Waspada Syubhat dan Hati Hati Dengan Perkataan Ambil baiknya, buang buruknya.

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

.

1. Hati Hati Dengan Syubhat

2. Meninggalkan Perkara Syubhat

3.Fitnah Syubhat dan Sebabnya

Mewaspadai Bahaya Syubhat. (Abu Ihsan Al-Atsari, MA)

Meninggalkan Sunnah Menghilangkan Agama

Larangan Berlebihan Dalam Ibadah-Mizan Qudsiyah

Hati Hati Tersambar Syubhat-Ust Sufyan Bafin Zen

Menjawab Syubhat-Ust Abdullah Taslim

Arifin Badri-Syubhat dan Metode Mensikapinya

Fitnah Syubhat-UstAbu Ubaidah As Sidawi

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Mahfudz Umri..

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Ahmad Zainuddin

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Badrussalam

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Subhan Bawazier

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Sofyan Chalid

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Syafiq Basalamah.

•••••••

Waspadai Syubuhaat

Dari Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ، فَقَرَأَهُ عَلَّى النَّبِيُّ ﷺ فَغَضِبَ، وَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Bahwasannya Umar bin Khaththaab pernah mendatangi Nabi ﷺ sambil membawa kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Kemudian ia membacakan kepada Nabi ﷺ kitab tersebut. Nabi ﷺ pun marah dan bersabda : “Apakah engkau merasa bingung dengan apa yang ada di dalamnya, wahai Ibnul-Khaththaab?. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa sesuatu putih lagi bersih (jelas). Janganlah kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang satu hal, karena mungkin mereka akan memberitahu kalian satu kebenaran namun kalian mendustakannya. Atau mereka menkhabarkan satu kebatilan, akan tetapi kalian membenarkannya. Demi Dzat, yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Muusaa masih hidup, maka wajib baginya untuk mengikutiku” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/387; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Irwaaul-Ghaliil no. 1589].

Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu adalah orang yang cerdas, namun ia tidak diperkenankan Nabi ﷺ membaca kitab yang berasal dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani). ‘Umar pun dilarang bertanya kepada Ahli Kitab[1], meskipun Nabi ﷺ tidak mengingkari adanya sebagian kebenaran dari sisi mereka[2]. Nabi ﷺ mengkhawatirkan ada talbis sehingga yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar. Apa yang ada di hadapan ‘Umar dan kaum muslimin (para shahabat) – yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah – telah mencukupi kebenaran yang mereka butuhkan.

Inilah salah satu prinsip Islam dan prinsip umum dalam dakwah. Ketika ulama dan dai Ahlus-Sunnah ada, maka tidak dibutuhkan yang selainnya karena itu sudah mencukupi. Jangan biarkan – atau bahkan menganjurkannya – umat berwisata melancong ke majelis orang-orang yang menyimpang sehingga syubhat menyambar mereka.

Apakah Anda akan menganjurkan keluarga, kolega, dan murid Anda (seandainya Anda mendedikasikan sebagai seorang guru/ustadz) : ‘Ambil yang baik dan buang yang buruk’ ; sedangkan mereka sendiri masih susah membedakan benar – salah, baik – buruk dalam timbangan agama?. Atau selalu kampanye : ‘Tuntutlah ilmu ke semua orang, aneka sekte dan pemahaman ?’.

➡ “Ambil baiknya, buang buruknya.”

Sepintas kalimat ini benar, begitu indah lagi sejuk. Namun jika kita lihat dan meninjau ulang, ternyata kalimat tersebut tidak seutuhnya benar.

Kalimat itu benar jika dipahami dalam konteks duniawiyyah itu pun perlu dirinci, namun untuk akhirat (baca : agama) tidak. Sebab tidak sedikit manusia yang ‘bermodalkan’ kalimat ini akhirnya mencari-cari pengajian tanpa memperhatikan sang da’i, ustadz, atau pun kyai apakah berdiri di atas ‘aqidah dan manhaj yang benar atau tidak. Ia ‘berpedoman’ dengan kalimat ambil baiknya, dan buang buruknya, padahal kebaikan itu sendiri sifatnya adalah nisbi (relatif), sesuatu yang baik menurutnya belum tentu baik menurut orang lain, begitu pun sebaliknya dan inilah yang terjadi tatkala Rasulullah ﷺ menegur sebagian Shahabat beliau ﷺ yang menganggap baik perbuatan yang tidak baik, diantara mereka berpuasa namun tidak berbuka, selalu shalat malam dan tidak pernah tidur serta meninggalkan wanita untuk beribadah. Celakanya ia sendiri tidak memahami dengan betul sesuatu tersebut apakah baik ataukah buruk sedangkan sifat manusia selalu memandang suatu keburukan dengan kebaikan.

Bukankah Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :

Dan bila dikatakan kepada mereka : ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab : ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”

(QS. Al-Baqarah [2] : 11 – 12)

✅ Allah عز وجل berfirman : “Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada ummat-ummat sebelum kamu, tetapi syaithan menjadikan ummat-ummat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaithan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka adzab yang sangat pedih.” (QS. An-Nahl [16] : 63)

Maka cukuplah hadits Nabi ﷺ dan perkataan para ‘ulamaa menjadi petunjuk bagi kita untuk mengambil dan mencari ‘ilmu dari para ‘ulamaa yang lurus ‘aqidah dan manhajnya di atas manhaj Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

✅ Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seseorang menimba ‘ilmu dari al-Ashaaghir.”(Shahiih, HR. Ibnul Mubarak dalam az-Zuhud, no. 61, dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, no. 102, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 695)

✅ ‘Abdullah bin Mubarak رحمه الله تعالىٰ berkata ketika menafsirkan kata al-Ashaaghir :

Mereka adalah ahlul bid’ah.“(Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, I/95, no. 102)

✅ Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله تعالىٰ عنهما, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ‘ilmu dari para hamba sekaligus, akan tetapi Dia mencabut ‘ilmu dengan mewafatkan para ‘ulamaa. Sehingga, apabila sudah tidak ada lagi seorang yang ‘alim (berilmu), manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh, mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ‘ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan orang lain.”

(Shahiih, HR. Al-Bukhari dalam Shahiih-nya, kitabul ‘Ilmi, bab Kaifa yuqbadhal ‘ilmu, no. 100, Muslim, no. 2673 [13], at-Tirmidzi, no. 2657, an-Nasaa-i dalam al-Kubraa’, III/455, no. 5907, dan Ibnu Majah, no. 52)

Dalam riwayat lain disebutkan :

“Mereka berfatwa dengan ra’yu (pendapatnya), maka mereka sesat dan menyesatkan.”

(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 7307)

Imam Muhammad bin Sirin رحمه الله تعالىٰ berkata, “Sesungguhnya ‘ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian?” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahiih-nya, I/27 – 28, Ad-Darimi dalam Musnadnya, I/343, 399, 438, al-Khathib Al-Baghdadi dalam al-Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah, hal. 121 – 122, dan al-Faqih wal Mutafaqqih, I/191, 192, 378)

Imam Malik bin Anas رحمه الله تعالىٰ berkata,

“Tidak boleh menuntut ‘ilmu dari empat orang, yaitu :

1. Orang bodoh yang menampakkan kebodohannya meskipun banyak meriwayatkan hadits.

2. Ahlul bid’ah yang mengajak kepada hawa nafsunya.

3. Orang yang berdusta saat berbicara dengan orang lain meskipun ia tidak berdusta dalam meriwayatkan hadits.

4. Orang shalih ahli ibadah namun tidak memahami apa yang ia katakan.”

(Siyar A’laamin Nubalaa’, VI/61)

Lantas ada sebuah penyataan :

Lantas, apakah yang disampaikan ustadz antum mutlak sebuah kebenaran?”

Tanggapan :

Tidak, tidak ada yang mengatakan demikian. Sebab manusia memang tempatnya salah, namun itu bukan berarti menjadikan sesuatu yang tidak benar menjadi benar. Kebenaran mutlak adalah al-Qur-an dan As-Sunnah kemudian memahami keduanya dengan pemahaman para Shahabat رضي الله تعالىٰ عنهم اجمعين mereka itulah yang telah dijamin kebenarannya di dalam al-Qur-an dan kita pun diperintahkan untuk mengikuti pemahaman mereka.

✅ Allah ﷻ berfirman :

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyedia bagi mereka Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”(QS. At-Taubah [9] : 100)

al-Ustadz Abul Jauzaa’ (Dony Arif Wibowo) حفظه الله تعالىٰ berkata,.”Beda guru ngaji bukan berarti bukan Salafi. Tapi beda manhaj dan ‘aqidah guru ngaji bisa bikin kita bukan Salafi.”

Inilah da’wah kami yang menyeru kepada al-haq dengan al-Qur-an dan As-Sunnah kemudian memahami keduanya dengan pemahaman para Shahabat, mereka itulah Salafush Shalih.

✅ Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (keterangan) yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”

(QS. Yusuf [12] : 108)

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

Abu ‘Aisyah Aziz Arief_

(Lanjut ke hal…2)