Larangan Mencela Pemerintah dan Kelompok Murjiah Suka Memberontak Terhadap Penguasa



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Demonstrasi dan Mencela Pemerintahdi Media Sosial Bukan Ajaran Islam

2. Siapa Sebenarnya yang Murji’ah

3. Taat Kepada Penguasa

4.Mengenal Sekte Murji’ah

5. Bernarkah Tuduhan Bahwa Salafy-Wahaby adalah: MURJI’AH KEPADA PENGUASA DAN KHAWARIJ TERHADAP PARA DA’I..??

6. Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij

7.Mencela pemerintah di media massa menyelisihi Manhaj Salaf

8. MENCELA PEMERINTAH TERMASUK DOSA BESAR!!

••

Larangan Mencela Pemerintah-Abdullah Roy

Dakwah Salafiyah Bukan Murjiah-Abdurrahman Thayyib

Aqidah Tohawiyah Taat Kepada Penguasa

Bahaya Memberontak Dan Wajibnya Taat Kepada Penguasa Ustadz Abdullah Amin

Prinsip Salafy Taat Kepada Penguasa Dan Anti Teroris Ustadz Ridwanul Barri

KewajibanTaat Kepada Pemerintah/Penguasa ” oleh Ustadz Muhammad Na’im Lc

Nenek Moyang Kelompok Sesat : MURJI`AH-Ust Abdurrahman Thayyib

Sesi 1Sesi 2

Salafiy Bukan Murjiah oleh UstadzMukhtar

AQIDAH YANG TERLUPAKAN (Wajibnya Taat Kepada Pemimpin),Ustadz Abdurrahman Thoyyib

Perbedaan Antara Nasihat dan Celaan (Ust. Abdullah Taslim)

Menjaga Lisan Dari Sifat Mencela-Ust Abu Ihsan Al Atsary

•••

Hukum Berkabung Atas Kematian Raja Dan Pemimpin

EbookMenggapai Keteguhan Hati

Ebook Kaidah yang Ditinggalkan

Ebook Menggunjing

Ebook Warga Negara Baik Melahirkan Penguasa yang Baik

Ebook Fatwa Ulama Seputar Penguasa di Era Kontemporer

Ebook Kepemimpinan dan Rakyat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah

======

Larangan Mencela Pemerintah dan Kelompok Murjiah Suka Memberontak Terhadap Penguasa(Bantaham Dakwah Salafiyah Adalah Mur’jiah Sebab Taat Pada Penguasa)

Larangan Mencela Pemerintah

بســـمے اللّه الرّحمنـ الرّحـيـمـے

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Kaum Muslimin,

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga kita semuanya.

Mencela penguasa di dalam Islām merupakan pelanggaran syariat, dan ini adalah termasuk sesuatu yang dilarang didalam agama kita dan bahkan ini adalah termasuk penghinaan terhadap penguasa sebagaimana yang datang di dalam sebuah hadīts, bahwasanya Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

Barangsiapa yang menghina sultan Allāh (menghina seorang sultan/ menghina seorang penguasa/ menghina seorang pemimpin) di bumi, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menghinakan orang tersebut. “

(Hadīts Shahīh riwayat Tirmidzi nomor 2224)

⇒Menunjukan kepada kita tentang diharāmkannya dan dilarangnya seseorang mencela penguasa.

Kemudian mencela penguasa adalah termasuk benih fitnah dan ini adalah awal dari sebuah kerusakan dan awal terjadinya sesuatu yang lebih besar dari itu yang dinamakan dengan pemberontakan terhadap penguasa.

Dan kita tahu, bahwasanya pemberontakan adalah sebab dari kerusakan, baik kerusakan dunia maupun kerusakan agama seseorang. Dan tidaklah terbunuh khalifah yang ketiga yaitu ‘Utsmān bin Affan Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu kecuali sebabnya karena awalnya ada sebagian kaum Muslimin yang mencela dan juga menghinakan beliau Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu.

Mencela seorang penguasa bukan jalan yang benar, untuk mengatasi dan memperbaiki sebuah keadaan, Islām telah mengajarkan umatnya bagaimana mereka memperbaiki keadaan,

→Memperbaiki keadaan penguasa

→Memperbaiki keadaan rakyat

Apabila seseorang melihat kesalahan dari seorang penguasa atau pemerintah maka hendaklah dia terlebih dahulu husnudzan, terlebih dahulu dia berbaik sangka kepada pemerintah tersebut.

Kemudian apabila dia ingin menasehati, maka hendaklah dia menasehati dengan baik dan bukan dengan cara yang kasar, demikian pula diusahakan supaya nasehat tersebut adalah nasehat yang rahasia, yang tidak mengetahui kecuali dia dan penguasa tersebut.

Demikian pula diantara adab seorang rakyat, di dalam memperbaiki keadaan penguasa hendaklah dia berdo’a kepada Allāh, berdo’a kepada Allāh dengan do’a yang ikhlās.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memperbaiki penguasa dia.

√ Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepadanya.

√ Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan ketaqwaan kepadanya.

⇒ Demikianlah seorang Muslim, berdo’a kepada Allāh supaya Allāh memperbaiki penguasa.

Demikian pula memohon kepada Allāh supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan penguasa tersebut adalah:

Penguasa yang lemah lembut terhadap rakyatnya.

Menegakan agama Allāh Azza wa jalla

Bukanlah sikap seorang Muslim yang baik mendo’akan kejelekan kepada seorang penguasa, mendo’akan kejelekan dengan melaknat dia atau mendo’akan supaya dia mendapatkan kehancuran didunia dan juga diakhirat. Tidak!

Inilah yang membedakan antara seorang ahlulsunnah waljama’ah dengan yang lain, mereka senantiasa menjaga ucapan mereka dari mencela penguasa, mencela pemerintah. Karena keumuman firman Allāh Azza wa jal, ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan tentang persaudaraan diantara orang-orang yang berimān.

Selama penguasa (pemerintah) tersebut adalah seorang Muslim maka mereka adalah saudara kita, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

(QS Al Hujurāt: 10)

Dan diantara hak seorang Muslim atas Muslim yang lain dilarang kita saling menghinakan, dilarang kita saling mencela satu dengan yang lain.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

Wahai orang-orang yang berimān, janganlah sebagian kaum menghina sebagian yang lain, mungkin mereka lebih baik daripada mereka”.

(QS Hujurāt: 11)

Seorang Muslim harām atas Muslim yang lain, apanya?

√ Hartanya

√ Darahnya

√ Kehormatannya

Tidak boleh seorang muslim mencela kehormatan muslim yang lain, dan telah datang dari sebagian shahābat Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu (sebagian salaf) seperti Anas bin Mālik Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu dan juga yang lain, beliau mengatakan:

كَانَ اْلأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ اْلأُمَرَاءِ

Dahulu para pembesar shahābat nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang kami untuk mencela para penguasa.”

(Hadīts Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam At-tamhid)

Ini menunjukan bagaimana sikap para shahābat Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum yang mereka adalah panutan kaum Muslimin, bahwasanya mereka melarang kita semua untuk mencela para ‘umara mencela para penguasa kita.

Demikian pula telah datang dari Abdullāh Ibnu Mubārak rahimahullāh bahwasanya beliau mengatakan:

مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِالسُّلْطَانِ ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلإِخْوَانِ ذَهَبَتْ مُرُوْءَتُهُ

Barangsiapa yang mencela (menghinakan) para ulamā maka akan hilang akhiratnya dan barangsiapa yang mencela para ‘umara (para penguasa) maka akan hilang dunianya dan barangsiapa yang mencela dan merendahkan saudaranya maka akan hilang kehormatannya.”

(Siyar A’lam an-Nubala XVII/251)

Semoga apa yang kita sampaikan ini bermanfaat, Wabillāhi taufīq wal hidayah.

Ustadz ‘Abdullāh Roy, Lc. MA

===

Menyikapi Seorang Yang Mengkritik Pemerintah

Tanya: Bagaimana sikap kita jika ada seseorang yang mengajak kita berbicara yang mengarah pada kritikan terhadap pemerintah?

Jawaban

: Jika pemerintah yang dimaksud masih berstatus muslim, maka wajib bagi kita menasehati kawan tadi agar mengurungkan niatnya.

Kita nasehati dengan baik dengan  adab, dengan santun dan dengan ilmu, dengan dalil dengan Al Quran, dengan As Sunnah dengan atsar salaf.

عن زياد بن كسيب العدوى، قال :

كنت مع أبي بكرة تحت منبر ابن عامر – وهو يخطب وعليه ثياب رقاق -، فقال أبو بلال: انظر إلي أميرنا يلبس ثياب الفساق !

فقال أبو بكرة : اسكت، سمعت رسول الله ( يقول : من أهان سلطان الله في الأرض أهانه الله

Dari Ziad bin Kusaib Al Adawi berkata dahulu aku bersama Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu di bawah minbar Ibnu Amir (Gubernur) ia berkhutbah mengenakan pakaian tipis lantas Abu Bilal Al-Khariji (dari Khawarij) berkomentar :

Lihatlah pemimpin kita. Dia mengenakan baju orang fasiq”.

Maka Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi, menyanggah : “Tutup mulutmu! Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

Barangsiapa menghina sulthan Allah di dunia, niscaya Allah akan menghinakannya’.”

(Hadis hasan riwayat Ibnu Abi ‘Ashim : 2/294).

Jika ia enggan menerimanya maka sebagai bentuk tidak ridhanya kita terhadap kemungkaran tersebut kita meninggalkan lokasi pembicaraan itu.

Wallahu a’lam

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

===

➡ ]Hukum Membela Pemerintah Dzalim Yang Difitnah

✅Tanya: Apakah jika seorang pemimpin atau penguasa yang dzalim pada rakyatnya, lalu penguasa itu difitnah oleh sebagian rakyatnya, apakah kita harus membela dalam arti meluruskan/membantah fitnah dengan fakta yang sebenarnya?

✅Jawaban:

Jika penguasa kaum muslimin difitnah dengan perbuatan yang tidak dilakukan olehnya, kita harus membelanya dengan menjelaskan fakta yang sebenarnya.

Bahkan jika penguasa melakukan kezaliman, kejahatan, kecurangan, lalu ada orang menyebar-nyebarkan berita tersebut, maka kita berusaha mencegahnya sesuai kemmapuan kita. Berikut riwayatnya :

عن زياد بن كسيب العدوى، قال :

كنت مع أبي بكرة تحت منبر ابن عامر – وهو يخطب وعليه ثياب رقاق -، فقال أبو بلال: انظر إلي أميرنا يلبس ثياب الفساق !

فقال أبو بكرة : اسكت، سمعت رسول الله ( يقول : من أهان سلطان الله في الأرض أهانه الله )

Dari Ziad Al Adawi berkata dahulu aku bersama Abu Bakrah radhiyallahu anhu di bawah minbar Ibnu Amir (Gubernur) ia berkhutbah mengenakan pakaian tipis lantas Abu Bilal Al-Khariji (dari Khawarij) berkomentar :

Lihatlah pemimpin kita. Dia mengenakan baju orang fasiq,”.

Maka Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi, menyanggah : “Tutup mulutmu! Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :

‘Barangsiapa menghina sulthan Allah di dunia, niscaya Allah akan menghinakannya’.
(Hadis hasan riwayat Ibnu Abi ‘Ashim : 2/294).

Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu ketika membantah perkataan Abu Bilal bukan berarti beliau menyetujui kezaliman tersebut. Bukan berarti beliau membela pakaian tipis tersebut. Tapi beliau melakukannya karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari menyebar-nyebarkan aib penguasa atau memprovokasi manusia agar membenci penguasa.

Dan beliau tidak bisa dikatakan sebagai pembela penguasa jahat dalam kejahatannya, karena beliau tidak ikut-ikutan di dalam memakai pakaian tipis tersebut.

Demikian pula kita ketika melarang dai yang suka mencaci penguasa, menyebarkan aib-aibnya bukan berati kita ridha dengan kezaliman tersebut atau membela penguasa yang zalim. Tapi kita mengikuti jejak salaf di dalam sikap mereka ketika menghadapi kezaliman penguasa.

Dan karena menyebarkan aib penguasa dilarang oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahkan beliau mendoakan pelakunya dnegan keburukan. Itu artinya perbuatan tersebut tidaklah menimbulkan kecuali kerusakan. Wallahu a’lam

===(lanjut ke hal…2)

Iklan