Tidak Disebut Bertawakkal Sebelum Mengambil Sebab



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Tawakkal yang Sebenarnya

2.Kiat Meraih Sukses dengan Tawakkal

3.Tawakkal Kepada Allâh Subhanahu Wa Ta’ala

4.Tawakkal

5.Hakikat Tawakkal

6. Antara Tawakkal dan Usaha Mencari Rizki

7.Maksud Tawakkal Seperti Burung

••

Silsilah Amalan Hati – Tawakkal (Ahmad Zainuddin, Lc)
Tawakkal dalam Rizki (Subhan Bawazier)

Tawakkal Selamanya.(DR. Syafiq Reza Basalamah, MA)

Akhlak Muslim Kepada Rabbnya : Tawakkal(Abu Ihsan Al-Atsari, MA)

Hakikat.Tawakkal- Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr /

Hakikat Tawakkal-Ust Afifi Abdul Wadud

Tawakkal Kepada Allah-Ust M.Abduh Tuasikal

••

Ebook Tawwakal Kepada Allah

Ebook Haji dan Tawakkal

••

TIDAK DISEBUT BERTAWAKAL SEBELUM MENGAMBIL SEBAB

Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Ketika seseorang menginginkan rizki, berupa makanan atau minuman misalkan, dia tidak boleh berdiam diri, dia harus mencari sebab-sebab untuk mendapatkannya. Tidak boleh mengatakan, “Saya bertawakal saja kepada Allah, kalau memang rizki saya, makanan dan minuman tersebut pasti datang.”

Maryam, ibunya Nabi Isa alaihissalam, ketika dia melahirkan Isa dibawah pohon kurma, dia sangat lapar sekali, dia goyang pohon kurma, maka berjatuhanlah buah kurma tersebut. Dia tidak berdiam diri dengan hanya berharap dan berdoa agar buah kurma jatuh.
Allah Taala berfirman :

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (سورة مريم: 25)

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25
Hajar, isteri Nabi Ibrahim alaihissalam dan anaknya Ismail, ditinggal ditengah padang pasir antara bukit safa dan marwa yang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ketika perbekalan sudah mulai habis, sampai air susu pun sudah kering, dia berlari antara bukit safa dan marwa, dia mencari dan memandang ke bawah bukit, mungkin ada rombongan yang lewat. Dia lakukan demikian sampai 7 kali bolak balik. Kemudian tiba-tiba memancarlah air di dekat kaki ismail. Kisah lengkapnya bisa dibaca di dalam shahih bukhari.
Dalam hal ini Hajar mencari sebab-sebab untuk mendapatkan minuman, dengan berlari dan memanjat bukit untuk meminta pertolongan kalau saja ada orang yang lewat. Beliau tidak berdiam diri meratapi nasib.



Bergeraklah dan terbanglah untuk mencari rizki, jangan berleha-leha menunggu rizki datang sendiri menghampiri, tirulah seekor burung, mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.



✅Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”. (HR. Ahmad. Hadits Sanad Shahih).



Begitu pula ketika seseorang sakit, tidak boleh berdiam diri mengharapkan kesembuhan dengan alasan tawakal, hendaklah dia pergi berobat mencari sebab-sebab kesembuhan.

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إن الله خلق الداء والدواء، فتداووا ، ولا تتداووا بالحرام ” . رواه الطبراني في ” المعجم الكبير ” ( 24 / 254 ) . والحديث : صححه الشيخ الألباني في ” السلسلة الصحيحة ” ( 1633 ) .

Dari Abu Darda radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obat, maka berobatlah. Tapi jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, 24/254. Hadits dishahihkan oleh Syekh Al-Albany dalam As-Silsilah As-Shahihah, no. 1633)
وعن أسامة بن شريك رضي الله عنه قال : قالت الأعراب يا رسول الله ألا نتداوى ؟ قال: ” نعم عباد الله تداووا ، فإن الله لم يضع داء إلا وضع له شفاء إلا داء واحداً ، قالوا : يا رسول الله وما هو ؟ قال : الهرَم “. رواه الترمذي ( 2038 ) وقال : حسن صحيح ، وأبو داود ( 3855 ) وابن ماجه ( 3436 ) .

Dari Usama bin Syuraik radhiallahu anhu berkata, orang-orang Badui bertanya, “Wahai Rasulullah tidakkah kita berobat? Beliau menjawab, ‘Ya. Berobatlah wahai hamba Allah. Karena sesunggunya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali (Dia) memberikan kesembuhan, kecuali satu penyakit. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah apa itu?’ beliau menjawab, “Tua renta.” (HR. Tirmizi, no. 2038, beliau berkomentar, hasan Shahih, Abu Daud, no. 3855 dan Ibnu Majah, no. 3436)
✅Berkata Ibnu Qayim rahimahullah ;

في الأحاديث الصحيحة الأمر بالتداوي ، وأنه لا ينافي التوكل ، كما لا ينافيه دفع الجوع والعطش والحر والبرد بأضدادها ، بل لا تتم حقيقة التوحيد إلا بمباشرة الأسباب التي نصبها الله مقتضيات لمسبباتها قدرا وشرعا ، وأن تعطيلها يقدح في نفس التوكل ، كما يقدح في الأمر والحكمة ، ويضعفه من حيث يظن معطلها أن تركها أقوى في التوكل ، فإن تركها عجز ينافي التوكل الذي حقيقته اعتماد القلب على الله في حصول ما ينفع العبد في دينه ودنياه ، ودفع ما يضره في دينه ودنياه ، ولا بد مع هذا الاعتماد من مباشرة الأسباب ، وإلا كان معطلا للحكمة والشرع ، فلا يجعل العبد عجزه توكلا ، ولا توكله عجزا . ” زاد المعاد ” ( 4 / 15 ) . والله أعلم .

Dalam hadits yang shahih ada perintah berobat. Hal itu tidak menafikan tawakal. Sebagaimana mencegah lapar, haus, panas, dingin dan semisalnya dianggap tidak menafikan hal tersebut. Bahkan tidak sempurna hakikat tauhid kecuali dengan melakukan sebab yang telah Allah tetapkan dalam kandungan akibatnya, baik secara takdir maupun secara agama. Mengabaikannya termasuk merusak ketawakalan itu sendiri, sebagaimana hal tersebut juga mengabaikan perintah dan hikmahnya. Bahkan hal tersebut juga lemah dari sudut pandang orang yang melalaikannya dan beranggapan bahwa meninggalkan usaha itu lebih kuat dalam bertawakal. Karena sesungghunya meninggalkannya merupakan kelemahan yang dapat meniadakan tawakal. Sebab pada hakikatnya, tawakkal adalah bersandarnya hati kepada Allah agar seorang hamba mendapatkan apa yang bermanfaat untuk agama dan dunianya dan mencegah apa yang mencelakakan agama dan dunianya. Sikap ini mengharuskan upaya melakukan sebab. Kalau tidak, maka termasuk kelalaian, baik dari sisi hikmah maupun agama. Janganlah seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai bentuk tawakal dan ketawakalannya sebagai alasannya untuk lemah.” (Zadul Ma’ad, 4/15)
Masalah keamanan juga demikianlah. Misalkan mengenai rumah kita. Di siang atau malam hari kita tutup dan kunci pintu dan jendela. Kendaraan yang kita parkir, dikunci dengan kunci leher atau rodanya kita pasangkan gembok. Baru kita bertawakal. Jangan pintu, jendela atau kendaraan tidak dikunci dengan alasan tawakal.



✅Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَحُلُّ سِقَاءً وَلاَ يَفْتَحُ بَابًا وَلاَ يَكْشِفُ إِنَاءً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلاَّ أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ

Tutupilah wadah air minum ! Ikatlah penutup gentong air ! Tutuplah pintu ! Matikanlah lampu ! Karena sesungguhnya setan tidak akan membuka penutup gentong air, tidak akan bisa membuka pintu (yang terkunci), dan tidak akan membuka tutup wadah air minum. Jika ada diantara kalian tidak mendapatkan (sesuatu untuk menutup wadah air minum) kecuali hanya sepotong kayu di atas wadah minumnya dan dia menyebut nama Allâh, maka hendaknya dia lakukan itu. Karena sesungguhnya (terkadang) seekor binatang kecil yang jahat (tikus) bisa membakar rumah suatu keluarga. [HR. Muslim]



✅Berkata Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu :

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasûlullâh, apakah aku ikat onta ini lalu aku bertawakkal (kepada Allâh); atau aku lepaskan onta ini lalu aku bertawakkal?”. Beliau menjawab, “Ikatlah ia dan bertawakkal (kepada Allâh)”. [HR. Tirmidzi. Berkata Syaikh al-Albâni Hadist Hasan).


Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mau berangkat berperang, beliau memakai baju besi, tidak pergi telanjang dada dengan alasan tawakal. Beliau mencari sebab agar senjata musuh tidak melukainya.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ اللَّهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ بَعْدَ الْيَوْمِ فَأَخَذَ أَبُو بَكْرٍ بِيَدِهِ فَقَالَ حَسْبُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَدْ أَلْحَحْتَ عَلَى رَبِّكَ وَهُوَ فِي الدِّرْعِ فَخَرَجَ وَهُوَ يَقُولُ { سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ بَلْ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ } وَقَالَ وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَوْمَ بَدْرٍ

Dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika berada di Qubbah: “Ya Allah, sungguh aku benar-benar memohon kepada-Mu akan perjanjian dan janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau menghendaki (kehancuran pasukan Islam ini) maka Engkau tidak akan disembah lagi setelah hari ini“. Maka Abu Bakar memegangi tangan Beliau dan berkata: “Cukup wahai Rasulullah. Sungguh Tuan telah bersungguh-sungguh meminta dengan terus mendesak kepada Robb Tuan”. Saat itu Beliau mengenakan baju besi lalu tampil sambil bersabda: “Kesatuan musuh itu pasti akan dicerai beraikan dan mereka akan lari tunggang langgang. Akan tetapi sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka (siksaan) dan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”. (QS al-Qomar ayat 45 – 46). Dan berkata Wuhaib telah bercerita kepada kami Khalid: “Kejadian diatas saat perang Badar”. (HR. Bukhari).
Masih banyak kisah dan dalil yang menunjukkan bahwa disunnahkan mengusahakan sebab-sebab, tidak hanya berdiam diri dengan alasan tawakal. Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk menggugurkan sebab. Bahkan, seseorang tidak dikatakan bertawakal sesungguhnya sebelum dia mengambil sebab. Berusahalah dan bekerjalah, baru bertawakal berserah diri kepada Allah apapun hasilnya.



✅Berkata Syeikh Bin Baz rahimahullah :

فلا يجوز للمؤمن أن يعطل الأسباب ، بل لا يكون متوكلاً على الحقيقة إلا بتعاطي الأسباب ، ولهذا شُرِعَ النكاح لحصول الولد ، وأمر بالجماع ، فلو قال أحد من الناس : أنا لا أتزوج وأنتظر ولداً من دون زواج ، لعُد من المجانين ، فليس هذا أمر العقلاء ، وكذلك لا يجلس في البيت أو في المسجد يتحرى الصدقات ويتحرى الأرزاق تأتيه ، بل يجب عليه أن يسعى ويعمل ويجتهد في طلب الرزق الحلال .

ومريم رحمة الله عليها لم تدع الأسباب ؛ فقد قال الله لها : (وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا) مريم/25 ، هزت النخلة وتعاطت الأسباب حتى وقع الرطب ، فليس من عملها ترك الأسباب ، ووجود الرزق عندها وكون الله أكرمها وأتاح لها بعض الأرزاق وأكرمها ببعض الأرزاق لا يدل على أنها معطلة الأسباب ، بل هي تتعبد وتأخذ بالأسباب وتعمل بالأسباب .

وإذا ساق الله لبعض أوليائه من أهل الإيمان شيئاً من الكرامات فهذا من فضله سبحانه وتعالى ، لكن لا يدل على تعطيل الأسباب ، وقد ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال : (احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ) رواه مسلم (2664) ، وقال الله سبحانه : (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) الفاتحة/5″ انتهى . “فتاوى نور على الدرب” (1/364) .

Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk menggugurkan sebab. Bahkan, seseorang tidak dikatakan bertawakal sesungguhnya sebelum dia mengambil sebab. Karena itu, disyariatkan menikah untuk mendapatkan anak dan diperintahkan berjimak. Seandainya seseorang berkata, “Saya tidak menikah dan sedang menunggu kehadiran seorang anak tanpa pernikahan” niscaya dia akan dianggap gila, sebab itu bukan sikap orang berakal. Demikian pula seseorang tidak duduk di rumah atau di masjid sambil berharap sadaqah atau rizki datang menghampirinya. Hendaknya dia berusaha dan bekerja serta bersungguh-sungguh dalam mencari rizki.
Maryam rahmatullah alaiha tidak meninggalkan sebab. Allah Ta’ala telah berkata kepadanya,

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (سورة مريم: 25)

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25)



Dia menggoyangkan pohon kurma itu, berarti dia telah mengambil sebab agar korma muda (ruthob) berjatuhan. Perbuatannya itu bukan perbuatan seorang yang meninggalkan sebab. 

Adapun adanya rizki di sisinya dan bahwa Allah telah memuliakannya dengan memberinya rizki tidak menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak menggunakan sebab, justeru dia beribadah dan mengambil sebab serta bekerja dengan menggunakan sebab.

Jika dikisahkan adanya karomah yang terjadi pada sebagian wali Allah dari kalangan orang beriman, itu semata merupakan karunai dari Allah Ta’ala, akan tetapi itu bukan berarti menggugurkan sebab.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ (رواه مسلم، رقم 2664 )

Bersungguh-sungguhlah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah lemah.” (HR. Muslim, no. 2664)
Allah Ta’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (سورة الفاتحة: 5)

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.” (QS Al-Fatihah: 5. (Fatawa Nurun Alad-Darb (1/364))

••(lanjut ke hal..2)