Berbagai Kesalahan Di Bulan Ramadhan

Alhamdulillah..

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1.Kewajiban Berpuasa dan Berhari Raya bersama Pemerintah

2. Amalan-Amalan Yang Tidak Dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Seputar Ramadhan dan ‘Idul Fitri

3.Hadits-Hadits Dhaif (lemah), Maudhu’ (palsu), dan Mungkar Yang Mashur di Bulan Ramadhan

4. Sunnah-SunnahPuasa,Qadha (Mengganti), Yang Wajib dan Tidak Diwajibkan Berpuasa Ramadhan

5. Definisi Puasa,Rukun,Keutamaan,Apa yg Dibolehkan dan Hukum PuasaRamadhan

6. Amalan-Amalan di Bulan Ramadhan

Dahsyatnya Keindahan RamadhanUstadz Dr . Firanda Andirja MA

Menggapai Mukjizat al Quran di Bulan Ramadhan – Ustadz Zainal Abidin Lc. 

Koreksi Beberapa Kekeliruan Di Bulan Ramadhan-Al Ustadz Hilal Abu Naufal

***

Kesalahan-Kesalahan Di Bulan Ramadhan

➡ 1. *TIDAK MENGAKHIRKAN MAKAN SAHUR*

Kebiasaan banyak dari kaum muslimin ketika makan sahur mereka mengawalkan waktu sahur 1-2 jam bahkan 3 jam sebelum terbit fajar (waktu shubuh). Ini adalah hal yang menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ . Beliau ﷺ :bersabda

ﺇِﻧَّﺎ ﻣَﻌﺸَﺮَ ﺍﻷَﻧﺒِﻴَﺎ ﺃُﻣِﺮﻧَﺎ ﺃَﻥ ﻧُﺆَﺧِّﺮَ ﺳُﺤُﺮَﻧَﺎ ﻭَﻧُﻌَﺠِّﻞَ ﻓُﻄُﻮﺭَﻧَﺎ

Kami para Nabi diperintahkan untuk mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.” (HR.Ath-Thayãlisi, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jãmi’ no.2286)

Dan dari Anas dari Zaid ibn Tsabit radhiyallahu anhuma ia berkata:

ﺗَﺴَﺤَّﺮْﻧَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻗُﻠْﺖُﻛَﻢْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺄَﺫَﺍﻥِ ﻭَﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺪْﺭُ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔً

Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ kemudian Beliau bangkit untuk melakanakan shalat (Shubuh). Aku (Anas) bertanya: “Berapa lama antara adzan dan sahur?”. Dia menjawab: “Sebanyak ukuran bacaan lima puluh ayat.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Berkata An-Nawawi rahimahullah:

ﻭﻓﻴﻪ ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﺍﻟﺴﺤﻮﺭ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﻴﻞ ﺍﻟﻔﺠﺮ

Dalam hadits ini terdapat anjuran agar mengakhirkan sahur sampai mendekati waktu Fajar. (Syarh Shahih Muslim:7/208)

Bacaan 50 ayat disini adalah ayat yang pertengahan, tidak panjang dan tidak juga pendek, tidak cepat dan tidak juga lambat. (Lihat Fathul-Bari:4/138

Maksudnya adalah waktu yang mencukupi bagi seorang untuk makan sahur sampai sebelum terbit fajar atau adzan shubuh. Sehingga orang yang porsi makannya sedang hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit atau 30 menit bagi mereka yang porsi banyak, bahkan hanya butuh 5 menit bagi orang yang hanya makan kurma dan air.

➡ 2.*MENYAMBUT RAMADHAN DENGAN ACARA ATAU RITUAL KHUSUS*

Sebagian kaum Muslimin ketika Ramadhan telah dekat maka mereka melakukan berbagai acara atau ritual untuk menyambut Ramadhan. Tentunya setiap daerah dan tempat berbeda cara menyambutnya. Diantara mereka ada yang mengadaka pawai, dzikir jamaah, dan ada yang mengadakan ritual tertentu yang biasa kita kenal dengan “baca doa”, dan selainnya dari bentuk-bentuk penyambutan Ramadhan..

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa semua bentuk penyambutan ini tidak disyariatkan dalam Agama islam yang mulia ini.

Ini merupakan sesuatu yang diada-adakan dalam agama, karena Puasa Ramadhan telah ada di zaman Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dan tidak ada yang menghalangi mereka dari melakukan acara penyambutan seperti ini, meskipun demikian mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan kalau hal ini tidak disyariatkan. Kalau sekiranya baik maka mereka telah mendahuluinya.

Rasulullah ﷺ bersabda :

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩ

Barangsiapa mengada-ngadakan perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya, maka hal itu tertolak (tidak diterima).

(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau ﷺ juga bersabda :

ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮﺭِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﺇِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍﺿَﻠَﺎﻟَﺔٌ

Hati-hatilah kalian dari hal-hal yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya setiap hal yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah ada sesat. (HR.Ahmad dan lainnya)

➡ 3. MENENTUKAN MASUKNYA RAMADHAN DENGAN MENGGUNAKAN HISAB & KALENDER

Menentukan masuknya Ramadhan dengan menggunakan Hisab dan Kalender adalah menyelisihi Sunnah Nabi ﷺ . Syariat yang mulia ini telah menetapkan dan menjadikan tanda masuknya bulan dengan Ru’yah (melihat) hilal. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮﻩُ ﻓَﺼُﻮﻣُﻮﺍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮﻩُ ﻓَﺄَﻓْﻄِﺮُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥْ ﻏُﻢَّ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْﻓَﺎﻗْﺪُﺭُﻭﺍ ﻟَﻪ

Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya lagi maka berbukalah. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlahnya”. (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)

Dalam riwayat muslim:

ﻓَﺈِﻥْ ﺃُﻏْﻤِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓَﺎﻗْﺪُﺭُﻭﺍ ﻟَﻪُ ﺛَﻠَﺎﺛِﻴﻦ

Jika terhalang atas kalian maka hitunglah (menjadi sempurna) 30 hari.”

Berkata Al-Allamah Ibnu Daqiq Al-Id rahimahullah:

ﺇﻥ ﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﻤﺪ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻮﻡ …

Sesungguhnya hisab tidak boleh dijadilan patokan dalamn(penentuan) puasa.“(Syarhul-Umdah:2/206, dan semisalnya oleh Al-Fakihani dalam Riyãdhul-Afhãm:3/384)

Dan berkata Al-Allamah Al-Baji rahimahullah ketikanmembantah orang yang membolehkan hisab:

ﺇﻥ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺣﺠﺔ ﻋﻠﻴﻬﻢ

Ijma (kesepakatan) Salaf adalah hujjah atas mereka.(Subulus-Salãm:2/152)

Dan berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: Tidak diragukan lagi bahwa telah tetap dari Sunnah yang shahih dan kesepakatan Sahabat bahwasanya tidak boleh berpatokan pada hisab perbintangan…

Orang yang berpatokan pada hisab dalam menentukan hilal sebagaimana dia adalah orang yang sesat dalam syariat lagi ahli bid’ah dalam agama, dia juga seorangn yang rusak pada akalnya. (Majmu Al-Fatawa:25/207)

Dan berkata Al-Allamah Siddiq Hasan Khãn rahimahullah:

ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺤﻘﻘﻴﻦ …: ﻭﺍﻟﺘﻮﻗﻴﺖ ﻓﻲ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺸﻬﻮﺭ ﺑﺎﻟﺤﺴﺎﺏﻟﻠﻤﻨﺎﺯﻝ ﺍﻟﻘﻤﺮﻳﺔ ﺑﺪﻋﺔ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ﺍﻷﻣﺔ .

Berkata sebagian Muhaqqiq:.. Penetapan hari dan bulan dengan menggunakan hisab (perhitungan) peredaran bulan adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan ummat. (Ar-Raudhah An-Nadiyyah:1/224)

Dengan keterangan di atas maka penetapan masuknya bulan Ramadhan dan selainnya dengan menggunakan hisab adalah bid’ah. Sedangkan pendapat yang dinukil dari sebagian ulama adalah pendapat yang syadz (ganjil) dan tidak teranggap karena menyelisihi sunnah dan ijma.

➡ 4. *NIAT PUASA SECARA BERJAMAAH DAN MENGERASKANNYA*

Perbuatan sebagian kaum muslimin berniat puasa secara berjamaah yang dipimpin oleh imam di malam pertama bulan Ramadhan sesudah shalat Witir bahkan sebagian mereka berlanjut setiap malam selama bulan ramadhan adalah bid’ah yang tidak ada asalnya sama sekali dalam syariat yang mulia ini. Termasuk kesalahan juga adalah mengeraskan niat sekalipun tidak berjamaah.

Rasulullah ﷺ :bersabda

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩّ

Barangsiapa mengada-ngadakan perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya, maka hal itu tertolak (tidak diterima).

(HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu anha)

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: Mengeraskan niat tidaklah wajib dan tidak juga sunnah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Bahkan seorang yang mengeraskan niat adalah seorang ahli bid’ah yang menyelisihi syariat jika dia melakukannya dalam keadaan meyakininya bagian dari syariat. Dia adalah seorang yang jahil lagi sesat yang berhak untuk dita’zir (hukuman dari pemimpin), bahkan bisa diberi hukuman keras jika dia terus menerus melakukannya setelah diberitahu dan dijelaskan kepadanya. (Majmu Al-Fatawa:22/219)

➡ 5. *MELAFAZKAN NIAT PUASA DENGAN LISAN TANPA DIKERASKAN*

Melafazkan niat dengan lisan sekalipun tanpa dikeraskan seperti ucapan “nawaitu shiyama ghadin….” adalah tidak disyariatkan dan termasuk bid’ah dalam agama. Karena niat tempatnya di hati bukan di lisan, dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: Niat wudhu, mandi, tayammum, shalat, puasa, haji, zakat, kaffarah, dan selainnya dari ibadah tidak membutuhkan ucapan lisan berdasarkan kesepakatan ulama Islam.

Bahkan niat tempatnya adalah hati tanpa lisan berdasarkan kesepakatan mereka…

Beliau berkata:

… ﺑﻞ ﺍﻟﺘﻠﻔﻆ ﺑﺎﻟﻨﻴﺔ ﻧﻘﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﻭﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﻸﻧﻪﺑﺪﻋﺔ .

Bahkan melafazkan niat adalah kekurangan pada akal dan agama. Adapun kekurangan pada agama karena hal ini termasuk bid’ah. (Majmu Al-Fatawa:22/230-231)

Dan berkata Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah:

Yang benarnya bahwa niat tidak dilafazkan. Dan bahwasanya beribadah kepada Allah dengan melafazkan niat adalah bid’ah yang terlarang. Yang menunjukan hal ini adalah bahwa Nabi ﷺ dan para Sahabatnya tidak pernah melafazkan niat dan tidak ternukil dari mereka.

Kalau sekiranya hal ini disyariatkan maka Allah telah menjelaskannya melalui lisan RasulNya ﷺ baik perbuatannya atau ucapannya. Melafazkan niat adalah bid’ah, baik itu niat shalat, zakat atau puasa. (Asy-Syarh Al-Mumti’:1/195)

Memang benar ada sebagian ulama yang berpendapat disunnahkannya melafazkan niat sebagai penguat apa yang ada di dalam hati. Akan tetapi, ini adalah pendapat yang sangat lemah dan tidak ada sunnahnya dari Nabi ﷺ , bahkan tidak juga dari para sahabatnya.

➡ 6*KEYAKINAN BAHWA BULAN RAMADHAN AWALNYA ADALAH RAHMAT,PERTENGAHANNYA MAGHFIRAH, & AKHIRNYA PEMBEBASAN DARI NERAKA*

Keyakinan ini dibangun berdasarkan hadits:

ﺃﻭﻝ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺭﺣﻤﺔ ﻭﺃﻭﺳﻄﻪ ﻣﻐﻔﺮﺓ ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻋﺘﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ

Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan), dan akhirnya pembebasan dari neraka.

Hadits ini sangat lemah.

Dikeluarkan oleh Al-Uqaili, Ibnu Adi, Ad-Dailami dan selainnya dari Abu Hurairah.

Di dalam sanadnya terdapat:

Sallam ibn Suwar seorang rawi yang munkarul-hadits (sering berkesendirian dan menyelisihi perawi yang tsiqoh),

-Maslamah ibn Shalt, perawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya).

(Lihat Adh-Dha’ifah: no.1569)

Juga telah datang dari hadits Abu Said Al-Khudri yangnpanjang.

Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dan selainnya. Sanadnya juga sangat lemah.

Dalam sanadnya terdapat:

Yusuf ibn Ziyad, munkarul-hadits,

-Ali ibn Zaid ibn Jad’an, dha’if.

(Lihat Anisus-Sãri:11/1414)

Ramadhan dari awal sampai akhirnya adalah rahmat,maghfirah, dan pembebasan dari neraka.

Berkata Syaikh Muhammad ibn Abdil-Wahhab Al- Wushabi rahimahullah:

ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻛﻠﻪ ﺭﺣﻤﺔ ﻭﻣﻐﻔﺮﺓ ﻭﻋﺘﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ .

Ramadhan semuanya adalah rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka.(Mudzakkirah Fi Ahkãmis-Shiyãm:118, catatan kakino.2)

7*TIDAK MAKAN SAHUR*

Sebagian kaum Muslimin karena malas bangun untuk makan sahur biasanya mereka makan tengah malam sampai kenyang, lalu tidur sampai tiba adzan Subuh. Padahal waktu sahur adalah di akhir malam, sehingga orang yang makan tengah malam bukanlah makan sahur namanya. Orang seperti ini telah mendapat dua kesalahan :

Pertama, dia tidak mendapatkan keberkahan makan sahur.

Rasulullah ﷺ bersabda :

ﺗَﺴَﺤَّﺮُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِ ﺑَﺮَﻛَﺔً

Bersahurlah kalian, karena didalam sahur ada barakah.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim, dari Anas radhiyallahu anhu)

Kedua, menyerupai Ahli Kitab.

Rasulullah ﷺ bersabda :

ﻓَﺼْﻞُ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺻِﻴَﺎﻣِﻨَﺎ ﻭَﺻِﻴَﺎﻡِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻛْﻠَﺔُ ﺍﻟﺴَّﺤَﺮِ

Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur.”

(HR.Muslim, dari Amr ibn Al-Ash radhiyallahu anhu)

➡ 8. TIDAK MENGAKHIRKAN MAKAN SAHUR*

Kebiasaan banyak dari kaum muslimin ketika makan sahur mereka mengawalkan waktu sahur 1-2 jam bahkan 3 jam sebelum terbit fajar (waktu shubuh). Ini adalah hal yang menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ . Beliau ﷺ :bersabda

ﺇِﻧَّﺎ ﻣَﻌﺸَﺮَ ﺍﻷَﻧﺒِﻴَﺎ ﺃُﻣِﺮﻧَﺎ ﺃَﻥ ﻧُﺆَﺧِّﺮَ ﺳُﺤُﺮَﻧَﺎ ﻭَﻧُﻌَﺠِّﻞَ ﻓُﻄُﻮﺭَﻧَﺎ

Kami para Nabi diperintahkan untuk mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.” (HR.Ath-Thayãlisi, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jãmi’ no.2286)

Dan dari Anas dari Zaid ibn Tsabit radhiyallahu anhuma ia berkata:

ﺗَﺴَﺤَّﺮْﻧَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻗُﻠْﺖُﻛَﻢْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺄَﺫَﺍﻥِ ﻭَﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺪْﺭُ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔً

Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ kemudian Beliau bangkit untuk melakanakan shalat (Shubuh). Aku (Anas) bertanya: “Berapa lama antara adzan dan sahur?“. Dia menjawab: “Sebanyak ukuran bacaan lima puluh ayat.”

(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Berkata An-Nawawi rahimahullah:

ﻭﻓﻴﻪ ﺍﻟﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﺍﻟﺴﺤﻮﺭ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﻴﻞ ﺍﻟﻔﺠﺮ

Dalam hadits ini terdapat anjuran agar mengakhirkan sahur sampai mendekati waktu Fajar. (Syarh Shahih Muslim:7/208)

Bacaan 50 ayat disini adalah ayat yang pertengahan, tidak panjang dan tidak juga pendek, tidak cepat dan tidak juga lambat.

(Lihat Fathul-Bari:4/138)

Maksudnya adalah waktu yang mencukupi bagi seorang untuk makan sahur sampai sebelum terbit fajar atau adzan shubuh. Sehingga orang yang porsi makannya sedang hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit atau 30 menit bagi mereka yang porsi banyak, bahkan hanya butuh 5 menit bagi orang yang hanya makan kurma dan air.

➡ 9. IMSAK SEBAGAI BENTUK KEHATI-HATIAN*

Imsak artinya menahan. Maksudnya adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa beberapa saat sebelum terbit fajar sebagai bentuk kehati-hatian. Biasanya 10-15 menit sebelum waktu shubuh atau mungkin lebih. Perbuatan ini menyelisihi dalil yang jelas dari Al-Quran dan Sunnah.

Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂُ ﺍﻟْﺄَﺑْﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂِﺍﻟْﺄَﺳْﻮَﺩِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ۖ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗِﻤُّﻮﺍ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ۚ

Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam tiba. (QS.Al-Baqarah:187)

Dan Rasulullah ﷺ :bersabda

ﺇِﻥَّ ﺑِﻠَﺎﻟًﺎ ﻳُﺆَﺫِّﻥُ ﺑِﻠَﻴْﻞٍ ﻓَﻜُﻠُﻮﺍ ﻭَﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻨَﺎﺩِﻱَ ﺍﺑْﻦُ ﺃُﻡِّ ﻣَﻜْﺘُﻮﻡٍ

Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan saat masih malam (yaitu adzan pertama), maka makan dan minumlah sampai iIbnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan (yaitu adzan kedua). (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma)

Dalam riwayat lain:

ﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺆَﺫِّﻥَ ﺍﺑْﻦُ ﺃُﻡِّ ﻣَﻜْﺘُﻮﻡٍ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺆَﺫِّﻥُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻄْﻠُﻊَﺍﻟْﻔَﺠْﺮُ

Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummu Maktum melakukan adzan, karena dia tidak mengumandangkan adzan kecuali telah terbit fajar.” (HR.Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallahu anha)

Dalil-dalil di atas sangat jelas menunjukkan bahwa batas sahur dan wajibnya imsak itu sampai terbit fajar atau adzan shubuh (jika adzannya tepat waktu). Imsak sebagaimana yang banyak dilakukan sebagian kaum muslimin ini tidak ada dasarnya dan menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ bahkan termasuk bid’ah dalam agama.

Berkata Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah:

ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺃﺻﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ .

Perbuatan ini termasuk bid’ah dan tidak memiliki dasar dari sunnah. (Fatawa Arkãnil-Islãm:483)

Dan berkata Syaikh Al-Bassãm rahimahullah:

Dengan ini kami ketahui bahwa apa yang dibuat oleh orang-orang berupa dua waktu: waktu imsak dan waktu terbit fajar adalah bid’ah yang mana Allah tidak turunkan dalil tentangnya. Ini hanyalah was-was syaitan yangnmembuat kerancuan pada agama mereka.”‏( 1/403-404 ‏)

➡ 10. *PAWAI KELILING DAN TERIAK-TERIAK MEMBANGUNKAN ORANG MAKAN SAHUR*

Pemandangan yang tidak asing lagi di negeri kita adanya sebagian orang yang semangat membangunkan kaum muslimin untuk makan sahur. Tapi sayang, cara yang mereka lakukan adalah cara yang salah. Karena ini bukan bukanlah kebaikan, justru keburukan, karena di dalamnya terdapat gangguan kepada kaum muslimin yang sedang shalat witir, berdzikir, beristighfar, berdoa, dan ibadah lainnya di waktu sahur. Dan islam telah melarang seorang muslim membuat gangguan terhadap kaum muslimin lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﻣَﻦْ ﺳَﻠِﻢَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﻳَﺪِﻩِ

Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”

(HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibn Amr radhiyallahu anhuma)

Berkata Al-Allamah ibnul-Mulaqqin Asy-Syafi’i rahimahullah:

ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻟﺨﺼﺎﻝ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺆﺫ ﻣﺴﻠﻤﺎ ﺑﻘﻮﻭﻭﻻ ﻓﻌﻞ

Seorang muslim yang sempurna yang mengumpulkan sifat-sifat islam adalah orang yang tidak mengganggu seorang muslim dengan perkataan ataupun perbuatan.

(At-Taudhih:2/491)

Berkata Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah:

Kaum muslimin selamat dari lisannya maka dia tidaknmencaci mereka, tidak melaknat, tidak menghibah (menggunjing), tidak mengadu domba, DAN TIDAK MENEBARKAN DI TENGAH-TENGAH MEREKA BENTUK APA SAJA DARI KEBURUKAN DAN KERUSAKAN.

(Syarh Riyãdhis-Shãlihîn:2/512)

(Lanjut ke halaman 2)