Adab Majelis



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1.Menjauhi Majelis yang Kosong dari Dzikrullah

2.Adab Adab Bermajelis

3.Larangan Bermajelis dengan Ahlul Ahwa

4.Larangan Bermajelis (Duduk-Duduk) Bersama Ahlul- Bid’ah

5.Meminta Izin Ketika Meninggalkan Majelis

6. Bolehkah Anak Kecil (Laki-Laki) dan Waria Masuk Ikut Berbaur di Majelis Para Wanita ?

•••

Adab Duduk dan Bermajelis-Ust Khairullah Anwar Luthfi

Adab Bermajelis-Ust Aris Munandar

Adab Bermajelis Ilmu-Ust M. Nurul Dzikri

Etika Bermajelis-Ust Abdullah Zaen

Tentang Adab Majelis dan Teman Duduk-Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr

Salam Ketika Berpisah dari Majelis-Ust M. Abduh Tuasikal

Adab Bermajelis-Ust M. Abduh Tuasikal

Doa Kafaratul Majelis-Ust M. Abduh Tuasikal

Keutamaan Majelis Dzikir-Ust M. Qossim

Keutamaan Ber majelis dengan Ulama Ahlus Sunnah 01- Abu Ihsan Al-Atsary /

Keutamaan Ber majelis dengan Ulama Ahlus Sunnah 02- Abu Ihsan Al-Atsary /

Ebook 40 Majelis Bersama Rasulullah

Ebook Hukum dan Adab Islam

Ebook Risalah Pilihan

Tafsir Tafsir Al-‘Usyr Al-Akhir(Juz 28.29.30)

•••••
➡-Adab Majelis 1



✅Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ الْمَجَالِسِ أَوْسَعُهَا

Sebaik-baik majelis adalah yang paling luas.” (HR. Abu Daud no. 4820 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 4733)



✅Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Hindarilah duduk-duduk di pinggir jalan!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana kalau kami butuh untuk duduk-duduk di situ memperbincangkan hal yang memang perlu?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang perlu kalian duduk-duduk di situ, maka berikanlah hak jalanan.” Mereka bertanya, “Apa haknya?” Beliau menjawab, “Tundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam (orang lewat), menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar.” (HR. Muslim no. 2161)



✅Dari Abu Musa radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka bisa jadi dia menghadiahkan parfumnya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, jika apinya tidak membakar bajumu maka kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628)



✅Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis lalu mereka tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka, melainkan mereka akan mendapatkan penyesalan. Apabila Allah menghendaki maka Dia akan mengazab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia akan mengampuni mereka.” (HR. At-Tirmizi no. 3380 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al- Jami’ no. 5607)



➡Penjelasan ringkas:

Termasuk dari keuniversalan syariat Islam, di dalamnya juga dijelaskan mengenai adab-adab yang harus diperhatikan dalam memilih majelis dan memilih teman duduk. Karenanya sebagai seorang muslim, maka sudah sepantasnya bagi mereka untuk mengetahui aturan Islam sampai dalam masalah ini, agar majelis-majelis yang mereka adakan bisa menjadi majelis yang mendatangkan kebaikan dan keberkahan, bukan majelis kejelekan yang akan mendatangkan penyesalan pada hari kiamat.
➡Di antara adab-adab dalam bermajelis adalah:
✅1. Disunnahkan untuk memperluas majelis. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepada kalian, “Berlapang-lapanglah dalam majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu.” (QS. Al-Mujadilah: 11)



Bukan maksud melapangkan di sini memperluas majelis dengan membiarkan ada celah kosong di antaranya. Akan tetapi maksudnya jika jumlah orang dalam majelis sudah padat maka jangan dia memaksakan diri untuk masuk ke tengah-tengahnya akan tetapi hendaknya dia duduk di tempat yang memungkinkan, dan hendaknya orang-orang yang terdapat dalam majelis tersebut tidak terlalu rapat sehingga mengganggu orang lain tapi tidak juga terlalu longgar sehingga menyisakan celah di tengah majelis.



✅2. Dilarang untuk duduk di pinggir jalan atau di tempat-tempat umum berlalunya manusia kecuali bagi siapa yang sanggup menunaikan hal dari jalanan tersebut, dan sangat sedikit orang yang bisa menunaikannya. Karenanya jika dia tidak yakin bisa memenuhi hak jalan maka sebaiknya dia jangan duduk di pinggir jalan apalagi sampai makan di pinggir jalan.
✅3. Hendaknya seorang muslim mengusahakan dirinya untuk hanya bermajelis dengan orang-orang yang baik serta tidak bermajelis dengan orang-orang yang jelek, walaupun dengan tujuan untuk berdakwah. Karena dakwah itu sudah mempunyai jalannya tersendiri, dan bukan termasuk jalannya berdakwah dengan berbaur dengan pelaku maksiat.
✅4. Walaupun majelisnya mubah dan bukan majelis orang-orang yang jelek, maka dia sangat dianjurkan untuk meninggalkannya jika di dalam majelis tersebut tidak membicarakan tentang zikir kepada Allah dan tidak ada shalawat kepada Rasulullah, atau hal-hal yang berkenaan dengannya. Butuh diingat, bahwa majelis yang memperbincangkan masalah dunia akan tetapi masalah dunia itu terkait dengan masalah agama maka insya Allah walaupun dia tetap mengusahakan untuk berzikir kepada Allah dalam majelis tersebut walaupun sekali. Wallahu a’lam
Pelajaran tambahan dari hadits-hadits di atas bahwa kejelekan pelaku kejelekan tidak hanya didapatkan oleh pelakunya akan tetapi akan didapatkan oleh orang yang duduk bersamanya dan tidak mengingkarinya. Sebagaimana kebaikan pelaku kebaikan tidak terbatas pada dirinya akan tetapi akan didapatkan juga oleh teman duduknya. Wallahu a’lam

Adab-Adab Majelis 2



✅Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepada kalian, “Berlapang-lapanglah dalam majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu.” (QS. Al-Mujadilah: 11)



✅Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَقْعَدِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا

Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya lalu dia duduk di tempatnya, tetapi katakanlah hendaknya kalian melapangkan dan meluaskan majelis.” (HR. Al-Bukhari no. 6270 dan Muslim no. 2177)



✅Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

Apabila salah seorang di antara kalian berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia kembali lagi ke tempatnya itu, maka dia lebih berhak dengan tempat itu.” (HR. Muslim no. 2179



✅Dari Jabir bin Samurah radhiallahu anhu dia berkata,

كُنَّا إِذَا أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَسَ أَحَدُنَا حَيْثُ يَنْتَهِي

Jika kami mendatangi (majelis) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka salah seorang dari kami akan duduk di mana majelis berakhir (barisan terakhir).” (HR. Abu Daud no. 4825 dan At-Tirmizi no. 2726)



Yakni jika yang di depan sudah penuh.

Dari Jabir bin Samurah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar melewati kami, lalu beliau melihat kami bergerombol. Maka beliau bersabda:

مَالِي أَرَاكُمْ عِزِينَ

Mengapa aku melihat kalian bercerai-berai.” (HR. Muslim no. 430)



➡Penjelasan ringkas:

Di antara adab-adab dalam bermajelis adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menuntunkan untuk bersatu dalam majelis dan tidak membuat beberapa majelis pada waktu yang bersamaan kecuali jika memang dibutuhkan. Karenanya beliau shallallahu alaihi wasallam juga melarang semua amalan yang menyebabkan perpecahan dan perselisihan dalam bermajelis seperti
✅1.    Menyuruh seseorang yang sedang duduk agar dia bisa duduk di tempatnya. Tidak diragukan ini merupakan amalan kesombongan dan kezhaliman yang bisa mengantarkan kepada perpecahan. Karena siapa yang pertama kali menempati sebuah tempat maka dia yang lebih berhak terhadapnya. Karenanya tidak boleh ada seorangpun yang boleh mengambil tempat duduk orang yang lebih dahulu di situ walaupun dia adalah seorang alim atau lebih tinggi kedudukannya daripada orang yang sudah lebih dahulu duduk di situ.
✅2.    Mengambil tempat duduk orang yang pergi dari tempat duduknya tapi dengan niat dia akan kembali ke tempat tersebut dalam waktu dekat. Sebagian jamaah shalat, jika muazzin duduk/berdiri di dalam shaf lalu dia maju untuk mengumandangkan iqamah, maka jamaah di belakangnya akan menempati tempat muezzin tadi, padahal muazzin setelah iqamah akan mundur lagi ke shafnya. Maka tentu saja amalan sebagian jamaah itu terlarang berdasarkan hadits Abu Hurairah di atas.
Demikian pula jika jamaah shalat sudah duduk di shaf, tapi ketika dia shalat ba’diah maka dia maju ke depan berhubung sutrahnya mengharuskan dia ke depan. Maka dalam keadaan seperti ini tidak boleh ada seorangpun yang mengambil tempat duduknya di dalam shaf tadi, karena ketika iqamah dikumandangkan maka tentu saja dia akan kembali ke tempat duduknya tadi.



✅3.    Nabi shallallahu alaihi wasallam juga melarang untuk melangkahi orang yang sudah lebih dahulu berada di dalam majelis karena dia ingin duduk di depan padahal di depan sudah tidak memungkinkan. Tidak diragukan itu akan menimbulkan kebencian saudaranya kepadanya, karena beliau menganjurkan agar siapa saja yang terlambat datang ke majelis sementara bagian depan majelis sudah penuh, maka dia harus duduk di akhir majelis dan tidak memaksakan untuk masuk. Dan telah berlalu pada artikel: Adab-Adab Majelis 1 keterangan mengenai disunnahkannya melapangkan dan meluaskan majelis, wallahu A’lam.

(Lanjut di hal…2)