Jihad Adalah Meninggikan dan Memuliakan Islam, Sedangkan Bom Bunuh Diri Merusak Keindahan Islam (Tragedi Bom Surabaya)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Kapolri Sebut JAD Sedang Marah, Pimpinannya Banyak Ditangkap Polisi

2. Polri: 4 Terduga Teroris yang Coba Tembus Mako Brimob adalah Anggota JAD

3.Hukum Bom Bunuh Diri

4. Hukum Tentang Aksi-Aksi Bom Bunuh Diri

5. Menyikapi Bom Bunuh Diri

6. Bom Bunuh diri dalam Timbangan Syariat

7. 5 Pelaku Ledakan Bom Mapolrestabes
Surabaya adalah Satu Keluarga

8.Setelah Bom di Surabaya,Kini Meledak Lagi di
Sidoarjo

Hukum Bom Bunuh Diri-Ust Syafiq Basalamah
Bom Gereja,Bom Bunuh Diri, bagaimana Pandangan Islam Mengenai Hal Itu-Ust Syafiq Basalamah mp4
Benarkah Islam Mengajarkan Bom Bunuh Diri-Ust Yazid Jawas
Bom Bunuh Diri-RadioRodja mp4
Bom Bunuh Diri Bukan Jihad-Abdul Hakim Amir Abdat
Apa Hukum Jihad Di Jalan Allah-Mizan Qudsiyah
Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi · Pengeboman, Jihad atau Terorisme 01

Pengeboman, Jihad atau Terorisme 02

Ebook Berdialog Dengan Teroris Penulis: Ustadz Anas Burhanuddin, MA ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Ebook Bantahan Untuk Para Pengusung Tafkir
Penulis: Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad
Syaifullah

Ebook Benarkah WAHABI Dalang Terorisme [Al-Furqon Edisi 12 Th.10] 10Mb

E-Book: Kafir Tanpa Sadar Membawa FahamTakfir Abdurrahman Thayyib

Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Terorisme, Bom dan Jihad-Ust Firanda Andirja

Membongkar Teroris Berkedok Islam01 oleh Syaikh Musa alu Nasr

Membongkar Teroris Berkedok Islam 02

Ust Abu Qatadah · Menyingkap Syubhat Terorisme dan Wahabisme Terhadap Dakwah AhlusSunnah

Ust Zainal Abidin Syamsudin · Islam bukan Teroris

Ust Abu Qatadah · Islam Anti Teroris

(Terorisme Bukan Jihad, Ustadz Askari bin Jamal),10Mb

Antara Jihad Yang Syar’i dan Jihad KHAWARIJ ISIS” Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Islam Bukan Agama Teroris (Abu Haidar As-Sundawy)

Terorisme Bukan Islam, Islam Bukan Teroris
(Abdullah Zaen, MA)

Terorisme dalam Pandangan Islam (DR. Firanda Andirja, MA)

Kacamata Islam – Terorisme (Abu Yahya Badrussalam, Lc)

Bahaya Terorisme (Abu Yahya Badrussalam,Lc)

******

Tujuan utama JIHAD adlh mengngkat mrtabat Islam semulia2nya. ‘Jihad’ yg mencoreng kemuliaan Islam, bkn JIHAD! #terorismebknIslam

“Ya Rasulullah…” tanya seorang sahabat, “ada orang yang berperang karena BERANI, ada yang berperang karena MEMBELA SUKUNYA, ada yang berperang karena ingin DILIHAT KEHEBATANNYA. Mana di antara mereka yang berada di jalan Allah?” Rasulullah shallallahualaihiwasallam menjawab,

ﻣﻦ ﻗﺎﺗﻞ ﻟﺘﻜﻮﻥ ﻛﻠﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻰ ﺍﻟﻌﻠﻴﺎ ﻓﻬﻮ ﻓﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ

Siapa yang berperang utk tujuan agar agama Allah menjadi mulia, maka dia berada dalam perang di jalan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim).

#Ahmad Anshori

***

➡ *MATI KARENA MEMBELA NEGARA SYAHIDKAH?*

✅ (Nasehat Agar Memperbaiki Niat Dalam Menjaga & Membela Negara)

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ .

Telah datang dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu ia berkata:

ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُﺣَﻤِﻴَّﺔً ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺷَﺠَﺎﻋَﺔً ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺭِﻳَﺎﺀً ﻓَﺄَﻱُّ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَﻣَﻦْ ﻗَﺎﺗَﻞَ ﻟِﺘَﻜُﻮﻥَ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫِﻲَ ﺍﻟْﻌُﻠْﻴَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ

Datang seseorang kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: Ada seseorang yang berperang karena dorongan fanatisme, atau berperang karena ingin memperlihatkan keberanian, dan ada yang berperang karena ingin dilihat orang, siapakah yang disebut fi sabilillah? Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Siapa yang berperang agar kalimatullah menjadi tinggi, ia berada fii sabilillah.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari)

✅ Dalam riwayat lain:

ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠﻢ ﻓﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُﻟِﻠْﻤَﻐْﻨَﻢِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻟِﻠﺬِّﻛْﺮِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻟِﻴُﺮَﻯ ﻣَﻜَﺎﻧُﻪُ ﻓَﻤَﻦْ ﻓِﻲﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﺗَﻞَ ﻟِﺘَﻜُﻮﻥَ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫِﻲَ ﺍﻟْﻌُﻠْﻴَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻲﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ

Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Seseorang berperang untuk mendapatkan.ghanimah (rampasan perang), seseorang yang lain agar menjadi terkenal, dan seseorang yang lain lagi untuk dilihat kedudukannya, manakah yang disebut fii sabilillah?” Maka Beliau bersabda: “Siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah dialah yang disebut fiinsabilillah”.(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

✅ Berkata Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah:

Ini adalah timbangan hakiki yang benar yang dengannya diketahui apakah suatu jihad itu fisabilillah atau bukan fisabilillah. Barangsiapa yang berperang membela negara sekedar karena negaranya maka bukan fisabilillah, dan barangsiapa yang berperang membela negaranya karena negaranya adalah negara islam dia melindunginya dari orang-orang kafir maka dia fisabilillah.(Majmu Fatwa wa Rasã’il:25/351)

✅ Beliau juga berkata : Bukan karena mereka membela negaranya karena itu adalah sebuah negara, karena membela negara karena sekedar dia adalah negara sama antara seorang mu’min dan kafir, orang-orang kafir pun membela negara mereka. Akan tetapi, seorang muslim hendaklah dia membela agama Allah, dia membela negaranya bukan karena sekedar negaranya tapi karena negaranya adalah negaraislam. Dia membelanya untuk menjaga islam yang tumbuh di negara tersebut. (Syarh Riyadhis-Shãlihin:1/33-34, Lihat juga Majmu Fatwa wa Rasã’il:7/318)

✅ Beliau juga berkata:

Adapun membela karena niat Nasionalisme atau niat Kebangsaan maka ini sama antara seorang mu’min dan kafir, tidak bermanfaat bagi pembelanya di hari kiamat. Jika dia mati dalam keadaan dia membela karena niat ini maka dia bukanlah syahid. (Syarh Riyadhis-Shãlihin:1/34)

Oleh karena itu, hendaklah semua aparatur keamanan NKRI agar memperbaki niat-niat mereka, yaitu niat menjaga Islam dan kaum muslimin dan Negara Indonesia sebagai Negara Islam dari musuh-musuh islam baik orang-orang kafir atau kelompok-kelompok pemberontak dari kalangan khawarij dan semisalnya.

Berkata Para Ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad- Daimah Kerajaan Saudi Arabiah:

Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, melindungi kaum muslimin, dan menjaga negeri kaum muslimin dari musuh maka dia fisabilillah, dan jika dia terbunuh maka dia syahid. Dan boleh juga engkau berniat dengan niat yang berbeda dengan niat tentara, seperti engkau berniat untuk meninggikan kalimat Allah dalam jihadmu sekalipun selainmu berniat dengan niat yang berbeda seperti jihad karena negara. (Lihat Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah: no.6894)

Dan berkata Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah:

Wajib atas para penuntut ilmu agar menjelaskan kepada manusia bahwa berperang karena negara bukanlah perang yang benar, hanyalah (perang yang benar itu) adalah berperang untuk meninggikan kalimat Allah, (sehingga seorang harus berniat) saya berperang membela negaraku karena negaraku adalah negara Islam, saya melindunginya dari musuh-musuhnya dan musuh- musuh islam. Maka dengan niat seperti ini niatnyamenjadi benar.(Syarh Riyadhis-Shãlihin:1/35)

Semoga Allah menjaga kaum muslimin dan negara kami tercinta Indonesia dari musuh-musuh islam.

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ .

Muhammad Abu Muhammad Pattawe Al-Indunisiy

Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

***

BUANG BOM DI SEMBARANG TEMPAT BUKAN JIHAD

Imam Ahli Hadits Kota Madinah Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah berkata,

ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺬﻱ ﺣﺼﻞ ﻣﻦ ﺃﻗﺒﺢ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻹﺟﺮﺍﻡ ﻭﺍﻹﻓﺴﺎﺩ ﻓﻲﺍﻷﺭﺽ، ﻭﺃﻗﺒﺢ ﻣﻨﻪ ﺃﻥ ﻳﺰﻳِّﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻟِﻤَﻦ ﻗﺎﻡ ﺑﻪ ﺃﻧَّﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ،ﻭﺑﺄﻱِّ ﻋﻘﻞ ﻭﺩﻳﻦ ﻳﻜﻮﻥ ﺟﻬﺎﺩﺍً ﻗﺘﻞ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺗﻘﺘﻴﻞ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦﻭﺍﻟﻤﻌﺎﻫﺪﻳﻦ ﻭﺗﺮﻭﻳﻊ ﺍﻵﻣﻨﻴﻦ ﻭﺗﺮﻣﻴﻞ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﺗﻴﺘﻴﻢ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝﻭﺗﺪﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺒﺎﻧﻲ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻓﻴﻬﺎ؟ !

Pengeboman ini adalah sejelek-jeleknya perbuatan kriminal dan perusakan di muka bumi, dan lebih jelek laginadalah ketika setan menghiasi pelakunya hingga ia mengira itu termasuk jihad…! Dengan akal dan agama manakah hingga membunuh jiwa, membantai kaum muslimin dan orang-orang kafir yang terikat perjanjian, menakut-nakuti orang, membuat wanita menjanda dan anak-anak menjadi yatim serta merusak bangunan-bangunan dan orang yang ada di dalamnya; dianggap jihad…?!”

[Risalah Bi Ayyi ‘Aqlin wa Diinin yakuunu Hadzat Tafjir wat Tadmir Jihaadan]

***

Jihad Untuk Meninggikan Islam

Semua jihad yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam meninggikan Islam

Karena itulah tujuan jihad yang syar’i. Abu Musaradhiallahu ‘anhu berkata:

ﺳُﺌِﻞَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺷَﺠَﺎﻋَﺔً ،ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺣَﻤِﻴَّﺔً ، ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺭِﻳَﺎﺀً ﺃَﻱُّ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ” ﻣَﻦْ ﻗَﺎﺗَﻞَ ﻟِﺘَﻜُﻮﻥَ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِﻫِﻲَ ﺍﻟْﻌُﻠْﻴَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya tentang seorang yang berperang lalu terbunuh karena syaja’ah (supaya dianggap pemberani), dan seorang yang lain berperang lalu terbunuh karena hamiyyah (karena membela fanatik golongan), dan seorang yang berperang lalu terbunuh karena riya, yang mana yang masih disebut wafat fi sabilillah (di jalan Allah)? Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah (agama Islam), dialah yang fi sabilillah” (HR. Bukhari no. 3126, Muslim no. 1904).

Dan semua jihad yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam semuanya meninggikan dan memuliakan Islam.

Adapun orang-orang yang “jihad” (wajib pakai tanda kutip) di zaman ini, yang hakekatnya adalah terorisme, apakah meninggikan dan memuliakan Islam? Atau bahkan sebaliknya? Membuat Islam dan kaum Muslimin semakin terpuruk? Al ilmu qablal qaul wal amal, harus ada ilmu sebelum berkata dan berbuat. Jangan sampai mengorbankan nyawa namun sia-sia karena menyelisihi sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan tuntunan beliau. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua.

-Yulian Purnama

***

Provokosi, Metode Abdullah bin Saba’

Sungguh menyayat hati ini provokasi2 yg begitugencarnya di medsos, benih2 kebencian ditanamkan kpd masyarakat awam terhadap pemerintah mereka sendiri yg semestinya didoakan dlm kebaikan.

Ingat, metode provokasi dan mengadu domba seperti itu adalah makar orang2 Yahudi sejak dulu hingga sekarang untuk membuat kekacauan dan menghancurkan Islam dan umat Islam.

Dahulu, Ibnu Saba’ yg pernah pura2 masuk Islam, dia mengatakan mendoktrin para pengikut setianya: “Mulailah dg celaan kpd pemimpin kalian dan nampakkanlah hal itu sebagai bentuk amar maruf nahi munkar, niscaya kalian akan bisa mengambil hati manusia”. (Diriwayatkan oleh Saif bin Umar dalam Al Fitnah wa Waqatul Jamal 48-49, Ath Thobari dalam Tarikhnya 4/341, Ibnul Atsir dalam Al Kamil 2/526)

Jerat ini begitu efektif untuk merusak tatanan masyarakat dalam bernegara dan memunculkan konflik serta kekacauan yg berkepanjangan.

Klu ada yg mengatakan: Pemimpin yg tdk boleh dicela itu klu pemimpinnya baik dan berhukum dg hukum Allah.seperti Nabi, Abu Bakr dan Umar. Kami katakan: Dari mana engkau mendapatkan wahyu tersebut? Adakah pemimpin sekarang seperti Nabi dan Abu Bakar serta Umar? Bukankah sejarah telah membuktikan bahwa banyak pemimpin2 dzalim sebelum.kita namun para ulama tetap konsisten dg ajaran Islam.

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata; Ghibah kepada pemimpin hukumnya haram krn dua sisi: pertama karena ghibah terhadap sesama muslim, kedua karena akan menimbulkan kerusakan dan dampak negatif yg banyak sekali, rakyat menjadi benci, membangkang, tidak mengindahkan intruksi pemimpin, bahkan bisa menjurus kpd kudeta dan pertumpahan darah.

Adapun kedzaliman pemimpin atau dia tidak berhukum dg hukum Allah, maka diingkari secara tersembunyi baik dg tulisan atau melalui orang terdekat, karena mengingkarinya terang2 tidak ada faedahnya. (Liqo’ Babil Maftuh 3/567-568)

Mari kembali kepada ajaran Islam yg murni, jangan mudah terprovokasi.

Abu Ubaidah As Sidawi

***

Bom Bunuh Diri Bukan Ajaran Islam

Islam tidak pernah mengajarkan bomb bunuh diri dan bomb bunuh diri bukanlah Jihad. Bomb bunuh diri adalah cara-cara orang-orang bodoh, hina dan pengecut yang tidak memiliki ilmu sama sekali, dan cara-cara orang pengecut, hina dan bodoh yang menjadikan hawa nafsunya tanpa ilmu yang benar sebagai berhala (thagut) untuk lebih ditaati. Yah ! kalianlah penyembah Thagut yang sebenarnya.

Islam tidak pernah mengajarkan untuk mengebom gereja, karena perintah dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendatangi Ahlu Kitab (Yahudi dannNasrani), dakwah pertama kali adalah mengajak kepada mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam ibadah,mentauhidkan Allah dengan segala kekhususan-Nya, mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang disunnahkan oleh beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam-, memahami dan melaksanakan makna, rukun, syarat dan konsekuensi kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil : telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah : telah mengabarkan kepada kami Zakariya’ bin Ishaq dari Yahya bin ‘Abdullah bin Shayfi : dari Abu Ma’bad sahayanyanAbdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman,

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahlu Kitab, jika kamu sudah mendatangi mereka MAKA AJAKLAH MEREKA UNTUK BERSAKSI TIDAK ADA ILAH YANG BERHAK DISEMBAH KECUALI ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH. Jika mereka telahm entaati kamu tentang hal itu, maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat lima waktu pada setiap hari dan malamnya. Jika mereka telah mena’ati kamu tentang hal itu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka zakat yang diambil dari kalangan orang mampu dari mereka dan dibagikan kepada kalangan yang faqir dari mereka. Jika mereka menaati kamu dalam hal itu maka janganlah kamu mengambil harta-harta terhormat mereka dan takutlah terhadap do’anya orang yang terzhalimi karena antara dia dan Allah tidak ada hijab (pembatas yang menghalangi)nya” – HR. Bukhari no. 1308, 1401, 4000 | Fathul Bari no.1395, 1496, 4347, Muslim no. 27 | Syarh Shahih Muslim no. 19, Abu Dawud no. 1351 | no. 1584, Ibnu Majah no. 1773 | no. 1783, Tirmidzi no. 567 | no. 625, Nasa’i no. 2392, 2475| no. 2435, 2522, Ahmad no. 1967 dan Darimi no. 1563 | no. 1655. Sanad dan lafazh di atas milik Bukhari no. 1401 | Fathul Bari no. 1496

Terkait peristiwa Bomb hari ini, saya masih teringat dengan Fatwa seorang Al-Ashagir Wa Ruwaibidhah yang menghalalkan cara-cara Bomb Bunuh Diri sebagai bagian dari Jihad dari akal logikanya yang batil, maukah dia menanggung dosanya ?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamatmemikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu.”- QS. An-Nahl [16] : 25

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman “Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan.”- QS. Al-Ankabut [29] : 13

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa’id dan Ibnu Hujr, mereka berkata : telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far : dari Al ‘Ala : dari bapaknya : dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”– HR. Muslim no. 4831 | Syarah Shahih Muslim no. 2674, Ibnu Majah no. 200, 202 | no. 204, 206, Abu Dawud no. 3993 | no. 4609, Tirmidzi no. 2598 | no. 2674, Darimi no. 512 | no. 530 dan Ahmad no. 8795, 10331

Bomb ataupun Bomb Bunuh diri adalah cara-cara hina, bodoh dan pengecut. Islam berlepas diri dari cara-cara hina, bodoh dan pengecut DAN TIDAK AKAN MENCIUM BAU SURGA SEDIKIT PUN YANG MEMBUNUH KAFIR MU’AHAD TANPA HAQ !

-Atha bin Yussuf

***

Terorisme bukan ajaran Islam dan Islam berlepas diri darinya.


Kesalahan dan dosa apa yang diperbuat anak kecil ini sehingga menjadi korban kebiadaban teroris Khawarij di POLRESTABES Surabaya yang menyebabkan luka-luka dan kedua orangtuanya meninggal dunia

‘Umar bin ‘Abdul Aziz ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ pernah mengatakan : “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ‘ilmu, maka pasti apa yang dia rusakkan lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.” (Majmuu’ Al-Fataawaa, II/282)

Maka cukuplah ini (baca : kerusakan yang mengatasnamakan jihad) menjadi pelajaran bahwa pentingnya ‘ilmu dalam beribadah kepada Allah terutama permasalahan jihad agar tidak sembarangan di dalam menumpahkan darah manusia baik muslim ataupun kafir.

Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ berfirman :

Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telahmembunuh semua manusia.” (QS. Al-Maaiidah [5] : 32)

Semoga Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ menghancurkan dan membumi hanguskan teroris Khawarij anjing-anjing Neraka!

Islam adalah agama yang mulia, agama yang mengajarkan kebaikan bukan sebaliknya yang mengajak kepada kekerasan dan kerusakan. Lupakah kita tatkala Allah ﷻ berfirman :

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 107)

Ya, ia adalah Islam sebagaimana yang dibawa, diajarkan dan dida’wahkan oleh Rasulullah ﷺ . Maka siapa saja yang mengajak manusia untuk membunuh orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at maka ia adalah kebathilan, meskipun dibungkus dengan dalih agama (baca : jihad).

✅ Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ berfirman : “Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.” (QS. Al-Maaiidah [5] : 32)

✅ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ ﻋﻨﻬﻤﺎ , ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang kafir mu’ahad (orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan kaummuslimin), maka ia tidak akan mencium aroma wangi Surga. Padahal sesungguhnya aroma Surga itu dapat tercium dari (jarak) perjalanan selama empat puluh tahun.” (Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 2930, 3166, 6914, Ahmad dalam Musnad-nya, no. 20386, 20282, an-Nasaa-i,VIII/25, dan Ibnu Majah, no. 2686, Shahiihul Jaami’, no. 6458)

(Lanjut ke Halaman 2)