Hadits Arbain #03: Rukun Islam dan Meninggalkan Shalat Hukumnya Kafir



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Penjelasan Hadits Rukun Islam (1)

2.lima rukun Islam

3. Penjelasan Hadits Rukun Islam (2)

4. Ternyata Ini Tanda Diterimanya Amal

5.Penjelasan Hadits Rukun Islam (4)

6.Penjelasan Hadits Rukun Islam (3)

7.Penjelasan Hadits Rukun Islam (6)

8.Penjelasan Hadits Rukun Islam (5)

9.Ingat, Meninggalkan Shalat itu Kafir |

10. Meninggalkan Shalat Bisa Membuat Kafir

11. Pendapat Imam Syafi’i Mengenai Orang yang Meninggalkan Shalat

12.Apa Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat

13.Apa Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat dengan Sengaja

•••

Hadits Arbain #03-Ust Arman Amri L.c Sesi1

Hadits Arbain #03-Ust Arman Amri L.c Sesi2

Syarah Hadits Arba’in An Nawawi 03,(Ust Mizan Qudsiyah)

Arbain Nawawi 04 – Islam Dibangun Diatas LimaPerkara (Hadits3)-Ust Abu Ubaidah Yusuf Sidawy

Hadist Ke3(Arbain Nawawi)-Ust Firanda Andirja

Rukun-Rukun Islam- Ust Erwandi Tirmizi

Rukun Islam (Hadits ke-3) – Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, M.A.- Syarah Arba’in Plus

Ebook Syarah Arba’in Nawawi

Ebook Rukun Islam

Ebook Fatwa Fatwa Rukun Islam-Muhammad bin Shalih AlUtsaimin

Ebook-Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat

Ebook-Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat Muhammad bin Shalih AlUtsaimin 

Ebook Kedudukan Shalat Dalam Islam

Ebook Fiqh Bersuci dan Sholat SesuaiTuntunan Nabi

Ebook Petunjuk Lengkap Tentang Shalat DR Said bin Ali Al-Qahthani

Ebook Sholat, Definisi, Anjuran,& Ancamannya Abdullah Bin Abdul Hamid AlAtsary

•••

Hadist #03: Rukun Islam



Ini penjelasan rukun Islam, sekaligus ada pelajaran tentang hukum meninggalkan shalat. Kita bisa pahami dari hadits #03 dari Arbain An-Nawawiyah berikut ini.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “

Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16]

➡Faedah:

1. Islam diibaratkan sebagai sebuah bangunan yang memiliki tiang pokok yang lima.

2. Bersyahadat “laa ilaha illallah” berarti bersaksi dan mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.

3. Menegakkan shalat yang dimaksud adalah mengerjakan shalat dengan memenuhi rukun dan syaratnya.

4. Menunaikan zakat artinya mengeluarkan dan memberikannya pada yang berhak menerima.

Seseorang tidak disebut berislam hingga ia mengimani lima rukun Islam yang ada. Siapa yang mengingkari salah satunya, ia kafir. Siapa yang meninggalkannya dalam rangka meremehkan, ia termasuk orang fajir.

5. Shalat adalah amalan badaniyah (anggota badan), zakat adalah amalan maliyah (terkait harta).

6. Shalat adalah amalan anggota badan dengan bentuknya mengerjakan, sedangkan puasa adalah amalan anggota badan yang sifatnya menahan diri dan meninggalkan sesuatu.

7. Haji adalah amalan badaniyah dan maliyah bagi orang yang butuh melakukan perjalanan.

Semua bentuk rukun Islam tidak lepas dari tiga hal: (1) badzlul mahbub (mengeluarkan sesuatu yang dicintai) seperti pada zakat; (2) al-kaffu ‘anil mahbub (menahan sesuatu yang dicintai) seperti pada puasa; (3) ijhadul badan (berjuang dengan badan) seperti pada puasa dan haji.

8. Kenapa rukun Islam hanya disebut lima saja tidak ada lainnya? Jawabnya, karena hukum syari’at ini ada yang wajib dan ada yang sunnah. Perkara yang sunnah tentu tidak jadi bagian dari rukun. Sedangkan perkara yang wajib itu ada dua macam yaitu wajib kifayah dan wajib ‘ain. Contoh wajib kifayah adalah amar makruf nahi mungkar dan berdakwah. Sedangkan yang disebut dalam rukun Islam, ada kewajiban yang terkait harta seperti pada zakat, ada kewajiban yang terkait badan seperti mengerjakan shalat; ada kewajiban yang terkait badan dan harta seperti haji; dan ada kewajiban yang terkait lisan seperti syahadat.

 

Meninggalkan Syahadat dan Iman

Dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, yang dimaksud dengan hadits di atas, Islam itu dibangun di atas lima perkara seperti tiang untuk suatu bangunan.

Juga yang dimaksud dengan tiang tersebut adalah tiang pokok artinya kalau tidak ada tiang tersebut, tidak mungkin berdiri suatu bangunan. Adapun selain rukun Islam tadi adalah bagian penyempurna. Artinya, jika penyempurna tersebut tidak ada berarti ada kekurangan pada bangunan tersebut. Namun itu berbeda kalau tiang pokoknya tadi tidak ada.

Jelas, Islam seseorang jadi batal jika semua rukun Islam tadi tidak ada. Ini tak ada lagi keraguan. Begitu pula ketika dua kalimat syahadatnya tidak ada, Islam juga jadi hilang. Yang dimaksud dua kalimat syahadat ini adalah keimanan pada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dalam riwayat lain disebutkan,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ إِيمَانٍ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَالصَّلاَةِ الْخَمْسِ ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ ، وَأَدَاءِ الزَّكَاةِ ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

Islam itu dibangun di atas lima perkara: beriman pada Allah dan Rasul-Nya; mendirikan shalat lima waktu; berpuasa Ramadhan; menunaikan zakat; dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Bukhari, no. 4514)

✅Dalam riwayat Muslim disebutkan dengan mentauhidkan Allah,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ

Islam dibangun di atas lima perkara: mentauhidkan Allah; mendirikan shalat; menunaikan zakat; berpuasa Ramadhan; dan haji.” (HR. Muslim, no. 16)

✅Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ عَلَى أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَيُكْفَرَ بِمَا دُونَهُ …

Islam dibangun di atas lima perkata: hanya Allah yang disembah dan sesembahan selain Allah diingkari ….” (HR. Muslim, no. 16) (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:145)

Meninggalkan Shalat Dihukumi Kafir

✅Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ

Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)

✅Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian yang mengikat antara kita dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, no. 2621 dan An-Nasa’i, no. 464. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Orang yang Lupa Saja Tetap Harus Shalat

Sebagai tanda mulianya shalat, saat lupa atau ketiduran (asalkan bukan kebiasaan) tetap dikerjakan saat ingat atau tersadar.

✅Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari, no. 597; Muslim, no. 684)

✅Dalam riwayat Muslim disebutkan,

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.”    (HR. Muslim, no. 684)

Moga Allah beri taufik dan hidayah.
Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:247-249.

Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 418.

Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Al-Mukhtashar. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. hlm. 95-98.

Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Al-Mukhtashar. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. hlm. 42.

Referensi Terjemahan:

Meninggalkan Shalat, Lebih Parah daripada Selingkuh dan Mabuk. Cetakan Pertama, Tahun 1438 H. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

➡DOSA BESAR KE-4MENINGGALKAN SHALAT

✅Allah سبحانه و تعالي berfirman:

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً. إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh (QS. Maryam: 59-60)

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata, “Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggalkannya sama sekali. Tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.”1

Imam para tabi’in, Sa’id bin Musayyib رحمه الله berkata, “Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan shalat Zhuhur sehingga datang waktu Ashar. Tidak mengerjakan shalat Ashar sehingga datang Maghrib. Tidak shalat Maghrib sampai datang ‘Isya’. Tidak shalat ‘Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak shalat Shubuh sampai matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus-menerus melakukan hal ini dan tidak bertaubat, Allah menjanjikan baginya ‘Ghayy’, yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya.”

✅Di tempat yang lain Allah سبحانه و تعالي berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan shalatnya. (QS. Al-Ma’un: 4-5)

Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan shalat.

Sa’ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم. tentang orang-orang yang lupa akan shalatnya. Beliau menjawab, ‘Yaitu pengakhiran waktunya.”2

Mereka disebut orang-orang yang shalat. Namun ketika mereka meremekan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan ‘wail’, adzab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa ‘wail’ adalah sebuah lembah di neraka jahannam, jika gunung-gunung yang ada di dunia ini dimasukkan ke sana niscaya akan melelehlah semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi or-ang-orang yang meremehkan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali orang-orang yang bertaubat kepada Allah ta’ala dan menyesal atas kelalaiannya.

Di ayat yang lain Allah سبحانه و تعالي berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Para mufassir menjelaskan, “Maksud ‘mengingat Allah’ dalam ayat ini adalah shalat lima waktu. Maka barangsiapa disibukkan oleh harta perniagaannya, kehidupan dunianya, sawah-ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan shalat pada waktunya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi.” Demikian, dan Nabi pun telah bersabda:

أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ فَإِنَّ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرِ

Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia.”3

Berkenaan dengan penghuni neraka Allah سبحانه و تعالي berfirman,

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ. وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ. وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ. وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ. حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ. فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian’.Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 42-48)

✅Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ الْعَهْدَ الَّذَي بَيْنَنَاوَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ،فَمَنْ تَرَكَهَافَقَدْكَفَرَ

Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.”4

✅Beliau صلي الله عليه وسلم juga bersabda:

بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Batas antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”5

✅Rasulullah صلي الله عليه وسلم  juga bersabda:

مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ

Barangsiapa tidak mengerjakan shalat Ashar, terhapuslah amalnya.”6

✅Rasulullah صلي الله عليه وسلم  bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ

“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, sungguh telah lepaslah jaminan dari Allah.”7

✅Rasulullah صلي الله عليه وسلم  juga bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Laa Ilaaha illallah’ (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan shalat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah.”8

✅Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَـمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَـمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلَا بُرْهَانٌ وَلَا نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

Barangsiapa menjaganya maka ia akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf”9

Umar bin Khathab رضي الله عنه berkata, “Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.”10

Sebagian ulama berkata, “Bahwasanya orang yang meninggalkan shalat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat/ jabatan, dan perniagaannya dari shalat. Jika ia disibukkan dengan hartanya ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya ia akan dikumpulkan dengan Fir’aun. Jika ia disibukkan dengan pangkat/ jabatannya ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di Mekah saat itu.”

✅Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه meriwayatkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ

Barangsiapa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah,”11

✅Kala Umar رضي الله عنه terluka karena tusukan seseorang mengatakan, “Anda tetap ingin mengerjakan shalat, wahai Amirul Mukminin?”Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyialan shalat.”, jawabnya.12 Lalu ia pun mengerjakan shalat meski dari lukanya mengalir  darah13 yang cukup banyak.

Abdullah bin Syaqiq –seorang tabiin- menuturkan, “Tidak ada satu amalan pun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para sahabat selain shalat.”14

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah ditanya tentang seorang wanita yang tidak shalat, menjawab, “Barangsiapa tidak shalat telah kafirlah ia.”15

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Barangsiapa tidak shalat maka ia tidak mempunyai dien.”16

Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما berkata, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja niscaya akan menghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya.”17

✅Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda,

Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan shalat, Dia tidak akan mempedulikan suatu kebaikan pun darinya.”18

Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah syirik selain mengakhirkan shalat dari waktunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya.”

Ibrahim an-Nakha’iy رحمه الله berujar, “Barangsiapa meninggalkan shalat maka telah kafir.” Hal senada diungkapkan oleh Ayyub as-Sikhtiyaniy رحمه الله.

✅’Aun bin Abdullah رحمه الله berkata, “Apabila seorang hamba dimasukkan kedalam kuburnya, ia akan ditanya tentang shalat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan, jika baik barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya jika tidak baik, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya).”

Marilah kita memohon taufiq dan i’anah kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Pengasih diantara mereka yang mengasihi.

PASAL: HUKUM MENINGGALKAN SHALAT JAMAAH BAGI YANG TIDAK BERHALANGAN

✅Allah سبحانه و تعالي berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ. خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, bagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera. (QS. Al-Qalam: 42-43)

Ini kejadian pada hari kiamat. Mereka diliputi penyesa’an. Dulu di dunia mereka telah diseru untuk bersujud.

Ibrahim At-Taimiy رحمه الله berkata, “Maksud dari ayat di atas adalah diseru kepada shalat wajib dengan adzan dan iqamah.”

Sa’id bin Musayyib رحمه الله berkata, “Mereka mendengar panggilan ‘Mari mengerjakan shalat! Mari menuju kemenangan!’, namun mereka tidak menjawab panggilan itu, padahal mereka dalam keadaan sehat sejahtera.”

✅Ka’ab al-Ahbar رحمه الله berkata, “Demi Allah, ayat ini tidak turun kecuali berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah. Nah, ancaman apa yang lebih dahsyat bagi orang yang meninggalkan shalat jamaah padahal ia mampu mengerjakannya selain ayat ini?

Adapun dari sunnah, Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم jgg bersabda, “Sungguh aku hampir saja memerintahkan untuk shalat diiqamati, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang. Sedang aku dan beberapa orang lagi pergi sambil membawa seonggok kayu bakar untuk membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri shalat jamaah.“19 Tentunya mereka tidak diancam dengan pembakaran rumah -padahal di sana ada anak-anak dan harta kekayaan- kecuali karena mereka meninggalkan perkara yang wajib.”

(Lanjut ke halaman 2)