Terorisme Adalah Jihad Yang Bid’ah dan Wajib Pemerintah Memerangi Semua Pintu Kerusakan Kaum Khawarij/Teroris

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

***

1. Jihad Adalah Meninggikan dan Memuliakan Islam, Sedangkan Bom Bunuh Diri Merusak Keindahan Islam

2. Bom Bunuh Diri Jihadkah

..

Jihad Dalam Syariat Islam (Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Makna Jihad (Yazid bin Abdul Qadir Jawas) 
(TERORISMEBUKAN DARI ISLAM,Ustadz Abdurrahman Thayyib),17Mb 1jm 15mnit

(TERORISME & RADIKALISME BUKAN ISLAM, Ustadz Sofyan Chalid Ruray),

Sesi 1: 

Sesi 2: 

BOM BUNUH DIRI BUKAN JIHAD: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron,Lc -Hafizhahullah-11Mb

Ebook Dengan Agama & Akal Siapa Bom Bunuh Diri Dianggap Sebagai JihadSyaikh ‘AbdAbdul alul Muhsin Muhsin al- -Abbad alAbbad al- -BadrBadr

Bagaimana Membasmi Teroris-Syafiq Basalamah

bertaubatlah wahai teroris-Abdurrahman Thayyib

ditengah fitnah teroris-Syafiq Basalamah

fatwa ahlu sunnah tentang bom bunuh diri-Abdurrahman Thayyin

Kitab Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Jadi Rujukan Para Terorisme ?? – Ustadz Mizan Qudsyiah Lc MA

TARGET SELANJUTNYA, Bagaimana Menumpas Teroris ? Syafiq Basalamah

***

TERORISME ADALAH JIHAD YANG BID’AH


Teroris adalah ahli bid’ah, karena mereka ‘berjihad’ dengan cara mengada-ada dalam agama, tidak mengikuti petunjuk Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sa
llam.

Tabi’in yang Mulia Abu Qilabah rahimahullah berkata,

ما ابتدع قوم بدعة إلا استحلوا فيها السيف

Tidaklah satu kaum berbuat bid’ah kecuali mereka akan menghalalkan pedang dalam kebid’ahan itu.” [Asy-Syari’ah lil Aajurri: 203]
JIHAD ADALAH RAHMAT

Jihad adalah rahmat (kasih sayang), jihad bukan teror terhadap jiwa yang haram dibunuh, karena jihad adalah ibadah yang agung, maka sebagaimana ibadah yang lain harus memenuhi dua syarat, yaitu:

1. Ikhlas karena Allah subhaanahu wa ta’ala.

2. Meneladani Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam.

Demikian pula jihad, harus memenuhi dua syarat ini, apabila satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi maka amalan tersebut tertolak.

Dan diantara petunjuk Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam dalam berjihad adalah memberi tiga pilihan kepada orang-orang kafir:

1. Masuk Islam, agar mendapat rahmat Allah dan selamat dari murka-Nya, agar masuk surga dan selamat dari azab mereka yang sangat pedih.

2. Menjadi kafir dzimmi, orang kafir yang tinggal di bawah kekuasaan pemerintah kaum muslimin dan akan dilindungi oleh kaum muslimin, hikmahnya agar mereka melihat keindahan dan keadilan Islam, kemudian masuk Islam.

3. Kalau tidak mau memilih yang pertama dan kedua barulah diperangi, akan tetapi Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam hanya memerangi yang melawan, yang menyerah umumnya ditawan dan tidak dibunuh, beliau juga melarang membunuh yang tidak ikut memerangi seperti wanita dan anak-anak.

Tapi yang dilakukan teroris adalah langsung membunuh tanpa didakwahi, dan membunuh tanpa peduli siapa pun yang mati, bahkan mereka pun ikut mati bunuh diri.
BID’AH MENGKAFIRKAN & MENGHALALKAN DARAH KAUM MUSLIMIN

Termasuk bid’ah teroris adalah mengkafirkan dan menghalalkan darah kaum muslimin yang tidak melakukan kekafiran.

Bahkan seorang muslim yang melakukan kekafiran sekali pun tidak boleh dikafirkan sampai terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan terangkat penghalang-penghalangnya.

Dan yang sudah pantas divonis kafir pun tidak otomatis dihukum mati, tapi diminta bertaubat terlebih dahulu, dan yang melakukannya adalah pemerintah setelah diadili, bukan masyarakat. Inilah petunjuk syari’at Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam.

Maka sungguh jauh ‘jihad’ mereka dari petunjuk Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam.

Walau niat mereka ‘berjihad’ ikhlas karena Allah, untuk membela agama Islam, agar dimasukkan ke surga-Nya, namun mereka tidak meneladani Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam maka jihadnya tertolak.

Jihad mereka bid’ah, mengada-ada dalam agama, dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
AMALAN BID’AH TERTOLAK & SESAT

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada padanya maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Dalam riwayat Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَد

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru dalam agama dan semua bid’ah itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

• Sofyan Chalid bin Idham Ruray

***

WAJIBNYA MEMERANGI KAUM KHAWARIJ/TERORIS YANG KELUAR MENGADAKAN MEMBERONTAKAN & KERUSAKAN DI TENGAH KAUM MUSLIMIN*

✅ (Surat Terbuka Kepada Pemerintah Agar Memberantas Semua Pintu Kerusakan Kaum Khawarij/Teroris)

بسم الله الرحمن الرحيم.

Tidak asing lagi tentang kaum khawarij yaitu mereka yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin muslim, mengkafirkan kaum muslimin, dan menghalalkan darah mereka, dan selainnya dari keyakinan rusak mereka. Akhir akhir ini kaum muslimin Indonesia digegerkan lagi dengan ulah mereka di Mako Brimob, Pemboman gereja di Surabaya, dan terakhir di Polresta Surabaya.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa kelompok yang terang-terangan keluar dari ketaatan kepada pemimpin muslim dan mengadakan pemberontakan dengan senjata adalah wajib diperangi oleh pemerintah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ

Perangilah kelompok yang membangkang itu sampai mereka kembali kepada hukum Allah.

(QS.Al-Hujurat:9)

✅Penjelasan Para Ulama Ahli Tafsir Tentang Ayat ini:

➡Berkata Al-Mufassir Al-Kiyã Al-Hirãsi Asy-Syafi’i rahimahullah:

Dalam ayat ini terdapat dalil tentang bolehnya memerangi para pemberontak. Hal ini termasuk bagian amar ma’ruf nahi munkar. Di antara contohnya adalah apa yang dilakukan Ali radhiyallahu anhu ketika memerangi para pemberontak (khawarij) dengan pedang, dan bersamanya ketika itu pembesar para sahabat.

(Ahkãmul-Qur’an:4/382)

➡Berkata Al-Mufassir Abu Bakr Ibnul-Arabi Al-Maliki rahimahullah:

Ayat ini adalah dalil utama tentang (bolehnya) memerangi kaum muslimin (yang memberontak) dan patokan dalam memerangi orang-orang yang keliru dalam berpendapat (tentang bolehnya memberontak kepada pemimpin), dan juga sandaran para Sahabat ketika itu.

(Ahkãmul-Qur’an:4/149)

➡Berkata Al-Mufassir Al-Wahidi rahimahullah:

Berkata para sahabat kami: ayat ini menunjukkan tentang wajibnya memerangi kelompok yang keluar memberontak dan memecah belah persatuan umat islam karena zhahir perintah dalam ayat adalah wajib.

(At-Tafsir Al-Basith:20/352)

➡Berkata Al-Mufassir Ibnu Juzai rahimahullah:

Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk memerangi kelompok pemberontak, ini jika telah jelas bahwa kelompok itu memberontak.

(At-Tashîl Fi Ulûmit-Tanzil:2/296)

➡Berkata Al-Mufassir Ibnu Asyur At-Tunisi rahimahullah:

Perintah dalam firman Allah:.. (ayat di atas) adalah wajib, karena itu adalah hukum antara dua kelompok yang berseteru, dan memutuskan dengan Haq adalah wajib karena terdapa penjagaan terhadap hak kelompok yang benar. Dan karena membiyarkan tidak memerangi kelompok pemberontak mengantarkan kepada kebebasan mereka untuk dalam kezaliman dan kehilangan hak orang yang yang dizalimi pada dirinya, kondisinya, dan kehormatannya, dan Allah tidak menyukai kerusakan, dan juga hal ini menyebabkan selain mereka untuk berbuat seperti mereka, sehingga memerangi mereka ada bentuk peringatan untuk selain mereka juga.

(At-Tahrir wat-Tanwir:26/241)

✅Beberapa Ucapan Ulama Lainnya:

➡Berkata Al-Allamah Al-Qadhi Iyadh rahimahullah:

Para ulama telah sepakat bahwa Khawarij dan yang seperti mereka dari ahli bid’ah dan kerusakan kapan saja mereka keluar dan menyelisihi pendapat Jamaah (kaum muslimin dan pemimpinnya), merobek persatuan kaum muslimin, serta menancapkan bendera penentangan, maka memerangi mereka adalah wajib setelah diberi peringatan dan meminta alasan mereka.

(Ikmãlul-Mu’lim:3/613)

Lanjut ke halaman 2

Iklan