Dakwah Sunnah Tidak Mewajibkan Seseorang Untuk Bermadzhad Atau Fanatik Terhadap Madzhab Tertentu

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••••

1. Jangan Fanatik Mahdzab /Taklid Butq

2.Dilarang Taklid dan Wajibnya Ittiba

3.Fanatik Mahdzab Tertentu.

4.Fanatik Buta Pada Habib,Kiyai,dll

5.Bolehkah Fanatik Mahdzab Tertentu.

***
Bahaya Ta’ashub & Fanatik Golongan” OlehUstadz Dr.Ali Musri MA

Bahaya Fanatik-Ustadz Abu Ubaidah As Sidawy

(Sampai Berjumpa di Surga, Insya Allah, Ustadz Syuhada bin Madhi)

Sesi1:

Sesi2:

Taklid Buta (Muhammad Elvi Syam, MA)

***

Ebook Mazhab(Fiqh Kedudukan dan Cara Menyikapinya)

Ebook Ulama Syafi’iyyah Melarang TaklidButa Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA

Ebook Hal Yang Wajib Diketahui oleh Setiap Muslim 

***

Ebook Pedoman Ringkas Bergambar untuk Memahami Islam

Ebook Kekhawatiran Nabi Ternyata Terjadi

Ebook Beginilah Mencintai Rasulullah DenganBenar Penulis: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas, Lc,MA

Kitab Hadits 9 Imam(Kutubus Sittah)

Ikuti Sunnah Jauhi Bid’ah-Al Allamah Abdul Muhsin Al Abbad

•••••••

ORANG AWAM TIDAK SAH UNTUK BERMADZHAB


✅ Imam IbnulQayyim -rahimahullaah- berkata:”Bahkan tidak sah bagi orang awam untuk bermadzhab; walaupun dia merasa bermadzhab dengannya.

Maka orang awam tidak punya madzhab, karena sungguh madzhab hanyalah diperuntukkan bagi orang yang punya kekuatan meneliti dan berdalil, dan dia mengetahui tentang madzhab-madzhab sesuai kemampuannya, atau bagi orang yang membaca (menguasai) satu kitab dalam cabang madzhab tersebut, serta mengetahui fatwa-fatwa imam-nya dan perkataan-perkataannya. Adapun orang yang tidak memiliki keahlian seperti itu, bahkan hanya mengatakan: “Saya bermadzhab Syafi’i”, atau “Saya bermadzhab Hanbali”, ataupun yang lainnya; maka dengan perkataan tersebut dia tidak langsung kemudian menjadi bermadzhab seperti yang dia sebutkan. Sebagaimana seandainya dia mengatakan: “Saya Faqiih (ahli fiqih)”, atau “Saya Nahwiy (ahli nahwu)”, atau “Saya bisa menulis”; maka dia tidak langsung kemudian menjadi seperti apa yang dia katakan.

Lebih jelasnya bahwa: orang yang mengatakan: “Saya bermazhab Syafi’i”, atau “Maliki”, atau “Hanafi”, dan dia menyangka bahwa dia mengikuti imam tersebut dan menempuh jalannya; maka ini bisa menjadi sah kalau dia menempuh jalan imamnya tersebut dalam masalah ilmu, pengetahuan, dan pendalilan. Adapun kalau dia bodoh (tidak tahu) dan sangat jauh dari perjalanan hidup imam tersebut, dari ilmunya, dan jalannya; maka bagaimana bisa dikatakan sah bahwa dia menisbatkan diri kepada-nya; kecuali hanya pengakuan semata yang tidak bermakna.”

[“I’laamul Muwaqqi’iin” (V/203-204- cet. III)

Ahmad Hendrix Eskanto

***

Taklid Dalam Bermahdzab


Dakwah Sunnah sama sekali tidak menolak madzhab, bahkan dalam kajian fiqh kita senantiasa menjelaskan pendapat-pendapat para imam madzhab beserta murid-muridnya. Yang perlu diluruskan adalah, Dakwah Sunnah tidak mewajibkan seseorang untuk bermadzhab, apalagi fanatik terhadap madzhab tertentu. Jika dalam berdakwah saja kita tidak bisa mewajibkan seseorang untuk memeluk Islam, apalagi mewajibkan bermadzhab?

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman;

ﻟَﺎٓ ﺇِﻛۡﺮَﺍﻩَ ﻓِﻲ ﭐﻟﺪِّﻳﻦِۖ ﻗَﺪ ﺗَّﺒَﻴَّﻦَ ﭐﻟﺮُّﺷۡﺪُ ﻣِﻦَﭐﻟۡﻐَﻲِّ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” (QS Al Baqarah : 256)

Bayangkan, untuk sesuatu yang telah jelas kebenarannya seperti Islam saja kita tidak boleh memaksa, maka dalam bahasan fiqh yang memiliki banyak perbedaan tentu saja lebih fleksibel dalam menjalankannya. Yang mesti kita lakukan adalahnmemilih amalan yang paling tepat, dalam kondisi.yang tepat, dan berdasar pada dalil yang kuat.

Kita semua sepakat bahwa Imam yang empat; Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy- Syafii, dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah, adalah imam serta panutan bagi kaum muslimin generasi setelahnya. Allah mudahkan pendapat mereka diterima di hati kaum muslimin, dari generasi ke generasi.

Tapi kita juga harus sadari, bahwa ijtihad tidak hanya terbatas pada empat imam ini saja. Karena Islam tidak mungkin hanya berkutat pada pendapat empat imam ini. Masih banyak ulama lain yang sekelas dengan mereka, semacam Ats-Tsauri, Al- Auza’I, Ibnul Mubarak, Ishaq bin Rohuyah, Ibnu Uyainah, dll.

Bahkan Imam Ahmad yang paling hafal dan paham tentang hadits diantara 4 imam madzhab saja, masih mengakui bahwa dizamannya ada yang memiliki pengetahuan hadits lebih dari dirinya, yakni Ali bin Abdullah Al-Madini, yang merupakan guru Imam Bukhari.

Karenanya, para imam tersebut tidak pernah berharap agar madzhabnya disikapi sebagaimana syariat Islam yang maksum dari kesalahan. Demikian pula, mereka sama sekali tidak bermaksud untuk mewajibkan orang lain agar mengikuti pendapatnya. Bahkan mereka menolak ketika ada orang lain yang mengambil pendapatnya, tanpa mengetahui dalil yang menjadi dasar hukum mereka.

Lalu kalau ada yang coba membenturkan dengan pertanyaan, “Apakah hadits atau dasar hukum para Imam Madzhab lebih lemah dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim? Apakah Imam Bukhari dan Muslim lebih hebat dibanding Para Imam Madzhab? Tidak mungkin kan!?” Apalagi berdalil dengan sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam

ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻗَﺮْﻧِﻲْ ﺛُﻢَّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳَﻠُﻮْﻧَﻬُﻢْ ﺛُﻢَّﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳَﻠُﻮْﻧَﻬُﻢْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian masa sesudahnya, kemudian masa yang sesudahnya” [HR Bukhari 2652 dan Muslim 2533]

Allahul Musta’an.. Sungguh ini adalah pemikiran yang lucu. Orang-orang yang berpikiran seperti itu tidak memahami makna hadits dengan tepat, seakan-akan menurut mereka, para imam madzhab ini adalah manusia yang super dan komplit keilmuannya karena hidup lebih awal daripada Imam-imam Hadits. Mereka tidak paham bahwa makna hadits diatas adalah manusia-manusia terbaik dalam skala makro, alias mayoritas. Dan bukan berarti para pendahulu kita tidak pernah salah. Jika dizaman dahulu ada sahabat yang didapati berzina lalu dirajam, apakah kemudian kita dizaman sekarang menghalalkan atau memaklumi orang yang berzina gara-gara ada sahabat dari generasi terbaik yang berzina? Konyol bukan?

Sejatinya syubhat orang-orang yang fanatik madzhab seperti ini adalah syubhat lama, mereka tidak terima ketika dakwah sunnah yang mengkritisi tradisi dengan hadits shahih semakin berkembang, sehingga phobia terhadap hadits, atau orang yang menyerukan hadits shahih.

Setidaknya, hal ini terjadi karena mereka salah

dalam 2 hal;

(Lanjut ke hal2)