Apakah Pencipta Itu Ada? Dalil Secara Fitrah dan Panca Indera Allah ‘Azza Wa Jalla itu ada,

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Pokok Dakwah Para Nabi dan Rasul Adalah Tauhid

2. Tauhid Dalam Pandangan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah Salafus Shaleh & Dimanakah Allah Itu?

3. Apakah Pencipta Itu Ada ?

4. Cerdas dan Sangat Pintar tapi Tidak Percaya Maha Pencipta

Ust Yazid Jawas · Tauhid Jalan Menuju Surga

Jangan Salah Pilih Petunjuk-Mizan Qudsiyah

Penyebab Tauhid Menjadi Syirik-Yst Mizan Qudsiyah

Dibalik Tauhid Mizan Qudsiyah

Menyegarkan Kembali Tauhid-Ust Syafiq Basalamah

Berlindung Dari empat petaka – awasempat penyakit- Ust Syafiq Basalamah

Ust Abdullah Zaen Rukun Islam Makna Laa ilaaha illallah

Pencipta an.Manusia-Abdullah Taslim

Ebook Kitab Manhajus Salikin, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (matan & terjemahan, Bagian Ibadah)

Ebook Bekal Perjalanan ke Akhirat (Zaadul Ma’ad) _Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah

Ebook Madarijus-Salikin (Pendakian Menuju Allah)Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah DJVU

•••••

Apakah Pencipta Itu Ada? Dalil Secara Fitrah dan PancaIndera Allah ‘azza wa jalla itu ada,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥  أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

 “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

➡ Ayat yang Menggetarkan Hati

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari hadits Jubair bin Muth’im radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Surat Tahur dalam shalat maghrib. Tatkala sampai pada firman-Nya,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ٣٧

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (ath-Thur: 35—36)

Jubair berkata, “Hampir saja hatiku melayang (karena tercengang mendengar hujah yang sangat kokoh dalam ayat ini).” (HR. al-Bukhari 6/4854)

Dalam riwayat lain pada Shahih al-Bukhari, Jubair radhiallahu ‘anhu berkata, “Itu merupakan pertama kali iman menetap dalam hatiku.”

As-Sindi rahimahullah menjelaskan makna ‘hampir saja hatiku melayang’, “Karena begitu jelasnya kebenaran dan begitu terangnya kebatilan sesuatu yang batil.” (Hasyiah as-Sindi ala Sunan Ibni Majah, 1/275)

➡ Tafsir Ayat

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun….”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini.

Maksudnya, “apakah mereka diciptakan tanpa ada Rabb yang menciptakan?”

Tafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Diciptakan tanpa Rabb yang menciptakannya.”

Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa ayah dan ibu sehingga mereka seperti benda-benda yang tidak berakal?”

Penafsiran ini dinyatakan kuat oleh ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya.

Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu seperti halnya langit dan bumi?”

Maksudnya, manusia tidaklah lebih susah penciptaannya daripada langit dan bumi. Sebab, langit dan bumi diciptakan tanpa sesuatu sebelumnya, sementara manusia diciptakan dari Adam, dan Adam alaihissalam dari tanah.

Maknanya, “Apakah mereka diciptakan bukan untuk sesuatu?” Kataمِنۡ di sini bermakna lam. Jadi, maksudnya, mereka tidaklah diciptakan dalam keadaan sia-sia tanpa ada perintah dan larangan. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi)

Kebanyakan ulama menafsirkan dengan penafsiran yang pertama.

Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan hujah yang membantah mereka dengan sesuatu yang tidak ada kemungkinan selain harus menerima kebenaran atau keluar dari akal sehat dan agama.

Penjelasannya, orang-orang yang mengingkari tauhid dalam hal ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendustakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berkonsekuensi mereka mengingkari bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah yang menciptakan mereka. Padahal akal menetapkan bahwa segala sesuatu yang berwujud ini tidaklah terlepas dari tiga kemungkinan:

✅ 1) Mereka diciptakan tanpa ada sesuatu, maksudnya tanpa ada pencipta yang menciptakan mereka. Mereka berwujud tanpa diwujudkan dan tanpa ada yang mewujudkannya. Ini hal yang mustahil.

✅ 2) Atau mereka mewujudkan diri mereka sendiri. Ini juga mustahil karena tidak bisa dibayangkan ada sesuatu yang mewujudkan dirinya sendiri.

Jika dua kemungkinan di atas batil dan mustahil, tidak ada kemungkinan lain kecuali:

✅ 3) Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka.

Jika ini telah pasti, diketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla semata yang berhak untuk disembah. Tidak sepantasnya, bahkan tidak boleh, suatu ibadah diserahkan kecuali hanya kepada Allah ‘azza wa jalla semata.” (Taisiral Karimir Rahman)

Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas, “Apakah orang-orang musyrik itu diciptakan tanpa sesuatu, yakni tanpa ayah dan ibu, sehingga mereka seperti benda-benda lainnya yang tidak berakal dan tidak memahami hujah Allah ‘azza wa jalla, tidak dapat mengambil pelajaran, dan tidak bisa memetik sebuah nasihat?” (Tafsir ath-Thabari, 22/481)

Demikian pula yang disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Seorang manusia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum memiliki wujud, dia tidak ada. Tidak ada adalah bukan sesuatu, dan apa yang bukan sesuatu tidak mungkin mewujudkan sesuatu.

Ayahnya tidaklah menciptakannya, tidak pula ibunya, tidak pula seorang makhluk pun. Tidak mungkin pula dia muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang mewujudkan. Sebab, setiap yang ada permulaan wujudnya, ada yang mewujudkannya.

Adanya wujud seluruh makhluk yang teratur dan sepadan, saling melengkapi, menjadikan tidak mungkin hal tersebut terjadi secara spontan dan tiba-tiba. Sebab, sesuatu yang terjadi secara spontan, tidaklah beraturan pada asal wujudnya. Bagaimana mungkin bisa tetap teratur dan tersusun rapi dalam perjalanan dan perkembangannya?!

Maka dari itu, sudah pasti bahwa Allah ‘azza wa jalla Dialah satu-satu-Nya pencipta. Tidak ada pencipta dan tidak ada yang menetapkan satu urusan pun selain Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

Tidak diketahui ada seorang makhluk pun yang mengingkari rububiyah Allah ‘azza wa jalla, kecuali karena kesombongannya, seperti yang terjadi pada Fir’aun.” (Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah hlm. 29)

Tiga pembagian yang disebutkan dalam ayat ini dikenal dalam istilah ushul dengan sebutan as-sabr wat-taqsim, yaitu menyebutkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya sesuatu karena suatu hal, lalu menyebutkan kebatilan berbagai kemungkinan itu dan menetapkan satu kebenaran yang pasti.

Hal ini diterangkan oleh al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan. Beliau rahimahullah berkata, “Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa keadaan ini tidak terlepas dari salah satu di antara tiga keadaan berdasarkan pembagian yang sahih:

1) Mereka diciptakan tanpa sesuatu, yaitu tanpa ada yang menciptakannya sama sekali.

2) Mereka menciptakan diri mereka sendiri

3) Ada Pencipta yang menciptakan mereka selain mereka sendiri.

Tidak diragukan lagi bahwa dua poin yang pertama adalah batil. Kebatilannya merupakan hal yang pasti sebagaimana yang disaksikan. Karena itu, tidak perlu ditegakkan hujah untuk menjelaskan kebatilannya karena begitu jelasnya kebatilan tersebut. Poin yang ketiga adalah kebenaran yang tidak diragukan bahwa Dialah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka, satu-satu-Nya yang berhak mereka ibadahi.” (Adhwaul Bayan 3/493)

 ➡ Wujud Allah, Sesuatu yang Pasti

Beriman kepada adanya Allah ‘azza wa jalla adalah kepastian yang tidak dapat diingkari, baik secara akal, pancaindra, fitrah, dan terlebih lagi berdasarkan tanda-tanda yang bersifat kauniyah (alam) dan syar’iyah (ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla).

Adapun secara akal, tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi tanpa ada pencipta yang menciptakannya terlebih ketika kejadian tersebut muncul dengan sangat teratur dan berjalan dengan begitu rapi. Ini merupakan kepastian yang diyakini tanpa harus dipelajari.

Seorang yang berasal dari suku Badui ditanya, “Dengan apa engkau mengetahui Rabbmu?”

Ia menjawab, “Jejak menunjukkan bekas perjalanan. Kotoran unta menunjukkan adanya unta. Maka dari itu, langit yang berbintang, bumi yang memiliki jalan, lautan yang berombak, bukankah itu menunjukkan adanya Maha Mendengar dan Maha Melihat?”

Dikisahkan, ada sekelompok orang dari firqah (sekte) Sumaniyah (salah satu kelompok pengingkar adanya Rabb) mendatangi Abu Hanifah rahimahullah. Mereka berasal dari India. Mereka mendebat Abu Hanifah tentang Sang Pencipta, yaitu Allah ‘azza wa jalla. Abu Hanifah menjanjikan mereka untuk datang kembali setelah sehari atau dua hari.

Mereka pun datang pada hari yang ditentukan. Mereka berkata, “Apa yang hendak engkau katakan?”

Abu Hanifah berkata, “Saya sedang memikirkan sebuah kapal yang penuh barang dan berbagai rezeki. Ia datang membelah gelombang hingga tiba di sebuah pelabuhan. Lalu barang-barang itu turun dan kapal pun pergi. Kapal ini tidak memiliki nakhoda, tidak pula buruh.”

Mereka berkata, “Engkau berpikir demikian?”

Abu Hanifah menjawab, “Ya.”

Mereka berkata, “Berarti engkau tidak punya akal. Apakah masuk akal, ada sebuah kapal yang datang tanpa nakhoda, lalu barang-barang turun sendiri dan kapal pun pergi? Ini tidak masuk akal.”

(Lanjut ke halaman 2)