Menerima Kebenaran dari Siapa Saja,Kalau Menuntut Ilmu Jangan Ambil Baik dan Buang Buruknya Harus Guru Manhaj Salaf

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in


1.Hukum Ngaji Ambil Baik dan Buang Buruknya

2.Lihatlah Dari Siapa Kamu Mengambil Ilmu Agamamu

3. Menerima Kebenaran dari Siapa Saja, Kalau Belajar Harus Pilih Guru

4.Jangan Menolak Kebenaran

5. Kaedah Menerima Kebenaran dan Mencari Kebenaran

6.Waspada Syubhat”Ambil Baik Buang Buruknya”

••

10 Penghalang Menerima Kebenaran”-Ust Zainal Abidin Syamsudin

10 Penghalang Menerima Kebenaran 1

10 Penghalang Menerima Kebenaran 2

Lihatlah Dari Siapa Kamu Mengambil Ilmu Agamamu” Oleh Ustadz Abdullah Taslim MA

Benci Kebenaran Karena Ada pada Orang yangDibenci-Ust M. Abduh Tuasikal

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Mahfudz Umri..

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Ahmad Zainuddin

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Badrussalam

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Subhan Bawazier

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Sofyan Chalid

Ambil Baik Buang Buruknya-Ust Syafiq Basalamah

••

EbookTabshiirul Khalafi Bidhabitil Ushuli allati Man Khaalafahaa Kharaja ‘An Manhajis Salaf(Kapan Seseorang Keluar Dari Ahlu Sunnah)

yang secara tekstual maknanya:

“Pencerahan untuk generasi khalaf mengenai patokan pokok-pokok aqidah yang jika seseorang menyelisihinya, ia keluar dari manhaj salaf”

Dalam buku ini akan terjawab pertanyaan seputar:

1. Apa patokan seseorang disebut sebagai salafi atau ahlus sunnah?

2. Apa yang bisa membuat seseorang tidak bisa disebut sebagai salafi atau ahlus sunnah?

3. Kenapa ada sebagian orang yang menyelisihi sebagian pokok aqidah ahlus sunnah namun tetap tidak keluar dari lingkaran ahlus sunnah, semisal Imam An Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Khuzaimah, dan lain-lainnya -rahimahumullah

-?

•••••••

Menerima Kebenaran dari Siapa Saja,Kalau Menuntut Ilmu Jangan Ambil Baik dan Buang Buruknya Harus Guru Manhaj Salaf

 

APA KATA IMAM ASY-SYAFI’I TENTANG ORANG YANG MENGAMBIL ILMU SERAMPANGAN?*
✅Berkata Al-Imam Nashirus-Sunnah Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i rahimahullah:

“مثل الذي يطلب العلم بلا حجة كمثل حاطب ليل يحمل حزمة حطب وفيه أفعى تلدغه وهو لا يدري”.

Permisalan orang yang mengambil ilmu tanpa hujjah seperti pencari kayu bakar di malam hari, dia memikul seikat kayu, padahal padanya ada seekor ular berbisa yang siap menyengatnya sedangkan dia tidak mengetahuinya.”(Shahih, dikeluarkan Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal Ilas-Sunan no.263)

Maksud “tanpa hujjah” yaitu tanpa bimbingan yang benar, dia mengambil ilmu dari siapa saja sekalipun dari Ahli Bid’ah dan Hawa.

Muhammad Abu Muhammad Pattawe

Awas Syubhat “Ambil Baik Buang Buruknya) (Pilihlah Guru Manhaj Salaf)

Oleh: Danni Nursalim Harun

Siapa bilang belajar baca Al-Qur’an kepada orang yang tidak jelas manhajnya tidak mengandung Syubhat?
Saya pernah belajar baca Al-Qur’an kepada salah satu.guru yang kental dengan sufinya, di sela-sela.mengajarkan bacaan Al-Qur’an, ia menyisipkan.penafsiransufi dari beberapa ayat yang dibaca. Tentu saja penafsiran tersebut tidak akan didapatkan di kitab tafsir manapun, sebab ia hanya bilang bahwa ia.mendapatkannya dari gurunya, dan gurunya dapat dari gurunya lagi, etc. Tentu sebagai murid hanya manggut- manggut saja dan segan untuk membantah.

Kalau masih awam, dari mana akan tahu kalau itu syubhat..Beberapa friend di fb yang dulunya sangat antusias belajar manhaj salaf, bahkan ada yang jadi admin salah.satu grup belajar manhaj salaf, karena terlalu sering baca tulisan dari srigala berbulu domba, akhirnya sekarang berubah persis seperti gurunya tersebut. Jika kita menemukan mutiara terpendam, tentu kita akan menjaganya dan mustahil akan mencampakkannya. Kenapa banyak orang yang menganggap remeh Hidayah yang telah didapatkan dengan sembarangan belajar? Manakah yang lebih mahal, Mutiara atau Hidayah? Allâhul Musta`an

*

BERMAJELIS DENGAN AHLU BID’AH



1. Ada perbedaan antara bermajelis dengan Ahlu Bid’ah sama mengambil riwayat dari mereka,

Para ulama membolehkan untuk mengambil riwayat dari Ahlu Bid’ah karena alasan darurat dan dalam hal ini masuk dalam bab ” irtikab Akhoffu Dhororain”,

Mengapa demikian?
Jawabnya: karena kalau kita meninggal riwayat dari mereka maka akan banyak hadist2 yang tidak sampai kepada kita, maka dalam rangka untuk menjaga hadist2 Nabi maka para ulama ahli hadist membolehkan untuk mengambil riwayat darinya



2. Para ulama ketika membolehkan untuk meriwayatkan hadist dari Ahlu Bid’ah membuat suatu batasan2 dan rambu2 diantaranya

a. Bid’ahnya tidak sampai pada kekufuran

b. Tidak menyeru kepada bid’ahnya

c. Hadist yang diriwayatkan nya tidak mendukung bid’ahnya

d. Perawi bukan termasuk penyeru bid’ahnya

e. Dan masih banyak lagi



3. Berkenaan dengan Abaan bin Taghrib ada suatu komentar yang menarik dari Imam Ad-Ddzahabi di kitabnya Mizan ‘itidal pada awal2 kitab

Yang intinya : Abaan bin Taghlib ini bukan masuk dalam syi’ah yang ekstrim

Syi’ah dahulu dengan sekarang itu beda

Syi’ah dahulu itu hanya sekedar melebihkan Ali dari pada Ustman” silahkan baca kitab Mizan I’tidal dalam masalah ini
4. Kalau mau konsisten dengan pernyataan membolehkan mengambil dari ahli bid’ah maka ana persilahkan dia untuk bermajelis kepada orang2 yang terindikasi dengan Syi’ah walaupun tidak ekstrim seperti Quraish Syihab dan Sai’id Aqiil sirooj

Mau????

Kalau ane mah ogah?

Agus Susanto

••

Awam dan Thulab Al-Ilm Berbeda

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Yang belakangan menyinggung belajarnya kami di LIPIA pun gado-gado, sebenarnya tahu bahwa itu pun terpaksa mau bagaimana lagi. Kemudian ‘ambil baiknya buang buruknya’? Iya. Tentu. Tapi jangan kemudian ini menjadi dalih dipersilakannya kalangan awam untuk menerapkan metode itu. Awam dengan thullab al-ilm yang concern di bidang ilmu dan memiliki latar belakang pemahaman Salaf, tidak bisa disamakan.

Dan kini pun kita toh berusaha sebisanya mengamalkan dan menyebarkan. Sayang, sebagian juru ilmu justru kurang menyebarkan kebaikan tapi sekadar membenturkan semata. Jikapun menulis suatu yang ilmiah, selalulah tendensinya menyudutkan kalangan yang berusaha menerapkan manhaj Salaf -walau memang mereka toh manusia punya salah-.

Akhirnya? Tulisannya ibarat sangkakala busyra untuk para pro-bid’ah dan syubhat. Dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.

Sampai kadang kita berfikir, “Duhai Anda yang berilmu tinggi. Sekiranya Anda tak ada di dunia maya, mungkin langkah kita lebih ringan.”

Tapi mungkin kalimat di atas lebih cocok untuk saya, atau semisal saya

••

Perbedaan “Mencari Ilmu” & “Menerima Kebenaran”

Ristiyan Ragil Putradiant

Ada perbedaan mendasar antara “mencari ilmu” dengan “menerima kebenaran”.

Kalau mencari ilmu, maka memang harus mengambil dari orang yang terpercaya, yaitu para ulama rabbani yang meniti jalan Rasulullah dan sahabat beliau. Adapun menerima kebenaran, maka bisa dari siapapun, baik kawan maupun lawan, baik yang dikenal maupun yang tak dikenal.

Sayangnya, sebagian orang ada yang menolak nasehat karena alasan ilmu itu harus diambil dari orang yang terpercaya. Padahal perkaranya bukan menuntut ilmu, tapi menerima kebenaran.
Saya ngga ngerti, kok bisa mengambil ilmu dari ahli bid’ah bisa dianalogikan dengan mengambil riwayat hadits dari mereka.

Kenapa para imam hadits mengambil riwayat dari orang-orang Qadariyah di Bashrah? Ibnu Taimiyyah mengatakan:

فلو ترك رواية الحديث عنهم ، لاندرس العلم والسنن والآثار المحفوظة فيهم

Karena jika kita tinggalkan riwayat mereka, maka akan banyak ilmu, hadits dan atsar yang ada pada mereka akan hilang”



Begitu pula sebagian muhaddits mengambil hadits dari orang Khawarij karena amat kecil bahkan mustahil mereka berbohong, karena dusta termasuk dosa besar dan pelakunya kafir menurut keyakinan khawarij tsb.

Jadi tidak ada hubungannya dengan menuntut ilmu lalu ambil baiknya dan buang buruknya. Hal ini semata untuk menyelamatkan hadits Rasulullah agar tidak hilang dengan dibuangnya riwayat dari mereka.



Para ulama di masa silam apakah hanya mengambil riwayat saja dan tidak menuntut ilmu? Kenapa tidak dinukilkan saja kisah2 mereka menuntut ilmu, apa iya mereka dalam mencari ilmu pun berguru pada ahli bid’ah? Ini akan lebih pas dan mengena untuk dijadikan “dalil” daripada mengqiyaskannya dengan mengambil riwayat hadits.
Imam Al Hafizh Al Humaidy misalnya, ketika tahu ada seorang Qadariy, beliau mengatakan kepada orang2:

لا تسمعوا من هذا القدري شيئا!

Jangan kalian dengarkan dari apapun dari penganut Qadariyah ini!”



Begini saja, sebagai bentuk penerapan, sekarang kita tanya deh… Imran bin Hiththan, seorang gembong Khawarij Qa’diyah di masanya, jika kita hidup di masa tsb, bolehkah kita berguru/bermajelis dengannya? Perlu diketahui bahwa Imam Bukhari meriwayatkan darinya. Monggo dijawab.

••

Apakah ngaji itu harus pilih-pilih guru?

TIMBANGAN
” Al-haq yuqbal min kulli ahad wa laa yuthlab min kulli ahad”

ﺍﻟﺤﻖ ﻳﻘﺒﻞ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﻭﻻ ﻳﻄﻠﺐ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ *

Kebenaran itu diterima dari siapa saja, tapi kebenaran itu tidak boleh dicari dari siapa saja”

* perkataan syekh Ali bin Hasan al_Halaby, ucapan ini diambil dari faedah dauroh masyayikh STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA di Trawas.*
Penjelasan dari faedah di atas:

Jika anda menjumpai kebenaran (sesuai al-Qur’an dan Sunnah) dari manapun datangnya maka terimalah, bahkan dari orang kafir dan Iblis sekalipun maka terimalah kebenaran tersebut

Dalam hal ini berlaku ucapan:

ﺍﻧﻈﺮ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﻭﻻ ﺗﻨﻈﺮ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ

” undzur maa qol wala tandzur man qol”

Lihatlah apa yang diucapkan jangan lihat siapa yang mengucapkan



Akan tetapi untuk mencari kebenaran menuntut ilmu al-haq maka jangan sesekali anda mengambilnya kecuali dari ahlinya, dari guru muslim bermanhaj sunni salafy (haqiqotan laa iddi’aa-an)

Dan dalam hal ini berlaku ucapan Ibnu Sirin rahimahullah:

ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺩﻳﻦ ﻓﺎﻧﻈﺮﻭﺍ ﻋﻤﻦ ﺗﺄﺧﺬﻭﻥ ﺩﻳﻨﻜﻢ

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian” (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim )

Mengapa kita harus berhati-hati memilih guru?



Karena Fir’aun bahkan iblis sekalipun telah mengaku sebagai guru pemberi nasehat.

Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada.menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. [Qs.Surat Ghafir: 29]

Dan dia (Iblis) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa). “Sesungguhnya saya (iblis) adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”, [QS.Surat Al-A’raf: 21]

Maka dari itulah Imam Ibnu Sirin rahimahullah berkata:

ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺩﻳﻦ ﻓﺎﻧﻈﺮﻭﺍ ﻋﻤﻦ ﺗﺄﺧﺬﻭﻥ ﺩﻳﻨﻜﻢ

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian” (Diriwayatkanoleh al-Imam Muslim )

Akhukum:

Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah

••••

Alibi “Ambil Baik Buang Buruknya”

Katon Kurniawan
Ketika bicara masalah agama, terlebih perkara2 ushul terkait aqidah atau ibadah, maka tak mungkin seseorang menutupi kecenderungannya dgn alibi “ambil yg baik, buang yg buruk” … Emangnya agama bisa disamakan mirip gado-gado: tidak doyan kangkung atau timun tinggal disingkirkan tak dimakan?

Dalam perkara2 agama, yg namanya syubhat atau bid’ah itu pasti bercampur yg baik dan yg buruk. Kalau bid’ah/syubhat isinya hanya tegas menampakkan perkara bathil saja, maka setiap orang akan mengonanginya dgn mudah, lalu menolaknya. Bi’dah/syubhat pun tdk mungkin berisi hanya kebaikan, karena yg begini ini terkondang disebut sunnah. Ini artinya bi’dah/syubhat itu pastilah sesuatu yg bathil yg dibungkus kebaikan supaya tdk terkonang dan agar tersamarkan konten aslinya.

Jadi kalau ada orang, yg mengatakan misalnya: “ustadz badrusalam guru saya, ustadz abdul somad guru saya, ustadz khalid guru saya, ustadz hanan attaki guru saya”, maka orang yg mengatakannya itu terindikasi mumet dan tak pantas didengar pendapatnya (dlm perkara agama), meskipun dia seorang artis bahkan jika ia seorang TEUKU titisan dewa WISNU sekalipun. Fakta bahwa banyak orang yg jadi follower fanatiknya menunjukkan bahwa argumen “ambil yg baik, buang yg buruk” tak mudah dipraktekkan kebanyakan orang. Sebab jika benar prinsip itu diterapkan, statement sang dewa … eeh sang artis itu tak bakalan di-like atau diamini banyak orang. Piye logis ora son?

••(lanjut ke halaman 2)