Panduan Praktis Berhari Raya Sesuai Sunnah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Panduan Praktis Berhari Raya

2. Bila Hari Ied ( Idul Fitri dan Idul Adha) Jatuh Pada Hari Jum’at

3.Ucapan Selamat pada Hari Raya Idul Fitri

4. Ucapan Selamat Idul Fitri

***

Ketika Hari Raya Bertepatan dengan HariJumat(Abu Haidar As-Sundawy)

Berhari Raya Sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam oleh-Ust. Anas Burhanuddin, MA.

Hukum – Hukum di Hari Raya Id dan PeringatanKesalahan – kesalahan di Hari Id” Oleh UstadzSofyan Chalid Ruray

Fiqih Iedul Fitri oleh Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr.

Hari Raya Idul Fitri,HariKebahagianKaum Muslimin –UstadzFirandaAndirja MA

Adab Hari Raya Sesuai Sunnah-Ust Sofyan Chalid Ruray

Kemungkaran Pada Hari Raya-Ust Sofyan Chalid Ruray

Ebook Hari Raya

•••••

MERAIH BERKAH BERSAMA SUNNAH-SUNNAH DI HARI RAYA

➡ Pertama: Mengeluarkan Zakat Fitri

Diwajibkan bagi kaum muslimin untuk berzakat fitri apabila telah terbenam matahari di hari terakhir Ramadhan sampai sebelum sholat Idul fitri, hendaklah dikeluarkan untuk setiap jiwa kaum muslimin sebanyak 1 sho’ (senilai kurang lebih 3 kg) bahan makanan pokok di suatu negeri dan diberikan kepada fakir miskin. Sahabat yang Mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ حُرٍّ، أَوْ عَبْدٍ، أَوْ رَجُلٍ، أَوِ امْرَأَةٍ، صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri karena telah berakhir Ramadhan, atas setiap jiwa kaum muslimin, orang merdeka atau budak, laki-laki atau wanita, kecil atau besar, sebanyak satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

✅ Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma juga berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang haram, serta makanan bagi orang-orang miskin, barangsiapa mengeluarkannya sebelum sholat Idul fitri maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat Idul fitri maka itu adalah sedekah biasa.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 1427]

➡ Kedua: Memperbanyak Takbir

✅ Allah ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ الله عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqoroh: 185]

➡ Beberapa Ketentuan dalam Bertakbir

✅ 1) Waktu mulai bertakbir adalah sejak terbenam matahari di akhir Ramadhan sampai selesai khutbah Idul Fitri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَالتَّكْبِيرُ فِيهِ: أَوَّلُهُ مِنْ رُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَآخِرُهُ انْقِضَاءُ الْعِيدِ وَهُوَ فَرَاغُ الْإِمَامِ مِنْ الْخُطْبَةِ عَلَى الصَّحِيحِ

Takbir di hari Idul fitri dimulai sejak melihat hilal dan berakhir setelah selesainya ‘ied, yaitu selesainya imam dari khutbah, menurut pendapat yang paling shahih.” [Majmu’ Al-Fatawa, 24/221]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

وإكمال العدة يكون عند غروب الشمس آخر يوم من رمضان، إما بإكمال ثلاثين، وإما برؤية الهلال، فإذا غابت الشمس آخر يوم من رمضان سنّ التكبير المطلق من الغروب إلى أن تفرغ الخطبة، لكن إذا جاءت الصلاة فسيصلي الإنسان ويستمع الخطبة بعد ذلك. ولهذا قال بعض العلماء: من الغروب إلى أن يكبّر الإمام للصلاة

Menyempurnakan bulan Ramadhan terjadi ketika terbenam matahari di hari terakhir Ramadhan, apakah dengan menyempurnakan 30 hari atau melihat hilal (di hari ke-29), maka apabila telah terbenam matahari di hari terakhir Ramadhan, disunnahkan untuk bertakbir secara muthlaq (umum, tidak terkait waktu sholat), mulai dari terbenam matahari sampai selesai khutbah Idul fitri, akan tetapi apabila masuk waktu sholat Idul fitri hendaklah sholat dan mendengar khutbah setelah sholat, oleh karena itu sebagian ulama berkata: Waktu bertakbir mulai dari terbenam matahari di akhir Ramadhan sampai imam bertakbir untuk sholat Idul fitri.”[Asy-Syarhul Mumti’, 5/157]

✅ 2) Takbir hari raya Idul Adha ada dua bentuk, yaitu muthlaq dan muqoyyad, adapun takbir Idul Fitri hanya muthlaq saja.

 Muthlaq artinya umum tanpa terkait waktu, hendaklah memperbanyak takbir kapan dan di mana saja, kecuali di tempat-tempat yang terlarang melafazkan dzikir, yaitu di WC dan yang semisalnya. Takbir muthlaq Idul Adha dimulai sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq, adapun Idul Fitri dimulai sejak terbenam matahari di akhir Ramadhan sampai selesai khutbah Idul Fitri.

 Muqoyyad artinya terkait dengan sholat lima waktu, yaitu bertakbir setiap selesai sholat lima waktu, dimulai sejak ba’da Shubuh hari Arafah sampai ba’da Ashar di akhir hari Tasyriq. Adapun takbir Idul Fitri tidak disyari’atkan takbir muqoyyad setiap selesai sholat lima waktu. Asy-Syaikh Ibnul ‘utsaimin rahimahullah berkata,

الفرق بين المطلق والمقيد أن المطلق في كل وقت، والمقيد خلف الصلوات الخمس في عيد الضحى فقط

Perbedaan antara muthlaq dan muqoyyad, bahwa muthlaq dilakukan di setiap waktu, sedang muqoyyad dilakukan setelah sholat lima waktu pada Idul Adha saja.” [Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 16/265]

✅ 3) Disunnahkan mengeraskan takbir bagi laki-laki dan dipelankan bagi wanita, dan disunnahkan bertakbir di perjalanan ketika menuju sholat ‘Ied, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma,

أَنَّهُ كَانَ إِذَا غَدَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ يَجْهَرُ بِالتَّكْبِيرِ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى ثُمَّ يُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْإِمَامُ

Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma apabila berangkat pagi hari Idul Adha dan Idul Fitri, beliau mengeraskan takbir sampai tiba di tempat sholat, kemudian beliau terus bertakbir sampai imam datang.” [HR. Adh-Daruquthni, Al-Irwa: 650]

✅ 4) Takbir berjama’ah dengan cara dipimpin oleh seseorang dan diikuti oleh jama’ah secara serentak satu suara tidak disyari’atkan, maka termasuk kategori mengada-ada dalam agama, dan seluruh dalil yang digunakan untuk mendukungnya adalah pendalilan yang bukan pada tempatnya. Disebutkan dalam fatwa Ulama Besar Ahlus Sunnah yang tergabung dalam Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa,

لكن التكبير الجماعي بصوت واحد ليس بمشروع بل ذلك بدعة؛ لما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد» ولم يفعله السلف الصالح، لا من الصحابة، ولا من التابعين ولا تابعيهم، وهم القدوة، والواجب الاتباع، وعدم الابتداع في الدين

Akan tetapi takbir berjama’ah dengan satu suara tidak disyari’atkan, bahkan itu adalah bid’ah, karena telah shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa mengada-ada dalam agama kami ini yang tidak berasal darinya maka itu tertolak’. Dan tidak pernah dilakukan oleh As-Salafus Shaalih, tidak diriwayatkan dari sahabat, tidak pula tabi’in dan tabi’ut tabi’in, padahal mereka adalah teladan dalam beragama, maka yang wajib adalah meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak berbuat bid’ah dalam agama.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/311 no. 9887]

Asy-Syaikh Ibnul ‘utsaimin rahimahullah berkata,

هذه الصفة التي ذكرها السائل لم ترد عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه، والسنة أن يكبر كل إنسان وحده

Cara bertakbir yang disebutkan penanya (yaitu takbir secara berjama’ah) tidak ada dalilnya dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat beliau, yang sunnah adalah setiap orang bertakbir sendiri.” [Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 16/267]

Apalagi sampai mengadakan konvoi di jalanan yang dapat mengganggu ketertiban umum, kemacetan dan berbagai macam kemaksiatan seperti ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita), meneriakkan takbir diiringi alat-alat musik (padahal musik itu sendiri diharamkan dalam Islam) dan berbagai w lainnya yang biasa dilakukan oleh sebagian orang pada malam dan siang hari raya.

✅ 5) Adapun lafaz takbir diantaranya adalah yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu,

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, wallahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd”

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya no. 5697, Al-Irwa: 654]

✅ Lafal takbir kedua dari Ibnu Mas’ud:

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ ولِلَّهِ الْحَمْدُ

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaah, Allaahu Akbar wa lillaahil hamd.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf.

✅ Lafal Takbir Hari Raya 3 (Dari Ibnu Abbas)

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ، اَللَّهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, wa lillaahil hamd, Allaahu Akbar wa Ajallu, Allaahu Akbar ‘alaa maa hadaanaa.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi Allah-lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikanNya pada kita.

(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih)

Sumber: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/takbiran-hari-raya.html

✅ Lafal Takbir Hari Raya 4 (Dari Salman Al Farisi)

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar kabiiroo.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq -dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam As Sunanul Kubra (3/316)- dengan sanad yang shahih dari Salman Al-Khair Radhiallahu anhu.

Dan beberapa lafaz lain yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabi’in, namun tidak ada dalil adanya lafaz khusus dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sehingga dalam perkara ini terdapat keluasan.[1]

➡ Ketiga: Melakukan Sholat ‘Ied

✅ Allah ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka sholatlah hanya untuk Rabb-mu dan berqurbanlah hanya untuk-Nya.” [Al-Kautsar: 2]

Banyak ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa maksud sholat dalam ayat ini adalah sholat ‘Ied.[2]

➡ Keempat: Disunnahkan Mandi Sebelum Menuju Sholat ‘Ied

Sebagaimana riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu,

سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ الْغُسْلِ فَقَالَ: اغْتَسِلْ كُلَّ يَوْمٍ إِنْ شِئْتَ، فَقَالَ: الْغُسْلُ الَّذِي هُوَ الْغُسْلُ؟ قَالَ: يَوْمُ الْجُمُعَةِ، وَيَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَيَوْمُ الْفِطْرِ

Seseorang bertanya kepada Ali radhiyallahu’anhu tentang mandi. Beliau berkata: Mandilah setiap hari kalau mau. Maka orang itu berkata: Maksudku mandi yang dianjurkan? Beliau berkata: Mandi di hari Jum’at, hari Arafah, Idul Adha dan Idul Fitri.” [HR. Al-Baihaqi, lihat Irwaaul Ghalil, 1/177]

➡ Kelima: Mengenakan Parfum bagi Laki-laki dan Bersiwak

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang hari Jum’at yang juga merupakan hari raya kaum muslimin,

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ، جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ

Sesungguhnya ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin, barangsiapa yang menghadiri sholat Jum’at hendaklah mandi, apabila ia memiliki minyak wangi pakailah, dan hendaklah kalian bersiwak.” [HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 707]

 ➡ Keenam: Berhias bagi Laki-laki dan Mengenakan Pakaian yang Paling bagus

Sebagaimana hadits Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, beliau berkata,

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ، فَأَخَذَهَا، فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالوُفُودِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar, beliau mengambilnya lalu mendatangi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah belilah pakaian ini agar engkau berhias dengannya untuk hari raya dan menerima utusan, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya: Sesungguhnya pakaian sutera ini hanyalah pakaian orang (kafir) yang tidak memiliki bagian (di akhirat).” [HR. Al-Bukhari]

Al-‘Allamah As-Sindi rahimahullah berkata,

مِنْهُ علم أَن التجمل يَوْم الْعِيد كَانَ عَادَة متقررة بَينهم وَلم ينكرها النَّبِي صلى الله تَعَالَى عَلَيْهِ وَسلم فَعلم بَقَاؤُهَا

Dari hadits ini diketahui bahwa berhias di hari raya adalah kebiasaan yang sudah tetap di antara para sahabat dan tidak diingkari oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, maka diketahui tetapnya kebiasaan ini.” [Haasyiah As-Sindi ‘ala Sunan An-Nasaai, 3/181]

➡ Ketujuh: Sunnah Terkait Makan Pagi di Hari Raya

Disunnahkan makan kurma dalam jumlah ganjil minimal 3 butir, sebelum keluar menuju sholat Idul Fitri. Adapun Idul Adha disunnahkan untuk tidak makan sampai sholat, dan disunnahkan untuk makan dari hewan sembelihan yang kita sembelih. Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ، وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak berangkat pagi hari Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.” [HR. Al-Bukhari]

Sahabat yang Mulia Buraidah radhiyallahu’anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلاَ يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau sholat.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Shahih At-Tirmidzi, 1/302]

➡ Kedelapan: Keluar Menuju Sholat Idul Fitri dengan Berjalan Kaki

Sahabat yang Mulia Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا، وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam keluar menuju sholat ‘Ied dengan berjalan kaki dan kembali dengan berjalan kaki.” [HR. Ibnu Majah, Shahih Ibni Majah, 1/388]

➡ Kesembilan: Sunnah Terkait Rute Perjalanan Menuju Sholat Hari Raya

Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan kembali, diantara hikmahnya adalah untuk menampakkan syiar Islam di hari raya. Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam apabila di hari raya, beliau mengambil jalan yang berbeda.” [HR. Al-Bukhari]