Menjawab Syubhat Tokoh Liberal ” Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?”
Dan Ijma Ulama Bahwa Bunga Bank Adalah Riba

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in


1.Bunga Bank Tetap Riba Biar Nasabah Ikhlas

2.Bunga Bank Itu Riba

3. Cara Halal Memanfaatkan Bunga Bank

4. Pemanfaatan Uang Hasil Riba dan Bunga

5. Hukum Deposito Bank

6.Hukum Menabung Di Bank

7.Perbedaan antara Bank Riba dan Bank Islam

••

Solusi Islam Menghindari Jerat Hutang dan Riba” Oleh Ustadz Dr.Erwandi Tirmidzi MA

Solusi Riba” Oleh Ustadz Dr.Muhammad Arifin Badri MA

Dampak-Dampak Riba” Oleh Ustadz MahfulSafarudin Lc Sesi 1:

Dampak-Dampak Riba” Sesi 2:

Kaidah – Kaidah Terkait Riba” Oleh Ustadz Ammi Nur Baits S.T

Kenali Riba Di Sekitar Kita” Oleh Ustadz Aris Munandar M.P.I

Mengenal Riba dan Bahayanya” Oleh UstadzAris Munandar MPISesi 1

Mengenal Riba dan Bahayanya” Sesi 2

Ebook Riba Bukan Perniagaan.Penyusun: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Ebook RIBA = Susah di Dunia dan AkhiratPenulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, M.A

Ebook Ada Apa Dengan Bank KonvensionalPenulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawy

Ebook Taubat dari HARTA HARAM.Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA

•••••

Awas Link dibawah Ini Syubhat(Ana Berlepas Diri Jika Ada yg Terkena Pemikiran Syubhat Nadirsyah Hosen Tentang Bolehnya Riba di Bank) 

••

Nadirsyah Hosen

Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?

Keharaman riba telah disepakati oleh para ulama. Namun apakah bunga bank itu termasuk riba? Para ulama berbeda pandangan. MUI mengatakan: Iya, termasuk riba. Namun para ulama Mesir yang tergabung dalam Majma’ al-Buhuts Islamiyah (MBI) mengatakan tidak. Mufti Taqi Usmani dari Pakistan mengatakan Iya. Namun Mufti Nasr Farid Wasil dari Mesir mengatakan Tidak. Syekh Wahbah az-Zuhaili mengatakan Iya. Sayyid Thantawi (Grand Syekh al-Azhar) mengatakan Tidak.

Jadi, buat ulama yang menganggap bunga bank termasuk riba, maka hukumnya haram, dengan segala konsekuensinya termasuk bekerja di bank konvensional. Sementara buat ulama yang menganggap bunga bank bukan termasuk riba maka hukumnya boleh, termasuk boleh bekerja di bank konvensional.

Sampai sini, sudah jelas yah? Gak usah ribut. Ini perkara khilafiyah.

Selengkapnya Baca Di https://free.facebook.com/story.php?story_fbid=2068921913356084

••

Bunga Bank Khilafiyah???

Salah satu ciri kaum ngawulo ajaran nuswantoro, entah itu garis lurus atau garis mencong apalagi garis lucu adalah menjadikan khilafiyah (perbedaan pendapat ulama) sebagai dasar pembenaran perbuatannya. Aneh! Khilafiyah koq dijadikan dalil? Pertandingan sepakbola saja, meski ada khilafiyah antara wasit dan hakim garis apakah terjadi handsball atau tidak, pelanggaran atau tidak, gol atau tidak, tetap saja harus ditetapkan mana pendapat yg paling kuat. Lha ini urusan agama mosok diserahkan ke masing2 individu (mending kalau individunya sehat jasmani rohani)? Makanya tak heran kita akan dapati banyak orang yg sakkarep-karepnya ngeles atas nama khilafiyah. Kalau sudah begini, adalah hal yg wajar jika kebanyakan orang bermudah2an menghalalkan ini dan itu, karena pada dasarnya manusia itu memang menyukai yg enak-enak atau melenakan: rokok, musik, bunga bank, bisnis gharar semodel mlm, bitcoin, asuransi, dlsb.

Disinilah pentingnya seseorang memilih guru kemana ia akan mengambil ilmu dan nasehat. Jika seseorang taqlid pada sang guru, maka ia akan terkunci dgn pendapat dan perilaku gurunya itu. Dan bahayanya adalah kaum ini tidak saja suka wara-wiri dolanan di wilayah abu-abu, tapi gemar sekali mengabu-abukan hukum2 yg sudah jelas halal-haramnya. Tak heran jika diantara mereka ini banyak yg akhirnya keblinger jadi liberal.

Contoh syubhat mereka ini bisa dilihat dari tulisan yg diberi judul “Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?”. Disini sang penulis alih-alih mengkaji pendapat mana yg paling kuat tentang hukum bunga bank, ia memilih mempermasalahkan hadits ancaman dosa orang yg berbuat riba. Ini sih ibarat komentator bola yg ngedabrus mempermasalahkan apakah Arsene Wenger pantas diangkat jadi pelatih persib, tanpa ia berani memastikan apakah arsene memang pelatih yg bermasalah.

Sang penulis menghindari penjlentrehan yg ilmiah tentang apa yg diklaimnya khilafiyah atas hukum bunga bank. Mengapa? karena (saya yakin) ia paham betul bahwa argumen2 yg membolehkan bunga bank mayoritas dibangun atas penafsiran yg lemah: biasanya bunga bank tdk dianggap riba karena tak memiliki unsur paksaan dan keberatan dari pihak bank atau nasabahnya. Lha, yo opo tumon prinsip ‘suka sama suka’ menghapus larangan bermaksiat? Ada juga yg mbolehkan bunga tabungan bank karena bunganya kecil, tidak berlipat ganda. Biasanya mereka ini pakai dalil QS3:130, yg sebenarnya cuma mengkisahkan praktek riba zaman jahiliyah sebelum Islam, dimana sebenarnya telah diharamkan berdasarkan dalil keumuman riba di QS2:275 yg turun belakangan.

Jadi, ada atau tak ada paksaan, besar atau kecil, bunga bank tetap riba berdasarkan kaidah atau definisi yg disepakati ulama manapun: “Setiap piutang yang mendatangkan manfaat atau keuntungan, maka itu adalah riba”. Fakta bahwa bunga bank adalah riba, bisa juga ditelusuri dari sejarah panjang berdirinya perbankan modern yg dikembangkan oleh keluarga yahudi, Rothschild sejak abad ke-18, dimana cikal bakalnya yaitu bisnis rentenir orang2 yahudi yg telah ada sejak awal abad ke-10 di eropa dan mendapat perlawanan dari pihak gereja yg awalnya juga mengharamkan riba.

Sekian “sledingan” untuk Nadirsyah Hosen (hadahullah) … Mind you! being a western

•Katon Kurniawan

••

IJMA ULAMA BAHWA BUNGA BANK ADALAH RIBA

Beredar tulisan dari sebagian tokoh Islam liberal bahwa bunga bank bukanlah riba menurut pendapat si Fulan dan si Alan.

Kita katakan bahkan para ulama besar Ahlussunnah di dunia yang kompeten dalam masalah fikih dan ekonomi Islam telah bersepakat bahwa bunga bank itu merupakan riba dan haram hukumnya.

Ibnu Munzir mengatakan:

أَجْمَعَ كُلُّ مِنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى إبْطَا ِ الْقِرَاضِ إذَا شَرَطَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا لِنَفْسِهِ دَرَاهِمَ مَعْلُومَةً

Para ulama yang pendapatnya dianggap TELAH BERSEPAKAT tentang batilnya akad hutang jika dipersyaratkan salah satu atau kedua pelakunya untuk menambahkan sejumlah dirham tertentu” (Al Mughni, 5/28).

✅Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta Saudi Arabia menegaskan:

الفائدة التي تأخذها البنوك من المقترضين، والفوائد التي تدفعها للمودعين عندها، هذه الفوائد من الربا الذي ثبت تحريمه بالكتاب والسنة والإجماع

Bunga yang diambil bank dari para penghutang, dan bunga yang diberikan kepada para nasabah wadi’ah (tabungan) di bank, maka semua bunga ini termasuk riba yang telah valid keharamannya berdasarkan Al Qur’an As Sunnah dan IJMA” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta juz 13, no. 3197, hal. 349).

Para ulama dalam Majma’ Al Fiqhil Islami dalam muktamar ke-3 di Amman tanggal 8-13 Safar 1407H diantaranya menetapkan:

بخصوص أجور خدمات القروض في البنك الإسلامي للتنمية:

أولاً: يجوز أخذ أجور عن خدمات القروض على أن يكون ذلك في حدود النفقات الفعلية. ثانياً: كل زيادة على الخدمات الفعلية محرمة لأنها من الربا المحرم شرعاً

“Mengenai biaya jasa hutang-piutang di bank-bank Islam yang digunakan untuk pengembangan, maka rinciannya:

Pertama: dibolehkan mengambil biaya administrasi hutang-piutang sesuai dengan nafaqat fi’liyyah (effort dalam mengurus administrasi)

✅Kedua: setiap tambahan untuk jasa hutang-piutang hukumnya haram karena termasuk riba yang diharamkan syariat”

✅Demikian juga Majma’ Al Fiqhil Islami dalam muktamar ke-2 di Jeddah tanggal 10-16 Rabiuts Tsani 1406H diantaranya menetapkan:

إن كل زيادة (أو فائدة) على الدَّين الذي حل أجله، وعجز المدين عن الوفاء به مقابل تأجيله، وكذلك الزيادة (أو الفائدة) على القرض منذ بداية العقد: هاتان الصورتان رباً محرم شرعاً.

Setiap tambahan (atau bunga) kepada hutang yang telah jatuh temponya, namun penghutang belum bisa melunasinya sehingga didenda sebagai imbalan dari penundaannya, atau juga tambahan (atau bunga) terhadap hutang yang dikenakan sejak awal akad, kedua bentuk ini termasuk riba yang diharamkan syariat”

Para ulama dalam Majma’ Al Buhuts Al Islami di Mesir pada Muktamar ke-2 di Kairo tahun 1385H diantaranya menetapkan:

أولاً: الفائدة على أنواع القروض كلها ربا محرم، لا فرق في ذلك بين ما يسمى بالقرض الاستهلاكي، وما يسمى بالقرض الإنتاجي؛ لأن نصوص الكتاب والسنة في مجموعها قاطعة في تحريم النوعين.

ثانياً: كثير الربا وقليله حرام، كما يشير إلى ذلك الفهم الصحيح في قوله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [آل عمران:130].

✅”Pertama: Bunga bank dengan berbagai jenisnya semuanya riba yang haram. Tidak ada bedanya baik dinamakan qardh istihlaki (pinjaman konsumtif) atau qardh intaji (pinjaman produktif), karena nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah mengharamkan semuanya secara tegas termasuk kedua jenis tersebut

Kedua: Riba yang banyak ataupun sedikit semuanya haram. Inilah pemahaman yang benar dari firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Ali Imran: 130)”

Maka jangan dengarkan syubhat dari orang-orang liberal yang sudah menjadi kebiasaan mereka menghalalkan yang sudah jelas haramnya, dan mengharamkan yang sudah jelas halalnya.

Dan mereka senantiasa menghembuskan syubhat-syubhat di tengah masyaratkat sehingga kaum Muslimin menjadi rancu dan ragu lagi terhadap agamanya yang sudah terang-benderang.

Semoga Allah memberi taufik.

Yulian Purnama

••

Bunga Bank Adalah Riba dan Sejarah Bank Konvensional

Oleh Abu Ubaidah As Sidawy

DEFENISI BANK DAN SEJARAHNYA

 

Bank diambil dari bahasa Italia yang artinya meja. Konon penamaan itu disebabkan karena pekerjanya pada zaman dulu melakukan transaksi jual beli mata uang di tempat umum dengan duduk di atas meja. Kemudian modelnya terus berkembang sehingga berubah menjadi Bank yang sekarang banyak kita jumpai.

Bank didefenisikan sebagai suatu tempat untuk menyimpan harta manusia secara aman dan mengembalikan kepada pemiliknya ketika dibutuhkan. Pokok intinya adalah menerima tabungan dan memberikan pinjaman.

Bank yang pertama kali berdiri adalah di Bunduqiyyah, salah satu kota di Negara Italia pada tahun 1157 M. Kemudian terus mengalami perkembangan hingga perkembangan yang pesat sekali adalah pada abad ke-16, di mana pada tahun 1587 berdirilah di Negara Italia sebuah bank bernama Banco Della Pizza Dirialto dan berdiri juga pada tahun 1609 bank Amsterdam Belanda, kemudian berdiri bank-bank lainnya di Eropa. Sekitar tahun1898, Bank masuk ke Negara-negara Arab,  di Mesir berdiri Bank Ahli Mishri dengan modallima ratus ribu Junaih.1

PEKERJAAN BANK

 Seorang tidak bisa menghukumi sesuatu kecuali setelah mengetahui gambarannya dan pokok permasalahannya. Dari sinilah, penting bagi kita untuk mengetahui hakekat Bank agar kita bisa menimbangnya dengan kaca mata syari’at.

Pekerjaan Bank ada yang boleh dan ada yang haram, hal itu dapat kita gambarkan secara global sebagai berikut:

 

✅A. Pekerjaan Bank Yang Boleh

1.    Transfer uang dari satu tempat ke tempat lain dengan ongkos pengiriman.

2.    Menerbitkan kartu ATM untuk memudahkan pemiliknya ketika bepergian tanpa harus memberatkan diri dengan membawa uang di tas atau dompet.

3.    Menyewakan lemari besi bagi orang yang ingin menaruh uang di situ.

4.    Mempermudah hubungan dengan Negara-negara lain, di mana Bank banyak membantu para pedagang dalam mewakili penerimaan kwitansi pengiriman barang dan menyerahkan uang pembayarannya kepada penjual barang.

Pekerjaan-pekerjaan di atas dengan adanya ongkos pembayaran hukumnya adalah boleh dalam pandangan syari’at.

 

✅B. Pekerjaan Bank Yang Tidak Boleh

1.    Menerima tabungan dengan imbalan bunga, lalu uang tabungan tersebut akan digunakan oleh Bank untuk memberikan pinjaman kepada manusia dengan bunga yang berlipat-lipat dari bunga yang diberikan kepada penabung.

2.    Memberikan pinjaman uang kepada para pedagang dan selainnya dalam tempo waktu tertentu dengan syarat peminjam harus membayar lebih dari hutangnya dengan peresentase.

3.    Membuatsurat kuasa bagi para pedagang untuk meminjam kepada Bank tatkala mereka membutuhkan dengan jumlah uang yang disepakati oleh kedua belah pihak. Tetapi bunga di sini tidak dihitung kecuali setelah menerima pinjaman.2 

BUNGA BANK ADALAH RIBA

Dengan gambaran di atas, maka nyatalah bagi kita bahwa kebanyakan pekerjaan Bank dibangun di atas riba yang hukumnya haram berdasarkan Al-Qur’an, hadits dan kesepakatan ulama Islam.

✅1. Dalil Al-Qur’an

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 275)

Cukuplah bagi seorang muslim untuk membaca akhirsurat Al-Baqoroh ayat 275-281, maka dia akan merinding akan dahsyatnya ancaman Allah kepada pelaku riba. Bacalah dan renungkanlah!!

✅2. Dalil hadits

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Dari Jabir, ia berkata: “Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, wakilnya, sekretarisnya dan saksinya.” (HR. Muslim 4177)

✅3. Dalil Ijma’

·        Para ulama sepanjang zaman telah bersepakat tentang haramnya riba, barangsiapa membolehkannya maka dia kafir. 3 Bahkan, riba juga diharamkan dalam agama-agama sebelum Islam. Imam al-Mawardi berkata: “Allah tidak pernah membolehkan zina dan riba dalam syari’at manapun”.4

·        Kalau ada yang berkata:  Kami sepakat dengan anda bahwa riba hukumnya adalah haram, tetapi apakah bunga Bank termasuk riba?! Kami jawab: Wahai saudaraku, janganlah engkau tertipu dengan perubahan nama. Demi Allah, kalau bunga Bank itu tidak dinamakan dengan riba, maka tidak ada riba di dunia ini, karena riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas pokok harta, inilah keadaan bunga bank konvensional itu.

Kami tidak ingin memperpanjang permasalahan ini. Cukuplah sebagai renungan bagi kita bahwa telah digelar berbagai seminar dan diskusi tentang masalah ini, semunya menegaskan kebulatan bahwa bunga Bank konvensional adalah riba yang diharamkan Allah.5 Bahkan dalam muktamar pertama tentang perekonomian Islam yang digelar di Mekkah dan dihadiri oleh tiga ratus peserta yang terdiri dari ulama syari’at dan pakar ekonomi internasional, tidak ada satupun di antara mereka yang menyelisihi tentang haramnya bunga Bank.

(Lanjut ke halaman 2)