Hukum Sujud Kepada Kuburan dan Pilihlah Calon Pemimpin yang Sholeh Memperjuangkan Dakwah Tauhid Dan Sunnah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 

1. PS Sujud di Kuburan Bung Karno

2. Sujud Di Kuburan Apakah Kafir?

3.Sujud Kepada Manusia Utk Penghormatan

4.Tabarruk Dgn Air Kembang

5.Kelemahan Riwayat Maalik Ad-Daar (sebagian quburiyyuun untuk melegalkan tindakkan tawassul mereka di kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan/atau orang shaalih.)

6.Tabarruk dengan Mengusap dan Mencium Kubur Nabi

7.Sebagian Faedah Atsar ‘Umar bin Al-Khaththaab Mencium Hajar Aswad

8. Dialog Bersama Pecinta Kubur

Ust. M. Abduh Tuasikal-Ngalap Berkah Syirik

Pantaskah Kuburan Sebagai Penolak Bala-Ust Mizan Qudsiyah 9Mb
Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr- Ngalap Berkah

Ust. Abdullah Zaen-Para Pemuja Kubur(Sufi,Syiah,Kuburriyun)

Ust. Abdullah Zaen-Para Penjual Do’a

MASALAH ZIARAH KUBUR DAN LARANGAN SUJUD KEPADA SELAIN ALLAH (USTADZ DR. MUHAMMAD NUR IHSAN, M.A.)18Mb

“LaranganBeribadah kepada Allah di Sisi Kuburan Orang Shalih” Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr 8Mb

Berlebih-lebihan terhadap Kuburan Orang-Orang Shalih Menjadi Penyebab Dijadikannya Sesembahan selain Allah” Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr

Ust. Mizan Qudsiyah-Penyebab Orang Menyembah Kubur 

Fitnah Kuburan-Ust Mizan Qudsiyah 11Mb

Kuburan yang Tidak Di Sukai Nabi-Ust Mizan Qudsiyah

Patutkah Kuburan Tempat Meminta

Hukum Tabarruk-Ust Ahmad Zainuddin

Kedudukan Tawassul, Tabarruk & Istighosah-Ust AbdurrahmanThayyib

Seluk Beluk Tabarruk-Ust Ahmad Zainuddin

Hal yang Perlu Diketahui Tentang Tabarruk-Ust Ahmad Zainuddin

=========

Melihat Calon Pemimpin Sujud Di Kuburan,muncul beberapa pertanyaan:

1) akankah calon pemimpin seperti ini akan memperjuangkan dakwah tauhid dan sunnah? Kalau kemungkinannya sama dengan calon lainnya, apa bedanya?

2) masalah seperti ini yang harus difatwa kan kepada ummat, karena manusia jahil sekali terhadap tauhid. Bukan malah fatwa yang kurang urgensitasnya darinmasalah ini.

Tolong yang punya link ke dewan fatwa ormas, sampaikan agar memberikan fatwa hukum sujud kepada kuburan. Biar ngga ngambang.

Oleh Dika Wahyudi

***

Tokoh Nasional Sujud Kepada Kuburan

Coba cari deh, cad! politikus atau tokoh nasional yg sungkem (sujud nganggo cangkem) di kuburan. 99.9999% anda tak akan menemukannya, kecuali di endonesah dan iran.

(Singkat padat jelas dan penuh makna)

Katon Kurniawan

***

Dakwah Salaf Menghentikan Kesyirikan

Dakwah mana yang mampu menghentikan manusia sujud di atas kuburan dan peragaan ilmu kebal yang dipertontonkan?

Kami lebih sedih melihat fenomena ini dari pada kezhaliman pemimpin…karena kezhaliman pemimpin.bermula dari sini.

Seandainya saja kita tahu mana masalah dan mana akar masalah???

Fadlan Fahamsyah

***

Ngalap Berkah Kuburan Keramat

Apakah boleh cari berkah ke kuburan baik dg sungkeman, ngusap2 atau menciumi kuburan, apalagi bersujud kpd kuburan?!. Itu ngeriii banget hukumnya. Sesungguhnya Tabarruk atau yang biasa disebut dengan ngalap berkah ada dua:

✅ 1. Tabarruk Masyru’ (disyariatkan)

Yaitu tabarruk dengan hal-hal yang disyariatkan seperti Al-Quran, air zam-zam, bulan ramadhan dan sebagainya. Akan tetapi tidak boleh bertabarruk dengan hal-hal tersebut kecuali seizin syariat, sesuai petunjuk Nabi dan dengan niat bahwa hal itu hanyalah sebab, sedangkan yang memberikan barokah adalah Allah, sebagaimana kata Nabi:

ﺍﻟْﺒَﺮَﻛَﺔُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ

Barokah itu (bersumber) dari Allah”. (HR.Bukhori 3579).

✅ 2. Tabarruk Mamnu’ (terlarang)

Yaitu tabarruk dengan hal-hal yang tidak disyari’atkan maka tidak boleh, seperti tabarruk dengan pohon, batu ajaib (!), kuburan, dzat kyai dan lain sebagainya. Simaklah ucapan Amirul mukminin Umar bin Khoththob tatkala berkata ketika mencium hajar aswad:

ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺃَﻧَّﻚَ ﺣَﺠَﺮٌ ﻻَ ﺗَﻀُﺮُّ ﻭَﻻَ ﺗَﻨْﻔَﻊُ ، ﻭَﻟَﻮْﻻَ ﺃَﻧِّﻰ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻳُﻘَﺒِّﻠُﻚَ ﻣَﺎ ﻗَﺒَّﻠْﺘُﻚَ

Saya tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan bahaya atau manfaat. Seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu maka saya tidak menciummu. (HR. Bukhori 1597 dan Muslim 1270).

Imam Ibnul Mulaqqin berkata mengomentari atsar di atas: “Ucapan ini merupakan pokok dan landasan yang sangat agung dalam masalah ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi sekalipun tidak mengetahui alasannya, serta meninggalkan ajaran Jahiliyyah berupa pegangungan terhadap patung dan batu, karena memang tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menolak bahaya kecuali hanya Allah semata, sedangkan batu tidak bisa memberikan manfaat, lain halnya dengan keyakinan kaum Yahiliyyah terhadap patung-patung mereka, maka Umar ingin memberantas anggapan keliru tersebut yang masih menempel dalam benak manusia“.(Al-I’lam bi Fawa’id Umadatil Ahkam 6/19).

Jenis tabarruk ini telah diiingkari secara keras oleh para ulama Syafiiyyah. Menarik sekali dalam masalah ini apa yang dikisahkan bahwa tatkala ada berita sampai kepada telinga Imam SyafiI bahwa sebagian orang ada yang bertabarruk dengan peci Imam Malik, maka serta merta beliau mengingkari perbuatan itu. Imam Nawawi berkata:

ﻭَﻣَﻦْ ﺧَﻄَﺮَ ﺑِﺒَﺎﻟِﻪِ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺴْﺢَ ﺑِﺎﻟْﻴَﺪِ ﻭَﻧَﺤْﻮِﻩِ ﺃَﺑْﻠَﻎُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﺮَﻛَﺔِ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻦْﺟَﻬَﺎﻟَﺘِﻪِ ﻭَﻏَﻔْﻠَﺘِﻪِ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟْﺒَﺮَﻛَﺔَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫِﻲَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉَ ﻭَﻛَﻴْﻒَﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺍﻟْﻔَﻀْﻞَ ﻓِﻲْ ﻣُﺨَﺎﻟَﻔَﺔِ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﺏِ؟

Barangsiapa yang terbesit dalam hatinya bahwa mengusap-ngusap dengan tangan dan semisalnya lebih mendatangkan barokah maka hal itu menunjukkan kejahilannya dan kelalaiannya, karena barokah itu hanyalah yang sesuai dengan syari’at. Bagaimanakah mencari keutamaan dengan menyelisihi kebenaran?!”. (Majmu Syarh Muhadzab 8/275).

Al-Ghozali juga berkata:

ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺲَّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﺒِﻴْﻞَ ﻟِﻠْﻤَﺸَﺎﻫِﺪِ ﻋَﺎﺩَﺓُ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮْﺩِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ

“Sesungguhnya mengusap-ngusap dan menciumi kuburan merupakan adapt istiadat kaum Yahudi dan Nashoro”.(Ihya Ulumuddin 1/271).

Abu Ubaidah As Sidawi

***

Haram Sujud,Mencium,Mengusap,Berdo’a Dgn Perantara Mayit di Kuburan

Copas dari ust. Abul Jauzaa

Mencium kubur diharamkan para ulama, dan bahkan dikatakan termasuk diantara ijmaa’ mereka sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmuu’ Al-Fataawaa 27/79.

✅ Al-Buhuutiy Al-Hanbaliy rahimahullah berkata : “… Tidak boleh mengusap kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula temboknya. Tidak juga diperbolehkan menempelkan dadanya dan menciumnya” [Bughyatun- Naasik fii Ahkaamil-Manaasik, hal. 146; tahqiq’ AbdullahnAth-Thuraifiy, Cet. 1/1426].

Al-Hulaimiy rahimahullah berkata : “Sebagian ulama melarang menempelkan perut dan punggung pada dinding kubur dan mengusapnya dengan tangan, karena perbuatan tersebut termasuk bid’ah. Orang yangmengatakan kebolehannya tidak benar, karena tidak pernah dilakukan taqarrub ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam hidup dengan cara mengusap dinding rumahnya, serta tidak pula menempelkan perut dan punggung padanya” [Al-Minhaaj fii Syu’abil-Iimaan, 2/457; tahqiq Hilmiy Muhammad Faudah, Cet. 1/1399].

✅ ‘Abdul-Qaadir Al-Jiilaaniy rahimahullah berkata : “Apabila seseorang berziarah kubur, tidak boleh meletakkan tangan di atasnya (untuk mengusapnya) dan menciumnya, karena perbuatan tersebut termasuk kebiasaan Yahudi” [Al-Ghunyah, 1/198]. Dan lain-lain.

Bahkan, sebagian ulama mengklasifikasikan perbuatan ini termasuk kesyirikan. Silakan baca Majmuu’ Fataawaa Syaikhil-Islaam Ibni Taimiyyah 24/320 & 27/80, 91-92.dan Ighaatsatul-Lahfaan 1/217. Akan tetapi syirik di sini bukan langsung dihukumi syirik akbar, akan tetapi dirinci. Bisa syirik ashghar, bisa akbar.

Mencium jika niatnya tabarruk, saya telah menuliskan perinciannya di sini : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2017/05/tabarruk-dengan-air-kembang.html . Atau silakan baca kitab At-Tamhiid li-Syarh Kitaabit-Tauhiid oleh Asy-Syaikh Shaalih Aalusy-Syaikh hafidhahullah hal. 127-129.Adapun jika ditinjau dari haiah dan kaifiyahnya dengan melakukan sujud ke tanah, maka saya telah tulis perinciannya di sini : http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/02/sujud-kepada-manusia-dalam-rangka.html .

Mauqif kita dalam masalah kesyirikan dan udzur kejahilan jelas dengan melihat perincian yang disebutkan ulama. Tidak ada tendensi politik. Lucu juga jika dulu ada orang mandiin mobil dengan air kembang dalam rangka tabarruk langsung divonis Kafir,Syirik,murtad tanpa melihat rincian masalah tabarruk dan udzur yang barangkali menghalangi; lantas kemudian ada orang yang haiahnya jelas sujud menghadap kubur tidak dikatakan kafir, tapi ditafsirkan sungkem atau sekedar mencium . Hukum berbeda karena afiliasi politik. Sujud itu lebih melihat kepada haiah atau kaifiyah badan denganmenempelkan muka atau dahi ke bumi. Sujud para malaikat kepada Adam dan saudara Yuusuf kepada Yuusuf – meskipun tidak dalam rangka ibadah – tetap dikatakan sujud. Oleh karena itu, mencium kubur dengan menempelkan muka atau dahi ke bumi namanya sujud juga.

Hasna Huwaida Kamilah

***

➡ Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwasanya memperbaiki keadaan ummat dan negara tidak lain dengan tauhid.

Beberapa tahun yang lalu kita diramaikan dengan sebagian saudara-saudara kita yang sibuk mengurusi orang nomor satu negeri ini yang divonis musyrik bahkan sampai ada yang mengkafirkan -tanpa perincian- karena memandikan mobil dengan bunga-bunga…

Kini, beberapa tahun berlalu kita diperlihatkan ketidak konsistenan sebagian saudara-saudara kita yang melakukan pengkafiran tanpa adanya perincian kepada orang nomor satu di negeri ini dengan “membela” memberikan udzur lawan politik orang nomor satu yang jelas-jelas sujud kepada kuburan dengan dalil sungkem bukan sujud kepada kuburan.

Melihat realita dua kejadian di atas menjadi bukti yang jelas lagi gamblang yang tidak terbantahkan lagi bahwa da’wah tauhid masih sangat minim di negeri ini hingga merajalelanya kebodohan dan Kesyirikan di tengah-tengah kaum muslimin, maka sudah sepatutnya kita sama-sama beriringan menda’wahkan tauhid, bukan politik sebab inilah hakikat seluruh da’wah para nabi dan rasul.

✅ Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ berfirman :

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51] : 56)

✅ ‘Abdullah bin ‘Abbas ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ ﻋﻨﻬﻤﺎ ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Setiap ayat di dalam al-Qur-an yang bunyinya; beribadahlah kepada Allah, maka maknanya adalah mentauhidkan Allah.”(Tafsir Al-Baghawi, X/55)

✅ Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ berkata, “Maksudnya : ‘Dan sama sekali tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia untuk suatu tujuan. Aku menciptakan mereka hanya demi satu tujuan, yaitu agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Beliau ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ melanjutkan : “Ayat ini mengandung penjelasan tentang tauhid, karena para ‘ulamaa Salaf menafsirkan ungkapan ‘illa liya’buduuni’ dengan : ‘Kecuali untuk mengesakan (mentauhidkan)-Ku.’

Dalil pemahaman ini adalah : Sesungguhnya para nabi dan rasul diutus untuk menerapkan tauhid ibadah.'” (An-Nahjus Sadiid fi Syarhi Kitaabit Tauhiid, hal. 4)

✅ Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ berfirman : “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah (tuhan yang berhak diibadahi dengan benar) selain Aku (Allah), maka beribadahlah kepada-Ku.“(QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 25)

✅ Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ ﻋﻨﻬﻤﺎ , ia berkata, “Ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪﺗﻌﺎﻟﻰٰ ﻋﻨﻪ ke Yaman, beliau ﷺ bersabda kepadanya : ‘Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab (kaum Yahudi dan Nasrani), maka itu hendaklah yang pertama kali kamu da’wahkan (sampaikan) kepada mereka ialah agar supaya mereka mentauhidkan Allah. Apabila mereka telah mengetahui (mentaati) yang hal itu, maka beritahukanlah (sampaikanlah) kepada mereka sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Maka apabila mereka telah mentaati hal itu, maka beritahukanlah (sampaikanlah) kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka zakat pada harta-harta mereka, yang diambil dari orang- orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang faqir di antara mereka. Maka, apabila mereka telah mentaati (mengetahui, mengakui dan menetapkan) hal itu, maka jauhkanlah dirimu (janganlah mengambil) dari harta terbaik yang dimuliakan (disayangi) oleh mereka.” (Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 1395, 1458, 1496, 2448,4347, 4371, 7371, 7372, Muslim, no. 19 [29], 31, AbuDawud, no. 1584, at-Tirmidzi, no. 625, an-Nasaa-i, V/55,no. 2435, dan Ibnu Majah, no. 1783)

Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ berkata, “Oleh karena itu, da’wah harus dimulai dengan masalah prinsip dasar Islam, yaitu tauhid dan penjelasan makna dua kalimat syahadat. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang berbagai hal yang diharamkan dan yang diwajibkan. Alasannya nyata, yaitu karena tauhid adalah dasar bagi segala permasalahan lainnya, maka harus didahulukan sebelum yang lainnya. Pada saat yang sama, tauhid juga merupakan kewajiban yang terdepan.”(An-Nahjus Sadiid fi Syarhi Kitaabit Tauhiid, hal. 30)

Al-Fadhil Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas ﺣﻔﻈﻪﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ berkata, “Maka hendaknya yang pertama kali dilakukan (oleh seorang) da’i adalah menyeru (menda’wahkan) manusia agar memperbaiki ‘aqidahnya, sebab ‘aqidah merupakan pondasi (pokok dari ajaran Islam).(Syarah Kitab Tauhid, hal. 75)

Mari kita satukan shaf dan rapatkan barisan memperbaiki keadaan ummat dan negara dengan menda’wahkan tauhid di atas ‘aqidah dan manhaj Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukan dengan jalur politik atau kekuasaan yang di dalamnya banyak menyelisihi jalannya Rasulullah Muhammad ﷺ , justru dengan tauhid inilah kelak Allah ﺗﺒﺎﺭﻙﻭﺗﻌﺎﻟﻰٰ yang akan memberikan kekuatan dan kekuasaan kepada kaum muslimin.

Ingatlah akan janji Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ bahwa Dia akan memberikan kekuasaan, kejayaan kepada kaum muslimin jika mereka beriman dan mentauhidkan Allah. Allah ﷻ berfirman :

Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuatu dengan apa yang telah mereka kerjakan.”n(QS. Al-A’raaf [7] : 96)

✅ Allah ﻋﺰ ﻭﺟﻞ berfirman : “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benarakan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa tetap kafir sesudah.(janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. An-Nuur [24] : 55)

Semoga Allah ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰٰ memberikan hidayah dan taufiq.

Abu ‘Aisyah Aziz Arief_

***(lanjut di hal…2)

Iklan