Tauhid Dalam Pandangan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah 

Alhamdulillah

1. Allah Turun Ke Langit Dunia

2.Ktika Mereka Menolak Sifat Uluw & Istiwa(1)

3.Ktika Mereka Menolak Sifat Uluw & Istiwa(2)

POndasi Tauhid Asma Wa Shifat-Ust Mizan Qudsiyah

Tauhid Asma Wa Shifat-Ust Mizan Qudsiyah

Pembatal Tauhid ‘Asma Wa Shifat-Mizan Qudsiyah 9mb 

Dimana Allah-Ust Muhammad Nur Ihsan

Dimanakah Allah Berada? (Mizan Qudsiyah, Lc)

Benarkah Allah Dimana-ManA Ust Mizan Qudsiyah

Dimana Allah? (Abu Yahya Badrussalam, Lc)

Allah Turun ke Langit Dunia (Abdurrahman Thayyib)

Ainallah(Dimana Allah) Ust Abu Ihsan Al-Atsary

Nama dan Sifat Allah Bukan Makhluk (Abdurrahman Thayyib)

Contoh Sifat Allah(Abdurrahman Thayyib)

Ebook Jawaban Atas Syubhat Para Pengingkar Sifat ‘Uluw Bagi Allah Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA

Ebook Dalil Akal, Fitrah dan Ijma’ Tentang
Sifat ‘ULUW Bagi ALLAH Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA

Ebook Sifat al-‘Uluw Bagi Allah Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA

Ebook Memahami Tauhid Asma’ was Sifat Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA

Ebook Sifat al-‘Uluw Bagi Allah (Bag.2)
Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA

Ebook Kaidah-kaidah Memahami Sifat Allah Penulis: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA

Ebook Landasan-Landasan Imam Di Bawah Cahaya Al-Qur’an dan As-Sunnah

Penyusunan buku ini adalah: Dr. Shaleh bin Sa’ad as Suhaimy, Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad dan Dr. Ibrahim bin ’Amir ar Ruhaily. Sedangkan tim muraja’ah -nya: Prof. Dr. Ali bin Nasher Faqihy dan Prof. Dr. Ahmad bin ‘Athiyah al Ghamidy. Penerjemah buku ini ke dalam bahasa Indonesia adalah Dr. Dasman Yahya Ma’aly, dan yang merevisi.( muraja’ah ) dan mentashih terjemahan ini Dr. Aspri Rahmat Azai dan Dr. Muhammad Arifin bin Badri, – semoga Allah menjaga mereka semua-.

Pembatal Tauhid Asma’ Wa Sifat -Ustadz Mizan

***

MENGINGKARI SIFAT ISTIWA’ ALLAH ITU BERASAL DARI SEORANG YAHUDI

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah  Rahimahullah-: “Sesungguhnya yang pertama kali menyatakan perkataan ini didalam Islam- yaitu perkataan Allah tidak beristiwa’ diatas Arsy secara hakikat, dan makna Istiwa’ itu adalah Istawla’ (menguasai) dan semacamnya- adalah Ja’ad bin Dirham yang mana Jahm bin Sofwan mengambil (ilmu) darinya, kemudian beliau sebarkan dan di sandarkanlah kepadanya pendapat jahmiyah ini. Dan dikatakan bahwa Ja’ad bin dirham mengambil perkataan ini dari Abaan bin sam’an, dan Abaan mengambilnya dari Thoolut keponakan Labiid Al-‘Ashom, dan Thoolut mengambil dari (pamannya) LABIID AL’ ASHOM SEORANG YAHUDI YANG MENYIHIR NABI SHOLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM.” (Majmu’ Fatawa 5/20)

Jadi, dari sini kita ketahui bahwa hakikat pengingkaran terhadap sifat istiwa’ bagi Allah serta menta’wilkannya kepada makna istawla’ (menguasai) adalah perkataan yang berasal dari seorang yahudi yang menyihir Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan dengan menta’wilkannya kepada makna istawla’nsecara tidak langsung terjatuh kedalam tasybih ( menyerupakan Allah dengan makhluknya) karena makna istawla’ adalah menguasi yang sebelumnya dikuasi oleh yang lain..

✅ Sebagaimana Ibnu Al’ Araby (ulama pakar bahasa) mengatakan:

ﻻ ﻳﻘﺎﻝ ﺍﺳﺘﻮﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﻣﻀﺎﺩﺍً ﻓﺈﺫﺍ ﻏﻠﺐﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻗﻴﻞ ﺍﺳﺘﻮﻟﻰ

tidaklah dikatakan Istawla’ atas sesuatu kecuali disana ada musuhnya, setelah salah satunya mengalahkan yang lain baru dikatakan Istawla’.” (Syarah Ushul ‘Itiqod Ahlu Sunnah WalJama’ah 2/399)

Agus Susanto

****

➡ TAUHID DALAM PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH SALAFUS SHALEH

 

PELAJARAN PERTAMA : Berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafus Shaleh meyakini bahwa pelajaran Tauhid adalah pelajaran yang pertama dan utama dalam memahami serta mengamalkan Al Islam. Beda dengan kaum Asya’rah dan Maturidiyah yang memandang Tauhid itu adalah pelajaran tabu bagi pemula karena ia tidak bisa dipelajari kecuali hanya melalui ilmu-ilmu filsafat Yunani yang notabene orang-orang Yunani itu adalah para penyembah berhala dan para penyembah jin atau bahkan kaum intelektualnya adalah orang-orang atheis yang tidak bertuhan.

Ilmu Mantiq dan Ilmu Kalam produk filsafat Yunani adalah rujukan wajib untuk landasan mempelajari Tauhid. Sedangkan Ahlus Sunnah mencukupkan diri untuk rujukannya dalam memahami Tauhid, hanya dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para Salafus Shaleh.

Allah Ta’ala menegaskan bahwa para Nabi dan Rasul yang diutus kepada kaumnya masing-masing selalu mereka memberi pelaran pertama kepada kaumnya dengan pelajaran Tauhid :

ﻭﻟﻘﺪ ﺑﻌﺜﻨﺎ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺃﻣﺔ ﺭﺳﻮﻻ ﺃﻥ ﺍﻋﺒﺪﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﺟﺘﻨﺒﻮﺍ ﺍﻟﻄﺎﻏﻮﺕ- ﺍﻟﻨﺤﻞ ٣٦

Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap ummat seorang Rasul yang menyeru kaumnya : Beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan jauhilah para thaghut (yakni segala sesembahan selain Allah)”. QS. An Nahl 36.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam berpesan kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu ketika mengutusnya berda’wah ke negeri Yaman :

ﺇﻧﻚ ﺗﺄﺗﻲ ﻗﻮﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ، ﻓﻠﻴﻜﻦ ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﺗﺪﻋﻮﻫﻢ ﺇﻟﻴﻪﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ – ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ : ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﻮﺣﺪﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ -ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺭﻗﻢ ١٤٩٦ ﻭ ﻣﺴﻠﻢ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚﺭﻗﻢ ١٩ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ .

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari kalangan Ahli Kitab (yakni Yahudi dan Nashara), maka hendaklah yang pertama kamu seru kepadanya ialah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dalam satu riwayat disebutkan : Hendaknya yang pertama kamu serukan kepadanya itu ialah agar mereka mentauhidkan Allah”. HR. Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1496 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 19 dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

Dengan demikian, maka Tauhid adalah pelajaran pertama dan utama bagi para Nabi dan juga bagi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Adapun yang pertama harus dipelajari dalam Tauhid ialah siapakah Allah itu ? Jawabannya ialah Firman Allah Ta’ala tentang diriNya :

ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻪ ﻭﺍﺣﺪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﻭﻟﺪ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕﻭﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻛﻔﻰ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻛﻴﻼ – ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ١٧١

“Hanyalah Allah itu satu -satunya sesembahan yang benar, maha suci Dia dari kemungkinan mempunyai anak, milikNyalah segala apa yang di langit yang tujuh dan segala apa yang di bumi, dan cukuplah Allah itu sebagai pihak yang sepantasnyalah kita bertawakkal kepadanya”. QS. An Nisa’ 171.

Ketika orang Arab menanyai Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, hai Muhammad, sebutkankanlah nasab keturunan Tuhanmu. Maka turunlah kepada beliau Firman Allah Ta’ala untuk menjawab pertanyaan tersebut:

ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ – ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﻤﺪ – ﻟﻢ ﻳﻠﺪ ﻭﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻛﻔﻮﺍﺍﺣﺪ – ﺍﻹﺧﻼﺹ ١ – ٤

Katakanlah hai Muhammad, Dia adalah Allah yang esa, dia adalah Tuhan yang bergantung sepenuhnya kepadaNya segenap makhluq. Dia tidak melahirkan anak dan Dia tidak dilahirkan oleh siapapun, Dia tidak sebanding dengan siapapun”. QS. Al Ikhlas 1-4.

PELAJARAN KEDUA DALAM TAUHID ADALAH :
Pertanyaan : Dimanakah Allah itu ? 

✅ Jawabannya ialah Firman Allah tentang diriNya :

– ﺗﻌﺮﺝ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭﺍﻟﺮﻭﺡ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻛﺎﻥ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺃﻟﻒﺳﻨﺔ – ﺍﻟﻤﻌﺎﺭﺝ ٣ – ٤

Para Malaikat beserta Malaikat Jibril, NAIK kepadaNya dengan menempuh perjalanan dalam sehari seperti perjalanan lima puluh ribu tahun bila ditempuh oleh manusia”. QS. Al Ma’arij 3 – 4.

Demikianlah Allah memberitahukan bahwa diriNya berada DIATAS makhluq yang paling ATAS atau paling TINGGI.

✅ Juga Allah Ta’ala berfirman :

ﺇﻟﻴﻪ ﻳﺼﻌﺪ ﺍﻟﻜﻠﻢ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻳﺮﻓﻌﻪ – ﻓﺎﻃﺮ ١٠

KepadaNyalah NAIK segala omongan yang baik dan amalan shaleh akan dibawa NAIK kepadaNya”. QS. Fathir10.

Ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas. Karena NAIK itu ialah dari bawah ke atas.

Juga Allah Ta’ala menegaskan bahwa dirinya berada di atas langit :

ﺀﺃﻣﻨﺘﻢ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺃﻥ ﻳﺨﺴﻒ ﺑﻜﻢ ﺍﻷﺭﺽ ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻲ ﺗﻤﻮﺭ -ﺃﻡ ﺃﻣﻨﺘﻢ ﺃﻥ ﻳﺮﺳﻞ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺣﺎﺻﺒﺎ – ﺍﻟﻤﻠﻚ ١٦ – ١٧

Apakah kalian merasa aman dengan Dzat yang ada DI ATAS langit, untuk dibelahnya bumi sehingga kalian tenggelam padanya, maka bumi itupun bergemuruh karenanya ? Apakah kalian merasa aman dengan Dzat yang ada DI ATAS langit untuk mengirimkan kepada kalian angin ribut ?”. QS. Al Mulk 16 – 17.

✅ Allah Ta’ala juga memberitahu kita dimana Dia berada :

ﺍﻟﺮﺣﻤﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ – ﻃﻪ ٥

Dia Yang Maha pengasih berada di atas ArsyNya”. QS.Thaha 5.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah berada di atas ArsyNya dengan cara yang sesuai dengan KebesaranNya dan KeagunganNya. Tidak serupa dengan apapun dari makhluqNya. Kata ﺍﺳﺘﻮﻯ di ayat ini tidaklah diartikan dengan : “Bersemayam”, melainkan diartikan : ﻋﻠﻰ ﻭﺍﺭﺗﻔﻊ “Ala wartafa’a” yang artinya : “Berada di atas dan diketinggian”, yakni Dia Allah berada diatas yang tinggi bahkan lebih tinggi dari makhluqNya yang paling tinggi , yaitu diatas Arsy.

Adapun Jahmiyah (aliran sesat yang menolak untuk beriman kepada adanya sifat-sifat Allah) bersama dengan Mu’tazilah dan Asy’ariyah – Maturidiyah, mereka semua menolak untuk beriman bahwa Allah berada di atas ArsyNya. Mereka menolak adanya “Al Jihah” (yakni arah tertentu bagi keberadaan Allah), sehingga mereka memaksa diri untuk menteorikan bahwa Allah itu tidak di atas dan tidak dibawah dan tidak di kanan dan tidak pula di kiri. Akhirnya mereka berusaha mentahrif (merubah) makna ayat-ayat Al Qur’an yang dengan tegas menyatakan bahwa Allah berada di atas langit dan di atas makhluqNya yang paling atas, yaitu Arsy. Sehinggaﺍﺳﺘﻮﻯ “Istawa” mereka rubah maknanya menjadi ﺍﺳﺘﻮﻟﻰ “Istawla” yang artinya berkuasa. Mereka menyerupakan Allah dengan makhluqNya, yaitu dimana saja makhluq itu berada, maka dia akan terikat dengan posisi keberadaannya. Jadi kalau Dia di atas, berarti Dia tidak ada di sebelah kanannya dan tidak ada pula di sebelah kirinya tidak pula di sebelah bawah. Setelah mereka menyerupakan keberadaan Allah di arah tentu sebagaimana keberadaan makhluqNya, kemudian mereka mengingkari keberadaan Allah di arah tertentu dengan alasan tidak menyerupakan Allah dengan makhluqNya

Demikianlah kebingungan logika mereka. Dimana mereka sendiri yang menteorikan bahwa keberadaan Allah serupandengan keberadaan makhluqNya, setelah itu mereka menolak berita dari Allah bahwa Dia berada di atas segenap makhluqNya yang paling atas. Padahal seandainya mereka mau mengartikan Al Qur’an dengan apa yang ditafsirkan oleh para Salafus Shaleh, niscaya mereka akan dengan tenang mengimani semua isi Al Qur’an baik tentang Allah ataupun tentang yang lainnya.

Berikut ini saya ringkaskan bantahan Imam Ahmad bin Hanbal terhadap mereka dari kitab Ar Raddu Alaz Zanadiqah Wal Jahmiyah :

Al Qur’an telah menjelaskan bahwa Allah itu di atas ArsyNya dan Arsy Allah itu di atas langit ketujuh.

ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﻛﺎﻥ ﻋﺮﺷﻪ

ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺎﺀ – ﻫﻮﺩ ٧

Dan Dia Allah yang telah menciptakan langit yang tujuh dan bumi dan Arsy Allah itu telah ada sebelum mencipta langit dan bumi di atas air”. QS. Hud 7.

Allah Ta’ala memberi tahu kita bahwa Dia naik ke langit dan kemudian Dia ciptakan langit itu dalam tujuh langit :

ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻓﺴﻮﻫﻦ ﺳﺒﻊ ﺳﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﻫﻮ ﺑﻜﻞ ﺷﻲﺀﻋﻠﻴﻢ – ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ٢٩

Kemudian Dia ﺍﺳﺘﻮﻯ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ – naik ke langit – kemudian Dia menjadikan langit itu menjadi tujuh langit dan IlmuNya meliputi segala sesuatu”. S. Al Baqarah 29.

Ayat ini telah menunjukkan bahwa makna ﺍﺳﺘﻮﻯ (istawa) itu ialah naik ke atas (bukan ﺍﺳﺘﻮﻟﻰ =berkuasa).

✅ Juga Allah berfirman :

ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﻫﻲ ﺩﺧﺎﻥ – ﻓﺼﻠﺖ ١١

Kemudian Dia ﺍﺳﺘﻮﻯ (naik) ke langit dan langit itu dalam keadaan sebagai asap “. S. Fussilat 11.

✅ Juga Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Isa alaihis salam :

ﻭﻣﺎ ﻗﺘﻠﻮﻩ ﻳﻘﻴﻨﺎ – ﺑﻞ ﺭﻓﻌﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻪ – ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ١٥٧ – ١٥٨

Dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya, akan tetapi Allah angkat dia naik kepadaNya“. S. An Nisa’ 157- 158.

✅ Juga firmanNya kepada Nabi Isa alaihis salam :

ﺇﻧﻲ ﻣﺘﻔﻴﻚ ﻭﺭﺍﻓﻌﻚ ﺇﻟﻲ – ﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ ٥٥

Sesesungguhnya Aku telah menyempurnakan ni’matKu kepadamu dan menaikkan kamu kepadaKu”. Al Imran 55.

✅ Juga firmanNya :

ﻳﺨﺎﻓﻮﻥ ﺭﺑﻬﻢ ﻣﻦ ﻓﻮﻗﻬﻢ – ﺍﻟﻨﺤﻞ ٥٠

Mereka takut dari Tuhan mereka yang berada di atas mereka”. S. An Nahel 50.

✅ Juga firmanNya di S. Al An’am 18 :

ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﺎﻫﺮ ﻓﻮﻕ ﻋﺒﺎﺩﻩ . ”

Dan Dia Allah berkuasa di atas hambaNya”

Adapun ayat-ayat Al Qur’an yang dijadikan dalil oleh kalangan pengingkar sifat ULUW (sifat bahwa Allah berada di atas), ialah

 :ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ – ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ ٣ .

Dan Dia Allah di langit yang tujuh dan di bumi” QS. Al An’am 3.

✅ Juga firmanNya :

– ﻭﻫﻮ ﻣﻌﻜﻢ ﺃﻳﻦ ﻣﺎ ﻛﻨﺘﻢ – ﺍﻟﺤﺪﻳﺪ ٤ .

Dan Dia Allah beserta kalian dimanapun kalian berada”. QS. Al Hadid 4.

✅ Juga Firman Allah Ta’ala :

ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺇﻟﻪ ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﺇﻟﻪ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﺍﻟﻌﻠﻴﻢ -ﺍﻟﺰﺧﺮﻑ ٨٤

Dan Dia Allah yang di langit sebagai Ilah (yakni sesembahan) dan di bumi sebagai sesembahan dan Dia.Maha Sempurna HikmahNya dan Maha sempurna IlmuNya”. S. Az Zukhruf 84.

Mereka menyatakan bahwa ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa Allah tidak menempati satu tempat tertentu atau satu arah tertentu. Kerangka berfikir logika.mereka ini persis seperti yang Allah dan RasulNya peringatkan kita daripadanya, yaitu bahwa.mereka ini adalah orang-orang yang mencari-cari ayat yang bisa ditarik kepada pemahaman mereka, sementara ayat-ayat yang Muhkamat (jelas dan gamblang) yang menegaskan bahwa Allah berada di atas langit yaitu di atas ArsyNya, telah menerangkannya dan dapat dipahami dengan mudah secara bahasa Arab.

Mestinya ayat-ayat Muhkamat telah cukup menerangkan tentang kedudukan Allah di atas langit ke tujuh, yaitu di atas ArsyNya yang ArsyNya diletakkan di atas air yang ada di atas sana. Adapun ayat-ayat yang mereka jadikan dalil untuk menolak pengertian dari ayat-ayat Muhkamat itu, tidaklah menerangkan tentang dimana keberadaan Allah, akan tetapi menerangkan tentang kesempurnaan Sifat-Sifat Allah yang lainNya. Yaitu Ilmu Allah yang Maha sempurna dan pertolonganNya, ini bila kita melihat kelengkapan ayat-ayat tersebut :

ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻳﻌﻠﻢ ﺳﺮﻛﻢ ﻭﺟﻬﺮﻛﻢ ﻭﻳﻌﻠﻢ

ﻣﺎ ﺗﻜﺴﺒﻮﻥ – ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ ٣

Dan Dia Allah yang Ilmunya meliputi tujuh langit dan bumi, Dia Mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan dan Dia Mengetahui apa saja yang kalian upayakan”. QS. Al An’am 3.

Juga dalam QS. Al Hadid 4, Allah menegaskan tentang IlmuNya yang Maha sempurna :

ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻯ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ﻓﻰ ﺳﺘﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﻋﻠﻰﺍﻟﻌﺮﺵ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻳﻠﺞ ﻓﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻣﺎ ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻣﺎ ﻳﻨﺰﻝ ﻣﻦﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﻣﺎ ﻳﻌﺮﺝ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﻣﻌﻜﻢ ﺃﻳﻦ ﻣﺎ ﻛﻨﺘﻢ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﺗﻌﻤﻠﻮﻥﺑﺼﻴﺮ –

“Dia Allah yang Menciptakan langit yang tujuh dan bumi dalam enam hari kemudian Dia naik di atas ArsyNya, ilmunya meliputi apa saja yang masuk ke bumi dan apa saja yang keluar daripadanya dan apa saja yang turun dari langit dan apa saja yang naik padanya dan Ilmu Allah itu selalu beserta kalian dimanapun kalian berada dan Allah itu Maha Melihat apa saja yang kalian kerjakan”.

Sedangkan QS. AZ Zukhruf 84 adalah berita tentang penduduk langit dan bumi yang menjadikan Allah sebagai sesembahan. Jadi bukan memberitakan tentang tempat Allah berada. Maka sesungguhnya Ilmu Allahlah yang selalu menyertai segala gerak-gerik makhluqNya dimanapun mereka berada :

ﻟﺘﻌﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻗﺪﻳﺮ ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺪ ﺃﺣﺎﻁ ﺑﻜﻞﺷﻲﺀ ﻋﻠﻤﺎ – ﺍﻟﻄﻼﻕ ١٢

“Agar kalian tahu bahwa Allah itu atas segala sesuatu itu Maha berkuasa dan bahwa Allah itu sungguh IlmuNya meliputi atas segala sesuatu tersebut”. QS. At Thalaq 12.

Sedangkan Dzat Allah, telah diberitakan olehNya bahwa Ia menempati posisi di atas makhluqNya yang paling tinggi kedudukannya. Yaitu diatas ArsyNya. Dan Dia turun ke langit dunia di setiap sepertiga terakhir malam, dengan cara yang sesuai dengan Maha Sempurnanya Allah dengan segala KemuliaanNya, yang tidak serupa dengan turunnya . Karena Dia. Allah Ta’ala telah memberitakan di dalam Al Qur’an bahwa Dia di atas langit ke tujuh dan di atas ArsyNya yang diletakkan di atas air yang ada di atas langit yang ketujuh itu.

(Lanjut di halaman 2)