Beberapa Nasehat dan Kisah Seputar Dauroh Masyaikh-19 Batu-Malang

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1. Nasehat Untuk Para Da”i

2. Nasehat Bagi Para Da’i Salafi

3. Nasehat Bagi Para Da’i Yang Menyeru Ke Jalan Allah

4. Nasehat Syaikh bin Baz Untuk Para Da’i

5. Nasehat Bagi Mereka Yang Suka Menjatuhkan Kehormatan Para Da’i

••

Waspadai Dosa-dosa di Dunia Maya (DR. Ali Musri Semjan Putra, MA)

Nasihat Bagi Dai Masa kini” Oleh Ustadz Ahmad Zainuddin Lc 

Nasehat Indah Untuk Penuntut Ilmu” OlehUstadz Abu Izzi Masmu’in

Nasehat Untuk Kaum Muslimin” Oleh SyaikhProf.Dr Sulaiman Salimullah Ar Ruhaily[Penerjemah Ustadz Mizan QudsiyahLc]

Nasehat Untuk Para Dai-Ust Firanda Andirja

Nasehat Bagi Para Dai-Ust Ahmad Zainuddin

Bekal Bagi Para Dai-Ust Afifi Abdul Wadud

Sifat Seorang Dai dalam Berdakwah-Ust Ali Nur

••

Ebook Berlemahlembutlah Wahai Ahlusunnah-Syaikh Muhammad Al Imam

Ebook Bersatulah AhluSunnah dan Jangan Bertikai-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholi

Ebook Sekali Lagi BerlemahLembutlah Wahai Ahlusunnah Kepada Saudaramu-Syaikh Abdul Muhsin al Abbad Al Badr

Ebook 11 Cara Efektif Mencatat Ilmu-Syaikh Sholih bin ‘Abdul Aziz Sindi

Ebook Bekal Da’i di dalam Berdakwah-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Ebook Beginilah Akhlak Seorang Dai Di Dalam Berdakwah-Syaikh’Abdul Aziz bin Baz

Ebook Katakan Tidak Pada Hizbiyyah(Bergolong-golongan)

•••

NASEHAT SYAIKH SULAIMAN AR-RUHAILI -hafizhahullaah-

✅[1]- Tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah jalan agama dan jalan untuk kita bisa mempraktekkan agama. Oleh karena itulah, maka para Salaf dahulu berkata:

إِنَّ هٰذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ، فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sungguh, ilmu ini adalah agama; maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Dan alangkah butuhnya kita kepada kaidah ini pada zaman sekarang; karena banyaknya orang-orang yang sok tahu, dan banyaknya orang-orang yang bicara (tanpa ilmu), serta banyak orang -bahkan banyak penuntut ilmu-: yang mengambil ilmu dari orang-orang yang tidak mereka ketahui (keilmuannya); dengan cara mengambil ilmu dari internet. Sehingga sebagian penuntut ilmu masuk ke situs (website), kemudian mendapati sebuah makalah yang ditulis oleh fulan bin fulan atau (makalah) yang ditulis oleh abu fulan, padahal mereka tidak mengenalnya sama sekali, tapi mereka mengambil pendapatnya dan membenarkannya, bahkan terkadang menyandarkan perkataan orang tersebut: kepada agama. Maka ini adalah kesalahan besar.

Tidak sepantasnya mengambil ilmu kecuali dari orang-orang yang sudah dikenal.

✅[2]- Dan hendaknya ilmu diambil dari “akaabir” (orang-orang yang sudah tua dalam ilmu dan usia). Karena manusia senantiasa berada dalam kebaikan: selama ilmu datang kepada mereka dari “akaabir”.

Adapun “ashaaghir” (orang-orang yang muda dalam ilmu dan usia); maka mereka tetap memiliki kedudukan dan diharapkan bagi mereka kebaikan; kalau mereka di atas kebenaran. Akan tetapi: tidak boleh mencukupkan diri dengan mereka tanpa (mengambil ilmu dari) “akaabir”.

Maka “akaabir” dijadikan sebagai “al-ashlu” (pondasi), dan para penuntut ilmu “ashaaghir” mengikuti ulama “akaabir” -dan ini bukan celaan untuk mereka (“ashaagir”)-. Dan diambil ilmu dari mereka (“akaabir”) sesuai dengan kadar ilmunya (masing-masing).

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

••

SYAIKH SHALIH BIN ‘ABDUL ‘AZIZ SINDI -hafizhahullaah-

PERTANYAAN: Bagaimana jika ada sebagian da’i yang memiliki ilmu tentang ‘aqidah, akan tetapi lalai dari mendakwahkannya?

JAWAB:

✅[1]- Ini adalah kekalahan, ketika ia meninggalkan dakwah ‘aqidah dan menyibukkan diri dengan lainnya; maka kasihan dirinya, karena ia telah mencegah kebaikan dari dirinya sendiri.

✅[2]- Segala sesuatu dalam syari’at betapa pun pentingnya; maka masih kalah dibandingkan dengan pentingnya Tauhid.

Tauhid adalah yang pertama (harus didakwahkan), Tauhid adalah yang paling penting, dan Tauhid adalah yang paling agung.

✅[3]- Tauhid wajib mendapatkan porsi terbesar dalam dakwah. Hal itu bukan berarti kita melalaikan perkara-perkara lainnya, akan tetapi hendaknya (da’i) memberikan perhatian lebih besar untuk mendakwahkan tauhid dan lebih mengedepankan Tauhid atas hal lain, terlebih lagi pada zaman sekarang; ketika banyak tersebar penyimpangan ‘aqidah.

Ketika didapati ada orang yang berbuat syirik (mempersekutukan Allah dalam ibadah), akan tetapi ia berhias dengan akhlak-akhlak yang mulia: maka tidak sepantasnya kita mendakwahinya dengan permasalahan yang berkaitan dengan adab.

✅[4]- Syari’at memiliki “aulaawiyyaat” (skala prioritas); yakni: di dalam syari’at ada yang harus dinomorsatukan, ada nomor dua, dan seterusnya. Seperti dalam hadits Mu’adz (ketika mengutusnya ke Yaman):

((إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ [إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ]،…))

Sungguh, engkau akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani); maka hendaklah PERTAMA KALI yang harus engkau dakwahkan adalah: [Agar mereka mentauhidkan Allah],…”

Maka, ada yang harus PERTAMA KALI (didakwahkan), ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Yang pertama adalah Tauhid.

✅[5]- Agama Allah pasti ditolong (oleh-Nya). Maka pada hakikatnya dakwah tidak membutuhkan anda wahai da’i, akan tetapi engkaulah yang butuh untuk berdakwah agar engkau bebas dari tanggung jawab. Maka janganlah engkau kurang dalam menunaikan amanah ini; karena engkau bisa diganti oleh Allah: dengan orang lain.

••

PEMBUKAAN SYAIKH SULAIMAN BIN SALIMULLAH AR-RUHAILI -hafizhahullaah-

➡[MUQADDIMAH]

Orang yang melihat realita zaman sekarang; maka ia akan menyaksikan banyaknya fitnah (ujian), berpecah belahnya orang-orang yang (tadinya) saling mencintai, dan banyaknya orang yang sibuk dengan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat untuk dirinya, dan juga tidak bermanfaat untuk orang lain.

Dan JALAN KELUAR (SOLUSI) dari realita semacam itu adalah: dengan minta tolong kepada Allah, mengakui kekurangan, dan bertaubat dari kesalahan, serta

➡MEMPRAKTEKKAN PRINSIP-PRINSIP SYAR’I BERIKUT INI:

➡PRINSIP PERTAMA: ilmu.

Dan ilmu merupakan cahaya yang dengannya seseorang bisa melihat (kebenaran); jika ilmu tersebut (1)diambil dari sumbernya (Al-Qur’an & As-Sunnah), dan (2)dipelajari dari ahli ilmu, (3)dibarengi dengan hati yang baik. Inilah ilmu yang bermanfaat.

Maka, ilmu (semacam itu) harus ada, karena ilmu lah yang akan menjadikan perkataan, perbuatan, bahkan tujuan: menjadi benar.

Adapun keutaaman ilmu: sangatlah banyak -sebagaimana kalian ketahui-.

Dan seorang harus berhias dengan tawadhu’ (merendahkan diri) dalam menuntut ilmu dan harus selamat dari kibr (kesombongan), karena kibr merupakan penghalang terbesar dalam mendapatkan ilmu.

Penuntut ilmu sangat butuh kepada sikap tawadhu’ (merendahkan diri). Dan penuntut ilmu semakin bertambah ilmunya; maka ia semakin bertambah kehinaannya di hadapan Allah dan semakin bertambah sikap tawadhu’nya di hadapan hamba-hamba Allah. Dan semakin meningkat ilmunya; maka ia semakin mengetahui bahwa dirinya adalah bodoh, sehingga semakin bertambah keinginannya untuk menambah ilmunya.

Barangsiapa yang menyangka bahwa dirinya telah mencapai puncak dalam ilmu; maka ia adalah orang bodoh. Dan seorang (penuntut ilmu) senantiasa berada dalam kebaikan; selama ia tidak menganggap dirinya adalah seorang syaikh yang tidak butuh lagi kepada ilmu. Ketika ia mencapai tingkatan ini; maka ia telah mencapai puncak kebodohan. Dan (anggapan semacam) ini merupakan pertanda kebodohannya.

PRINSIP KEDUA: bersatu dengan persatuan yang dibanguan di atas 3 (tiga) prinsip:

✅1. Bersatu di atas agama dan bersatu untuk menegakkan agama. Allah -‘Azza Wa Jalla- berfirman:

{…أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ…}

“…tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya…” (QS. Asy-Syuuraa: 13)

Dalam ayat ini Allah mendahulukan perintah untuk menegakkan agama, atas larangan dari berpecah belah.

Maka persatuan tidak akan benar dan tidak akan bermanfaat; kecuali jika didasari agama dan tegak di atas agama.

✅2. Bersatu dengan dilandasi Al-Qur’an, bukan di atas sikap basa basi, bukan pula di atas hizbiyyah, maupun organisasi. Akan tetapi bersatu di atas tali Allah, didasari Al-Qur’an. Oleh karena itulah Allah berfirman:

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ …}

Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,…” (QS. Ali ‘Imraan: 103)

Allah mendahulukan (perintah untuk) berpegang dengan tali Allah, atas larangan dari berpecah belah.

✅3. Di atas Sunnah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dan jalan As-Salafush Shalih; yakni: para Shahabat -radhiyallaahu ‘anhum-, dan orang-orang yang mengikuti mereka. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا}

Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (para Shahabat), Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)

Maka, orang-orang mukmin pada zaman itu (zaman Rasul) adalah: para Shahabat.

Dan ketika terjadi perselisihan; Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah menunjukkan jalan untuk bersatu, yakni: dengan berpegang pada Sunnah, dengan pemahaman para Shahabat. Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((…فَإِنَّهُ مَنْ يَـعِـشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ؛ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِـيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِـيْ وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّــيْـنَ الـرَّاشِدِيْنَ، تَـمَسَّكُوْا بِـهَا، وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،…))

“…Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku; niscaya ia akan melihat banyak perselisihan, maka WAJIB ATAS KALIAN UNTUK BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH-KU DAN SUNNAH KHULAFA-UR RASYIDIN yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham…”

PRINSIP KETIGA: Ar-Rifqu (berlemah lembut).

Kita harus saling berlemah lembut, dan selalu mengedepankannya. Karena sungguh, Ar-Rifqu adalah asas kebaikan.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ))

Sungguh, Ar-Rifq (sikap lemah lembut) tidaklah terdapat dalam sesuatu; melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu; melainkan akan memburukkannya.”

Dan termasuk dari sikap Ar-Rifq (lemah lembut) adalah: memberikan nasehat. Yakni: jika engkau melihat saudaramu berada dalam kesalahan; maka nasehatilah ia, dan do’akan kebaikan untuknya, serta jelaskan bahwa dirinya berada di atas kesalahan.

PRINSIP KEEMPAT: Ar-Rahmah (kasih sayang). Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ؛ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ))

Sayangilah yang ada di bumi; niscaya (Allah) yang ada di (atas) langit akan menyayangimu.”

Maka, kita harus saling menyayangi, dan melihat satu sama lain dengan pandangan kasih sayang.

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

••

3 Pertanyaan Tuk Penganut Ideologi “Islam Nusantara”

Dr. Sulaiman ar Ruhaili mengkritisi ideologi “Islam Nusantara” yang seringkali menyudutkan Arab.

Beliau menjelaskan bahwa agama Islam tidak bisa dilepaskan dari Arab dan Bahasa Arab. Dan untuk para penganut ideologi Islam Nusantara, ajukanlah 3 pertanyaan berikut kepadanya:

✅1. Siapa Nabimu?

Jika dia menjawab Nabiku Muhammad, maka katakan padanya: Nabi Muhammad dari Arab. Jika dia menjawab Nabinya selain Muhammad berarti dia telah keluar dari agama.

✅2. Apa kitab suci pedomanmu?

Jika dia menjawab “Al-Quran”, maka katakan padanya: Al-Quran berbahasa Arab. Namun jika dia menjawab bukan Al-Quran, maka dia telah kufur.

✅3. Siapakah yang menukil agama Islam kepada kita?

Bukankah mereka para sahabat dan ulama yang kebanyakan mereka dari bangsa Arab, bahkan sebagian pendakwah yang menyebarkan Islam ke negeri ini juga dari Arab.

Oleh karena itu, Islam tidak bisa dilepaskan dari Arab. Barangsiapa yang membenci Arab secara umum, maka ini adalah kekufuran yang amat berbahaya karena konsekwensinya berat. Maka hati2 melontarkan ideologi dan pikirkan, karena bisa jadi seorang melontarkan suatu ungkapan yang tak disadari ternyata itu bisa menjerumuskannya ke Neraka Jahannam.

#Catatan secara makna

••

Belajar Adab Dari Syeikh

Suatu saat, ana bertanya kpd Syeikh Dr. Shalih Sindi. Di tengah jalan, kami berpapasan dg Syeikh Sulaiman ar Ruhaili yg sedang menuju tempat kajian.

Sebenarnya, saat itu ana ingin mengajukan pertanyaan lagi. Namun Syeikh Sindi menegur ana dg mengatakan kpd ana:

“Sekarang segeralah kembali ke dars (kajian) Syeikh Sulaiman dulu. Termasuk adab dan penghormatan kpd Syeikh kita tidak bertanya kpd Syeikh yg lain saat guru kita sdh hadir”. Tanyakanlah kpdku di lain waktu lagi.

Maka ana pun langsung permisi dan berterimakasih atas faedah adab tersebut.

Semoga Allah menghiasi diri kita dg adab2 yg mulia dan semoga kita bisa meneladani akhlak para masayikh kita.

Nasehat Indah Tuk Para Pendakwah

Dr. Shalih bin Abdul Aziz Sindi menasehatkan kepada para pendakwah:

“Saudaraku pendakwah, Jika engkau berdakwah dengan anggapan bahwa agama ini membutuhkan dirimu, agama ini tidak jalan tanpamu, maka mending kamu istirahat dan duduk saja, sebab agama ini pasti ditolong Allah.

Namun, jika engkau berdakwah merasa bahwa dirimu yang butuh pada dakwah dan pahala, maka bersemangatlah, semoga Allah memberikan taufiq pada dirimu

Ahli Fiqih Prematur

Dr. Sulaiman ar Ruhaili sering mengingatkan kepada para dai agar menguasai ilmu secara matang, jangan cuma prematur setengah matang, beliau mengatakan:

نصف الفقيه يفسد الناس دينهم أكثر مما يفسده نصف الطبيب أبدانهم

“Ahli fikih prematur itu lebih banyak merusak agama manusia ketimbang dokter prematur merusak badan manusia”.

Alangkah banyaknya tipe manusia jenis ini pada zaman sekarang, sehingga mereka bermegah dan sombong di hadapan ulama, padahal mereka baru mengetahui secuil ilmu saja.

Yuk, lebih banyak belajar ilmu lagi dan belajar adab agar kita tahu diri.

@abu ubaidah as sidawi

Batu, 23 Syawal 1439 H

••

JANGAN BERTANYA BAGAI MANA DAN KENAPA

Faedah dari syaikh DR. Shalih bin Abdul Aziz Sindi -hafidzahullah- penting untuk catat :

Ketika syaikh ditanya tentang hadits, bahwa Arasy Allah bergetar saat kematian sahabat Sa’ad bin Mu’adz -radhiyallahu anhu- , apa dan bagaimana maksud bergetar dalam hadits tersebut ?

Maka beliau -hafidzahullah- berkata :

كلمتان ممنوعتان في بابين : كيف في مسائل الغيب، ولِمَ في مسائل القدر

Ada dua perkara yang terlarang untuk di tanyakan : kaif (bagaimana) dalam masalah perkara ghoib, dan kenapa (lima) dalam masalah perkara taqdir.

Maksudnya :

Dalam perkara ghoib seperti tentang Allah, tentang ‘Arasy, dan tentang bagaimana bergetarnya Arasy, tentang Surga dan Neraka, dll kita tidak tahu bagaimana bentuk (kaifiyah) nya , maka jangan bertanya bagaimana bentuknya, selama tidak ada dalil dari syariat tentang penyebutan kaifiyahnya (bagaimana) nya, demikian juga dalam masalah Taqdir, tidak boleh bertanya kenapa , karena segala yang terjadi menimpa kepada kita adalah ilmu, catatan, kehendak dan penciptaan dari Allah, maka termasuk sebuah kelancangan dan diantara sebab sesatnya pemahaman kepada takdir ketika seseorang bertanya kenapa terhadap perbuatan Allah.

@ Abu Ghozie As Sundawie

••

Agar Ilmu ketika Dauroh Bermanfaat

Sebelum melanjutkan pelajaran membahas kitab الفرائد البهية في القواعد الفقهية

Syekh Sulaiman Bin Salimillah Ar ruhaily حفظه الله membacakan sebuah pertanyaan yang isinya:

Di dauroh ini kami mendapatkan ilmu yang matang tentang kaidah-kaidah yang bermanfaat dalam masalah tauhid asma wa shifat dan masalah fiqih. Akan tetapi, bagaimana kami dapat memanfaat ilmu ini? Kami kesulitan untuk menyampaikannya kepada masyarakat awam. Karena ini merupakan ilmu yang rumi, mendetail dan terdapat banyak perselisihan atau perbedaan pendapat.

Beliau menjawab:

Mengambil manfaaat dari ilmu bisa dari salah satu dari 3 cara, atau bahkan dari ketiganya:

✅1. Penuntut ilmu mengambil manfaat dari sebuah ilmu untuk dirinya sendiri. Baik pada pengetahuannya, aqidahnya, cara beragamanya, dalam berfatwa (menjawab pertanyaan agama) dll.

Inilah asal pada ilmu yang bermanfaat, yaitu tatkala seseorang bisa mendapatkan manfaat ilmu untuk dirinya sendiri

(Lanjut ke Halaman 2)

Iklan