keturunan; itu adalah budaya yang menyebar di masyarakat, tetapi Islam menolaknya karena hal itu melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang menghidupkan budaya jahiliah berhak dilaknat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلَاثَةٌ مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ وَمُبْتَغٍ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ

Manusia yang paling dimurkai Allah ada tiga: orang yang melakukan pelanggaran di tanah haram (tanah suci), orang yang mencari-cari perilaku jahiliah padahal telah masuk Islam, dan memburu darah seseorang tanpa alasan yang dibenarkan untuk menumpahkan darahnya.” (HR al-Bukhari no. 6374)

Ibnu Taimiah berkata, “Hadis ini (hadis tentang empat perkara termasuk jahiliah) menunjukkan semua perkara jahiliah dan perbuatan mereka tercela, jika tidak, tentu kemungkaran mereka tidak dikatakan jahiliah.” (Baca Iqtidhā’ al-Shirāth al-Mustaqīm 1/69.)

Bahaya mencampuradukkan Islam dengan budaya

Jika orang menyakiti manusia berbahaya di dunia bahkan di akhiratnya, maka bagaimana dengan orang yang merusak makna ayat dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk kepentingan dunia? Tentu bahayanya lebih besar. Orang yang merusak ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam seperti orang yang mencampuradukkan budaya dengan ajaran Islam ia tergolong menyakiti Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS al-Ahzāb [33]: 57)

✅ Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam dengan azab-Nya yang sangat pedih kepada orang yang menyakiti-Nya. Orang yang menyakiti Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terus-menerus melanggar larangan-Nya, mencela Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dengan melecehkan sunahnya. Maka kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari perbuatan yang tercela ini.

Ikrimah berkata, ‘Orang yang menggambar makhluk yang benyawa juga termasuk menyakiti Allah Subhanahu wa Ta’ala.’” (Tafsīr Ibn Katsīr 6/480)

Orang yang mencampuradukkan budaya dengan Islam mendapatkan dosa yang berlipat ganda. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

« وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ »

Dan barang siapa memulai kebiasaan buruk di dalam Islam, dia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim no. 1017)

Mencampuradukkan Islam dengan budaya warisan orang Yahudi

Islam tidak butuh kepada pemikiran dan pendapat manusia karena Islam wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling benar perkataan-Nya, paling adil hukum dan hukuman-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak mengadili semua perkataan dan perbuatan hamba. Orang yang memiliki ilmu din (ilmu agama) yang cukup hendaknya menjadi contoh dan suri teladan yang baik sehingga bisa menyinari umat ketika mereka dilanda kegelapan. Jangan menjadi yang sebaliknya, seperti ulama Yahudi, yang memiliki kebiasaan buruk mencampuradukkan yang hak dengan yang batil karena kepentingan kedudukan dan mengambil harta manusia dengan cara yang haram.

Ibnu Katsir di dalam menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS al-Taubah [9]: 34)

✅ (Kata Ibnu Katsir): “Sufyan bin Uyainah berkata, ‘Ulama umat ini sesat karena meniru orang Yahudi, dan ahli ibadah umat ini sesat karena meniru orang Nasrani.”

(Selanjutnya Ibnu Katsir berkata): “Kita dilarang meniru perkataan dan perbuatan orang Yahudi dan Nasrani. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan sifat jelek mereka لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ‘mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil’; maksudnya, mereka meraih kenikmatan dunia, pangkat, dan kedudukan dengan mengorbankan agamanya; mereka mengambil harta manusia seperti ulama Yahudi mengambil harta orang jahiliah dengan mengambil pajak dan upeti. Adapun makna firman Allahيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ‘mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah’; mereka belum puas jika hanya makan dari hasil yang haram, tetapi mereka menghalangi manusia dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang benar, dengan cara mencampuradukkan yang benar dengan yang batil; mereka menilai orang yang mendakwakan syariat Islam adalah orang yang dungu dan bodoh; mereka beranggapan bahwa dirinya yang mendakwakan kebenaran, padahal merekalah orang yang bodoh; mereka itu mengajak manusia ke neraka sampai hari kiamat.” (Tafsīr Ibn Katsīr 2/461)

(Lanjut di hal…2)