Penjelasan Fatwa Ulama Tentang Pemilu dan Do’a Agar Diberi Pemimpin yang Baik

••
Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••
1. Mari Berdoa Untuk Kebaikan Pemimpin Kita

2.Tidak Boleh Mendoakan Jelek Presiden/Pemerintah

3.Pemimpin yang Tegas

4.Partisipasi Dalam Pemilu

5.Pemilu-Satu Pilihan Yang Exstra Sulit

6.Mungkinkah Salaf Ikut Pemilu dan Berparlemen

7.Dalil-Dalil Seputar Pro-Kontra Dalam Pemilu

•••••

Sikap Terbaik Dalam Menghadapi Pemilu – Ustadz Firanda Andirdja, MA
Damai Bersama Pemerintah – Ustadz RizalYuliar Putrananda, Lc
Disaat Pemimpin Tidak Sesuai Harapan (Mizan Qudsiyah, Lc)
Untuk Pemimpinku (DR. Syafiq Reza Basalamah, MA)
Masalah Pemilu(Abu Ihsan Al Atsary)
Hukum Golput-Ust Arifin Badri
Sikap Ahlussunnah Terhadap Penguasa (Abuz Zubair Hawaary, Lc
Ebook

25 Fatwa Ulama’ Ahlussunnah.Seri 1

https://app.box.com/s/n73atw4q9gd2dvgamuesaunjbln8n6cp

25 Fatwa Ulama’ Ahlussunnah Seri 2

https://app.box.com/s/sw8y6ffs4nz4jdw6y10b1frir315c100

25 Fatwa Ulama’ Ahlussunnah Seri 3

https://app.box.com/s/48ky1u4q6pn0nl12vs80o4msnd6rsq4a

••••

Gunjang ganjing pilkada 2018.

Antara strategi tuntutan menghindari kerugian terbesar atas ummat atau keuntungan terbesar bagi ummat dan politik kepentingan materi sesaat.

Fatwa bolehnya menggunakan hak suara dalam pemilu atau pilpres atau yang serupa berdasarkan kaedah :

اخف الضررين و اصلح المصلحتين

Memilih yang paling ringan kerugiannya atau memilih yang paling banyak keuntungannya.

Jadi jelas, bukan aktif di politik kotor.

Pembangunan dihalangi atau sekerat harta dirampas saja boleh menempuh jalur hukum yang nyata nyata hukum buatan manusia, bahkan menggunakan jasa pengacara konvensional, dengan cara cara konvensional pula, maka menjaga kemaslahatan ummat secara umum tentu lebih layak diperjuangkan.

Semoga bisa jadi bahan renungan bersama.

Dr Muhammad Arifin Badri

••

Stop debat kusir tentang”Pemilu”Diskusilah secara ilmiah & ukhuwwah.Hargai perbedaan &Jangan tengkar gara2 masalah tsbt.

Abu Ubaidah As Sidawi

••

Analogi

Apakah kalau kita mengambil sesuatu yang darurat, lalu apakah kita mengumumkannya ke khalayak rame dan mengkampanyekan hal yang kita lakukan itu?

Misal : Kita darurat harus makan babi karena memang keadaan yang menuntut demikian, lalu lantas apakah kita akan mengumumkan bahwa kita melakukan hal yang darurat itu ke publik (medsos dll), terus juga kita mengkampanyekan untuk ikut makan babi dan memaksa orang untuk makan babi?

Coba praktekkan analogi ini di permasalahan pemilu.

Hanya untuk yang faham saja !!

Mungkin anggap saja kurang tepat analogi nya, tapi ini cuma sekedar renungan saja.

Dan intinya, kalau toh kita milih, sudah lah cukup antara kita dan Allah saja yang tau. Tidak ada Faidahnya untuk dikampanyekan. Seharusnya perbanyak istighfar.

Abu Yusuf Muhammad Ja’far

•••

Luber

Dahulu zaman pak Harto ada istilah Luber ketika pemilu, entah zaman ini apakah masih mengusung konsep Luber ini atau tidak, Luber = Langsung Umum, Bebas dan Rahasia.

Saya tidak memahami penerapan dari Luber ini, jangankan masa kampanye, didepan kotak suara pun banyak diantara para pemilih sengaja memakai atribut atau simbol pilihannya. Mungkin ada kalimat yang terpotong dari singkatan Luber =Langsung Umum Bebas dan Rahasia Umum. Ya, artinya sudah menjadi rahasia umum.

Pemilu pertama kali yang saya ikuti ialah pemilu pemilu perdana era reformasi (1999), saya cukup bimbang apakah memilih PK atau Pan, partai yang diusung oleh Ormas yang tempat saya sekolah dahulu. Terlebih para guru terang-terangan menganjurkan agar memilih PAN.

Setelah itu saya tidak pernah berpartisipasi sedikitpun Pemilu apapun aneka ragamnya, hingga akhirnya tahun lalu (2017) dengan berat hati yang berujung kepada kepercayaan diri saya ikut kembali pemilu tersebut untuk pemilihan kepada daerah DKI, bahkan hingga 2x saya mengikutinya (karena 2 putaran). Semua ini tidak lain ialah karena mengambil pendapat sebagian ulama yang saya anggap pas dan sesuai dengan kondisi di DKI tahun lalu.

Saat ini saya sudah resmi menjadi warga Jabar, telah mengantongi KTP Jabar, dan langsung disodori undangan untuk berpartisipasi pemilu Gubernur Jabar. Saya merasa tidak ada kebutuhan berpartisipasi kembali, walau kadang mengkhawatirkan si Raja Musyrik menang -semoga Allah kalahkan dia-.

So…..saya kembali ke konsep lawas dari pemilu, yakni Luber tanpa singkatan tambahan. Banyak rekan yang bertanya kepada saya terkait hal ini, saya pun tidak mengetahui jawabannya secara yakin karena kelemahan ilmu dan pengetahuan. Allahu a’lam.

Abu Hanifah Jandriadi Yasin

••

Doa Agar Mendapat Pemimpin Yang Terbaik

Sebentar lagi PILKADA Serentak di Indonesia tercinta,

Mari kita doakan yang terbaik agar kita mendapat pemimpin yang terbaik pula
# Baca doa-doa berikut Ini agar mendapat pemimpin yang terbaik

Pemimpin adalah komponen yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Jiak tidak ada pemimpin, maka kehidupan tidak akan teratur dan orang akan semaunya saja dalam bertindak. Dalam islam pemimpin dan perannya sangat diperhatikan. Bahkan doa terbaik sudah selayaknya ditujukan kepada pemimpin, tidak sedikit negeri yang makmur dan sejahtera karena diberikan anugrah pemimpin yang baik serta memiliki agama yang kuat

Seorang Ulama Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها إلا في الإمام قيل له: وكيف ذلك يا أبا علي؟ قال: متى ما صيرتها في نفسي لم تجزني ومتى صيرتها في الإمام فصلاح الإمام صلاح العباد والبلاد

Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka akan aku tujukan doa tersebut kepada pemimpin.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Mengapa bisa demikian?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.”[1]

Doa pertama

اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء

(Allahumma inni a’udzubika min imratisshibyan was sufaha’)

“Yaa Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.”[2]

Doa kedua

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا

(Allahumma laa tusallith ‘alainaa bidzunubinaa man laa yakhafuka fiinaa wa laa yarhamunaa)

“Yaa Allah -dikarenakan dosa-dosa kami- janganlah Engkau kuasakan (beri pemimpin) orang-orang yang tidak takut kepada-Mu atas kami dan tidak pula bersikap rahmah kepada kami.”

Doa ketiga

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ

(Allahumma ashlih wulaata umuurina,Allahumma waffiqhum limaa fiihi sholaahuhum washolaa hul islaami walmuslimiin. Allahumma a’inhum ‘alalqiyaami bimahaamihim kamaa amartahum yaa robbal’aalamiin. Allhumma ab’id ‘anhum bithoona tassuui walmufsidiina waqorrib ilaihim ahlalkhoiri wannaa shihiina yaa robbal’aalamiina, Allahumma ashlihwulaa ta umuuril muslimiina fiikullimakaan.)

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”

Demikian semoga bermanfaat

Raehanul Bahraen

••

Niat Ikut Pemilu



Jikapun anda berpartisipasi dalam perhelatan demokrasi esok hari dan anda seorang muslim, sebaiknya jangan niatkan itu sebagai ikhtiar untuk memperbaiki nasib, berharap hidup lebih baik dan angan2 semisal itu yg sering dikampanyekan bani parpol. Jika demikian harapan anda, lalu apa bedanya anda dgn orang yg mengharap perbaikan nasib lewat mencuri, judi, dan perbuatan2 haram lainnya? Ingat! Tidak ada ikhtiar dengan jalan kebathilan.

Sebaiknya jangan juga diniatkan sebagai ajang pelampiasan kekecewaan atas apa yg telah Allah karuniakan baik berupa rizki maupun pemimpin yg telah ada selama ini. Sebab kalau tidak, bisa jadi kita termasuk orang2 yg tidak bersyukur.

Sebaiknya jangan juga dimotivasi karena hoax atau asumsi2 ketakutan yg tidak berdasar dan tanpa kalkulasi ilmiah, sebab yg begitu itu datangnya dari Syaithan.

Trus, niat apa dong? Ya golek-o dhewek, son! berani melangkah, ya harus punya alasan kuat dan logis karena semuanya kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Akhirnya, akan abah doakan! Siapa saja yg ikut kegiatan coblos mencoblos hari esok, semoga bukan karena korban hoax atau menginginkan kehiduoan yg lebih baik. Mudah2an Allah Ar-Razzaq memberikan keberkahan yg terus menerus kpd kita semuanya dari semua kenikmatan yg diberikan, juga Allah menjadikan kita semua termasuk org2 yg rajin bersyukur. Kpd calon yg dipilih, tak mengapa abah juga doakan, semoga ada dalam lindungan Rahmat Allah, bukan termasuk yg latah ikut2an memanfaatkan rasa tdk bersyukur rakyat untuk kepentingan golongan anda semua…baik itu Partai Kumpulan terSesat, Partai Kurang B(kerjaan), Partai B (sesama) B(lawakan), dan partai2 lain yg semisal dg itu.

Katon Kurniawan

••

PENJELASAN FATWA ULAMA TTG PEMILU

(Fatwa Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani Tentang Pemilu)
Tanya (Abdullah bin Taslim):

Sehubungan dengan Pemilu untuk memilih presiden yang sebentar lagi akan diadakan di Indonesia, *dimana Majelis Ulama Indonesia mewajibkan masyarakat Indonesia untuk memilih dan mengharamkan golput*, bagaimana sikap kaum muslimin dalam menghadapi masalah ini ?

Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani menjawab:

Segala puji bagi Allah, serta shalawat, salam dan keberkahan semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang setia mengikuti jalannya, amma ba’du:
*Saat ini mayoritas negara-negara Islam menghadapi cobaan (musibah berat) dalam memilih pemimpin (kepala negara) mereka melalui cara pemilihan umum, yang ini merupakan (penerapan) sistem demokrasi yang sudah dikenal. Padahal terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sistem demokrasi dan (syariat) Islam (dalam memilih pemimpin)*,

yang ini dijelaskan oleh banyak ulama (ahlus sunnah wal jama’ah).
*Untuk penjelasan masalah ini, saudara-saudaraku (sesama ahlus sunnah) bisa merujuk kepada sebuah kitab ringkas yang ditulis oleh seorang ulama besar dan mulia, yaitu kitab “al-‘Adlu fil Islaam wa laisa fi dimokratiyyah al maz’uumah” (Keadilan yang hakiki ada pada syariat Islam dan bukan pada sistem demokrasi yang dielu-elukan),



*tulisan guru kami syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbaad al-Badr –semoga Allah menjaga beliau dan memanjangkan umur beliau dalam ketaatan kepada-Nya –*.

*‘Ala kulli hal, pemilihan umum dalam sistem demokrasi telah diketahui, yaitu dilakukan dengan cara seorang muslim atau kafir memilih seseorang atau beberapa orang tertentu (sebagai calon presiden). Semua perempuan dan laki-laki juga ikut memilih, tanpa mempertimbangkan/membedakan orang yang banyak berbuat maksiat atau orang shaleh yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.*
*Semua ini (jelas) merupakan pelanggaran terhadap (syariat) Islam*.

(lanjut ke halaman 2)