Kajian Tazkiyatun Nufus

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••••

1.Hukum Nasyid Islami

2.Safar Adalah Sebagian dari Adzab

3.Takbir Jama’iy 2

4. Keutamaan Menjawab Adzan yang MungkinTidak Anda Sadari

5. Hakikat Maqam Ibrahim

6.Pentingnya Tazkiyatun Nufus

••

Ust Yazid Jawas-Tazkiyatun Nufus

Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr-Tazkiyatun Nufus

Kajian Tazkiyatun Nufus-Ust Mahfudz Umri

Kajian”Tazkiyatun Nufus” Oleh Ustadz Abu Izzi Masmu’in

Tazkiyatun Nafs (Konsep Penyucian JiwaMenurut Salafush Sholeh) [Pertemuan 1 -8]” Oleh Ustadz Abdullah Sholeh Al Hadromi

Ikhlas dan Niat – 
Ilmu – 

Macam – Macam Hati dan pembagiannya – 
Indikasi Hati Yang sehat dan Hati Yangsakit – 
4 Racun Hati – 

Racun Hati (Banyak Bicara,Ghibah danObatnya) – 
Racun Hati (Banyak Memandang,Bahayadan Obatnya 
Racun Hati (Sebab & Akibat BanyakMemandang,Kisah2 Salafusholeh MenjagaPandangan) – 
••

Ebook Kunci Kebahagiaan-Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah
Ebook Menyelematkan Hati 1 Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah
Ebook Menyelematkan Hati 2 Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah
Manajemen Qolbu(Melumpuhkan Senjata Syetan)Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah
Ebook Empat Puluh Cara Menyelesaikan Masalah
Ebook Meraih Hidup Bahagia
Ebook Menggapai Hidup Bahagia
Ebook Menghibur Hati Yang Gundah
•••••

KAJIAN TAZKIYATUN NUFUS

➡[1]- Pembahasan Pertama: Tentang Makna Tazkiyatun Nufus.

➡A. Arti Tazkiyah

Kata اَلــتَّـــــْزكِــيَــةُ merupakan mashdar dari

زَكَّى – يُـزَكِّـيْ – تَـزْكِـيَـةً

Yang artinya: membersihkan/mensucikan dan juga menambah/mengembangkan.

Maka di dalam Tazkiyah terkandung dua makna; yaitu:

اَلطَّهَارَةُ وَالـنَّمَاءُ

Yakni: bersih dan tumbuh berkembang.

Sehingga kesucian jiwa yang dimaksud adalah: kebersihan, dan berkembang serta meningkat.

Jadi harus ada:

الــتَّــخْــلِــيَــةُ وَالــتَّــحْــلِــيَــةُ

At-Takhliyyah yaitu pengosongan, yakni: pengosongan dan pembersihan jiwa dari hal-hal yang buruk. Kemudian setelah bersih baru At-Tahliyah yaitu penghiasan, yakni: menghiasi dengan akhlak yang baik dan amal shalih.

Permisalannya: seperti orang ingin menghias sebuah dinding dengan mengecatnya: tentunya sebelum dicat; harus dibersihkan terlebih dahulu, baru kemudian dihiasi.

Para ulama mengistilahkan dengan At-Takhliyyah Wat Tahliyyah. Gambaran lainnya: seperti perselisihan ulama tentang mana yang lebih utama antara dzikir dengan istighfar? Maka para ulama menjelaskan: dilihat dari keadaan orang yang akan melaksanakannya. Kalau seorang itu banyak dosa; maka hendaknya dia bersihkan terlebih dahulu dengan istighfar, baru kemudian dia hiasi dengan dzikir-dzikir yang lain. Seperti : Subhaanallah, Allaahu Akbar, dan lain-lain.

Karena pada dirinya terdapat kotoran yang harus dibersihkan dengan istighfar

Jadi ini inti dari At-Tazkiyah; yaitu: membersihkan agar nantinya menjadi berkembang. Ibarat pepohonan yang ada benalunya; maka ia harus dibersihkan terlebih dahulu agar nantinya berkembang.

➡B. Arti Nufus

Adapun النُّفُوْسُ jamak dari النَّفْسُ yang digunakan untuk berbagai perkara, di antaranya adalah الرُّوْحُ (Ar-Ruuh). Dan ini yang ada kaitannya dengan pembahasan kita; yakni: النَّفْسُ dengan makna الرُّوْحُ, seperti yang Allah firmankan:

{…وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُوْنَ فِيْ غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُوْ أَيْدِيْهِمْ أَخْرِجُوْا أَنْفُسَكُمُ…}

….Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): Keluarkanlah nyawamu!…” (QS. Al-An’aam: 93)

Yaitu: ruhmu.

Hanya saja An-Nafs lebih digunakan ketika masih menempel dengan jasad. Adapun kalau An-Nafs ini terlepas dari badan; maka biasa di istilahkan dengan Ar-Ruuh.

Intinya An-Nafs maupun Ar-Ruuh: keduanya merupakan bagian yang lain dari jasad kita.

➡C. Arti Tazkiyatun Nufus

Sehingga kalau Tazkiyah dan Nufus digabungkan (Tazkiyatun Nufus); maka maknanya: membersihkan jiwa agar jiwa ini menjadi berkembang.

Wallaahu A’lam.

[2]- Pembahasan Kedua: Tazkiyatun Nufus Merupakan Tugas Para Nabi dan Rasul

Tazkiyah merupakan tugas para Nabi dan Rasul, termasuk Nabi kita Muhammad -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُوْلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْ عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْـحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلَالٍ مُبِيْنٍ}

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul (Muhammad) dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, MENSUCIKAN (jiwa) mereka, dan MENGAJARKAN kepada mereka Al Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. An-Nisaa’: 164)

✅Allah -Ta’ala- juga berfirman:

{هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِي الأُمِّـــيِّـــيْـنَ رَسُوْلًا مِنْهُمْ يَتْلُوْ عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْـحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلَالٍ مُبِيْنٍ}

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, MENSUCIKAN mereka, dan MENGAJARKAN mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Yakni: tugas Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah At-Tazkiyah; yaitu: agar jiwa manusia menjadi bersih, selain tugas beliau juga adalah: At-Ta’lim; yakni: mengajarkan ilmu; Al-Kitab danAs-Sunnah.

Dan At-Ta’lim pada zaman Rasul adalah dengan menyampaikan apa yang Allah wahyukan kepada beliau; berupa: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Itulah yang beliau sampaikan: wahyu; bukan dari diri beliau sendiri. Seperti yang Allah firmankan:

{مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى * وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْـهَوَى * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى}

Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya .Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 2-4)

Dan itulah yang diterima oleh Para Shahabat dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Kemudian para Shahabat menyampaikan kepada Para Tabi’in, dan Para Tabi’in juga menerima Al-Qur’an dan As-Sunnah melalui para Shahabat, dan juga menerima apa yang mereka (para Shahabat) fahami dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Para Tabi’in kemudian menyampaikan apa yang mereka terima dari para Shahabat: kepada generasi selanjutnya (Tabi’ut Tabi’in), dan seterusnya.

Akan tetapi, sampainya kesemuanya itu kepada kita adalah dengan melalui banyak generasi, sehingga banyak hal-hal yang mencampuri Al-Qur’an dan As-Sunnah, terutama pemahaman terhadap Al-Qur’an dan pemahaman terhadap As-Sunnah, juga keshahihan dari As-Sunnah itu sendiri. Yaitu: adanya hadits-hadits yang lemah, hadits yang sangat lemah, hadits yang palsu, bahkan yang tidak ada asalnya yang datang dari Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Sehingga seorang yang ingin memberikan pengajaran dan mengadakan Ta’lim seperti yang Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- ajarkan; maka tidak semudah pada zaman beliau, yakni apa yang beliau sampaikan itu jelas dari apa yang Allah wahyukan. Demikian pula yang Para Shahabat sampaikan; maka itu adalah apa yang mereka dapati dari Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- dan juga dari apa yang mereka fahami.

Adapun pada zaman sekarang; maka banyak penafsiran-penafsiran dan pemahaman-pemahaman yang menyimpang dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ada juga hadits-hadits yang lemah -bahkan palsu- sehingga perlu adanya Tashfiyah (pemurnian).

Jadi pada zaman sekarang; bagi siapa yang ingin mengadakan Ta’lim (pengajaran) seperti pada zaman Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka harus diadakan Tashfiyah terlebih dahulu.

Tidak semua yang didapat kemudian diajarkan, tidak semua yang dibaca kemudian disampaikan, tidak semua yang didengar kemudian diungkapkan. Karena harus diseleksi, di-Tashfiyah, dimurnikan terlebih dahulu: Mana yang benar-benar berasal dari Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- dan dari Para Shahabat, dan mana yang bukan. Agar ketika menyampaikan kepada umat: itulah yang benar-benar bersih, yang berasal dari Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Kemudian selain Ta’lim; maka Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- juga melakukan Tazkiyah; yaitu: mensucikan jiwa para Shahabatnya. Dan itu juga tugas da’i pada zaman sekarang; yaitu: melakukan Tazkiyah kepada murid-muridnya, agar mereka menjadi bersih; agar mereka melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Karena membersihkan jiwa adalah dengan hal tersebut; yaitu: dengan menjalankan ketaatan dan menjahui kemaksiatan.

Dari sini kita mengetahui bahwasanya tugas da’i selain Tasfiyah juga Tazkiyah atau Tarbiyah. Tarbiyah yaitu: mendidik umat agar melaksanakan ilmu yang sudah dimurnikan yang sudah sampai kepadanya, agar ia mengamalkannya, dan agar nantinya ia menjadi orang yang bertakwa, orang yang bersih.

Dan dari sini kita mengetahui bahwasanya: Tashfiyah dan Tazkiyah/Tarbiyah itu bukanlah pemikiran baru atau bid’ah, akan tetapi justru merupakan tugas Rasul.

Tashfiyah yaitu Ta’lim (pengajaran) pada zaman Rasul, yakni: mengajarkan apa yang telah diwahyukan kepada beliau. Dan pada zaman Rasul memang tidak diperlukan Tashfiyah, karena apa yang Rasul sampaikan adalah wahyu. Adapun ketika zaman sudah jauh dari masa kenabian dan hal-hal baru mencampuri Islam; maka harus diadakan Tashfiyah.

Kemudian beliau juga melakukan Tarbiyah; yaitu: mendidik para Shahabatnya agar mereka menjadi bersih, yakni: melaksankan apa yang Allah perintahkan dan menjahui apa yang Allah larang. Inilah Tazkiyah.

Jadi Tazkiyatun Nufus merupakan salah satu dari tugas para Rasul; yakni: mensucikan jiwa manusia, agar mereka menjadi orang-orang yang bersih jiwanya dan menjadi orang-orang yang bertakwa. Karena kebersihan jiwa yaitu: dengan melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjahui apa yang Allah larang.

[3]- Pembahasan Ketiga: Tazkiyatun Nufus Didapatkan Dengan Ketakwaan; Yakni: Melaksankan Keta’atan dan Meninggalkan Kemaksiatan.

✅Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا * فَأَلْـهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا * قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا}

Dan (demi) jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS. Asy-Syams: 7-10)

(Lanjut ke halaman 2)