Benarkah Indonesia Negeri Thagut dan Kafir??
Syubhat Khawarij Penafsiran Ayat-ayat Hukum tentang Berhukum dengan Hukum Allah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1.Tafsir Masyhur Al Baqarah Ayat 207 Untuk Jihad

2.Hukum Membunuh Orang Lain Karena Ancaman

3.Sholat Dua Rakaat Sebelum Dan Setelah Keluar Rumah

4.Makna Khawarij Anjing Neraka?

5.Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu DiMasjid

6.Bukan Dalil untuk Bom Bunuh Diri 

7.Beda Jihad Ahlusunnah & Khawarij, Menghabisi Akar Radikalisme dan Memadamkan Api Terorisme

8.Siapa Bilang Khawarij Sudah Hilang?(1)

9.Siapa Bilang Khawarij Sudah Hilang?(2)

Ke 18 – Penyimpangan Khawarij(Aqidah Imam Ahlul Hadits)

Ceramah Singkat : Sejarah Khawarij dan Ciri-Cirinya(Abuz Zubair Hawaary, Lc)

Khawarij Gaya Baru (Abdurrahman Thoyyib, Lc)

Penafsiran Ayat-ayat Hukum tentang Berhukum dengan Hukum Allah-Syukron Habibie

tidak berhukum dgn hukum allah kafir-Mizan Qudsiyah 

saat pemimpinmu tidak berhukum syariat-Sofyan Chalid Ruray

Apakah dihukumi kafir seseorang tidak berhukum dengan Alquran – Ustadz Maududi Abdullah, Lc  


Bahaya Pemikiran Khawarij-Firanda Andirja

bom bunuh diri bukan islam-Ust Abdul Hakim Amir Abdat 


tanggapa kpada dai abdul somad yg berbohong mngatakan bolehnya bom bunuh duri dengan menyebut Syaikh Albani dan Syaikh Utsaimin-DR Ali Musri Semjan Putra



Penafsiran Ayat-ayat Hukum tentang Berhukum denganHukum Allah

Apakah dihukumi kafir seseorang tidak berhukum dengan Alquran – Ustadz Maududi Abdullah, Lc

Bahaya Pemikiran Khowarij – Ustadz Dr. Firanda Andirja,MA

Tidak Berhukum deng Hukum Allah Kafir, Ustadz Mizan Qudsiyah Lc

Saat Pemimpinmu Tidak Berhukum Dengan Hukum Syari’at – Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Ebook Syubhat Sekitar Ayat HukumPenulis: Ustadz Arif Fathul Ulum bin AhmadSyaifullah

https://drive.google.com/uc?export=download&id=0B3sM_BaQJ6srdDNfQkNlNHhvVnc

••••••••••

Penafsiran Ayat-ayat Hukum tentang Berhukum dengan Hukum Allah

Alloh berfirman :

{وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ} [المائدة: 44]

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir ( QS. Al Maidah : 44 )

{وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [المائدة: 45]

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim ( QS. Al Maidah : 45 )

{وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [المائدة: 47]

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq ( QS. Al Maidah : 47 )

Di antara syubhat yang dilontarkan oleh kelompok Khowarij dan orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran dan aqidah mereka di zaman ini ialah menyebarkan keragu-raguan terhadap keshohihan tafsir Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhuma terhadap ayat hukum’ dari surat Al-Ma’idah ayat ke 44.

lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma berkata : “Sesungguhnya kekufuran dalam ayat ini bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama, dia adalah kufur duna kufrin (kufur kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dan lslam)”. [Tafsir Ibnu Jarir 10/355]

Dalam kitab Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘ Utsaimin menjelaskan:

Seseorang dihukumi kafir bila:

✅ 1. Seseorang yang meyakini diperbolehkannya berhukum dengan apa yang selain Alloh turunkan.

QS Al Maidah ayat 50

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?.

Hukum selain hukum Alloh ta’aala adalah hukum Jahiliyah. Dan tidaklah perlu menanyakan seseorang satu persatu.

✅ 2. Apabila berkeyakinan hukum selain Alloh ta’aala adalah sama dengan hukum Allah Ta’ala.

✅ 3. Kalau berkeyakinan hukum selain Alloh ta’aala lebih baik dari pada hukum Alloh ta’aala.

Orang yang berkeyakinan di atas maka dihukumi kafir setelah datang hujjah kepadanya.

Dihukumi dholim : Dikatakan dholim ketika seseorang berkeyakinan bahwa hukum Allah Ta’ala adalah yang paling baik untuk dia dan negara, karena dengki atau marah dengan orang yang kena hukum, maka dihukumi dengan yang tidak tepat maka dia dholim.

Dihukumi Fasik: meyakini hukum Allah bagus akan tetapi dia mengikuti hukum Alloh ta’aala itu karena mengikuti hawa nafsunya. Contohnya menunda hukuman atau membatalkan karena dikasih uang.

Dihukumi kafir : jika meyakini bahwa hukum Alloh ta’aala tidak tepat untuk diterapkan. Akan tetapi tidak perlu ditanyakan individu. Tetapi pertanggungjawaban dia dengan Alloh ta’aala.

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata: “Adapun berhukum dengan selain hukum Alloh dan meninggalkan sholat maka dia termasuk kufur amali secara qoth’i, tidak mungkin ditiadakan darinya nama kufur sesudah diletakkan padanya oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Maka seseorang yang berhukum dengan selain hukum Alloh, dia kafir. Seseorang yang meninggalkan sholat, dia kafir dengan nash dari Rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam tetapi kekufuran ini adalah kufur amal dan bukan kufur i’tiqod….

Seorang yang mengamalkan sebagian Kitabulloh dan meninggalkan pengamalan sebagian yang lainnya, Alloh menamakannya : mu’min pada apa yang dia amalkan dan kafir pada apa yang dia tinggalkan.

“Artinya : Apakah kalian beriman kepada sebahagian al-Kitab dan kufur terhadap sebahagian yang lain?” [Al-Baqoroh : 85]

Maka mereka beriman kepada apa yang mereka amalkan dari perjanjian (Al-Kitab), dan kafir terhadap apa yang mereka tinggalkan ; maka iman amali lawannya kufur amali dan iman i’tiqodi lawannya kufur l’tiqodi..

QS An Nisa ayat 60.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.[An Nisa ayat 60].

Sudah sunnatullah, jika diseru berhukum dengan hukum Allah… Maka orang-orang munafik akan membencinya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al-Baqarah: 11)

Kerusakan ada dua:

Maadzi : kerusakan fisik seperti kebakaran rumah, hutan dan lainnya.

Maknawi : kerusakan secara maknawi. Seperti maksiat dan tidak berhukum dengan hukum Allah, maka itu merusak bumi.

Tafsir QS An-Nisa ayat 60 di atas:

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan Ansar dan seorang lelaki dari kalangan Yahudi, yang keduanya terlibat dalam suatu persengketaan. Lalu si lelaki Yahudi mengatakan, “Antara aku dan kamu Muhammad sebagai pemutusnya.” Sedangkan si Lelaki Ansar mengatakan, “Antara aku dan kamu Ka’b ibnul Asyraf sebagai hakimnya.”

✅ Pada kesimpulannya makna ayat lebih umum daripada semuanya itu, yang garis besarnya mengatakan celaan terhadap orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu ia menyerahkan keputusan perkaranya kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu kepada kebatilan. Hal inilah yang dimaksud dengan istilah tagut dalam ayat ini. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Mereka hendak berhakim kepada taghut. (An-Nisa: 60), hingga akhir ayat.

http://assunnah-qatar.com/artikel/tauhid/863-penafsiran-ayat-ayat-hukum-tentang-berhukum-dengan-hukum-allah.html

***

AHLUS SUNNAH BERJIHAD #BERSAMA PEMERINTAH ADAPUN KHAWARIJ BERJIHAD #MELAWAN PEMERINTAH

✅ [1]- Imam Ahmad bin Hanbal, Imam-nya Ahlus Sunnah -rahimahullaah- berkata:

وَالْـغَـزْوُ مَـاضٍ مَـعَ الْأُمَـرَاءِ إِلَـى يَـوْمِ الْـقِيَامَةِ؛ الْـبَـرِّ وَالْـفَـاجِرِ لَا يُتْـرَكُ.

Perang (jihad) terus berlangsung sampai Hari Kiamat dipimpin oleh para penguasa -yang baik maupun yang jahat-, tidak (boleh) ditinggalkan.”

[“Ushuulus Sunnah” (hlm. 175-176 – Syarah Ahmad Hendrix)]

✅ [2]- Muhammad bin ‘Abdul Karim Asy-Syahrastani (wafat th. 548 H) berkata -ketika mendefinisikan firqah Khawarij-:

Setiap yang memberontak melawan imam yang sah, yang disepakati oleh jama’ah (kaum muslimin); maka dia (pemberontak tersebut) dinamakan khaariji (pengikut Khawarij), baik dia memberontak di zaman para Shahabat -memberontak melawan Khulafa-ur Rasyidin-, maupun setelah mereka -yaitu memberontak melawan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik-, dan (juga memberontak kepada) imam-imam di setiap masa.”

[“Al-Milal Wan Nihal” (hlm. 114-cet. Daarul Fikr)]

-Ahmad Hendrix-

***

Benarkah Indonesia Negeri Thagut dan Kafir??

Kita tidak bisa memutlakkan begitu saja sebutan “bukan negara islam” terhadap negara Indonesia.

Mengapa demikian?

Karena hukum Indonesia menurut penilaian saya seperti negara-negara Islam lainnya selain Saudi Arabia. Mereka berhukum dengan hukum yang hampir sama, undang-undang buatan manusia. Akantepapi kami hendak mengajak saudara sekalian untuk teliti dalam menggunakan istilah dan memahami suatu negara.

Diantara kekeliruan yang tersebar saat ini adalah menggenalisir begitu saja bahwa aturan-anturan yang berlaku di mayoritas negara Islam saat ini adalah hukum liberal atau bukan hukum Islam.

Bila anda katakan hukum yang berlaku di Indonesia, Mesir, Aljazair adalah bukan hukum Islam, ini keliru. Kecuali bila anda katakan mayoritas hukum negara adalah bukan syariat islam, maka ini baru tepat. Adapun menggenalisir begitu saja hukum negara bukan hukum Islam ini keliru.

Mengapa?
Karena pernyataan seperti ini akan memunculkan presepsi bahwa pemimpin negeri tersebut adalah kafir dan negara tersebut adalah negara kafir harbi yang boleh diperangi. Padahal pemimpinnya masih muslim, dia masih sholat, syahadat, puasa, memerintahkan tauhid di sekolah-sekolah melalui buku-buku kurikulum walau masih global, beriman pada 6 rukun iman; Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab dst, memerintahkan kepada akhlak-akhlak islam, membangun masjid, berpuasa ramadhan, mengatur proses haji dengan sistem yang profesional.

Ini semua sesungguhnya bagian dari Islam..!

Oleh karenanya kami menghibau untuk teliti dalam menggunakan istilah. Jangan terpengaruh dengan eforia perasaan kelompok-kelompok pergerakan yang mensifati begitu saja negara Islam dengan negara bukan Islam disebabkan negara tersebut tidak berhukum dengan hukum Islam.
Lebih tepat kita katakan “tidak berhukum dengan hukum islam pada mayoritas keadaan (atau minoritas keadaan)”.

Adapun menggenalisir begitu saja istilah “bukan negara islam” ini tidak tepat. Ini maknanya negara tersebut adalah negara kafir harbi. Tentu saja keliru. Negara tersebut adalah negara Islam, namun ada kekurangan yang dalam penerapan hukum Islam.

Pemahaman ini hendaknya kita pahami dengan baik..

Karena kita dapati syiar-syiar islam tersebar di negara-negara tersebut dan negara ikut menyemarakkan. Adapun terkait ada sesuatu yang tersembunyi maka ini pembahasan lain. Yang menjadi rujukan penilaian adalah keadaan dzohir dari suatu negar
a.

Lebih tepatnya, seperti Indonesia, Maroko, Aljazair dll adalah negeri Islam, namun masih kurang dalam menerapkan syariat Islam.

Wallahua’lam bis showab.

***

Faidah kunjungan ke kekediaman guru kami Syaikh Abdulmalik bin Ahmad Romadhoni al Jazairi –hafizhohullah-, pada hari Senin 19 Februari 2017, Madinah An Nabawiyyah.

Rekaman penjelasan Syaikh Abdul Malik ramadhani Al Jazairi hafidzahulloh dapat didengar di: https://drive.google.com/file/d/0Bx_gQF8gz7hoUUhHd0hQUVdQWms/view?usp=drivesdk

Penyusun : Ahmad Anshori

Artikel Muslim.or.id

***(lanjut ke halaman 2)