Panduan Puasa Ramadhan(5) Amalan-Amalan Yang Tidak Dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam


Seputar Ramadhan dan ‘Idul Fitri

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1.Catatan Bagi Yang Tinggal Serumah Dengan Orangtua (Mertua)

2. Membantu Memfotokopikan Buku Agama Lain

3. Cara Menyikapi Berbagai Masalah Yang Menimpa Umat Islam

4.Menggunakan Video Untuk Berdakwah Di Media Sosial

5.Adab Sahur dan Berbuka Puasa

6. Beberapa Hal Yang Perlu Intropeksi Niat Sebelum Memasuki Ramadhan

7. Ramadhan Momen Berhenti Merokok Selamanya

8.Merokok Membatalkan Puasa Tetapi Inhalerdan Nebulizer Tidak Membatalkan

BEKAL MENYAMBUT BULAN RAMADHANUstadz Abu Ubaidah as-Sidawi -Hafizhahullah

Ust. Sofyan chalid Ruray-Kemungkaran di Hari Raya

Meraih Kesuksesan Ibadah Pada Bulan Ramadhan-Ust Yazid Abdul Qadir Jawas 8mb
Ust. Sofyan chalid Ruray- Menetapkan Awaldan Akhir Bulan Ramadhan

84 Audio Kajian Ramadhan Radiorodja

Air Mata Ramadhan( DR. Syafiq Riza Basalamah, M.A. ﺣﻔﻈﻪﺍﻟﻠﻪ (Doktor Ilmu Dakwah), DR. Firanda Andirja, M.A. ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ (Doktor Aqidah), DR. Sufyan Baswedan, M.A. ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ (Doktor Ilmu Hadits)54Mb 3 jm 37mnit

Koreksi Beberapa Kekeliruan Di Bulan Ramadhan-Al Ustadz Hilal Abu Naufal

Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin-Pelajaran Mengenai Puasa, Tarawih & Zakat

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz-28 Fatwa tentang Puasa-pdf

3 Bekal Penting Menyambut Bulan Ramadhan – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., MA. 

Tips Sahur Barokah Dari Rasulullah – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., MA.  

,===========,

Materi Kesebelas

Amalan-Amalan Yang Tidak Dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Seputar Ramadhan dan ‘Idul Fitri

Oleh : Abu Fadhel Majalengka

➡ A. Amalam Sebelum Ramadhan

✅ 1. Bermaaf-maafan sebelum masuk Ramadhan.
Budaya ini belum lama berlangsung. Yang masyhur dan sudah membudaya biasanya bermaaf-maafan setelah Ramadhan, yakni pada hari raya Idul Fitri. Namun ini dilakukan sebelum Ramadhan. Hal ini sudah tersebar dan bahkan sudah menjadi adat disebagian kalangan, kelompok atau jamaah tertentu.

Setiap akan memasuki bulan Ramadhan, mereka saling bermaaf-maafan. Baik dengan cara berkumpul, kemudian saling meminta maaf atau pun dengan melalui sms, bbm, facebook, wa, twitter, email dan lain sebagainya.

Hal ini tidak pernah dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatNya. Dan seandainya amalan ini baik, tentulah sahabat lebih duluan melakukannya.

Tapi yang diamalkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersegera meminta maaf apabila mereka bersalah. Tidak menunggu ramadhan atau pada hari raya idul fitri. Mereka takut kalau ajal menjemput, sebelum dimaafkan oleh saudaranya yang pernah dizaliminya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻟَﻪُ ﻣَﻈْﻠَﻤَﺔٌ ﻷَﺣَﺪٍ ﻣِﻦْ ﻋِﺮْﺿِﻪِ، ﺃَﻭْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺤَﻠَّﻞْﻩُ ﻣِﻨْﻪُﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻻَ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺩِﻳﻨَﺎﺭٌ ، ﻭَﻻَ ﺩِﺭْﻫَﻢٌ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻋَﻤَﻞٌ ﺻَﺎﻟِﺢٌﺃُﺧِﺬَ ﻣِﻨْﻪُ ﺑِﻘَﺪْﺭِ ﻣَﻈْﻠَﻤَﺘِﻪِ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﺣَﺴَﻨَﺎﺕٌ ﺃُﺧِﺬَ ﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِﺻَﺎﺣِﺒِﻪِ ﻓَﺤُﻤِﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ. ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ).

Barangsiapa yang di sisinya ada sesuatu dari hasil penganiayaan untuk saudaranya, baik yang mengenai kehormatan saudaranya itu atau pun sesuatu yang lain, maka hendaklah meminta maaf sekarang juga semasih di dunia, sebelum tidak berlakunya dinar dan dirham. Jikalau tidak meminta maaf sekarang ini, maka jikalau yang menganiaya itu mempunyai amal shalih, diambillah dari amal shalihnya itu sekadar untuk melunasi penganiayaannya, sedang jikalau tidak mempunyai kebaikan sama sekali, maka diambillah dari keburukan keburukan (dosa-dosa) orang yang dianiayanya itu, lalu dipikulkan (dibebankan) kepada yang menganiayanya tadi.” (HR. Bukhari Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

✅ 2. Ziarah Kubur.

Ziarah kubur merupakan amal ibadah yang dianjurkan dan disunnahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Banyak dalil yang menunjukan hal tersebut. Diantaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻓَﺰُﻭﺭُﻭﺍ ﺍﻟْﻘُﺒُﻮﺭَ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﺗُﺬَﻛِّﺮُﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ .

Berziarahlah kalian ke kuburan, karena ziarah kubur mengingatkan kematian. (HR. An Nasai, Ibu Majah dan Lain-lain dari Abu Hurairah. Disahihkan oleh Syekh Al Albani).

Ziarah kubur kapan saja kita lakukan, semakin sering kita melakukannnya, semakin bagus jiwa kita dan semakin lembut hati kita, dikarenakan semakin banyak menginggat kematian.

Ziarah kubur tidak dikhususkan hanya menjelang Ramadhan atau pada hari Raya ‘Idul Fitri saja. Apabila hal ini dilakukan dan menjadi kebiasaan, budaya atau adat, bahkan berkeyakinan bahwa hari tersebut hari yang bagus, hari yang utama, maka bisa jatuh pada perkara baru dalam hal agama yang sangat dilarang oleh syariat

✅ 3. Mandi besar.

Disebagian tempat, mandi besar atau mandi junub menjelang Ramadhan di pemandian-pemandian umum atau disungai-sungai sudah menjadi pemandangan yang lumrah, bahkan sudah menjadi tradisi yang turun-tumurun.

Tidak sedikit kegiatan ini banyak melanggar syariat. Berkumpulnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pada satu tempat. Terbukanya aurat yang mestinya ditutup dan kemaksiatan lainnya.

Mandi besar menjelang Ramadhan tidak ada tuntunannya dan tidak ada pula sunnahnya dari Nabi shalallahu alaihi wasallam. Apalagi di dalamnya terdapat pelanggaran syariatnya bercampur baurnya laki-laki dan perempuan yang begitu nyata.

Mandi besar hanya disyariatkan apabila junub, bersih dari haid atau nifas, mau shalat jumat atau hari raya, setelah memandikan mayat dan lain sebagainya yang disyariatkan.

✅ 4. Menetapkan Awal Ramadhan dengan hisab.

Menetapkan awal Ramadhan dan akhir Ramadhan sudah disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya, yakni dengan melihat bulan, sebagaimana di sebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮﻩُ ﻓَﺼُﻮﻣُﻮﺍ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮﻩُ ﻓَﺄَﻓْﻄِﺮُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥْ ﻏُﻢَّ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْﻓَﺎﻗْﺪُﺭُﻭﺍ ﻟَﻪُ . ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ).

Apabila kalian melihat bulan maka berpuasalah dan apabila kalian melihat bulan maka berbukalah. Maka jika tertutup awan, genapilah 30 hari.

Namun ada sebagian kelompok kaum muslimin menetapkan awal dan akhir ramadhan dengan hisab. Bahkan mereka bisa menetapkan sebulan sebelumnya atau bahkan setahun atau seratus tahun kemudian. Atau menetapkan Ramadhan dengan gejala alam, dengan pasang surutnya air laut misalkan. Atau karena instruksi dari pemimpin-pemimpin mereka. Akhirnya terjadilah kebingungan dikalangan umat islam.

Bahkan sampai memicu perpecahan diatara kaum muslimin.

✅ 5. Berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.

Banyak dikalangan kita umat Islam yang tidak mengetahui tentang larangan berpuasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan. Bahkan ada sekelompok kaum muslimin yang berpuasa sehari, dua hari bahkan seminggu sebelum pemerintah menetapkan kapan berpuasa yang berdasarkan ketentuan syariat. Mereka hanya mengikuti perhitungan-perhitungan yang tidak disyariatkan atau mengikuti dan mentaati pimpinan jamaahnya tarekatnya, yang penetapnnya kadang hanya berdasarkan hawa nafsu.

Sungguh disayangkan, mengaku kaum muslimin tapi tidak mengikuti larangan atau perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah :

ﻻَ ﻳَﺘَﻘَﺪَّﻣَﻦَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺑِﺼَﻮْﻡِ ﻳَﻮْﻡٍ ، ﺃَﻭْ ﻳَﻮْﻣَﻴْﻦِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَﺭَﺟُﻞٌ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﺻَﻮْﻣَﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺼُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ).

Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan melakukan puasa sehari atau dua hari kecuali orang yang biasa melakukan puasa (sunnah) maka hendaklah berpuasa hari itu.

Begitu pula sebagaimana hadits tentang memulai puasa dengan melihat bulan.

Apabila kalian melihat bulan maka berpuasalah dan apabila kalian melihat bulan maka berbukalah. Maka jika tertutup awan genapilah 30 hari. (HR. Bukhari Muslim).

Mereka berpuasa mendahului ketetapan pemerintah yang berdasarkan syariat. Mereka berpuasa tidak mengikuti tuntuan syariah islam yang berdasarkan al Qur’an dan asSunnah, tapi mengikuti seruan pimpinan organisasinya, partainya, kelompoknya atau jamaahnya.

✅ 6. Acara Syukuran atau Selamatan Menjelang Ramadhan.

Ada sebagian kalangan yang setiap menjelang Ramadhan mengadakan selamatan sebagai bentuk kesyukuran dengan acara membacakan berbagai macam bacaan-bacaan, doa-doa dan lain sebagainya, serta makan dan minum sebagai penutup acara. Acara syukuran atau selamatan tidak perlu menunggu bulan Ramadhan datang. Atau bulan-bulan tertentu. Setiap saat seharusnya senantiasa kita bersyukur kepada Allah Ta’ala, karena begitu banyak nikmat yang diberikanNya kepada kita. Baik berupa kesehatan, rizki dan lain sebagainya.

Sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala, kita harus senantiasa meningkatan amal ibadah. Sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata dalam hadits Muslim tentang bagaimana cara Rasulullah bersyukur. Yakni dengan meningkatkan amal ibadah. Beliau shalat malam sampai kakinya bengkak-bengkak.

ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﻗَﺎﻡَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻔَﻄَّﺮَ ﺭِﺟْﻼَﻩُ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗَﺼْﻨَﻊُﻫَﺬَﺍ ﻭَﻗَﺪْ ﻏُﻔِﺮَ ﻟَﻚَ ﻣَﺎ ﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻣِﻦْ ﺫَﻧْﺒِﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺄَﺧَّﺮَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﻳَﺎ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُﺃَﻓَﻼَ ﺃَﻛُﻮﻥُ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺷَﻜُﻮﺭًﺍ .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat malam, sampai pecah-pecah kedua telapak kakinya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Ya Rasulullah, “Mengapa Engkau mengerjakan seperti ini, dan sungguh dosamu telah diampuni apa yang telah lalu dan akan datang?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda: “Tidakkah saya ini menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengada-ngadakan acara selamatan menjelang Ramadhan sebagai bentuk kesyukuran, tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi kalau dalam acara tersebut ada unsur-unsur kesyirikan, bid’ah, maksiat dan hal-hal lain yang dilarang Allah Ta’ala, yang hanya mengundang dosa dan murkaNya. Masih banyak amalan-amalan lain yang tidak dicontohkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para salaf menjelang masuk ramadhan.

➡ B. Amalan Saat Ramadhan dan Hari Raya.

✅ 1. Membangunkan Sahur Dengan Berbagai Macam Suara dan Bunyi-Bunyian.

Dibeberapa daerah di negeri kita ini, membangunkan sahur banyak ragam, corak dan caranya. Ada yang bermain musik dan bernyanyi dangdut keliling kampung, disertai teriak-teriak membangunkan orang. Ada juga yang berteriak-teriak di pengeras suara masjiddan lain sebagainya.

Itu semua sangat mengganggu. Dimana waktu tengah malam sampai menjelang fajar merupakan waktu yang sangat tepat untuk beribadah. Untuk shalat tahajud, dzikir, baca qur’an, beristigfar minta ampunan dan berdoa kepada Allah Ta’ala. Apalagi kalau ada orang yang sakit, ini membuat sakitnya semakin parah, karena istirahatnya terganggu dengan berbagai macam suara tadi. Hal tersebut sangat menodai kesucian bulan Ramadhan. Tidak pantas hal-hal tersebut diamalkan untuk membangunkan orang sahur untuk ibadah puasa ramadhan yang agung.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajarkan kepada sahabatNya dan kepada kita semua ummatnya, bagaimana seharusnya memberitahu orang untuk bangun makan sahur.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasannya Bilal azan pada waktu malam, menjelang fajar, maka bersabda Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺆَﺫِّﻥَ ﺍﺑْﻦُ ﺃُﻡِّ ﻣَﻜْﺘُﻮﻡٍ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳُﺆَﺫِّﻥُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻄْﻠُﻊَﺍﻟْﻔَﺠْﺮُ .

Makanlah dan minumlah kalian sampai tiba azannya Ummi Maktum, maka sesungguhnya dia berazan pada waktu tibanya fajar (subuh).

Hadits ini menerangkan kepada kita semua bahwasannya disunnahkan untuk azan subuh itu dua kali. Azan yang pertama menunjukan waktu untuk sahur atau untuk makan dan minum, dan azan yang kedua untuk shalat subuh dan berhenti makan dan minum.

Sunnah ini sudah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin. Sehingga apabila ada orang yang mengamalkan sunnah ini dianggap aneh dan asing dan dianggap membawa ajaran baru.

Berapa lama jarak waktunya antara azan Bilal dan Ummi Maktum. Tidak ada dalil yang jelas yang menunjukan berapa lama jarak antara azan keduanya. Namun ada sebuah hadits tentang berapa lama jarak waktu sahur sampai azan subuh, yakni sekitar 50 ayat orang membaca ayat al Qur’an secara tartil..

ﻋَﻦْ ﺯَﻳْﺪِ ﺑْﻦِ ﺛَﺎﺑِﺖٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺗَﺴَﺤَّﺮْﻧَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻢْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥِ ﻭَﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِﻗَﺎﻝَ ﻗَﺪْﺭُ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔً. ‏( ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ).

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk shalat subuh. Kemudian aku bertanya berapa lama jarak antara sahur dan azan, beliau (Zaid bin Tsabit) menjawab, sekitar 50 ayat. (HR. Bukhori Muslim).

Inilah cara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kita tentang membangunkan untuk makan sahur yang sunnah, yakni dengan azan. Mari kita biasakan dan kita amalkan sunnah ini, sekaligus pengganti beragam macam cara membangunkan orang untuk sahur yang tidak ada landasan dalilnya.

✅ 2. Membaca niat puasa ramadhan berjamaah dan dengan suara yang keras.

Membaca niat merupakan rukun puasa yang tidak boleh ditinggalkan. Apabila tidak dilaksanakan, maka puasanya tidak sah dan harus diganti di bulan lain. Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳُﺠْﻤِﻊِ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻓَﻼَ ﺻِﻴَﺎﻡَ ﻟَﻪُ .

Barangsiapa tidak berniat puasa (ramadhan) sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. (HR. Tirmidzi, An Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hiban, Al Hakim, Ad Darul Qothni dan Al Khathabi, dari Hafshah radhiyallahu ‘anha dan dishahihkan oleh Syekh al Albani di Shahih Dhaif Ajami’ wa Shshaghir 23/484).

Kedudukan niat sangat utama dan merupakan rukun dalam ibadah puasa. Tapi walaupun demikian, tidak seenaknya kita mengamalkan syariat ini tanpa ada contoh dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi dan para sahabatnya membaca niat dengan suara yang keras dan bersama-sama dipimpin oleh imam masjid setiap selesai shalat terawih. Apalagi dengan lafadz Nawaitu Shaumal-ghodi…..,ucapan niat seperti ini, di hadits manapun kita tidak akan menjumpainya, sekalipun hadits palsu atau mungkar.

Berniatlah dalam hati dan sendiri-sendiri, tidak perlu dinyaringkan dan bersama-sama. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati-hati kita. Niat adalah amalan hati, bukan amalan lisan. Allah Ta’ala berfirman : Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu (QS. Al Baqoroh 235).

✅ 3. Bershalawat Berjamaah Dengan Suara Keras.

Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan perintah Allah dan RasulNya, sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an dan as Sunnah. Allah Ta’ala berfirman :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺻَﻠُّﻮﺍﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ .

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Al Ahzab 56).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻰَّ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻰَّ ﺻَﻼَﺓً ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﻬَ ﻋَﺸْﺮًﺍ .‏( ﻣﺴﻠﻢ ).

Bershalawatlah kepadaku, maka sesungguhnya barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat atasnya 10 kali. (HR. Imam Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallohu anhu).

Tetapi apabila shalawat ini dibaca dengan suara yang keras dan dengan cara berjamaah setiap selesai salam setiap dua rakaat shalat teraweh, ini tidak ada dasarnya. Ditambah lagi dengan lafadz shalawat yang beraneka.macam dan bentuknya. Beraneka macam alunan suaranya. Setiap masjid, surau atau mushalah memiliki shalawat yang berbeda-beda. Kalau ingin bershalawat, bershalawatlah sendiri-sendiri dengan suara yang pelan dan lembut, karena shalawat merupakan ibadah, shalawat adalah doa dan dzikir. Sedangkan berdoa atau berdzikir disyariatkan dengan suara yang pelan, lembut, bahkan dalam hati, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam al Qur’an surat Al ‘Araf ayat ke 55,56 dan 205 :

ﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺗَﻀَﺮُّﻋًﺎ ﻭَﺧُﻔْﻴَﺔً ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﻳﻦَ. ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻔْﺴِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺻْﻠَﺎﺣِﻬَﺎ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﻩُ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَﻃَﻤَﻌًﺎ ﺇِﻥَّ ﺭَﺣْﻤَﺖَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺮِﻳﺐٌﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ .

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat.kepada orang-orang yang berbuat baik (al ‘Araf : 55-56).

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮْ ﺭَﺑَّﻚَ ﻓِﻲ ﻧَﻔْﺴِﻚَ ﺗَﻀَﺮُّﻋًﺎ ﻭَﺧِﻴﻔَﺔً ﻭَﺩُﻭﻥَ ﺍﻟْﺠَﻬْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِﺑِﺎﻟْﻐُﺪُﻭِّ ﻭَﺍﻟْﺂﺻَﺎﻝِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜُﻦْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ .

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai ((al‘Araf : 205).

Bershalawat pun harus dengan lafadz yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak menambah-nambah, berinovasi dan tidak berkreasi sendiri, tapi harus sesuai dengan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits tentang salah satu shalawat yang nabi shallallahu alaihi wa sallam ajarkan yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ka’ab bin ‘Ujroh radhiyallahu anhu, dimana.para sahabat berkata, ajarkan kepada kami bagaimana kami bershalawat kepadaMu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Katakanlah oleh kalian :

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴﺪٌ ﻣَﺠِﻴﺪٌ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ،ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴﺪٌ ﻣَﺠِﻴﺪ. ‏( ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ).

Inilah salah satu lafadz shalawat yang benar, yang Nabi ajarkan kepada para sahabatnya, bukan shalawat yang penuh dengan berbagai macam tambahan disana-sini. Shalawat adalah ibadah, menambah-nambah dalam urusan agama, adalah bid’ah.

(Lanjut ke halaman 2)