Umat Islam Hanya Bisa Diperbaiki Dengan Dakwah Tauhid dan Sunnah Bukan Politik Democrazy (Menyoal TGB Dukung Jokowi)



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••••

1.TGB Dukung Jokowi Lanjut 2 Periode

2.TGB Dinilai Berkinerja Baik, Bisa PerkuatDukungan untuk Jokowi

3. Dukung Jokowi, TGB Diprediksi BukaPeluang untuk Pilpres 2024

4.TGB : Kontestasi Politik 2019 Itu Bukan Perang Badar

5.Hukum Asal Ibadah adalah Terlarang,sampai Ada Dalil dari Syariat

6.Hukum Karma Dalam Pandangan Islam

7. Mari Mendakwahkan Tauhid

8.Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?

9.Mengembalikan Kejayaan Umat Islam

10.Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid

••

Tabligh Akbar.(ISLAM AGAMA KASIH.SAYANG, Syaikh Prof.Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili, Penerjemah: Ustadz Mubarak Bamualim, Lc, M.H.I),

Antara Islam dan Demokrasi” Oleh Ustadz Dzulqarnain M.Sanusi

Keadaan Umat di Zaman Sekarang dan Solusinya” Oleh Ustadz Abdul Hakim bin AmirAbdat

Allah Tidak Mengubah Suatu Kaum Hingga Mereka Mengubah Keadaan Mereka Sendiri-Ust Badrusalam

Demonstrasi, Membela Islam atau Menodainya?(Abdullah Taslim, MA)

Demonstrasi Sebuah Solusi atau Polusi-Ust Abu Ubaidah As Sidawy

Ust.Maududi Abdullah · Warning

Kaidah Dalam Bersabar-Ust Abdulah Roy

••

Ebook Mengenal Prinsip-prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah Dr. Nashir bin AbdulKarim al-Aql.

Ebook Permasalahan dan Solusinya Judul asli: Problem and Solution (Shakwaa wa Hulul) Penulis: Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid

Ebook JUDUL: Sebab-sebab kehancuran PENULIS: Syaikh Yahya Al-Hajuri

••

Umat Islam Hanya Bisa Diperbaiki Dengan Dakwah Tauhid dan Sunnah Bukan Politik Democrazy (Menyoal TGB Dukung Jokowi)

••
Standar Loyalitas dan Permusuhan

Orang yang meletakkan standar loyalitas dan permusuhan berdasarkan pilihan presiden, gubernur. tokoh politik, publik figur, klub bola, dsb. maka ia akan banyak kecewa.

Standar loyalitas dan permusuhan yang benar adalah berdasarkan kadar keimanan, ketakwaan, kedekatan dengan sunnah, dan kadar kebid’ahan pada seseorang

@Ristiyan Ragil Putradianto

••


TGB Dulu Dipuji Sekarang Dicaci

Ya ini lah dakwah harokiyyun..

Nyibukkin diri dalam Politik democrazy..

Tapi jahil beragama..

Banyak diantara kiita berbicara tentang Sistem Politik Islam secara demokrasi, Sistem Ekonomi Islam demokrasi , Sistem Pendidikan Islam dalam demokrasi, atau yang semisal; namun kita jarang mengkaji Tafsir Al-Qur’an, tidak pernah membuka Shahih Bukhari-Muslim, atau tidak akrab dengan kitab-kitab ulama salaf. Lantas, dengan modal apa kita “memaksakan diri” berbicara masalah umat ? Orang yang tidak punya apa-apa tentu tidak bisa memberikan apa-apa.
✅Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam bersabda :

خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا

Yang terbaik pada zaman jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika mereka mendalami agama“[Diriwayatkan oleh Ad-Darimiy no. 225,Bukhariy no. 3104,dan selain nya; shahih]

Sikap kaum muslimin yang bijak dan berakal terhadap fitnah kejahilan yang di nampak kan Para Ahlul Ahwaa yang jahil dan orang awam yang menyibukkan diri dengan demokrasi adalah mencampakkan jauh-jauh syubhat demokrasi tersebut ke tempat yang paling buruk..

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ هُوَ ابْنُ مِغْوَلٍ قَالَ قَالَ لِيَ الشَّعْبِيُّ مَا حَدَّثُوكَ هَؤُلَاءِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخُذْ بِهِ وَمَا قَالُوهُ بِرَأْيِهِمْ فَأَلْقِهِ فِي الْحُشِّ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Malik Ibnu Mighwal, ia berkata: As Sya’bi telah berkata kepadaku: “Apa yang mereka ceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka ambilah, dan apa yang mereka katakan (berdasarkan) pendapat mereka maka lemparkanlah ke WC”. [Diriwayatkan oleh Ad-Darimiy no. 202;shahih]

Karena syubhat atas kejahilan mereka hanya lha lelucon bagi orang berakal..

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

ما عارض أحد الوحي بعقله إلا أفسد الله عليه عقله حتى يقول ما يضحك منه العقلاء.

Tidaklah seseorang menentang wahyu dengan menggunakan akalnya, melainkan Allah akan merusak akal orang tersebut. Sehingga dia akan mengucapkan perkataan yang membuat orang-orang yang berakal tertawa.”[Ash-Shawa’iq al-Mursalah, (3/1002)]

Karena keumuman orang jahil adalah menyesatkan yang lain pada kejahilannya dan hawa nafsunya.
✅Firman Allah ta’ala:

وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan”[QS. Al-An’am : 119].

Allaahu ‘Alam

@Abu Isa Al Hanbali

••


Jangan Percaya Politik Democrazy

Terlihat jelas akan sikap beliau kepada seorang pemimpin.

Duhai saudaraku, akankah beliau mendapatkan ‘gelar’ cebong sebagaimana yang kalian berikan secara zhalim kepada Salafiyyun?

Bukankah kalian katakan bersama beliau sebagai ‘ulamaa?

Maka hentikanlah menggunakan ayat-ayat Allah hanya untuk kepentingan syahwat kekuasaan.

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

••

➡Nah kan, masih percaya dengan politik demokrasi?

Engkau bertengkar dengan saudaramu, dengan sahabatmu juga dengan orangtuamu…. namun mereka yang disana bisa saling merangkul. Menjadi tidak lucu tatkala engkau bertengkar dengan sesuatu yang tidak lucu, gegara politik kawan menjadi lawan begitupun sebaliknya lawan bisa menjadi kawan demi kekuasaan dan kepentingan.

Kemarin engkau puji, sekarang engkau rendahkan…

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq

••••

Prioritaskanlah da’wah seluruh para nabi dan rasul yaitu tauhid.

Di saat mereka sibuk dengan urusan syahwat politik dan kekuasaan, justru sebagian kita ikut-ikutan sibuk dengannya… wallaahi selama-lamanya Islam tidak akan pernah bisa diperbaiki dengan demokrasi, karena ia bukan berasal dari Islam, bagaimana mungkin kita mengharapkan suatu perbaikan dengan sesuatu yang tidak baik? Maka, perbaikilah keadaan Islam dan ummat ini sebagaimana Rasulullah ﷺ memperbaiki keadaan ummat ini yaitu dengan tauhid.

Da’wah ini memang tidak mudah, namun ketahuilah bahwa di dalamnya terdapat kebaikan dan keberkahan yang besar.

✅Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah (tuhan yang berhak diibadahi dengan benar) selain Aku (Allah), maka beribadahlah kepada-Ku.“(QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 25)

✅Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas رضي الله تعالىٰ عنهما, ia berkata,

Ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal رضي الله تعالىٰ عنه ke Yaman, beliau ﷺ bersabda kepadanya :

‘Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab (kaum Yahudi dan Nasrani), maka itu hendaklah yang pertama kali kamu da’wahkan (sampaikan) kepada mereka ialah agar supaya mereka mentauhidkan Allah. Apabila mereka telah mengetahui (mentaati) yang hal itu, maka beritahukanlah (sampaikanlah) kepada mereka sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Maka apabila mereka telah mentaati hal itu, maka beritahukanlah (sampaikanlah) kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka zakat pada harta-harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang faqir di antara mereka. Maka, apabila mereka telah mentaati (mengetahui, mengakui dan menetapkan) hal itu, maka jauhkanlah dirimu (janganlah mengambil) dari harta terbaik yang dimuliakan (disayangi) oleh mereka.”

(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 1395, 1458, 1496, 2448, 4347, 4371, 7371, 7372, Muslim, no. 19 [29], 31, Abu Dawud, no. 1584, at-Tirmidzi, no. 625, an-Nasaa-i, V/55, no. 2435, dan Ibnu Majah, no. 1783)

Al-Fadhil Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ berkata,

Maka hendaknya yang pertama kali dilakukan (oleh seorang) da’i adalah menyeru (menda’wahkan) manusia agar memperbaiki ‘aqidahnya, sebab ‘aqidah merupakan pondasi (pokok dari ajaran Islam).”(Syarah Kitab Tauhid, hal. 75)

Beliau حفظه الله تعالىٰ juga berkata,

Salafiyyun ketika mewajibkan memulai da’wah dengan tauhid dan mengajak para da’i, ustadz, untuk memulai da’wahnya dengan tauhid, bukan berarti perpaling dari semua konsekuensi dan aplikasi tauhid, akan tetapi Salafiyyun menjadikan da’wah tauhid sebagai prioritas utama, memulai dari yang paling penting kepada yang penting, melaksanakan yang wajib-wajib, yang sunnah-sunnah, dan lain-lain.

Wajib bagi para da’i memulai da’wahnya dengan tauhid, dan setiap da’wah yang tidak tegak di atas asas tauhid pada setiap tempat dan waktu, maka da’wahnya kurang dan membawa kepada kegagalan dan menyimpang dari shirathal mustaqim. Da’wah tauhid adalah prinsip yang besar dalam agama Islam.

Bagi seorang muslim, tauhid merupakan prinsip yang paling agung, di mana seseorang tidak boleh menyimpang darinya. Banyak para da’i yang tidak mengetahui prinsip yang satu ini sehingga mereka terjerumus ke dalam kesyirikan sedangkan mereka tidak menyadarinya.”(Mulia Dengan Manhaj Salaf, hal. 268 – 269)

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

@Abu ‘Aisyah Aziz Arief_

••

Musik dan Demokrasi

Musik adalah seruling setan yg biasa dipakai untuk membius dan melenakan manusia dgn syair2 yg berisi angan2. Ini tak ada bedanya dgn spik-spik iblis dalam orasi2 politik yg biasa kita dengar dalam sistem demokrasi dimanapun.

Keterkaitan musik dan demokrasi pun bisa ditelusuri lebih dari 2500 thn yg lalu, yaitu ketika kota Athena di Yunani menjadi ajang perebutan kekuasaan antar kelompok masyarakat. Kelompok yg menang jadilah yg berkuasa dgn tangan besi (tirani). Pada abad ke 6 SM inilah istilah tirani atau tyrant pertama dikenal. Lelah bertikai, thn 534 SM Pisistratus mengumpulkan kelompok2 masyarakat yg bertikai dlm ajang festival musik dan theater dimana orang bisa berkumpul dan sharing kesamaan visi.

Kebiasaan ini berkembang sehingga akhirnya rakyat Athena sepakat tidak lagi bertikai dlm menentukan pemimpin, tapi lewat sistem “undian” yg biasa juga dimeriahkan dengan acara2 festival dan kompetisi musik antar suku/kelompok. “Demo” dlm kata “Demokrasi” yg berarti ‘kumpulan rakyat’ diinspirasi dari sejarah bahwa ajang undian atau coblosan itu berasal dari tradisi rakyat Athena yg berkumpul dlm sebuah festival musik yg kemudian bersepakat memilih pemimpinnya dgn cara mengundi.

Jadi, ketika seseorang tak mampu membuang angan2 yg ditiupkan lewat musik, lha ya wajar jika sulit membebaskan diri dari syubhat demokrasi yg tentunya dipersiapkan dgn jauh lebih matang oleh para ahli politik. Dan memang faktanya, justru dari jaman baheula sampai jaman kiwari, biasanya dimana ada demokrasi, disitu ada musik … birds of a feather flock together. Kemumetan akan kongkow bersama menciptakan kemumetan2 lainnya.

Dan siapapun yg meyakini haramnya musik, secara logis ia pun tak mungkin bermudah2an dgn demokrasi, setidaknya karena alasan historis dan kemiripan tadi … kecuali ia berprinsip ‘ambil baiknya, buang jeleknya’

•• 

Democrazy Membawa Keburukan

Jika anda berpikir demokrasi akan membawa kebaikan, maka konsekuensi logisnya adalah anda harus siap mendengar atau bertoleransi dgn pemikiran2 nyleneh semisal: “mengindonesiakan islam lebih utama dari pada mengislamkan indonesia”. Anda juga tak boleh membid’ahkan semua yg bertentangan dgn sunnah, tak boleh juga mengkritik kesyirikan dlsb … Kenawhy? Karena pada dasarnya, demokrasi memberikan kebebasan sakkarep-karepnya bagi setiap orang menjumbulken pemikiran atau syubhatnya.

Jadi jika anda mentolerir demokrasi dalam menggapai kemaslahatan, maka sesungguhnya jalan liberal bebas sebebasnya lah yg sedang anda tapaki. Aneh bingits rasanya … ada orang islam yg kokoh memilih “berjuang” di jalan demokrasi, tapi begitu ada pemikiran nyeleneh seperti itu tadi ributnya luar biasa. Hasilnya? Kalau bukan label islam sebagai agama yg intolerant, maka alternatifnya adalah islam dianggap sebagai barang dagangan belaka.

Satu lagi bukti … kaum muslimin sendiri lah yg sebenarnya membuat dirinya dipermalukan, justru karena mereka sendiri menari mengikuti irama permainan tetangga sebelah. Ngerti ora son?

@Katon Kurniawan

••(Lanjut ke Halaman 2)

Iklan