Dunia yang Fana, Fitnah Dunia dan Qana’ah Telaga yang Tak Pernah Kering
Alhamdulillah..

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Mari Merenungi Hakekat Hidup.Ini & Dunia Adalah Kelalaian Yang Menipu

2.Qanaah dalam Beragama

3. 5 Manfaat Memiliki Sifat Qanaah

4.Meraih Sifat Qana’ah
Lelah Mengejar Dunia (DR. Firanda Andirja, MA)
Akibat dan Bahaya Cinta Dunia (Yazid bin Abdul Qadir Jawas)
Jangan Kau Risaukan Duniamu Wahai Saudaraku (DR. Firanda Andirja, MA)

Cinta Dunia Takut Mati (DR. Firanda Andirja, MA)
Melatih Diri untuk Qanaah-Ust Ahmad Zainuddin
Qanaah dalam Beragama-Konsultasisyariah
Indahnya Qana’ah (Merasa Cukup dengan Rezeki dari Allah)

Sifat Qana’ah Ust Ahmad Zainuddin
Dahsyatnya Fitnah Dunia-Ust Ali Musri
Abu Zubeir al-Hawaary-Fitnah Dunia
Kiat-kiat Menghadapi Fitnah Akhir Zaman
(Anas Burhanuddin, MA)

Fitnah Akhir Zaman (DR. Firanda Andirja, MA)
Ketika Fitnah Melanda (DR. Syafiq Reza Basalamah, MA)
Salah dalam Menatap Dunia (Maududi Abdullah, Lc)
***

➡ Dunia yang FANA

Disalin dari Buku Rintangan Setelah Kematian, karya Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin  حفظه الله

➡ DUNIA TEMPAT SINGGAH SESAAT

Banyak orang lupa atau tidak sadar bahwa dunia hanya sebagai tempat peristirahatan sementara dan tempat tinggal sejenak untuk mencari bekal perjalanan menuju kampung akhirat. Oleh karena itu dunia hanya sebagai lahan untuk beramal dan tempat untuk beribadah kepada Allah عزّوجلّ, sedangkan akhirat sebagai kampung menuai balasan dan memetik pahala. Betapa indahnya tafsir ulama terhadap firman Allah:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi,” (QS..Al-Qashash [28]: 77).

yang menegaskan: Carilah dengan  karunia  Allah yang diberikan kepadamu untuk kepentingan akhirat, yaitu surga, karena seorang mukmin harus bisa menggunakan nikmat dunia untuk kepentingan akhirat, bukan untuk (kepentingan) tanah, (kenikmatan) air, kesombongan dan melampaui batas. Sehingga seakan-akan mereka berkata: “Janganlah kamu terlena karena kamu akan meninggalkan semua hartamu kecuali bagianmu, yaitu kain kafan.”1

Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم memegang pundakku, lalu bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنهما يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit, dan waktu hidupmu sebelum kamu mati,” (HR. Bukhari No. 6416).

 Selayaknya kita bersiap diri meninggalkan kampung dunia menuju kampung akhirat dengan selalu menambah simpanan kebaikan, bersegera memenuhi panggilan Allah, memperbanyak bekal dan bertobat dengan tobat nasuha, kalau tidak, kita pasti akan tertipu fatamorgana dunia, sedang tabiat dunia hanya satu, dunia meninggalkan kita atau kita meninggalkan dunia. Manakah lebih dahulu menghampiri kita, hanya Allah yang Maha Mengetahui dan Menentukan.

✅ Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata:

نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ فَقُلْنَ:  يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوِ اتَّخَزْنَا لَكَ وِطَاءً عَلَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لِي وَلِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَاإِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Rasulullah tidur di atas tikar lalu bangun sedangkan lambungnya tergores-gores dengannya, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak menyuruhku mencari alas?’ Maka beliau berkata, ‘Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti orang yang sedang naik kendaraan berteduh di bawah pohon kemudian pergi meninggalkannya?’“2

✅ Ali bin Abu Thalib رضي الله عنه berkata, “Sungguh dunia semakin habis berlalu dan akhirat semakin mendekat, sedangkan keduanya masing-masing mempunyai anak turunan. Dan jadilah kalian anak turunan akhirat dan jangan menjadi anak turunan dunia, karena sekarang kesempatan beramal tanpa ada hisab dan besok hanya ada hisab sementara tidak ada kesempatan beramal.”3

Wahai saudaraku kaum muslimin, ingatlah akan empat perkara: Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka tentramlah jiwaku. Aku tahu bahwa amalku tidak akan dilakukan orang lain, maka Aku pun disibukkan dengannya. Aku tahu bahwa kematian akan datang tiba-tiba, maka segera Aku menyiapkannya. Dan Aku tahu bahwa diriku tidak akan lepas dari pantauan Allah, maka Aku akan merasa malu kepada-Nya.4

Orang yang membersihkan hatinya dari sifat rakus dan serakah akan merasa ringan untuk meninggalkannya, senantiasa siap untuk bertemu dengan Rabbnya, dengan penuh semangat menyongsong masa depan yaitu akhirat, dan selalu siaga menyambut kematian. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

Jika cahaya telah masuk ke dalam hati, maka akan menjadi lapang dan tenang.” Mereka bertanya, “Dan apakah tanda-tandanya wahai Rasulullah? “Beliau bersabda, “Bersiap siaga untuk kembali ke kampung kekekalan, bersiap siaga untuk berpisah dengan kampung penuh penipuan (dunia), dan bersiap siaga untuk dijemput kematian sebelum kehadirannya.”5

Siapa yang menyia-nyiakan hidupnya, mengikuti rayuan setan dan mengumbar hawa nafsu, niscaya ia akan terjatuh ke dalam berbagai macam dosa dan maksiat, akhirnya kehilangan nikmat surga di akhirat.

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata,” (QS. Al-Hajj [22]: 11).

✅ Abdullah bin Aizar berkata, “Anak Adam mempunyai dua rumah hunian: Rumah hunian yang berada di atas bumi dan rumah hunian yang berada di bawah bumi. Mereka berusaha mempercantik dan memperindah rumah hunian yang berada di atas bumi, mereka membuat pintu-pintu menghadap sebelah kiri, pintu-pintu menghadap sebelah kanan, dan mereka berusaha membuat penghangat untuk musim dingin dan membuat pendingin untuk musim panas. Kemudian berusaha membuat rumah hunian yang berada dibawah bumi, ternyata malah merusaknya. Lalu ada yang datang berkata, ‘Sudahkah kamu berfikir? Rumah yang berada di atas bumi sementara kamu bangun dengan megah. Berapa lama kamu tinggal di dalamnya?’ Dia menjawab, Tidak tahu secara persis.’ ‘Dan sedangkan rumah hunian yang berada di bawah bumi yang kamu rusak, berapa lama kamu akan tinggal di tempat itu?‘ Dia menjawab, ‘Aku akan tinggal di tempat itu hingga Hari Kiamat.’ Maka orang tersebut berkata kepadanya, ‘Bagaimana kamu bisa merasa tidak bersalah dengan tindakanmu itu, sementara kamu seorang hamba yang berakal sehat?'”

***

 ➡ FITNAH DUNIA

Dunia merupakan hunian yang penuh dengan fitnah dan cobaan. Dan ia terus berubah. la tak abadi. Kadang ia pasang, kadang surut. Kadang ramah, kadang buas sebagaimana nasib para penghuninya. Dunia adalah surga dan neraka.

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”7

Manusia memang makhluk yang paling mulia. Namun ia juga paling rakus terhadap kenikmatan dunia. la cintai dunia dengan membabi buta. Tak pernah lelah ia kejar dunia sehingga tubuh lekas tua dan akal cepat pikun.

✅ Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ

Dua perkara yang membuat anak Adam cepat pikun dan cepat tua: rakus terhadap harta dan rakus terhadap umur.”8

Angan-angan hamba untuk menghimpun dunia tidak pernah terpuaskan. Bahkan, semakin bertambah hartanya semakin ia menginginkan yang lebih. Tak pernah puas ia hingga mulutnya disumbat dengan tanah kuburan.

✅ Dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنَّ لَهُ وَادِيًا آخَرَ وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ

Andaikata anak Adam punya satu lembah dari emas maka ia akan senang bila punya satu lembah lainnya dan tidak akan penuh mulutnya kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.”9

Harta kekayaan dan nikmat dunia tidaklah tercela, namun yang tercela adalah prilaku seorang hamba terhadapnya, dengan sifat rakus dan tamak kepadanya, mencarinya dengan cara tidak halal, tidak menunaikan hak-haknya, membelanjakan bukan pada tempatnya, bersikap melampui batas atau sombong karenanya sehingga Allah عزّوجلّ berfirman:

كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى. أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى . إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى

Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena Dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu),” (QS. Al-‘Alaq [96]: 6-8).

Wahai manusia, ingatlah dunia yang kalian tekuni, karier yang kalian kejar, kesejahteraan yang kalian dambakan, ketenangan yang kalian idamkan, kebahagiaan yang kalian inginkan dan kemewahan yang kalian impikan pasti akan berakhir dengan kepunahan dan kematian, apa pun yang ada di dunia ini pasti akan sirna. Dunia tempat di mana kenistaan bertahta dan ketamakkan sebagai raja, kezaliman berkuasa, kesengsaraan sebagai busana, sehingga dunia laksana pelacur yang tidak pernah setia kepada suaminya.10 Orang yang mengejarnya bagaikan mengejar binatang buas dan orang yang mencarinya laksana sedang berenang di danau buaya, dan orang yang menikmatinya ibarat meminum air garam yang tidak pernah merasa puas.

Sudah menjadi ketetapan sunnatullah bahwa sifat dunia fluktuatif, gampang terkena krisis dan cepat berganti layar, yang kaya jatuh miskin, yang sehat jatuh sakit dan yang bekerja terkena PHK atau pensiun.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin dan adalah Allah, Mahakuasa atas segala sesuatu,” (QS. Al-Kahfi [18]: 45).

Karena nikmat dunia dan harta kekayaan hanya sekadar fitnah yang menipu dan nikmat sesaat yang menyilaukan, maka hendaklah seorang hamba berhati-hati dalam menyikapinya. Jangan tenggelam dan terlena dalam gemerlap, keindahan dan kesenangannya. Allah عزّوجلّ mengingatkan dengan firman-Nya:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfaal [8]: 28).

Hampir seluruh manusia tak ada yang tidak mengenal uang atau dirham, mereka mencarinya dengan sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhannya dan mempertahankannya dengan segala upaya, bahkan sebagian orang beranggapan bahwa uang adalah segalanya. Dengan uang manusia berkuasa, dengan uang manusia bebas bertindak dan dengan uang dunia bisa ditaklukkan. Mereka tidak sadar bahwa dengan atau karena uang manusia bisa sengsara, kecuali uang atau dirham yang berada di tangan orang yang bertakwa. Dirham ada empat macam: dirham yang didapat dengan ketaatan kepada Allah dan dibelanjakan untuk hak Allah, maka hal itu sebaik-baik dirham. Dirham yang didapat dengan cara maksiat kepada Allah dan dibelanjakan untuk menentang Allah, maka itu seburuk-buruknya dirham, Dirham yang didapat dengan menyakiti seorang muslim dan dibelanjakan untuk menyakiti orang muslim, dan dirham didapat dengan cara mubah dan dibelanjakan untuk mencari kesenangan yang mubah, maka hal ini tidak ada resiko apa-apa.”11

✅ Dari Abu Hurairah  رضي الله عنه  bahwa  Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِي مَالِي إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

“Seorang hamba berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal sungguh dia tidak punya harta kecuali tiga, yang telah dimakan suatu ketika menjadi kotoran atau yang dikenakan sebagai pakaian suatu ketika akan rusak dan yang diberikan suatu ketika akan menjadi simpanan (akhirat) dan selain itu akan lenyap dan ditinggalkan untuk manusia.”12

Yahya bin Muadz berkata, “Dirham itu seperti kalajengking, bila anda tidak pandai meruqyah (jampi) jangan mengambilnya, karena jika ia menyengatnya maka kaumnya  akan  membunuhmu.”  Beliau  ditanya, ‘Apa yang dimaksud ruqyahnya (jampi)?’ Beliau menjawab, ‘Mengambil yang halal dan menunaikan haknya.’ Beliau berkata, ‘Dua bencana menimpa dirinya akibat hartanya pada saat matinya, sementara semua makhluk belum pernah mendengarkannya.’ Beliau ditanya, ‘Apakah dua bencana itu?’ Beliau menjawab, ‘Semua hartanya diambil orang lain, sementara dia dimintai tanggung jawab semuanya.'”13

Wahai saudaraku, sederhanalah dalam mencari harta. Jangan rakus dan membabi buta tanpa memerhatikan aturan agama, dan jangan menodai hak orang lain, karena rezekimu tidak akan berpindah ke tangan orang lain, karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنُ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنَ الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتِ

Seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, maka rezekinya akan menemuinya sebagaimana kematian menemuinya.”14

Seorang hamba dalam mengarungi kehidupan hanya butuh terhadap tiga pilar karena tidak akan sukses kecuali dengannya: bersyukur, mencari kesehatan, dan bertobat dengan tobat nasuha.’15

Maka cara terbaik untuk menghadapi perubahan dunia yang serba ekstrim adalah bersikap sederhana dalam mencari penghidupan dan bersikap wajar dalam membelanjakan harta. Jika kamu sekarang berkecukupan jangan terlalu gundah gulana dan goncang batin dalam menghadapi masa depan. Kita harus yakin bahwa rezeki pasti datang, dan takut miskin adalah tipu daya setan. Hendaknya pula memahami keutamaan sikap qana’ah, dan orang rakus pasti hidupnya terhina. Dan hendaknya memikirkan bahaya menumpuk harta dan keutamaan kemiskinan.

***(lanjut ke halamn 2)