Y.Dalilnya Ahlul Bid’ah Dalam Membantah Ahlussunnah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••••

1. Dosa yang Terus Bertumpuk Bagi Penemu dan Trainer Amalan Bid’ah dan Maksiat

2.Pengertian dan Macam Bid’ah
3.Mengapa Bid’ah Itu Sesat

4.Memahami Bid’ah dan Contohnya

SERI BANTAHAN SYUBHAT BID’AH HASANAH-Ust Sofyan Chalid Ruray

Antum Bid’ah Dari Kepala Sampai Kaki
Berdalil dengan Hadist Sunnah Hasanah
Berdalil Dengan Sholat Sunnah Wudhu Bilal
Berdalil dengan Ucapan Ibnu Mas’ud”Apa yang dianggap Baik oleh Kaum Muslimin Maka Baik Menurut Allah”
Berdalil Dengan Ucapan Imam Syafi’i “Ada Bid’ah yang Terpuji dan Tercela”
Berdalil Dengan Ucapan Umar “Sebaik-baik Adalah Ini” (Salat Tarawih Berjamaah)
Tidak ada Bid’ah Hasanah di Dalamagama,Seluruh Bid’ah itu Sesat” Oleh UstadzMizan Qudsiyah Lc

Bedah buku “Bid’ah Hasanah” Oleh Ustadz Abdil MuhsinFiranda Andirja MA

Bid’ah Hasanah Bag 1:
Bid’ah Hasanah Bag 2:
Bid’ah Hasanah Bag 3:

Ebook Membongkar Wahabbiyah
Ebook Ikuti Sunnah Jauhi Bid’ah-Al ‘Allamah Abdul Muhsin Al Abbad
Ebook Al Itisham(Buku Induk Pembahasan Bid’ah)-Imam Asy Syathibi
•••••••

DALILNYA AHLUL BID’AH DALAM MEMBANTAH AHLUSSUNNAH

Oleh : Abu Fadhel Majalengka

Kalau ahlul bid’ah (ahlul hawa) didakwahi atau kita berdiskusi dengan mereka, pasti dalilnya bukan alquran dan as sunnah. Sekalipun dalilnya alquran dan as sunnah, namun maknanya atau tafsirnya bukan dengan pemahaman para salaf. Mereka selewengkan pengertiannya untuk mendukung kebid’ahan mereka. Atau mereka mencocok-cocokkan dalil dengan amalan mereka.

Dalil apa yang menjadi andalannya ahlul bid’ah, berikut ini kami paparkan sebagiannya.

Pertama, Pokoke Ngikut Nenek Moyang.

AHLUL BID’AH apabila disampaikan kepada mereka, bahwa perkara itu atau amalan tersebut tidak ada dalilnya, tidak ada syariatnya, tidak ada contoh dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, tidak diperintahkan Allah dan Rasulnya, mereka pun menolak dan membantahnya.

Apa jawaban dan bantahan mereka? Jawaban mereka sama seperti halnya jawaban orang-orang jahiliyah terdahulu, apabila dikatakan kepada mereka, “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah (alquran) dan mengikuti Rasul (as sunnah), mereka mengatakan, kami hanya mengikuti kebiasaan nenek-nenek moyang kami. Adat istiadat orang-orang tua kami

✅Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al Baqarah : 170).

✅Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ..

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami menger-jakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (QS. Al Maidah : 104).

✅Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

Yakni apabila mereka diseru untuk mengikuti agama Allah, syariat-Nya, dan hal-hal yang diwajibkan-Nya serta meninggalkan hal-hal yang diharamkan-Nya, maka mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya,” yakni peraturan-peraturan dan tradisi yang biasa dilakukan oleh nenek moyang mereka.

✅Allah Ta’ala berfirman:

{أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا}

Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa. (QS. Al-Maidah: 104)

Yakni tidak mengerti perkara yang hak, tidak mengetahuinya, tidak pula mendapat petunjuk mengenainya. Maka bagaimanakah mereka akan mengikuti nenek moyang mereka, sedangkan keadaan nenek moyang mereka demikian? Mereka hanyalah mengikuti orang-orang yang lebih bodoh daripada mereka dan lebih sesat jalannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dan masih banyak ayat-ayat serupa dalam al-Qur’an, yang menggambarkan taklidnya mereka kepada nenek moyang mereka, walaupun disampaikan kebenaran pada mereka, tetap mereka tidak mau mengikuti Allah dan RasulNya.

Kedua, Pokoke Mengikuti Kebanyakan Orang.

Dalil ini sering ahlul bid’ah katakan. Kita mengikuti kebiasaan masyarakat yang sudah turun temurun. Kita mengikuti kebanyakan orang. Masa amalan yang sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun oleh mayoritas kita ini salah.

Kalau amalan tersebut yang diamalkan orang banyak orang tersebut bersesuaian dengan dalil, maka itu tidak masalah, yang bermasalah itu kalau amalan tersebut bertentangan dengan dalil.

Karena kebenaran itu tidak didasari dengan banyaknya orang yang mengikuti, tetapi kebenaran itu yang bersesuaian dengan dalil. Kalau hanya sekedar mengikuti orang banyak, tanpa pengetahuan ada dalil atau tidak, bisa-bisa kita tersesat.

✅Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُون

َ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al An’am 116).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menafsirkan:

يقول تعالى، لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم، محذرا عن طاعة أكثر الناس فإن أكثرهم قد انحرفوا في أديانهم وأعمالهم، وعلومهم. فأديانهم فاسدة، وأعمالهم تبع لأهوائهم، وعلومهم ليس فيها تحقيق، ولا إيصال لسواء الطريق.

Allah berfirman kepada nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memberi peringatan dari mengikuti mayoritas manusia, karena kebanyakan mereka telah berpaling dari agama, amal dan ilmu. Agama mereka rusak, amal mereka mengikuti hawa nafsu dan ilmu mereka tidak diterapkan dan tidak bisa mencapai jalan yang benar. (Taisir Karimir Rahmah).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah– berkata:

الحق ما قام عليه الدليل و ليس الحق فيما عمله الناس

Kebenaran itu berdasarkan dalil dan bukanlah kebenaran itu berdasarkan apa yang dilakukan manusia. (Majmu al-Fatawa 7/367).

✅Berkata Al’Alamah Sholeh Al Fauzan hafidzahullah:

“الحق هو ما وافق الكتاب والسنة بفهم السلف”. الأجوبة المفيدة – س113

Kebenaran itu adalah apa-apa yang mencocoki al-Qur’an dan as Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf. Al-Ajwibah al-Mufidah -pertanyaan ke 113.

(LaNjut ke halaman 2)