Apa Setelah Ramadhan? dan Ketika Harus Berpisah Dengan Ramadhan

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1.Istiqomah Setelah Ramadhan

2.Ada Apa Setelah Ramadhan

3.Tetap IstiqomahWalau Ramadhan Berlalu

4. Tujuh Kenyataan Setelah Ramadhan

5. Amalan Amalan Setelah Ramadhan

6. Amalan Amalan Setelah RamadhanSeri 2

**

Apa Setelah Ramadhan ?” Oleh Ustadz SofyanChalid Ruray

Cara Istiqomah Setelah Ramadhan (Ahmad Zainuddin, Lc)

Apa Setelah Ramadhan?(Abu Yahya Badrussalam, Lc)

Ada Apa Setelah Ramadhan-Ustadz Abu AmmarAbdul Adhim al Ghoyami

Badrusalam · Nasihat bagi Muslim selepas Romadhon

Ada Apa Setelah Ramadhan ?” Oleh Syaikh Prof.Dr.Anis Thahir Al-Indunisi [Penerjemah Ustadz Jazuli Lc]

***

Ebook Istiqomah Setelah Ramadhan

Ebook Amalan Setelah Ramadhan

Ebook Amalan Pasca Ramadhan

Ebook Sikap Kita Setelah Ramadan Berlalu

Ebook Bagaimana Setelah Ramadhan

••••••

APA SETELAH RAMADHAN?

 Diantara kiat agar tetap istiqomah dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, paling tidak ada tiga hal yang harus kita lakukan pasca Ramadhan:

➡ 1) Bersyukur

Selama Ramadhan, bahkan sepanjang hidup kita, banyak sekali limpahan kenikmatan dari Allah tabaraka wa ta’ala, baik nikmat duniawi maupun nikmat agama, yaitu nikmat beribadah kepada-Nya, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Maka untuk semua kenikmatan tersebut wajib kita syukuri, walau untuk bersyukur secara hakiki tidaklah mampu kita lakukan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

على كل نعمة على العبد من الله في دين أو دنيا يحتاج إلى شكر عليها ثم للتوفيق للشكر عليها نعمة أخرى تحتاج إلى شكر ثان ثم التوفيق للشكر الثاني نعمة أخرى يحتاج إلى شكر أخر وهكذا أبدا فلا يقدر العبد على القيام بشكر النعم وحقيقة الشكر الاعتراف بالعجز عن الشكر

Atas setiap nikmat dari Allah untuk seorang hamba, baik nikmat agama maupun dunia wajib disyukuri, kemudian ketika ia dimampukan bersyukur maka itu adalah kenikmatan lain yang wajib disyukuri yang kedua, kemudian ketika ia dimampukan bersyukur yang kedua maka itu juga kenikmatan yang wajib disyukuri berikutnya, demikian seterusnya, seorang hamba tidak akan mampu mensyukuri semua kenikmatan, oleh karena itu hakikat syukur adalah pengakuan atas ketidakmampuan hamba dalam bersyukur.” [Lathooiful Ma’aarif: 244]

Kalau kita menyadari hal ini, maka mengapakah kita berani bermaksiat kepada Allah ta’ala, padahal kenikmatan-kenikmatan yang dianugerahkan kepada kita belum juga kita syukuri secara hakiki

➡ 2) Harap dan Cemas

Sedikit ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan dan di sepanjang hidup kita, hendaklah kita senantiasa berharap kepada Allah ta’ala agar diterima, dan takut kepada-Nya, jangan sampai ibadah kita tidak diterima. Maka tidaklah patut kemudian kita menyombongkan diri dengan ibadah-ibadah yang belum tentu diterima tersebut, apalagi merasa sudah kembali kepada fitrah, bersih dari dosa, dan menjadi pembenaran untuk berbuat dosa lagi.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,

يا رسول الله، { وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ } ، هو الذي يسرق ويزني ويشرب الخمر، وهو يخاف الله عز وجل؟ قال: “لا يا بنت أبي بكر، يا بنت الصديق، ولكنه الذي يصلي ويصوم ويتصدق، وهو يخاف الله عز وجل

Wahai Rasulullah, (tentang firman Allah ta’ala), ‘Dan orang-orang yang telah memberikan apa yang telah mereka beri, dan hati-hati mereka dalam keadaan takut’, apakah yang dimaksud adalah orang yang mencuri, berzina dan minum khamar, sehingga ia takut kepada Allah ‘azza wa jalla? Beliau bersabda: Tidak wahai anaknya Abu Bakr, wahai anaknya Ash-Shiddiq, akan tetapi ia adalah orang yang sholat, berpuasa dan bersedekah, maka ia takut kepada Allah ‘azza wa jalla (akan tidak diterimanya ibadah yang ia kerjakan).” [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, Ash-Shahihah: 162]

➡ 3) Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla

Inilah diantara hikmah puasa Ramadhan dan seluruh ibadah, agar kita makin bertakwa kepada Allah ta’ala. Dan dengan bekal ketakwaan inilah kita dapat menghadapi makar setan serta dorongan hawa nafsu untuk berbuat maksiat, oleh karena itu setelah berpuasa bulan Ramadhan kita disunnahkan untuk berpuasa sunnah di bulan Syawwal.

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

بعد شهر رمضان وبعد أن أدى المسلمون ما أدوا فيه من عبادة الله قد يلحق بعض الناس الفتور عن الأعمال الصالحة؛ لأن الشيطان يتربص بعباد الله الدوائر ويقعد لهم بكل صراط، وقد أقسم أن يأتي بني آدم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمانهم وعن شمائلهم وقال: {لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ} [الأعراف:16] ولكن العاقل إذا تبصر واعتبر علم أنه لا انقطاع للعمل الصالح إلا بالموت، لقول الله تعالى: {وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} [الحجر:99]

Setelah bulan Ramadhan dan setelah kaum muslimin mengerjakan sejumlah ibadah kepada Allah di bulan itu, bisa jadi sebagian manusia melemah semangatnya untuk beramal shalih. Karena setan selalu menunggu kesempatan untuk dapat menjerumuskan hamba-hamba Allah dan menghalangi mereka dari jalan yang lurus dengan segala cara, dan sungguh ia telah bersumpah untuk mendatangi anak Adam dari arah depan, belakang, kanan dan kiri seraya berkata:

لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Sungguh aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (Al-A’raf: 16)

Akan tetapi orang yang berakal, apabila ia melihat dengan ilmu dan mengambil pelajaran maka ia pun mengetahui bahwa tidak boleh putus amal shalih kecuali dengan kematian, berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (Al-Hijr: 99).” [Liqo’Al-Baabil Maftuh no. 86]

Dan dengan kembali beribadah serta beramal shalih pasca Ramadhan, khususnya puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal, semoga menjadi tanda diterimanya amal ibadah kita selama Ramadhan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan diantara hikmah puasa sunnah Syawwal,

أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها

Bahwa membiasakan puasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan, karena sesungguhnya Allah apabila menerima amalan seorang hamba, maka Allah memberikan kemampuan kepadanya untuk beramal shalih lagi setelahnya, sebagaimana kata sebagian ulama: Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya, barangsiapa melakukan suatu kebaikan kemudian ia ikutkan dengan kebaikan yang lain maka itu adalah tanda diterimanya amal kebaikannya yang sebelumnya, sebagaimana orang yang melakukan kebaikan kemudian ia ikutkan dengan kejelekan maka itu adalah tanda ditolaknya kebaikan yang telah ia kerjakan dan tidak diterima.” [Lathooiful Ma’aarif: 244]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sofyanruray.info

•••

KETIKA HARUSBERPISAH

Tanpa terasa begitu cepat waktu berlalu, bulan romadhan telah meninggalkan kita, dan hal itu bukan berarti selesai sudah perjuangan dan kesungguhan kita dalam menggapai ridha Allah , karena amalan seorang muslim tidak putus dengan berakhirnya romadhan akan tetapi putusnya amal seseorang adalah karena putusnya umur.

✅ Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kepada Rabb mu sampai datang kepadamu kematian” (QS Al Hijr : 99)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

عَمَلُ الْمُؤْمِنِ لَا يَنْقَضِيْ حَتَّى يَأْتِيَهُ أَجَلَهُ

Amalan seorang mukmin tidak terhenti sehingga datang ajalnya” (Lathoiful Ma’arif, hal. 350)

✅ Al Hasan Bashri rohimahullah juga berkata :

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَلاً دُوْنَ الْمَوْتِ ثُمَّ قَرَأَ: {وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ}

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batasan amalan seorang mu’min selain kematian, lalu beliau membaca Firman Allah : Dan beribadahlah kepada Rabb mu sampai datang kepadamu kematian” (QS Al Hijr : 99)” (Lathoiful Ma’arif, hal. 350)

Bisyr Al Haafi rahimahullah pernah ditanya tentang suatu kaum yang hanya bersungguh sungguh beribadah dibulan Romadhan saja, maka beliau rahimahullah berkata :

بِئْسَ الْقَوْمُ لَايَعْرِفُوْنَ الله حَقًّا إِلَّا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِيْ يَتَعَبَدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهُ

Alangkah buruknya suatu kaum yang tidak mengenal Allah dengan benar kecuali di bulan romadhan, sesungguhnya orang shalih itu adalah yang beribadah dan bersungguh sungguh di sepanjang tahun (bukan hanya romadhan)” (Lathoiful Ma’arif, hal. 349)

(Lanjut ke halm..2)