Wasiat Dan Nasehat Syekh Sholih As-Sindi juga Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili Untuk Para Da’i Dalam Forum Dauroh Masyaikh ke 19 di Batu Malang

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••••••

1. 25 Keutamaan Ilmu Syar’i Dan Orang Yang Berilmu

2.Adab & Akhlak Penuntut Ilmu

3.Pntingnya Manhaj & Cara Beragama Yang Benar

4. Kejujuran Salafi dan Kedustaan Hizbi

5. Kenalilah Aqidah yang Benar dan Ikutilah Ahlil Atsar

••

(“NASEHAT BAGI MUSLIM & MUSLIMAH”, Syaikh Prof. Dr. Ashim bin abdillah Al-Qaryuti hafidzahullah-

(Prioritas Tauhid dan Fitnah Akhir Zaman dan Solusinya, Ustadz Zainal Abidin, Lc)

4 Kunci Keselamatan-Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily

Download Kajian Wasiat Dan Nasehat Syekh Sholih As-Sindi juga Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili Untuk Para Da’i 

Ust Abdullah Zaen · Manusia Paling Mulia

Bekal Ilmu Utama Para Dai (Afifi Abdul Wadud, BA)

(Meraih Keutamaan Bersama.Pewaris Para Nabi-Ustadz Abu.Abdirrahman Thoriq.Hafizhahullah),

Indahnya Persatuan Buruknya Perpecahan(Anas Burhanuddin, MA)

Tidak Ada Dakwah Tanpa Ilmu (Khairullah Anwar Luthfi, Lc)

Jadilah Muslim yang Berilmu (DR. Ali Musri Semjan Putra, MA)

Lembutnya Dakwah Ahlusunnah-Ust Ali Musri

Perintah Untuk Bersatu & Tercelanya Perpecahan-Ust Dzulkarnain

•••

Ebook Berlemahlembutlah Wahai Ahlusunnah-Syaikh Muhammad Al Imam

Ebook Bersatulah AhluSunnah dan Jangan Bertikai-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholi

Ebook Sekali Lagi BerlemahLembutlah Wahai Ahlusunnah Kepada Saudaramu-Syaikh Abdul Muhsin al Abbad Al Badr

Ebook 11 Cara Efektif Mencatat Ilmu-Syaikh Sholih bin ‘Abdul Aziz Sindi

Ebook Bekal Da’i di dalam Berdakwah-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Ebook Beginilah Akhlak Seorang Dai Di Dalam Berdakwah-Syaikh’Abdul Aziz bin Baz

Ebook Katakan Tidak Pada Hizbiyyah(Bergolong-golongan)

•••

Wasiat Dan Nasehat Syekh Sholih As-Sindi juga Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili Untuk Para Da’i Dalam Forum Dauroh Masyaikh ke 19

PEMBUKAAN SYAIKH SHALIH BIN ‘ABDUL ‘AZIZ SINDI -hafizhahullaah-

✅[1]- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ…}

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu: agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada: Ibrahim, Musa dan Isa; yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya…” (QS. Asy-Syuuraa: 13)

✅[2]- Ayat ini merupakan wasiat agung dari Allah untuk para rasul “Ulul ‘Azmi”, dan juga wasiat untuk kita sebagai Ummat Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Di dalam ayat ini terdapat 2 (dua) perkara yang agung:

1. “tegakkanlah agama”

2. ” janganlah kamu berpecah belah di dalamnya”

✅[3]- Wasiat yang pertama; yakni: menegakkan agama pada diri kita dan kita juga berusaha untuk menegakkan agama pada orang lain.

Dan asas untuk bisa menegakkan agama adalah: ilmu yang benar; yakni: yang diwahyukan kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Inilah Al-Haqq (kebenaran), dan dengannya akan terwujud hidayah, dan tidak mungkin bagi kita untuk mencapai hidayah; melainkan dari jalan wahyu ini. Sebagaimana firman Allah (tentang Rasul-Nya):

{…وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوْحِيْ إِلَيَّ رَبِّيْ…}

…jika aku mendapat petunjuk; maka itu disebabkan apa yang diwahyukan Rabb-ku kepadaku…” (QS. Saba’: 50)

Maka kita harus mempelajari (ilmu tentang) wahyu ini. Dan untuk mendapatkan ilmu; maka dibutuhkan semangat dan kesungguhan, karena ilmu tidak akan datang hanya dengan angan-angan dan ilmu tidak akan datang hanya dengan pengakuan.

Dan keutamaan ilmu sangatlah besar -dan engkau telah mengetahui tentangnya-. Alangkah bagusnya perkataan Imam Ibnul Mubarak –rahimahullaah-: “Aku tidak mengetahui -setelah kenabian- sesuatu yang lebih utama: daripada ilmu.” Dan alangkah bagusnya perkataan Imam Ahmad -rahimahullaah-: “Kebutuhan manusia terhadap ilmu: adalah lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makan dan minum.” Dan benar apa yang beliau katakan; karena makan dan minum adalah untuk kehidupan badan, adapun ilmu adalah untuk kehidupan ruh.

✅[4]- Dan untuk bisa mencapai ilmu; maka kita membutuhkan 3 (tiga) perkara:

✅1. Kita awali menuntut ilmu dengan yang paling penting, kemudian yang penting. Ilmu itu sangat luas; maka carilah ilmu yang paling penting terlebih dahulu; yaitu:

keyakinan yang benar, dan hal itu bisa dicapai dengan mempelajari ‘aqidah yang benar,

– dan amalan yang benar, dan hal itu bisa dicapai dengan mempelajari ilmu fiqih.

Jika engkau jadikan semangatmu berporos pada dua ilmu ini; maka engkau akan mendapatkan banyak kebaikan.

✅2. Teliti dan mendetail dalam belajar. Yakni: dengan membangun ilmu kita di atas pondasi dan kekokohan. Kalau tidak demikian; maka manfaatnya hanya sedikit.

Kita hidup di zaman banyaknya syubhat dan fitnah (ujian), sehingga untuk menghadapinya: kita butuh kepada pondasi yang kuat -tentunya setelah taufik dari Allah-.

✅3. Senantiasa mengingat-ingat ilmu kita. Karena ilmu itu bisa terus hidup: jika kita senantiasa mengingat-ingatnya.

Jika engkau menuntut ilmu, membaca kitab, dan menghadiri kajian, kemudian engkau mengatakan: “Alhamdulillaah, saya telah mendapatkan ilmu.” Kemudian engkau berpaling dari ilmu tapi engkau masih mengatakan: “Saya adalah penuntut ilmu.” Maka engkau telah terjatuh dalam permasalahan yang serius. Karena engkau harus terus mengingat-ingat ilmu-mu, mengulang-ulangnya, dan terus bersabar (dalam mencarinya).

Janganlah engkau mengandalkan dan mencukupkan dengan pembelajaran yang terdahulu, kemudian berhenti dari menuntut ilmu. Akan tetapi: ulang-ulanglah pembelajaranmu, seperti: dengan mendatangi dauroh ini; mungkin tidak ada ilmu yang baru, akan tetapi bisa membangkitkan semangat untuk mengingat-ingat dan mengulang-ulang ilmu, yang dengannya: ilmu akan menetap (dalam diri).

Dan ilmu akan banyak yang hilang, jika pemiliknya tidak sering mengulang-ulang.

Maka dengan 3 (tiga) perkara di atas: agama bisa ditegakkan; pada diri sendiri dan pada orang lain; dengan mendakwahkannya, dan menjelaskannya kepada orang lain.

✅[5]- Wasiat yang kedua: janganlah kamu berpecah belah dalam agama. Justru kewajiban kita adalah: untuk bersatu di atas kebenaran.

Dengan bersatu di atas kebenaran; maka akan menguatkan kebenaran itu sendiri. Sebaliknya, dengan berpecah belah; maka akan menjadikan kita lemah. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{…وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ …}

“…dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang…” (QS. Al-Anfaal: 46)

Sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; maka konsekuensi dari Al-Jama’ah adalah: kita harus bersatu. Karena Al-Qur’an itu satu dan As-Sunnah juga satu; tidak ada perselisihan (dalam keduanya), karena memang (kenyataannya): tidak ada perselisihan dalam wahyu Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Sebagaimana firman-Nya:

{…وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا}

“…Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah; pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82)

Kalau selain Ahlus Sunnah berpecah belah; maka itu bukan hal aneh. Akan tetapi yang aneh adalah: berpecah belahnya (Ahlus Sunnah) yang berada di atas kebenaran, padahal seharusnya kebenaran yang ada pada mereka: mengajak mereka untuk bersatu.

✅[6]- Jadi, landasan menegakkan agama adalah: ilmu.

Adapun landasan agar tidak berpecah belah; maka dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Yakni: kita jadikan keadaan dan sifat kita (yang baik) sebagai landasan untuk ilmu.

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

••

➡NASEHAT BERHARGA

Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz Sindi –hafidzahullah- menasehatkan para du’at berangkat dari Firman Allah :

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (QS As Syura : 13)

Beliau mengatakan bahwa dalam ayat diatas terdapat dua wasiat Allah Ta’ala kepada para Nabi dan Rasul dari kalangan ulul ‘Azmi dan tentunya wasiat termasuk kepada seluruh manusia.

Wasiat Pertama : Menegakkan Agama, dan tidak akan tegak agama kecuali dengan ilmu.

Menuntut ilmu perlu kesungguhan, dan memperhatikan tiga hal :

Pertama : memprioritaskan ilmu yang paling penting, karena ilmu agama sangatlah luas.

Kedua : At Tahqiq (penelitian)

Ketiga : Mudzakarah dan muroja’ah (diskusi dan mengulang ulang ilmu )

Wasiat Kedua : Tidak berpecah belah dalam pemahaman agama.

Adapun Syaikh Prof. DR Sulaiman bin Salimullah Ar Ruhaili -hafidzahullah- menasehatkan kepada para Du’at khususnya dan kaum muslimin secara umum dengan 4 hal :

✅[1] Ilmu, karena ia adalah cahaya yang seseorang berjalan dengannya, sehingga Allah Ta’ala mudahkan jalannya menuju surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim : 2699)

✅[2] Bersatu diatas kebenaran, dan tidak berpecah belah. Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersatu dan melarang berselisih.

Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..(QS Ali Imran : 103)

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda :

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi : 2676)

✅[3] Lemah lembut dalam semua urusan, lebih lebih dalam berdakwah.

Dari Aisyah -radhiyallahu anha- ia berkata :

كُنْتُ عَلَى بَعِيرٍ صَعْبٍ، فَجَعَلْتُ أَضْرِبُهُ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ، فَإِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Aku berada diatas onta yang menyulitkan, maka akupun memukulnya. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Berlemah lembutlah, karena sesungguhnya kelemah lembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya” (HR Ahmad : 24938)

Dari hadits diatas menunjukan bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- memerintahkan untuk bersikap lemah lembut kepada binatang tunggangan, maka bagaimana dengan kelemah lembutan kepada sesama kita tentu lebih layak lagi. Bahkan kelemah lembutan pun dianjurkan terhadap orang kafir yang berbuat jahat, sebagaimana riwayat dari umul mu’minin Aisyah -radhiyallahu anha- juga ia mengatakan :

اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنَ اليَهُودِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ، فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ» قُلْتُ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ: ” قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ

sekelompok orang dari kalangan Yahudi minta idzin masuk kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Mereka mengatakan : Assamu ‘alaik (binasalah engkau)”. Lalu Aisyah berkata, “Bahkan kalian lah yang binasa dan terlaknat”. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata, “Wahai Aisyah, bahwasanya Allah maha lemah lembut, dan mencintai kelemah lembutan dalam semua perkara”. Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Tidakkah engkau dengar apa yang mereka katakan”. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata, Aku telah katakan engkau juga” (HR Bukhari : 6927)

✅[4] Rahmat (Kasih sayang)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud : 4941 dan At-Thirmidzi : 1924)

Kemudian Syaikh -hafdzahullah- mengingatkan bahwa hidup ini singkat, dan kematian tidak mengenal usia bisa datang kapanpun dimanapun, Syaikh -hafidahullah- teringat dengan salah seorang sahabat dan guru kami -rahimahullah- yang meninggal saat daurah di Trawas, walaupun syaikh tidak menyebutkan namanya, tapi yang Syaikh maksudkan adalah Ustadz Ibnu Saini -rahimahullah-, dimana beliau sedang rekaman untuk taushiyah tentang kematian di salah satu televisi dakwah, ditengah tengah taushiyahnya ketika membaca firman Allah

وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. (QS An Nissa : 104) beliau tiba tiba pingsan lalu meninggal dan syaikh mendoakan semoga beliau husnul Khotimah.

Lalu Syaikh -hafidzahullah- mengingatkan akan karunia Allah, dimana jika bukan karena karunia dari Allah, niscaya kita tidak akan mendapatkan petunjuk, jika bukan karena karunia Allah, maka niscaya kita tidak akan punya ilmu, dan jika bukan karena karunia Allah niscaya kita tidak akan berkumpul dimajlis ini.

Dalam penutup tausiyah dan nasehatnya, syaikh -hafidzahullah- mengingatkan agar para du’at menghargai guru mereka yang telah memberikannya ilmu, lalu beliau membawakan perkataan sebagian ulama salaf :

مَنْ عَلَّمَنِيْ حَرْفاً كُنْتُ لَهُ عَبْداً

Barangsiapa yang mengajariku satu ilmu maka aku adalah menjadi hambanya”

Wallahu a’lam demikian sedikit yang tercatat dari pembukaan daurah mubarokah para Du’at yang ke-19, di Kusuma, Agrowisata, Batu, Malang.

Abu Ghozie As Sundawie.

••(lanjut ke hal..2)