Penyebab Sebagian Ulama Terjatuh Kepada Sebagian Aqidah Asy’ariyyah
Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1. Sesatnya Firqah Asy’ariyah (ASWAJA) Menurut Pandangan Ulama Besar Dari Berbagai Madzhab

2.Cara Menghindari Aliran Sesat

3.Bukti Cinta Kepada Allah

4.Penyimpangan-penyimpangan Asy’ariyah

5. Asy’ariyah, bukan Pengikut abul Hasan Al-Asy’ari

6. Asy’ariyah = Ahlus Sunnah?

7. Pengaruh Aqidah Asy’ariyah terhadap Umat

8. Sufi adalah Pengikut Firqah Asy’ariyah

9. Ulama yang Menyatakan Asy’ariyah Bukan Ahlus Sunnah

••

Firqah-Firqah Sesat (Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Kenalilah Aqidah yang Sesat (Ust. Mahfudz Umri)

Standar Kesesatan dalam Islam(Ahmad Zainuddin, Lc)

Mengenal Abul Hasan Al- Asy’ari dan Asy’ariyah-Ust Ali Zainal Abidin

Bid’ah (Definisi, Jenis dan.Pengaruhnya)Ust Ali Zainal Abidin

••

Ebook 10 Pembatal Keislaman.Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan

Ebook Membongkar Firqah-Firqah Sesat .Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan

••

SEBAB MENGAPA SEBAGIAN ULAMA TERJATUH KEPADA SEBAGIAN AQIDAH ASY’ARIYYAH

[Menjawab Syubhat “Asy’Ariyyah Itu Tidak Sesat, Buktinya Ibnu Hajar dan An-Nawawi Asy’Ariyyah” bagian 2]

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada artikel sebelumnya telah kita ketahui bahwa firqah Asy’Ariyyah adalah firqah yang sesat yang menyelisihi aqidah Salaf Ahlussunnah wal Jamaah. Akan tetapi, mungkin para fanatikus firqah Asy’Ariyyah tidak menerimanya dengan berbagai macam alasan.
Diantaranya mereka akan berkata: jika benar sesat, kenapa kebanyakan ulama beraqidah Asy’Ariyyah? Ini menunjukkan bahwa Aqidah Asy’Ariyyah adalah aqidah Ahlussunnah sehingga diikuti para ulama.
Penulis katakan:

Tidak benar ucapan bahwa “kebanyakan ulama” beraqidah Asy’Ariyyah. Justru kebanyakan ulama adalah beraqidah Salaf.

(In syaa Allah akan datang pembahasan khusus tentang masalah ini).
Yang benarnya adalah dikatakan: “Sebagian ulama terjatuh kepada sebagian aqidah Asy’Ariyyah”.
Maka ini kita katakan benar sebagian ulama terjatuh kepada sebagian aqidah Asy’Ariyyah. Kita katakan “sebagian” karena para ulama tersebut tidaklah mencocoki semua Aqidah Asy’Ariyyah. (Sebagaimana akan dibahas dalam Aqidah An-Nawawi dan Ibnu Hajar pada pembahasan selanjutnya in syaa Allah)
√ Oleh karena itu, adalah sangat penting kita mengetahui sebab kenapa para ulama tersebut terjatuh kepada sebagian aqidah Asy’Ariyyah.

√ Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa faktor terpenting untuk mengetahui sebab tersebut adalah kita mengetahui sebab tersebarnya firqah Asy’Ariyyah di tengah umat.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan 4 sebab kenapa banyak dari Ahli fiqih dan hadits juga ahli tashawwuf mencocoki sebagian bid’ah Asy’Ariyyah.



Pertama:

Banyaknya kebenaran dan atsar nabawiyah yang ada pada mereka (dibandingkan dengan firqah lainnya),

Kedua:

Mereka menyamarkan aqidah mereka dengan kiyas-kiyas aqliyyah yang sebagiannya mereka warisi dari firqah Shabi’ah dan sebagiannya adalah bid’ah mereka sendiri.

Ketiga:

Lemahnya atsar Nabawiyyah yang menangkis syubhat-syubhat mereka,

Keempat:

Lemahnya dan kelalaian mereka yang berintisab kepada Sunnah dan Hadits; kadang mereka meriwayatkan apa yang mereka tidak ketahui keshahihannya, dan kadang mereka seperti orang tidak paham Alquran dan sunnah.(lihat Majmu Al-Fatawa:12/33, secara ringkas)

√ Penulis katakan:

Secara garis besar apa yang dipaparkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah adalah benar. Namun, apa yang beliau sebutkan bukanlah sebab utama yang membuat firqah Asy’ariyyah tersebar. Karena alhamdulillah para ulama sejak muncul pemikiran Abul-Hasan Asy’ari rahimahullah mereka telah memperingatkan tentang kesesatan firqah tersebut kepada umat.
Bahkan ketika tahun 433 H Khalifah Abbasiyah Al-Qa’im Bi-Amrillah Abu Ja’far membacakan Aqidah Salaf yang ditulis oleh ayahnya (Khalifah sebelumnya) Al-Qadir Billah Abul-Abbas Ahmad Al-Abbasi rahimahullah agar kaum muslimin memiliki pegangan dalam menangkal aqidah yang menyimpang diantaranya adalah Asy’Ariyyah. Aqidah tersebut dikenal dengan nama Al-I’tiqad Al-Qadiri.(lihat Al-Muntazham:15/279, lihat juga Tarikh Al-Islam:9/494, Al-Bidayah wan-Nihayah;12/49)

Jika engkau telah ketahui hal ini, maka ketahuilah bawah ada sebab terpenting dan terbesar yang menyebabkan tersebarnya Aqidah Asy’Ariyyah, yaitu;

Dianutnya Aqidah Asy’Ariyyah oleh sebagian Penguasa dan Tokoh-Tokoh besar kaum muslimin dan menjadikannya madzhab kerajaan dan memaksa kaum muslimin untuk meyakininya, bahkan sampai pada tahap menumpahkan darah kaum muslimin yang menyelisihinya.

✅Berikut ini adalah gambaran umum tahapan penyebaran Aqidah Asy’Ariyyah:

√ Al-Asy’Ariyyah mulai tumbuh dan berkembang di ibukota Khilafah Abbasiyyah yaitu Baghdad. Tidak diragukan lagi bahwa pandangan manusia dari berbagai negeri tertuju pada istana Khilafah, yang mana di dalamnya terdapat Fuqaha, Ahli Hadits, dan Qurrã. Dan juga Baghdad adalah termasuk kota terpenting yang menjadi tujuan para ulama untuk mengambil riwayat-riwayat (hadits) dan menyampaikannya. Maka ketika Madzhab Al-Asy’Ariy ini berkembang di Baghdad banyak orang yang menerimanya dan menyebarkannya ke berbagai penjuru.(Lihat Mausu’ah Al-Firaq:1/214)

Daulah Salajiqah (meliputi Naisabur dan sekitarnya), ketika itu Baghdad dikuasai oleh Syiah Bathiniyah, lalu datang Daulah Salajiqah memberikan pertolongam dan mengembalikan khilafah kepada Bani Abbasiyyah. Ini terjadi pada tahun 450 H. Dan diantara tokoh berpengaruh ketika itu adalah Perdana Menteri Nizhamul-Mulk yang beraqidah Asy’Ariyyah, menjabat sebagai menteri Salajiqah selama kurang lebih 30 tahun.

Dan usaha terbesarnya adalah membangun Madrasah Nizhamiyyah di berbagai negeri seperti: Basrah, Ashfahan, Balkh, Hirah, Marw, Mushil, dan yang paling terpenting dan terbesar adalah yang berada di Naisabur dan Baghdad.

Dan ketika itu sang mentri sangat memuliakan Shufiyyah, juga Al-Qusyairi dan Al-Juwaini dan selainnya dari para ulama Asy’Ariyyah. Dan ketika itu para para ulama Asy’Ariyyah tersebut mengajarkan pelajaran-pelajaran mereka di madrasah tersebut di atas madzhab Syafi’i, dan mengjarkan aqidah Asy’Ariyyah. DEMIKIAN ITU ADALAH PERAN YANG BESAR DALAM TERSEBARNYA MADZHAB ASY’ARIYYAH.(Lihat Masu’ah Al-Firaq:1/215)

Daulah Ayyubiyyah (menguasai Mesir, Syam dan sekitarnya) dan Daulah Al-Muwahhidin (menguasai Magrib/Maroko dan sekitarnya)

√ Mari kita lihat penuturan dari Abul-Abbas Ahmad ibn Ali Al-Maqrizi rahimahullah,

Beliau berkata:

Madzhab Abul-Hasan Al-Asy’ari (mulai) tersebar di Irak pada tahun 380 H, lalu berpindah ke Syam. Ketika Sulthan Al-Malik An-Nashir Shalahuddin Yusuf ibn Ayyub menguasai Mesir maka beliau dan Qadhinya Shadruddin Abdul-Malik ibn Isa ibn Dirbas Al-Marani berada di atas madzhab ini (Asy’Ariyyah).

Mereka berdua telah tumbuh di atas Aqidah tersebut sejak menjadi pegawai Sulthan Al-Malik Al-Adil Nuruddin Mahmud ibn Zanki di Damaskus. Sejak kecil Shalahuddin telah menghafal aqidah yang dituliskan kepadanya oleh Qhutbuddin Abul-Ma’ali Mas’ud ibn Muhammad ibn Mas’ud An-Naisaburi. Dan menjadi hafalan juga anak-anaknya.

Oleh karena itu, mereka sangat berpegang kuat dengan madzhab Asy’Ariyyah. MEREKA MENGHASUT SEMUA MANUSIA DI MASA KEKUASAAN MEREKA AGAR BERPEGANG DENGAN MADZHAB TERSEBUT. DAN TERUS BERLANJUT DI SEMUA MASA PENGUASA-PENGUASA BANI AYYUB (Daulah Ayyubiyyah). LALU BERLANGSUNG JUGA DIMASA MAWALI MEREKA YAITU PARA PENGUASA ATRAK.

Bertepatan dengan itu, Abu Abdillah Muhammad ibn Tumart salah seorang tokoh dari Negri Magrib (Maroko dan sekitarnya) pergi ke Irak dan mempelajari madzhab Asy’Ariy dari Abu Hamid Al-Ghazali. Ketika dia kembali ke Magrib maka dia pun mulai memahamkan dan mengajarkannya, dan menetapkan Aqidah yang diterima oleh orang-orang awam mereka. Lalu ia wafat.

Setelah wafatnya dia digantikan oleh Abdul-Mu’min ibn Ali Al-Qaisi, yang bergelar Amirul-Mu’minin. Dia dan anak-anaknya menguasai wilayah-wilayah Magrib bertahun-tahun. Mereka menamakan diri dengan Al-Muwahhidun, sehingga dengan itu tegaklah Daulah Al-Muwahhidin di negri Magrib. MEREKA MEMBOLEHKAN DARAH ORANG YANG MENYELISIHI AQIDAH IBN TUMART KARENA MENURUT MEREKA DIA ADALAH SEORANG IMAM YANG TERKENAL DAN AL-MAHDI YANG MA’SHUM. BETAPA BANYAK YANG TELAH MEREKA TUMPAHKAN DARAHNYA HANYA ALLAH BISA MENGHITUNGNYA SEBAGAIMANA DIKETAHUI DALAM KITAB-KITAB SEJARAH.

MAKA INI MENJADI SEBAB TERKENALNYA DAN TERSEBARNYA MADZHAB AL-ASY’ARI DI NEGERI-NEGRI ISLAM YANG MANA MADZHAB-MADHZAB LAINNYA TELAH DILUPAKAN DAN TIDAK DIKETAHUI, SAMPAI-SAMPAI HINGGA HARI INI TIDAK ADA SEBUAH MADZHAB PUN YANG MENYELISIHI MEREKA KECUALI MADZHAB HANABILAH PARA PENGIKUT AL-IMAM ABU ABDILLAH AHMAD IBN MUHAMMAD IBN HANBAL RADHIYALLAHU ANHU, MEREKA TETAP BERADA DI ATAS AQIDAH SALAF, MEREKA TIDAK MEMBOLEHKAN TA’WIL SHIFAT-SHIFAT ALLAH.(Al-Khuthat:4/193)

√ Beberapa Pelajaran dari Penuturan Al-Maqrizi di atas:

➡firqah Asy’Ariyyah mulai tersebar pada di akhir abad ke-4 H yaitu pada tahun 380 H. Ini menunjukkan bahwa pada masa hidupnya Abul-Hasan Al-Asy’ari pemikirannya belum berkembang, karena beliau wafat tahun 324 H. Tahun 380 adalah tahun dimana Abu Bakar Al-Bakillani hidup dan menyebarkan aqidah Asy’Ariyyah. Dan Al-Baqillani merupakan tokoh besar Asy’Ariyyah setelah Abul-Hasan Al-Asy’ariy dan sangat berpengaruh karena kuatnya dalam membantah Mu’tazilah.

firqah Asy’Ariyyah tersebar luas sejak Shalahuddin Al-Ayyubi berkuasa (yaitu tahun 569 H) dan berlanjut sampai masa keturunannya yang dikenal dengan Daulah Ayyubiyyah.

Firqah Al-Asy’Ariyyah disebarkan dengan cara pemaksaan, dan bahkan sampai tahap menumpahkan darah bagi siapa yang tidak mau meyakini Aqidah Asy’Ariyyah. Asy’Ariyyah berdarah.

tegaknya Daulah Ayyubiyyah yang meliputi Syam dan Mesir dan sekitarnya dan Daulah Al-Muwahhidin di Negeri Magrib (Maroko dan sekitarnya) adalah sebab terbesar tersebarnya firqah Asy’Ariyyah di penjuru Negeri Islam.

➡Yang senantiasa berpegang teguh kepada Aqidah Salaf adalah para ulama madzhab Hanbali. Merekalah yang senantiasa menyelisihi firqah Asy’Ariyyah. Ini bukanlah pembatasan pada madzhab Hanbali saja, akan tetapi maksudnya adalah yang paling nampak adalah mereka. Karena para ulama dari madzhab lainnya pun masih ada yang tetap beraqidah Salaf.

Penetapan Al-Maqrizi bahwa madhzab Hanbali ketika itu bahkan sampai pada masanya (beliau hidup pada tahun 766-845 H) adalah berada di atas Aqidah Salaf.

(lanjut ke hal…2)