Siroh Nabi 16: Pembangunan Kembali Kab’ah dan Masa Permulaan Kenabian

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Renovasi Ka’bah Lima Tahun Sebelum Nabi Diutus

2.Renovasi Ka’bah

3. Seberkas Sinar Awal Mula Kenabian Muhammad

4. Nabi Muhammad dan Tanda-Tanda Kerasulannya.

5. Mimpi Benar Bagian dari Kenabian

6.MAKNA SABDA NABI: MIMPI SEORANG MUKMIN bagian nubuwwah

7. Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bershalawat?

•••

Pelajaran Dari Renovasi Kabah-Ust Abdullah Zaen

Kajian Siroh Nabawiyah Lengkap-Ust Firanda Andirja

Persiapaan Pra Kenabian-Ust Abdullah Zaen

Masa Permulaan Kenabian-Ust Sufyan Bafin Zen

Pembangunan Kabah-Ust Firanda Andirja

Kajian Lengkap Siroh Nabawiyah- Ust FirandaAndirja

Kisah Rehabilitasi Ka’bah – Bagian ke-2, Faedah Rasulullah Menikahi Khadijah, Peletakan Kembali Hajar Aswad, hingga Sejarah Turunnya Al- Qur’an – Bagian ke-1 – Faedah Sirah Nabawiyah (Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad.bersama Pamannya, Abu Thalib –Bagian ke-2, Rasullah Menikahi Khadijah, dan Rehabilitasi Ka’bah – Bagian ke-1 – Faedah Sirah Nabawiyah.(Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.)

Kajian Lengkap Faedah Sirah Nabawiyah(Kisah Kelahiran Sampai Kematian Nabi)(Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

===

Ebook Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam

Kisah Pembangunan Ka’bah

Kisah Awal Kenabian

Ebook Sirah Nabawiyah Karya SyaikhShafiyurrahman al-Mubarakfury

Ebook Al-Bidayah wan Nihayah karya IbnuKatsir

Kisah Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an dan As-SunnahEbook Shahih Sirah Nabi Karya Dr. AkramDhiya’ Al-Umuri 755halaman

Ebook Kisah Para Nabi Dan Rosul karya Ibnu Katsir

===

RASULULLAH ﷺ IKUT MEMBANGUN KEMBALI KA’BAH

 

Ka’bah yang terletak di kota Makkah adalah rumah ibadah yang pertama kali dibangun di muka bumi. Di dalam Al Quran Allah berfirman,

ﺇِﻥَّ ﺃَﻭَّﻝَ ﺑَﻴْﺖٍ ﻭُﺿِﻊَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻟَﻠَّﺬِﻱ ﺑِﺒَﻜَّﺔَ ﻣُﺒﺎﺭَﻛﺎً ﻭَﻫُﺪﻯً ﻟِﻠْﻌﺎﻟَﻤِﻴﻦَ * ﻓِﻴﻪِ ﺁﻳﺎﺕٌﺑَﻴِّﻨﺎﺕٌ ﻣَﻘﺎﻡُ ﺇِﺑْﺮﺍﻫِﻴﻢَ ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﺧَﻠَﻪُ ﻛﺎﻥَ ﺁﻣِﻨﺎً ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺣِﺞُّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖِ ﻣَﻦِﺍﺳْﺘَﻄﺎﻉَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺳَﺒِﻴﻼً ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﻔَﺮَ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻏَﻨِﻲٌّ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻌﺎﻟَﻤِﻴﻦَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan keBaitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali Imran: 96-97)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata,

ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻱُّ ﻣَﺴْﺠِﺪٍ ﻭُﺿِﻊَ ﺃَﻭَّﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪُ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡُ ﻗُﻠْﺖُ ﺛُﻢَّ ﺃَﻱٌّ ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪُ ﺍﻟْﺄَﻗْﺼَﻰ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻢْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺭْﺑَﻌُﻮﻥَ

Wahai, Rasulullah. Masjid apakah yang dibangun pertama kali?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Masjidil Haram”. Lalu Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Masjidil Aqsha”. Aku bertanya lagi, “Berapa rentang waktu antara keduanya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Empat puluh”. (HR. Al Bukhari) [1]

SEBAB RUSAKNYA KA’BAH

Pada saat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berusia tiga puluh lima tahun, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah karena kondisinya sebelum itu hanyalah berupa tumpukan-tumpukan batu-batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta di masa Ismail ‘ alaihissalam dan tidak memiliki atap. Karenanya, harta yang disimpan di dalamnya dengan mudah diambil oleh para pencuri. Selain itu, karena merupakan peninggalan sejarah, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunannya dan merontokkan sendi sendinya. Lima tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasulullah, Makkah dilanda banjir besar dan airnya meluap mencapai pelataran Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan Ka’bah hampir roboh[2]

TIDAK MENERIMA DONASI KECUALI HARTA YANG BAIK

Orang-orang Quraisy akhirnya ingin merekonstruksi, membangun ulang Ka’bah untuk menjaga keberadaannya. Quraisy bersepakat untuk tidak membangunnya dari sembarang harta, melainkan hanya diambil dari sumber yang baik; mereka tidak mau memakai dana dari mahar hasil pelacuran, transaksi ribawi dan hasil menzhalimi orang lain.[3]

Ketika itu di Laut Merah di dekat pelabuhan Jeddah ada kapal Romawi yang karam. Di dalam kapal karam tersebut ada seorang tukang dari Romawi. Orang-orang Makkah kemudian mengambil kayu dari kapal tersebut dan mempekerjakan orang Romawi tadi untuk membantu mereka untuk membangun ulang Ka’bah. [4]

TIDAK BERANI MEROBOHKAN KA’BAH

Mereka merasa segan untuk merobohkan bangunannya, sampai akhirnya dimulai oleh Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi baru kemudian diikuti oleh yang lainnya setelah mereka melihat tidak terjadi apa-apa terhadapnya. Mereka terus melakukan perobohan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam . Setelah itu mereka pun mulai membangun kembali Ka’bah. Awalnya mereka membagi bagian bangunan Ka’bah yang akan dikerjakan menjadi beberapa bagian. Masing-masing kabilah.mendapat satu bagian dan mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing lalu dimulailah perenovasiannya. Sedangkan yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum. [5]

➡KEIKUTSERTAAN RASULULLAH

Saat renovasi Ka’bah ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut andil bersama paman-pamannya. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah menceritakan,

ﻟَﻤَّﺎ ﺑُﻨِﻴَﺖْ ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﺔُ ﺫَﻫَﺐَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻋَﺒَّﺎﺱٌ ﻳَﻨْﻘُﻠَﺎﻥِ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓَﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋَﺒَّﺎﺱٌ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﺇِﺯَﺍﺭَﻙَ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﻗَﺒَﺘِﻚَ ﻳَﻘِﻴﻚَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓِ ﻓَﺨَﺮَّ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻃَﻤَﺤَﺖْ ﻋَﻴْﻨَﺎﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺛُﻢَّ ﺃَﻓَﺎﻕَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺇِﺯَﺍﺭِﻱﺇِﺯَﺍﺭِﻱ ﻓَﺸَﺪَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺇِﺯَﺍﺭَﻩُ

Ketika Ka’bah dibangun ulang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abbas ikut serta memindahkan batu. Maka Abbas mengatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Letakkanlah sarungmu di atas pundakmu, agar batu tidak menggores tubuhmu.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melakukannya, tiba-tiba Beliau tersungkur jatuh, mata Beliau pun kemudian memandang ke langit. Saat tersadar, beliau berkata, “Ini karena sarungku, ini karena sarungku!” Maka beliau pun mengencangkan sarungnya. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan penjagaan Allah terhadap diri beliau, yaitu agar aurat beliau tetap tertutup.[6]

PELETAKAN HAJAR ASWAD

Tatkala pengerjaan tersebut sampai ke Hajar Aswad, mereka bertikai tentang siapa yang paling berhak untuk meletakkannya ke tempat semula dan pertikaian tersebut berlangsung selama empat atau lima malam bahkan semakin meruncing sehingga hampir terjadi peperangan yang dahsyat di tanah Haram.

Ketika itu Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi mencoba untuk menengahi dan menawarkan solusi bagi pertikaian mereka lewat perundingan damai. Abu Umayyah mengusulkan bahwa siapa di antara mereka yang paling dahulu memasuki pintu masjid, maka dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Mereka pun ridha dengan usulan tersebut.

Dan atas kehendak Allah ta’ala , Rasulullah lah yang menjadi orang pertama yang memasukinya. Tatkala mereka melihatnya, dia disambut dengan teriakan: “Inilah Al-Amiin, sosok yang amanah! Kami ridha kepadanya! Inilah Muhammad!”.

Dan ketika beliau mendekati mereka dan diberitahu tentang hal tersebut, beliau meminta sehelai selendang dan meletakkan Hajar Aswad di tengahnya. Para pemimpin kabilah yang bertikai lalu diminta agar masing-masing memegang ujung selendang dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya. Sampai ketika mendekati tempatnya, barulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan solusi yang tepat dan jitu yang diridhai oleh semua pihak [7]

PEMBANGUNAN YANG TAK SEMPURNA

Orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga mereka harus membuang sebanyak enam hasta dari bagian utara, yaitu yang dinamakan dengan Al Hijr dan Al Hathim. Mereka juga meninggikan pintu Ka’bah dari permukaan bumi agar tidak mudah dimasuki kecuali memang benar-benar ingin. Tatkala pembangunan sudah mencapai lima belas hasta, mereka memasang atap yang disangga dengan enam tiang.

Akhirnya Ka’bah yang baru diselesaikan tersebut berubah.menjadi hampir berbentuk kubus dengan ketinggian lima belas meter dan panjang sisi yang berada di bagian Hajar Aswad dan bagian yang searah dengannya adalah sepuluh meter. Hajar Aswad sendiri dipasang di atas ketinggian 1,50 m dari permukaan pelataran thawaf. Adapun panjang sisi yang berada di bagian pintu dan bagian yang searah dengannya adalah duabelas meter, sedangkan tinggi pintunya berada dua meter di atas permukaan bumi. Dari sebelah luarnya, Ka’bah dikelilingi oleh tumpukan batu pondasi, tepatnya di bagian bawahnya.

Tinggi pondasi ini adalah seperempat meter dengan ketebalan 30 cm. Pondasi ini disebut sebagai Asy Syaadzarwan. Bagian ini merupakan bagian asli Ka’bah yang tidak dibuang oleh Quraisy. [8]

KEINGINAN RASULULLAH UNTUK MENGUBAH KA’BAH

Kelak ketika kaum muslimin berhasil menguasai kota Makkah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengemukakan keinginan beliau untuk mengembalikan Ka’bah ke bentuk aslinya. Beliau mengatakan kepada istri beliau ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺣِﺪْﺛَﺎﻥُ ﻗَﻮْﻣِﻚِ ﺑِﺎﻟْﻜُﻔْﺮِ ﻟَﻨَﻘَﻀْﺖُ ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﺔَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﺖُ ﻟَﻬَﺎ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺷَﺮْﻗِﻴًّﺎ ﻭَﺑَﺎﺑًﺎ ﻏَﺮْﺑِﻴًّﺎﻭَﺃَﺩْﺧَﻠْﺖُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﺤِﺠْﺮَ

Kalau seandainya kaummu tidak baru lepas dari kekufuran, maka sungguh aku telah merubah Ka’bah, dan aku akan membuat pintu timur dan barat, dan aku akan memasukkan al Hijr ke dalam Ka’bah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tapi niat ini beliau urungkan karena khawatir muncul fitnah dan.kekisruhan di tengah kaum muslimin Makkah yang baru saja masuk Islam.

Wallahu a’lam bisshawab

CATATAN KAKI:

[1]Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap surat Ali Imran ayat 96-97.

[2] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum,(Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 78.

[3] Ibid.

[4] Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Bari, (Beirut: Darul Ma’rifah,1379 H), Jil. 3 hlm. 441.

[5] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum,(Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 78.

[6] Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Bari, (Beirut: Darul Ma’rifah,1379 H), Jil. 3 hlm. 441-442.

[7] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum,(Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 78.

[8] Ibid. hlm. 79

—–

PENDAHULUAN KENABIAN

Para pembaca yang budiman rahimakumullah, menjelang diangkatnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi, ada beberapa peristiwa istimewa yang terjadi. Peristiwa ini sebagai pertanda telah dekatnya waktu Pengutusan beliau. Di antara peristiwa tersebut:

Terhalangnya Syaithan dari Mencuri Berita Langit

Dahulu para syaithan biasa mencuri berita dari langit. Namun menjelang diutusnya Rasulullah, maka langit dijaga sehingga mereka tidak bisa lagi mencuri dengar.[1]

Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻷَﻣْﺮَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺿَﺮَﺑَﺖِ ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔُ ﺑِﺄَﺟْﻨِﺤَﺘِﻬَﺎ ﺧُﻀْﻌَﺎﻧًﺎ ﻟِﻘَﻮْﻟِﻪِ ﻛَﺄَﻧَّﻪُﺳِﻠْﺴِﻠَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﻔْﻮَﺍﻥٍ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻓُﺰِّﻉَ ﻋَﻦْ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻣَﺎﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟِﻠَّﺬِﻯﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﻠِﻰُّ ﺍﻟْﻜَﺒِﻴﺮُ ﻓَﻴَﺴْﻤَﻌُﻬَﺎ ﻣُﺴْﺘَﺮِﻕُ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ، ﻭَﻣُﺴْﺘَﺮِﻕُ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ﻫَﻜَﺬَﺍﺑَﻌْﻀُﻪُ ﻓَﻮْﻕَ ﺑَﻌْﺾٍ – ﻭَﻭَﺻَﻒَ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥُ ﺑِﻜَﻔِّﻪِ ﻓَﺤَﺮَﻓَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺪَّﺩَ ﺑَﻴْﻦَ ﺃَﺻَﺎﺑِﻌِﻪِ –ﻓَﻴَﺴْﻤَﻊُ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺔَ ، ﻓَﻴُﻠْﻘِﻴﻬَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻦْ ﺗَﺤْﺘَﻪُ ﺛُﻢَّ ﻳُﻠْﻘِﻴﻬَﺎ ﺍﻵﺧَﺮُ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻦْ ﺗَﺤْﺘَﻪُ ، ﺣَﺘَّﻰﻳُﻠْﻘِﻴَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻟِﺴَﺎﻥِ ﺍﻟﺴَّﺎﺣِﺮِ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻜَﺎﻫِﻦِ ، ﻓَﺮُﺑَّﻤَﺎ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﺸِّﻬَﺎﺏُ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳُﻠْﻘِﻴَﻬَﺎ ،ﻭَﺭُﺑَّﻤَﺎ ﺃَﻟْﻘَﺎﻫَﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳُﺪْﺭِﻛَﻪُ ، ﻓَﻴَﻜْﺬِﺏُ ﻣَﻌَﻬَﺎ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﻛَﺬْﺑَﺔٍ ، ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ ﺃَﻟَﻴْﺲَ ﻗَﺪْ ﻗَﺎﻝَﻟَﻨَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻓَﻴُﺼَﺪَّﻕُ ﺑِﺘِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﺳَﻤِﻊَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ

Ketika Allah menetapkan suatu urusan dlangit, malaikat lantas meletakkan sayapnya dalam rangka tunduk pada perintah Allah. Firman Allah yang mereka dengarkan itu seolah-olah seperti suara gesekan rantai di atas batu. Apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka mengucapkan, “Apa yangtelah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Perkataan yang benar. Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Syaithan-syaithan pencuri berita itu pun mendengarkan berita itu. Para pencuri berita itu posisinya saling bertumpuk- tumpukkan. –Sufyan (perawi hadits)menggambarkannya dengan memiringkan telapak tangannya dan merenggangkan jari- jemarinya)-. Jika syaithan yang di atas mendengar berita itu, maka segera disampaikan kepada syaithan yang berada di bawahnya. Kemudian yang lain jugamenyampaikan kepada syaithan yang berada di bawahnya hingga sampai kepada tukang sihir dan para peramal.

Terkadang syaithan pencuri berita itu terkena api sebelum sempat menyampaikan berita itu. Terkadang pula syaithan itu bisa menyampaikan berita itu sebelum terkena api. Lalu dengan berita yang didengarnya itulah tukang sihir atau peramal membuat seratus kedustaan. Orang-orang yang mendatangi tukang sihir atau dukun pun mengatakan, ‘Bukankah pada hari ini dan itu, dia telah mengabarkan kepada kita bahwa akan terjadi demikian dan demikian?’ Akibatnya, tukang sihir dan dukun itu pun dipercaya karena satu kalimat yang telah didengarnya dari langit

Menjelang diutusnya Rasulullah, maka langit dijaga dengan sangat ketat sehingga syaithan tak lagi kuasa mencuri berita dari langit. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻟَﻤَﺴْﻨَﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﻓَﻮَﺟَﺪْﻧَﺎﻫَﺎ ﻣُﻠِﺌَﺖْ ﺣَﺮَﺳًﺎ ﺷَﺪِﻳﺪًﺍ ﻭَﺷُﻬُﺒًﺎ ‏(8 ‏) ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﻘْﻌُﺪُﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﻘَﺎﻋِﺪَ ﻟِﻠﺴَّﻤْﻊِ ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﺴْﺘَﻤِﻊِ ﺍﻟْﺂﻥَ ﻳَﺠِﺪْ ﻟَﻪُ ﺷِﻬَﺎﺑًﺎ ﺭَﺻَﺪًﺍ ‏(9‏) ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻟَﺎ ﻧَﺪْﺭِﻱﺃَﺷَﺮٌّ ﺃُﺭِﻳﺪَ ﺑِﻤَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﻡْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺑِﻬِﻢْ ﺭَﺑُّﻬُﻢْ ﺭَﺷَﺪًﺍ

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (sepertiitu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (Al Jinn: 8-10) [2]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini, beliau menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala menceritakan tentang keadaan jin ketika Dia mengutus RasulNya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menurunkan kepadanya Al Qur’an. Di antara penjagaan kepada Al Qur’an adalah Allah memenuhi langit dengan malaikat penjaga yang ketat di semua penjuru dan kawasannya, dan semua syaithan diusir dari tempat-tempat pengintaiannya, yang sebelumnya mereka selalu menduduki pos-posnya di langit. Agar syaithan-syaithan itu tidak mencuri-curi dengar dari Al Qur’an, yang akibatnya mereka akan menyampaikannya kepada para dukun yang menjadi teman-teman mereka, sehingga perkara Al Qur’an menjadi samar dan campur-aduk dengan yang lainnya, serta tidak diketahui mana yang benar.

Ini merupakan kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada makhluk-Nya, juga merupakan rahmat dari-Nya kepada hamba- hamba-Nya, dan sebagai pemeliharaan-Nya terhadap kitab-Nya yang mulia. Karena itulah maka jin mengatakan, sebagaimana yang diceritakan oleh firman-Nya

ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻟَﻤَﺴْﻨَﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﻓَﻮَﺟَﺪْﻧَﺎﻫَﺎ ﻣُﻠِﺌَﺖْ ﺣَﺮَﺳًﺎ ﺷَﺪِﻳﺪًﺍ ﻭَﺷُﻬُﺒًﺎ ﻭَﺃَﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﻘْﻌُﺪُ ﻣِﻨْﻬَﺎﻣَﻘَﺎﻋِﺪَ ﻟِﻠﺴَّﻤْﻊِ ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﺴْﺘَﻤِﻊِ ﺍﻵﻥَ ﻳَﺠِﺪْ ﻟَﻪُ ﺷِﻬَﺎﺑًﺎ ﺭَﺻَﺪًﺍ

“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Al-Jin: 8-9)

Yaitu barang siapa di antara kami yang berani mencoba mencuri-curi dengar sekarang, niscaya ia akan menjumpai panah berapi yang mengintainya yang tidak akan Iuput dan tidak akan meleset darinya, bahkan pasti akan mengenai dan membinasakannya.

Ru’yah Shadiqah

Turunnya wahyu diawali dengan terjadinya ru’yah shadiqahb(mimpi yang benar). Beliau tidaklah melihat di dalam mimpinya melainkan mimpi itu datang seperti fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan, baru kemudian diturunkalah wahyu kepada beliau. [4]

Batu yang Menyampaikan Salam

Selain terhalangnya para syaithan untuk mencuri dengar kabar dari langit, maka di antara peristiwa istimewa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah batu yang memberi salam kepada beliau.

Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu , ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺄَﻋْﺮِﻑُ ﺣَﺠَﺮًﺍ ﺑِﻤَﻜَّﺔَ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﻋَﻠَﻲَّ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﺃُﺑْﻌَﺚَ ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺄَﻋْﺮِﻓُﻪُ ﺍﻟْﺂﻥَ »

Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Makkah memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi nabi. Sesungguhnya aku mengetahuinya sampai sekarang”[5]

Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Berkhalwatdalam Gua Hira

Ketika usia beliau mendekati empat puluh tahun beliau suka mengasingkan diri. Beliau membawa perbekalan ke sebuah gua. Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah dan berpikir tentang fenomena alam di sekitarnya. [6]

Istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menyebutkan kebiasaan Rasulullah sebelum beliau diangkat menjadi Nabi ini,

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺨْﻠُﻮ ﺑِﻐَﺎﺭِ ﺣِﺮَﺍﺀٍ ﻓَﻴَﺘَﺤَﻨَّﺚُ ﻓِﻴﻪِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyendiri di gua Hira. Beliau melakukan tahannuts di dalamnya.” (HR. Al Bukhari)

Insya Allah pembahasan tentang kebiasaan khalwat beliau akan kita bahas dengan lebih mendetail pada artikel berikutnya. Wallahu a’lam bisshawab

CATATAN KAKI:

[1]Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri, As Sirah An Nabawiyahbaina Al Ma’rifah wal Wajib fi Dhau’I Al Quran wa As Sunnah ,

(Qasim: Dar Ashda’il Mujtama’, 2017), hlm. 59.

[2] Ibid.

[3] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri et al., Al Misbah Al Munir fi

Tahdzib Tafsir Ibni Katsir , (Riyadh: Darussalam, 2013), hlm.1500.

[4]Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri, As Sirah An Nabawiyahbaina Al Ma’rifah wal Wajib fi Dhau’I Al Quran wa As Sunnah ,

(Qasim: Dar Ashda’il Mujtama’, 2017), hlm. 59.

[5] Ibid., hlm. 60.

[6] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum,(Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm84

Ustadz Wira Mandiri.Bachrun Al Bankawy