Beda Jihad Ahlusunnah & Khawarij, Menghabisi Akar Radikalisme dan Memadamkan Api Terorisme

Alhamdulillah

Washshalatu Wassalamu “ala Rasulilah, Wa ‘ala Alihi Wa Ash Habihi Ajma’in

1. Sutrahnya Makmum Ketika Shalat Berjamaah

2. Hukum Menerima Infak Dari Harta Haram danDonatur Non Muslim

3. Nama dan Sifat Allah Tergolong AyatMutasyabihat

4. Mempertahankan Prinsip Agama

5. Larangan Berpuasa Setelah

Pertengahan Bulan SyabanCiri-Ciri Teroris Khawarij, UstadzSofyan Chalid Ruray

Jaga Dirimu dan Keluargamu dari Paham Khawarij, Radikalisme dan Terorisme, UstadzAbu Ahmad Muhammad Rofi`i Al Maidani),Sesi 1: 

Sesi 2: 

Ebook Dengan Agama & Akal Siapa Bom Bunuh Diri Dianggap Sebagai JihadSyaikh ‘AbdAbdul alul Muhsin Muhsin al- -Abbad alAbbad al- -BadrBadr

•••••••••

Memadamkan Api Terorisme

Abu Ubaidah As Sidawi

Takfir (gegabah dalam mengkafirkan) tanpa ilmu itu dampak negatifnya sangat berbahaya sebagaimana terjadi pada masa sahabat ketika orang-orang jahil berbicara masalah ini tanpa ilmu, akhirnya mereka mengkafirkan sahabat Utsman dan Ali bahkan membunuh keduanya, dan mengkafirkan para sahabat lainnya sehingga betapa banyak terjadi pertumpahan darah dan perampasan harta disebabkan oleh virus berbahaya ini (!)

Doktrin ini sampai sekarang masih tumbuh subur. Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana para pelaku pengeboman berani melakukan aksi mengerikan tersebut?!

Tentunya di balik itu pasti ada suatu sebab yang mendorong mereka. Tahukah anda apa itu? Karena mereka telah menvonis kafir para pemerintah berikut pejabatnya, polisinya dan ulamanya serta kaum muslimin yang mereka anggap setuju dengan pemerintah.

Oleh karena semuanya dinggap kafir, maka mereka menilai aksi ini sebagai jihad melawan orang kafir dan pelakunya apabila meninggal disebut syahid!!!.

Jadi, pemikiran takfir (mengkafirkan) secara sembarangan inilah pos utama yang mengantarkan pelakunya menuju peledakan dan pengeboman, padahal takfir bukanlah masalah yang ringan, karena takfir bukanlah hak kita tetapi hak Allah dan rasulNya, tidak boleh seorang mengkafirkan saudaranya padahal Allah dan rasulNya tidak mengkafirkannya.

Api hura-hura yang diakibatkan ideologi ini harus segera dipadamkan. Caranya: dengan menemukan sumber api tersebut, yaitu: “ideologi asal vonis kafir”, lalu memadamkannya terlebih dahulu sebelum menyibukkan diri dengan solusi-solusi lain.

Namun, meluruskan sebuah ideologi atau pemikiran yang menyimpang, bukan suatu pekerjaan yang mudah! Karena para pengusungnya telah menganggapnya sebagai ruh jiwa dan jalan hidup. Kita harus bisa membuat pengusungnya sadar dan bisa menerima dengan legowo bahwa ideologi yang sedang dia anut adalah keliru. Dan hal itu, dengan izin Alloh ta’ala, hanya bisa dihadapi dengan menggunakan ilmu yang murni dan benar, yang disampaikan dengan cara yang santun.

Maka tidak ada cara yg efektif untuk memadamkan api huru hara terorisme kecuali dg ilmu agama bersumber Al Quran dan sunnah sesuai pemahaman salaful ummah.

Abu Ubaidah As Sidawi
***

HABISI AKAR RADIKALISME

Memerangi teroris tak cukup hanya dengan menghabisi pelaku teror, menembak mati dan menyeretnya ke tiang gantungan ataupun menghabisinya di hadapan regu tembak.

Memerangi mereka secara fisik bagaikan memotong cabang dan ranting satu pohon agar tak tumbuh,namun potongan tersebut hanya akan menambah ranting dan cabang-cabang baru. Lebih dari itu tiap potongan akan membuat tumbuh dan mekarnya daun dan bunga-bunga baru.

Jika kau ingin menghabisi pohon,cara yang paling efektif adalah dengan membasmi akarnya, merusak dan membusukkan serat-serat yang menempel pada akar.

Ketika akar membusuk atau dibongkar seluruhnya,niscaya tak perlu sibuk untuk menghentikan pertumbuhan cabang,ranting, daun dan tunas baru.

Akar pemahaman teroris dan radikalisme berpangkal dari keyakinan yang menghujam di hati, yang tak dapat dicabut dengan pedang, senapang mesin maupun dinamit.

Syubuhat yang Mengakar itu hanya kan dapat dicabut dengan ilmu dan hujjah dari para alim ulama Rabbani, ini adalah lahan jihad mereka melawan para khawarij berbaju teroris.

Tanpa melibatkan mereka sulit rasanya mencapai hasil yang maksimal untuk mebendung kuatnya arus pemikiran terlaknat ini.

Tidakkah kau lihat bagaimana Abdullah Ibnu Abbas dapat mematahkan syubuhat kaum khawarij yang berjumlah antara 12-20 ribu personil..?

Dengan dialoq yang rasional bertumpu di atas dalil,membuat sebagian besar mereka kembali ke pangkuan Islam. Antara 6 hingga 12 ribu orang dari mereka kembali disebabkan dialoq yang tak sampai memakan waktu lebih dari setengah jam itu.

Selepas diskusi dengan mereka barulah Imam Ali memerangi mereka yang membandel dalam peperangan dahsyat yang menghabisi sebagian besar mereka.

Kaum khawarij terdesak hingga bersembunyi di perkampungan Harurah yang kelan menjadi nisbat bagi mereka dan dengannya mereka dijuluki” Haruriyyun”.

Kita sepakat wajib memerangi teroris bersama,namun hanya mengandalkan kekuatan aparat dan petugas keamanan belaka dan mengenyampingkan peran ulama rabbani yang diutus untuk berdialoq dengan mereka di penjara-penjara tahanan politik akan membuat tidak maksimalnya jihad tersebut.

Semboyan mereka”patah tumbuh silih berganti” hari ini satu dua keluarga dihabisi, lusa kan muncul belasan,ribuan bahkan mungkin ratusan ribu keluarga-keluarga baru dengan amunisi baru yang siap menjadi detonator pemicu gerakan bom bunuh diri di berbagai tempat.

Jika hari ini sasarannya masih dominan ditujukan pada aparat keamaanan,tak mustahil teror itu kan merebak pada masyarakat sipil yang tak berdosa.
Apa yang mereka anggap “syuhada” terbunuh oleh aparat kita, tidak akan membuat mereka diam, bahkan akan menambah militan dan semangat mereka membalas den
dam.

Lihatlah dendam bergejolak dari para keluarga khawarij yang terbunuh di peperangan Nahwrawan membuat mereka nekat menghabisi Amirul mulminim-Ali bin Abi Thalib- tatkala keluar hendak melaksanKan sholat Subuh.

Semoga pemerintah dapat selalu bergandengan tangan dengan para ulama Rabbani dalam memerangi terorisme.

Kita sangat mengapresiasi keberhasilan pemerintah Saudi dalam memerangi teroris dengan mengutus para ulama ke tahanan-tahanan politik untuk berdialoq dan berusaha membongkar dan menghabisi syubhat-syubhat faham radikal ini. Semoga langkah-langkah baik ini dapat diikuti dan dilakukan pemerintah kita dengan maksimal.

Akhirnya semoga Allah selalu menjaga keutuhan negeri ini dari segala macam kejelekan dan kerusakan segala pemikiran dan tindakan yang merusak.

Wallahu a lam…

Dari Mina menuju Arafat

Jamaah berangkat berjalan kaki

Bilang tuan ingin selamat

Jangan ikut kelompok takfiri

Berlari menuju Ke bukit Marwah

Setelah berdoa di bukit Shofa

Hancur bangsa dipecah belah

Oleh khawarij anjing neraka

Negeri Mekah jadi impian

Setiap muslim diseluruh dunia

Bila jahil jadi panduan

Bunuh diri berharap surga

Dalam thawaf berdoa tak jemu

Air mata jatuh ke tanah

Wahai rakyat mari bersatu

Perangi generasi zil khuwaisirah

——–

Jumat nan berkah,

Masjidil Haram, 02 Ramadhan 1439/18 Mei 2018

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan Muhammad Yunus

***

Beda jihadnya ‘ulamaa Ahlus Sunnah dengan teroris Khawarij.

Sedikit banyak da’i-da’i provokator yang mencari-cari kesalahan pemimpin muslim kemudian menyebarkannya di medsos -tidak peduli benar atau hoax- hingga akhirnya masyarakat terpancing untuk menghujat, mencacimaki pemimpin tersebut hakikatnya mereka ikut andil dalam menyebarkan aksi radikalisme yang dilakukan teroris Khawarij. Meski mereka berdalih dengan jihad medsos, namun sejatinya itu adalah penyimpangan dan kerusakan, sebab tidak mungkin aksi-aksi radikalisme teroris Khawarij ini diawali dengan pujian, sanjungan, dst… mesti hal itu diawali dengan hujatan, cacimaki hingga masyarakat awam terprovokasi. Oleh sebab itulah demonstrasi apa pun namanya dilarang dalam Islam karena ia adalah pintu awal dari kerusakan maka Islam menutup pintu ini.
 ✅

Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz رحمه الله تعالىٰ
berkata,

“Nasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengkritik kepala negara di mimbar-mimbar dan semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang di ridhai Allah.”

(Majmuu’ Al-Fataawaa, VII/306)
Beliau رحمه الله تعالىٰ juga berkata,

Bukan termasuk manhaj Salaf, membeberkan aib-aib penguasa, dan menyebutkannya di atas mimbar-mimbar, karena hal itu akan mengantarkan kepada ketidakstabilan (negara), sehingga masyarakat tidak mau dengar dan taat kepada pemerintah dalam perkara ma’ruf, dan MENGANTARKAN KEPADA PEMBERONTAKAN yang merusak dan tidak bermanfaat. Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah menasehati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para ‘ulamaa (tokoh) yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan.”

(Haqqur Ra’iy war Ra’iyyah, hal. 27, Majmuu’ Al-Fataawaa, VIII/210)
 ✅

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله تعالىٰ
berkata,

Mempublikasikan nasihat yang kita sampaikan kepada pemerintah terdapat dua mafsadat (kerusakan), yaitu :

Pertama : Hendaklah setiap orang khawatir, jangan sampai dirinya tertimpa riya’, sehingga terhapus amalannya.

Kedua : Jika pemerintah tidak menerima nasihat tersebut, maka jadilah itu sebagai alasan bagi masyarakat awam untuk MENENTANG PEMERINTAH. Pada akhirnya mereka melakukan REVOLUSI (PEMBERONTAKAN) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.”

(Dari kaset Asilah haula Lajnah Al-Huquq As-Syar’iyah, sebagaimana dalam Madarikun Nazhar, hal. 211)
Beliau رحمه الله تعالىٰ juga berkata,

Dan diantara bentuk menghina penguasa adalah apabila penguasa tersebut melakukan sesuatu yang tidak disetujui (disenangi) oleh orang ini maka ia pun berkata,

Lihatlah, lihatlah apa yang penguasa ini lakukan?’

Dia ingin merendahkan urusan penguasa dihadapan orang-orang, karena apabila ia telah berhasil merendahkan urusan penguasa dihadapan orang-orang maka mereka pun merendahkannya dan tidak akan menaati perintahnya serta tidak menjauhi larangannya.”

Beliau رحمه الله تعالىٰ melanjutkan :

Oleh karena itu, sungguh orang yang menghina penguasa dengan menyebarkan aib-aibnya, mencelanya dan berbuat jelek kepadanya serta menyingkap kejelekan-kejelekannya, maka ia terancam akan dihinakan oleh Allah. Karena apabila ia menghina penguasa dengan perkara-perkara ini maka akan menyebabkan masyarakat membangkang kepada penguasa tersebut dan menentangnya, maka ketika itu menjadi sebab kejelekan, Allah pun menghinakannya.”

(Syarh Riyadhish Shaalihin, III/673)
 ✅

Fadhilatush Syaikh Shalih Al-Fauzan Al-Fauzan حفظه الله تعالىٰ ditanya :

Apakah khuruj (memberontak) kepada penguasa hanyalah dengan mengangkat pedang saja, ataukah termasuk juga memberontak dapat berwujud dalam pencelaan terhadap pemerintah dan memprovokasi massa untuk menentang pemerintah dan berdemonstrasi menentang pemerintah?

Beliau حفظه الله تعالىٰ menjawab :

Kami telah menjelaskan hal ini kepada kalian, kami telah mengatakan bahwasanya memberontak kepada pemerintah termasuk mengangkat pedang dan membicarakan keburukan-keburukan mereka di majelis-majelis dan di atas mimbar-mimbar. Perbuatan ini menyebabkan berkobarnya gejolak masyarakat dan MEMPROVOKASI mereka untuk MEMBERONTAK kepada pemerintah dan berkuranglah wibawa pemerintah di mata mereka. Maka perkataan adalah (termasuk) pemberontakan.”

(Dinukil dari Al-Fataawaa Asy-Syar’iyyah fil Qadhaayaa Al-‘Ashriyyah, hal. 107)

(Lanjut ke halaman 2)