Apakah Khalid Bin Walid Tidak Punya Ilmu dan Hanya Memiliki Leadership?

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••••••••

1. KHALID BIN WALID ‘PEDANG ALLAH’ YANG TAK TERKALAHKAN (BAG. 1)

2. KHALID BIN WALID ‘PEDANG ALLAH’ YANG TAK TERKALAHKAN (BAG. 2)

3. KHALID BIN WALID ‘PEDANG ALLAH’ YANG TAK TERKALAHKAN (BAG. 3)

4. 18 Ramadhan, Wafatnya Khalid bin Walid

••

Keutamaan Khalid bin Walid.(Ustadz Abu Yahya Badrusalam,Lc.)

Ke-48 – Larangan Mencela Sahabat Nabi(Aqidah Imam Ahlul Hadits)

Ke-057 : Mencela Para Sahabat Nabi (Dosa Dosa Besar)

Sifat Sahabat Nabi (Mizan Qudsiyah, Lc

Keutamaan Para Sahabat Nabi(Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Kemuliaan dan Keutamaan Para Sahabat (Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Kemuliaan Sahabat Nabi-Ust Firanda Andirja

Kewajiban Mencintai Para Sahabat Nabi-Syeikh Ibrahim Ar Ruhaily

Membela Sahabat Nabi-Ust Abu Isa

••

Ebook 65 Sahabat Nabi-Abdurrahman Rafat Al Basy

Ebool Sahabat Nabi di Mata Ahlussunnah-Muhammad Shalih Al Utsaimin

Ebook Mengenal Para Sahabat As-SabiqunalAwwalun

Aqidah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah tentangSahabat – Syaikh Abdul Muhsin bin Hammadal-Abbad

•••

Jangan Melecehkan Sahabat

✅Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻧﻌﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﺎﻟﺪ، ﺳﻴﻒﻣﻦ ﺳﻴﻮﻑ ﺍﻟﻠﻪ

“Khalid bin Walid adalah sebaik-baiknya hamba Allah dan dia merupakan pedang di antara pedang-pedang Allah.”

✅Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا .

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu ini dengan mencabutnya dari para hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu ini dengan mewafatkan para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alim maka manusia menjadikan para tokoh (agama) mereka dari orang-orang jahil. Ketika mereka ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu hingga sesat menyesatkan. (HR.Bukhari)

Sungguh benar apa yang telah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dan peringatkan. Betapa banyak di zaman ini orang-orang jahil yang berkedok sebagai da’i, ustadz, bahkan bertopeng ulama. Dikarenakan kejahilannya tentang agama Islam yang bersumberkan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta metode salafush shalih, maka dia pun asal berceramah hingga muncul statement/pernyataan yang sangat mengerikan dan menyesatkan.

Diantara sekian banyak orang jahil yang menjadi da’i/ustadz adalah Akun Supriyanto Abu Ahmad mengatakan bahwa bahwa sahabat yang mulia Khalid bin Walid hanya memiliki leadership dan tidak punya ilmu, yang dengannya dia dimuliakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.Na’udzu billahi min dzalika.

كَبُرَتۡ ڪَلِمَةً۬ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٲهِهِمۡ‌ۚ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبً۬ا

Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. (QS. Al-Kahfi : 5)

Sudah menjadi bagian prinsip penting dalam Islam bahwa sahabat wajib dimuliakan, dihormati dan haram kehormatan mereka dijatuhkan. Maka berbicara tentang kehormatan mereka berbeda dengan kehormatan selain mereka, wajib berhati-hati pada berbagai perkara yang berpotensi menjatuhkan kredibilitas mereka. Ini semua disepakati oleh ummat dan termaktub disemua kitab-kitab aqidah.

Khalid Bin Walid Tidak Punya Ilmu dan Hanya Memiliki Leadership


Saat membaca status akun Supriyanto Abu Ahmad ini, seorang mukmin wajar jika marah karena ada unsur pelecehan bahwa sahabat yang mulia Khalid bin Walid hanya memiliki leadership dan tidak punya ilmu, yang dengannya dia dimuliakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Jelas ini penyimpangan, karena Allah dan Rasul-Nya tidaklah memuliakan seseorang melainkan itu karena iman dan ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut sebagaimana dalam Nash. Terlebih lagi menjadi panglima perang otomatis dia pasti berilmu tentang fiqih jihad, bahkan fiqih thaharah dan shalat (shalat berjamaah dan shalat khauf)


Mungkin sebagian rekan mengira bukan maksudnya demikian, tetapi leadership yang juga dibarengi oleh ilmu. Silahkan perhatikan gambar ss ke 2 dimana ia membandingkan Khalid dengan Mu’adz yang diutus ke Yaman karena ada nilai lebih di sisi ilmu, sedangkan Khalid disisi leadership. Ini namanya profesionalisme katanya, kalau begitu Khalid tidak memiliki ilmu ? Memang itu yang dimaksudkan rajul ini. Adapun pernyataannya diawal komentar tidak diatas ilmu, sudahkan ia membaca siroh ? Apakah Langsung menjadi Panglima atau setelah beberapa Panglima syahid di perang Mu’tah ?


Kemudian di ss ke 3 ia lagi-lagi menegaskan bahwa Khalid dimuliakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bukan karena sisi ilmu, perhatikan jawabannya bahwa ada aspek atau sisi lain selain ilmu, yaitu sisi leadership. Orang ini pun tidak paham syarat leadership dalam Al-Qur’an yang juga mensyaratkan ilmu.

Ajaibnya, ia tetap bersikeras dengan pendapatnya dan enggan menghapusnya (sebagaimana persaksian kawan-kawan). Tapi lebih ajaib lagi ialah orang-orang yang membelanya hanya karena satu grup pengajian yang kita tidak bisa bayangkan jika Supriyanto Abu Ahmad ini dari pengajian “sebelah”, sudah jadi dendeng sosial media mungkin.

Lebih ajaib lagi orang-orang yang begitu murka pekan lalu karena ada dugaan penghinaan terhadap ustadz seniornya namun kali berbanding terbalik dengan adanya potensi yang sangat besar penghinaan terhadap sahabat, dikala pekan lalu mereka ngamuk-ngamuk luar biasa murkanya karena ustadz sepuhnya, kali ini mereka mendadak bijak dan hikmah namun dikala ustadz sepuh mereka dihina mereka munumpahkan kemurkaannya didepan publik dan semuanya berlomba-lomba menampakkan kemarahan, menasihati via japri bahkan tak sedikit yang masih membela. Allahul Musta’an

Mereka membangun Al-Wala’ wal Bara’ diatas apa telah kita ketahui bersama, Allah-lah yang telah menunjukkan hal tersebut kepada ummat. Harapan saya agar Supriyanto Abu Ahmad ini bertaubat dan mengumumkan kekeliruannya serta tidak lagi berbicara diluar kapasitas, harapan berikutnya kepada mereka agar melepaskan jerat-jerat hizbiyyah dan membangun Al-Wala’wal Bara’ hanya diatas Kitabullah dan Sunnah, tidak diatas person, ustadz atau lainnya.

••

Kemarin siapa hayo yang ngamuk² karena ada potensi pelecehan terhadap ustadz kibarnya ? Hayo ngacung.

Saat ini potensi pelecehan terhadap sahabat yang mulia Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu dari temen mu si pakdhe itu lho. Lho kok diam aja ? Oh kasi udzur toh, kemarin kok ngamuk² kek pdip kalah pilkada. Marahmu berpahala lho padahal kalau karena Allah.

Tak pe lah…kita maklum, karena memang hizbiyyun itu sejak dulu hingga kini lebih sakit gurunya di hina daripada Islam dihina, daripada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dihina, daripada para sahabat dihina.

Catatan : spesies ini bebas mengkritik imam madzhab, mengatakan sahabat Khalid bin Walid gak berilmu sekalipun, hanya punya leadership -‘iyadzan billah-, namun jangan sesekali mengkritik ustadznya, bisa digelorakan perang dunia.

••

Menjadi panglima perang otomatis sangat berilmu di fiqih jihad, fiqih shalat, thaharah dll karena ia yang akan memimpin shalat berjamaah dll Ilmu alat ?

Hatta Sibawaih, Khalid bin Walid Jauh lebih berilmu dibanding beliau dalam ilmu bahasa Arab. Ushul fiqh ? Hatta Al-Juwaini / Al-Ghazali, Khalid bin Walid Jauh lebih berilmu daripada mereka berdua.

Para ulama, para masyaikh dan ustadz guru mereka adalah manusia biasa, namun Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu gurunya adalah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

••

Selain Aqidah dan perangainya, ustadz itu jelas silsilah belajarnya dimana, dengan siapa, dan materi/kitab apa yang telah dipelajari baik dari ilmu Aqidah, Bahasa Arab, Ushul Fiqih, Musthalah, Fikih dan qawaidnya dll

Jangan sampai hanya karena rajin mengaji sepekan sekali di majelis ustadz senior tanpa kejelasan silsilah belajar ilmu lainnya, lantas kemudian diangkat manzilahnya menjadi ustadz namun ternyata tidak bisa sama sekali membaca kitab, tidak pernah menamatkan satu kitabpun pelajaran Ushul Fiqih, Musthalah, Nahwu, Sharaf dll dihadapan guru.

Jangan sampai anda mengingatkan orang lain dari bahaya da’i abal-abal, namun ternyata anda sendiri telah belajar begitu lama kepada da’i yang lebih buruk keadaannya daripada da’i-da’i yang telah anda tahdzir

Kalau ini memang luar biasa fanatiknya kepada kiainya, Sahabat Nabi dihina paling dia diam aja, tapi kyiai nya dihina….tuh masuk dah laporan ke kepolisian.

Jangan sampai kamu seperti mereka ya, ustadzmu dihina kau marah murka membara, namun ada sahabat Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu dihina, kamu paling melas saja, marah dalam keheningan, beda ketika ustadz dicela marah dalam kemurkaan.

Bahkan sebagian memaklumi dan sangka baik plus memberikan takwil-takwil karena sang penghina sahabat adalah saudara “semanhaj”, kalau orang lain yang beda afiliasi mungkin kelar juga gak bersisa dikeroyok ramai-ramai

Ust Abu Hanifah Jandriadi Yasin

••

Beginilah Seharusnya SIKAP KITA  Terhadap Para  SAHABAT

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr  حفظه الله

TAQDIM

Pembahasan dalam risalah ini adalah seputar kewajiban kita kepada para sahabat yang mulia. Ini adalah kewajiban yang sangat agung, yang selayaknya kita semua mencurahkan upaya dan perhatian padanya.

Ketahuilah, wahai para pembaca, kewajiban kita kepada para sahabat merupakan bagian dari kewajiban kita kepada agama kita, yaitu agama Islam yang Allah عزّوجلّ telah ridha dengannya serta tidak akan menerima agama apa pun selain Islam. Allah عزّوجلّ berfirman:

إِنَّ الدِّينَ ِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali ‘Imran [3]: 19)

Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَنْ يَبَِْ َيْرَ الإسْلامِ دِينًا َلَنْ يُْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ ِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali ‘Imran [3]: 85)

Maka agama yang lurus ini adalah agama Allah عزّوجلّ , dan Allah عزّوجلّ telah memilih Nabi Muhammad صلى الله ليه وسلم sebagai penyampai yang amanah, pemberi nasihat yang bijaksana, dan urusan yang mulia, maka beliau pun menyampaikan agama ini dengan sempurna, menjelaskan secara sempurna, dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rabbnya secara sempurna. Allah عزّوجلّ berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّْ مَا أُنْزِلَ إِلَيَْ مِنْ رَبَِّ

Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. (QS. al-Maidah [5]: 67)

Maka beliau pun menyampaikan, menunaikan amanat, menasihati umat, berjihad di jalan Allah عزّوجلّ dengan sebenarnya, hingga datang se-suaru yang yakin (kematian). Maka tidaklah ada suatu kebaikan pun melainkan beliau tunjukkan kepada umat ini dan tidak ada suatu kejelekan pun melainkan beliau telah peringatkan umat darinya.

Kemudian Allah عزّوجلّ memilihkan untuk Rasul yang mulia tersebut para sahabat yang mulia, para penolong yang kuat, para imam yang kokoh. Mereka menolong Nabi, mendukung dan mengokohkan beliau, serta menolong agama Allah عزّوجلّ . Merekalah sebaik-sebaik manusia yang menjadi sahabat manusia terbaik yang berjalan di atas muka bumi ini yaitu Rasulullah صلى الله ليه وسلم. Merekalah para sahabat mulia, para penolong yang kuat dan setia, sebaik-sebaik sahabat dan sebaik-baik penolong.

Dan Allah عزّوجلّ memilih mereka para sahabat untuk nabi-Nya yang mulia berdasarkan ilmu dan hikmah merekalah orang-orang pilihan sebagaimana telah dipersaksikan oleh Allah عزّوجلّ dan juga oleh Rasulullah صلى الله ليه وسلم.

Allah عزّوجلّ berfirman:

ُنُْمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَْ لِلنَّاسِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (QS. Ali ‘Imran [3]: 110)

Dan manusia pertama yang paling utama untuk masuk dalam ayat di atas adalah para sahabat.

Dan juga telah datang dalam Shahihain dari Nabi صلى الله ليه وسلم bahwa beliau bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ َرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada zamanku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari: 2652 dan Muslim: 2533 dari haditsnya Ibnu Mas’ud رضي الله نه)

Oleh karena itu, berbicara tentang para sahabat dan membicarakan seputar kewajiban kita kepada mereka adalah merupakan bagian dari agama, bagian dari aqidah Islam, bagian dari iman yang dengannya kita beribadah kepada Allah عزّوجلّ , oleh karena itu bila Anda menelaah kitab-kitab aqidah Islam yang di tulis oleh para ulama salaf pasti Anda akan jumpai disana penjelasan aqidah seputar para sahabat.

➡KE-TSIQAH-AH DAN KEADILAN PARA SAHABAT

Seluruh para sahabat adalah adil. Yang mengukuhkan keadilan para sahabat adalah Allah عزّوجلّ dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, yang dilakukan oleh para ulama salaf dan para ulama ahli hadits, mereka meneliti para periwayat hadits dari Rasulullah apakah mereka seorang yang tsiqah (terpercaya), kuat hafalannya atau-kah lemah hafalannya. Seluruh perawi hadits akan diteliti secara jeli. Namun, bila telah sampai sanad (jalan) hadits pada sahabat Rasulullah maka para ulama (ahli hadits) tidak meneliti lagi karena seluruh para sahabat adalah adil dan tsiqah (terpercaya) dan yang menyatakan keadilan dan ketsiqahan para sahabat adalah Allah Rabbul’alamin dan juga Rasulullah

PARA SAHABAT ADALAH PEMBAWA SYARI’AT

Para sahabat Rasulullah merekalah para pembawa agama ini, merekalah orang-orang yang langsung mendengar dari Rasulullah lalu mereka jaga ilmu tersebut dan mereka sampaikan kepada umat dengan penuh amanat dan keterpercayaan.

Sungguh mereka telah mendapatkan bagian yang banyak dari do’a Nabi

Semoga Allah عزّوجلّ membaguskan seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits, lalu ia menjaganya dan menyampaikannya.”1

_______________________

1.      HR. Abu Dawud: 3662, at-Tirmidzi: 2656, Ibnu Majah: 230 dari haditsnya Zaid bin Tsabit yang diriwayatkan dari sekelompok sahabat dengan lafazh yang hampir serupa. Dan hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 404.

MENCELA PARA SAHABAT BERARTI MENCELA AGAMA

Sebagaimana berbicara tentang para sahabat merupakan bagian dari agama maka mencela para sahabat berarti mencela agama, sebagaimana kaidah para ulama “celaan kepada si pembawa berita berarti pula celaan atas berita itu sendiri”. Apabila para pembawa agama ini yang hingga sampai kepada kita yaitu para sahabat, mereka mendapat celaan, di bicarakan perihal keadilannya, diragukan akan ketsiqahan dan amanatnya maka bagaimana keadaan agama yang telah dibawa tersebut…??!!

Oleh karenanya, al-Imam al-Jalil al-Hafizh an-Nabil Abu Zur’ah ar-Razi رحمه الله mengatakan, “Apabila engkau melihat seseorang mencela salah satu dari para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, ketahuilah bahwa ia adalah zindik, yang demikian karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah hak, al-Qur’an adalah hak, dan yang membawa al-Qur’an dan Sunnah ini adalah para sahabat. Hanyalah yang mereka inginkan tatkala mencela para saksi tersebut karena mereka ingin untuk membatalkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka hakikatnya merekalah yang lebih pantas untuk mendapatkan celaan, merekalah orang-orang zindik.”1

Oleh karena itu, wajib untuk kita pahami bahwa mencela para pembawa agama, yaitu para sahabat, berarti juga mencela agama yang mereka bawa. Maka kewajiban kita kepada para sahabat adalah bagian dari kewajiban kita kepada agama karena merekalah—para sahabat— para pembawa agama. Bila mereka dicela maka berarti agama ini dicela.

_____________________

1.      Lihat al-Kifayah fi Ilmi Riwayah karya al-Khathib al-Baghdadi asy-Syafi’i hlm. 49.

 

KEADILAN PARA SAHABAT

Allah عزّوجلّ Rabbul ‘alamin telah menyatakan dalam kitab-Nya tetang keadilan para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, bahkan Allah عزّوجلّ mengabarkan bahwa Allah سبحانه و تعالى telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah عزّوجلّ. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. (QS. at-Taubah [9]: 100)

Apakah Allah عزّوجلّ akan ridha kepada orang-orang yang tidak tsiqah (terpercaya) dan amanah dalam membawa agama-Nya?!! Apakah Allah سبحانه و تعالى akan ridha kepada orang-orang yang khianat dan tidak amanah dalam menyampaikan sabda-sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم? Sekali-kali tidak, dan itu tidak mungkin terjadi. Allah سبحانه و تعالى ridha kepada mereka karena Allah عزّوجلّ mengetahui ketsiqahan mereka dan keadilan mereka. Merekalah para imam pilihan yang akan menyampaikan amanat agama dengan sempurna dan sebaik-baiknya. Dalam ayat yang lain Allah عزّوجلّ berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepada-mu di bawah pohon. (QS. al-Fath [48]: 18)

Sementara itu, jumlah mereka tatkala itu lebih dari seribu sahabat, dan kepada mereka seluruh-nya Allah عزّوجلّ telah ridha. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata [dari Rabb-Nya] kepada para sahabat yang ikut serta pada Perang Badar:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

Berbuatlah sesuka hatimu, Aku (Allah) telah ampuni kalian.” (HR. Bukhari: 3007 dan Muslim: 2494 dari haditsnya Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه)

Maka ini adalah sebuah tazkiyah (rekomendasi) yang teramat sangat tinggi, pujian yang luar biasa yang di sebutkan di dalam al-Qur’an dan Hadits. Ayat-ayat semisal yang menerangkan pujian kepada para sahabat maka sangatlah banyak. Bahkan pujian tersebut juga telah ada sebelum bumi ini diciptakan. Dan bahkan pujian ini pun telah disebutkan dalam Taurat dan Injil jauh sebelum para sahabat mereka diciptakan. Di akhir ayat pada Surat al-Fath, Allah عزّوجلّ berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”.

Maka Rabbul ‘alamin memuji para sahabat, bagaimana sifat mereka dan di mana pujian tersebut disebutkan…?? Allah عزّوجلّ melanjutkan:

ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besar-lah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath [48]: 29)

Dan ayat-ayat lain yang senada yang sangat banyak, menyebutkan pujian kepada para sahabat.

(Lanjut ke Halaman 2)