Mengunggah…​​


Taqwa Hikmah Di Balik Puasa

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1.Bagi Yang Mau Bermaksiat Setelah Ramadhan

2. Pemuda Pemberani Dimana Kau Saat Ini

3.Taqwa

4. Taqwa Solusi Islam Mengatasi Ekses Modernisasi

5.Takwa dan Keutamaannya

6.Hakikat Takwa Kepada Allah

*

Taqwa Jalan Menuju Sukses-Ust Jazid Jawas

Nasihat Emas Seputar Hari Raya Idul Fitri-Ust Abdurrahman Thayyib

Meningkatkan Taqwa untuk Mencapai Profesionalisme-DR. Firanda Andirja, MA)

Taqwa dan Penghapus Dosa(Armen Halim Naro, Lc)

Arti Taqwa-Ust Mizan Qudsiyah

Bertaqwa lah, Syarah Hadits Ittaqillaha Haitsu maaKun-Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr

Hakikat Taqwa-Ust Zaid Susanto

*

Ebook Menuju Ketakwaan

Ebook Agama Yang Benar

Ebook Aqidah AhluSunnah Wal Jamaah

Ebook 10Prinsip Menggapai Istiqomah

Ebook Hal Yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

Ebook Hukum dan Adab Islam

Ebook Ibadah Yang Paling Dicintai Allah

••••

TAQWA, HIKMAH DI BALIK PUASA

(Khuthbah ‘Idul Fithri 1439 H / 2018 M)

Bersyukur Atas Segala Nikmat

[1]- Kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, yang jika kita menghitung nikmat-nikmat tersebut; niscaya kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوْهُ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُـحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ}

Dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah; niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Dan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah: Allah telah memberikan petunjuk kepada Islam, yang merupakan jalan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dan merupakan tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang adalah: Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَـجْعَلْ صَدْرَهُ ضَــيِّــقًا حَرَجًا كَأَنَّـمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ …}

Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan mendapat Hidayah; maka Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya menjadi sesat; maka Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan ia sedang mendaki ke langit…” (QS. Al-An’aam: 125)

Gembira Dengan Nikmat Islam

[2]- Maka hendaknya kita bergembira dengan nikmat Islam. Di sela-sela kegembiraan kita pada ‘Idul Fithri ini, gembira bertemu keluarga, gembira karena Allah berikan kecukupan -bahkan kelebihan- rizki, gembira karena Allah telah memperbolehkan bagi hamba-hambanya untuk Fithri; yakni: berbuka dari puasa dengan dibolehkannya makan dan minum di siang hari -bahkan hari ‘Idul Fithri ini memang hari untuk makan dan minum-, dan kegembiraan-kegembiraan yang lainnya; maka di sela-sela kegembiraan-kegembiraan tersebut: janganlah kita sampai melupakan kegembiraan dengan hidayah Islam ini. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْـمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِـمَّا يَـجْمَعُوْنَ}

Katakanlah (Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya; hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

Karunia Allah” adalah Islam, dan “rahmat-Nya” adalah: Al-Qur’an. Itu lebih baik dari harta benda, emas dan perak yang dikumpulkan manusia.

Puasa Sebagai Madrasah Ketaqwaan

[3]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Kita telah memasuki hari Fithri, yakni hari berbuka, dimana kita kembali diperbolehkan untuk makan dan minum, yang berarti kita telah melewati Shiyaam (puasa) selama sebulan penuh.

Dan janganlah dilupakan bahwa hikmah dari pensyari’tan puasa selama satu bulan penuh -yakni bulan Ramadhan-: adalah agar kita bertaqwa kepada Allah.

✅Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَـتَّـقُوْنَ}

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- menyebutkan hikmah disyari’atkannya berpuasa; yakni: agar kalian bertakwa, agar kalian melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Yakni: agar puasa menjadi madrasah bagi kita agar kita terbiasa untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan. Karena, jika seseorang selama satu bulan penuh ia menjalankan keta’atan: melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan; maka hal itu tentunya akan merubah jalan hidupnya pada bulan-bulan berikutnya ke arah yang lebih baik.

Hakikat Taqwa

[4]- Dan kata “Taqwa” sangat sering diucapkan oleh para khathib dan penceramah, dan sangat sering pula didengar dan dibaca oleh manusia, akan tetapi sangat sedikit yang mengamalkannya. Sebagaiamana dijelaskan oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz -rahimahullaah-:

Saya wasiatkan engkau untuk bertaqwa kepada Allah -‘Azza Wa Jalla-, yang Allah hanya menerima amalan taqwa, hanya merahmati orang-orang yang bertakwa, dan hanya memberikan balasan pahala atasnya. Sungguh, banyak yang memberikan nasehat tentang taqwa, akan tetapi sedikit sekali yang mengamalkannya. Semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.”

Banyak orang yang tidak mampu mengamalkan taqwa dikarenakan mereka tidak mengetahui hakikatnya, karena para khathib dan penceramah memang jarang sekali menjelaskan hakikat taqwa dan rinciannya.

Maka di sini khathib akan sedikit membahas tentang taqwa ini agar nantinya kita bisa menilai: apakah diri kita sudah termasuk orang-orang yang bertakwa ataukah belum?

Pengertian Taqwa

✅[5]- Thalq bin Habib -rahimahullaah- berkata menjelaskan pengertian Taqwa:

التَّقْوَى: أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَـخَافُ عِقَابَ اللهِ

Taqwa adalah: engkau mengamalkan keta’atan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dengan mengharap pahala-Nya, dan engkau meninggalkan maksiat kepada-Nya di atas cahaya dari-Nya dengan takut akan siksa-Nya.”

Taqwa Menurut Ahlu Sunnah

[6]- Maka Taqwa adalah dengan melaksanakan keta’atan dan meninggalkan kemaksiatan. Dan tentunya kita tidak akan dapat mewujudkannya kecuali dengan ikhlas kepada Allah dan ittibaa’ (mengikuti contoh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-). Dengan itulah amalan kita akan diterima oleh Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Allah berfirman:

{…قَالَ إِنَّـمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُـتَّــقِيْنَ}

“…Dia (salah satu anak Adam) berkata: Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maa-idah: 27)

Dan menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah: amal akan diterima dari orang yang bertakwa kepada Allah dalam amalannya tersebut, dimana ia mengamalkannya dengan (1)ikhlas karena Allah, (2)sesuai dengan perintah Allah.

Dan inilah dua prinsip yang merupakan inti dari agama Islam:

1. Kita tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah.

2. Dan kita tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang Dia syari’atkan; kita tidak beribadah kepada-Nya dengan bid’ah.

✅Sebagaimana Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{…فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَاءَ رَبِّــهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِـحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّــهِ أَحَدًا}

“…Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Rabb-nya; maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu apa pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

Imam Ibnu Katsir -rahimahullaah- berkata dalam Tafsirnya:

Ini adalah dua rukun untuk bisa diterimanya suatu amalan: (1) amalan tersebut harus ikhlas karena Allah dan (2) harus benar sesuai syari’at Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.”

Dan ini merupakan perwujudan dua kalimat syahadat:

✅1. Syahadat “Laa Ilaaha Illallaah” (tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah), dan

✅2. Syahadat Muhammad Rasulullah (utusan Allah).

– Maka pada syahadat yang pertama terdapat konsekuensi bahwa kita tidak akan beribadah melainkan hanya kepada Allah.

– Dan pada syahadat yang kedua terkandung persaksian kita bahwa Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah Rasul (utusan) Allah yang menyampaikan (syari’at) dari-Nya; maka ini mengandung konsekuensi: Wajib atas kita untuk membenarkan seluruh kabar dari beliau dan menta’ati semua perintah beliau. Dan beliau telah menjelaskan kepada kita segala bentuk ibadah yang kita bisa beribadah kepada Allah dengannya, dan beliau melarang dari perkara-perkara yang baru dalam agama, dan beliau kabarkan bahwa semua itu adalah sesat.

✅Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّٰهِ وَهُوَ مُـحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّــهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَـحْزَنُوْنَ}

Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik; maka ia mendapat pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)

Sebagaimana kita diperintahkan agar kita tidak takut melainkan hanya kepada Allah, tidak bertawakal melainkan hanya kepada Allah, tidak berharap melainkan hanya kepada Allah, tidak “isti’aanah” (minta tolong) melainkan hanya kepada Allah dan tidak mempersembahkan ibadah kita melainkan hanya kepada Allah; maka demikian juga kita diperintahkan untuk ittibaa’(mengikuti) Rasul, menta’ati beliau dan mencontoh beliau. Tidak ada yang halal melainkan apa yang beliau halalkan, tidak ada yang haram melainkan apa yang beliau haramkan, dan yang dianggap sebagai bagian agama adalah: apa yang beliau syari’atkan.

Mewujudkan Taqwa Sebenarnya

[7]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Maka tugas setiap muslim yang ingin meraih derajat Taqwa adalah: dengan memperhatikan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk kemudian ia laksanakan, dan memperhatikan larangan Allah dan Rasul-Nya untuk kemudian ia jauhi.

Dan dalam perintah dan larangan yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya; maka terkandung ajakan dan anjuran untuk berilmu. Karena kita tidak mengetahui batasan perintah maupun larangan secara tepat dan rinci: melainkan dengan mengilmuinya.

Sehingga yang bisa mewujudkan Taqwa dengan sebenar-benarnya hanyalah orang-orang yang berilmu, dan hanya merekalah yang benar-benar takut kepada Allah. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{…إِنَّمَا يَـخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ…}

…Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama…’ (QS. Fathir: 28)

Lanjut ke hal…2