Antara Ustadz Hanan Attaki, Manhaj Salaf dalam Meluruskan Kesalahan, Menolak Kebenaran,Udzur Bin Jahl Kasih Sayang Ahlus Sunnah dan Hilangnya Ta’zhim (Pengagungan) Pada Allah, RasulNya, dan Para Sahabat
Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Jangan Menolak Kebenaran

2.Kesombongan Menghalangi Hidayah

3. Menolak Kebenaran Dengan Alasan Yang Tidak Benar

4. Makna Hadits Sombong

5. Beberapa Alasan Menolak Kebenaran –

6. Keutamaan Zikir Dengan Memuji,Mengagungkan dan mensucikan nama Allah

7.MEMETIK PELAJARAN DARI KISAHSEBATANG KAYU

8. Ada apa Dengan Cinta

9. Rambu Rambu Mengkritik

10.Tips Menerima Kritik Dan Saran

11. Kasih Sayang Manhaj Salaf(2)

12. Kasih Sayang Manhaj Salaf(3)

13. Kasih Sayang Manhaj Salaf(1)

Manhaj Salaf dalam Meluruskan Kesalahan(Abu Yahya Badrussalam, Lc)

Sikap Rasulullah Terhadap Kesalahan(Abu Thohir Jones Vendra, Lc)

Bukti Pengagungan Kepada Allah di Hatimu”Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Hakikat Kebahagian Sebenarnya Ust Anas Burhanuddin MA

Musuh Dalam Selimut Ust Muhammad Nuzul Dzikri Lc

Ust Syafiq Riza Basalamah Aku Ada Untuk Apa

” Mencintai Allah, Rasulullah, dan Kaum Mukminin ” Pembicara : Prof. Dr. Anis Thahir Jamal al Indunisyn(Guru Besar Ilmu Hadits Univ Islam Madinah, Pengajar di Masjid Nabawi)

https://radiomuslim.com/kajian/rekaman-kajian-syaikh-anis-thahir-mencintai-allah-rasulullah-dan-kaum-mukminin/

Kiat Dalam Mengagungkan Allah Ta’ala 01Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr

Kiat Dalam Mengagungkan Allah Ta’ala 02Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr

Kajian Tablis Iblis-Ust Badru Salam

Kajian Tablis Iblis-Ust Cecep Suherlan

Larangan Berpaling Dari Agama-Ust Dadai Hidayat

Islam adalah Agama Akhlaq-Abdurrazaq Abdul Muhsin al-’Ibbad Al-Badr

Saling Menasehati Dengan Kasih Sayang-Abdurrazaq Abdul Muhsin al-’Ibbad Al-Badr

Arti Persatuan dan Berpegang Teguh Kepada Agama Allah-Abdullah Zaen

Sesi 1: 

Sesi2:

Wajibnya Bertaubat-Abdurrazaq Abdul Muhsin al-’Ibbad Al-Badr

Aqidah Yang Benar (Syarah Ushul Al Iman)-Yusuf ’Abdurrahman Al-Qadhi

Menjaga Lisan-Fariq Qasim ’Anuz

Bagaimana Agar Bisa selamat Dari Fitnah Dan Syubhat-Ust Fariq Qasim ’Anuz

Syarah Hadits ‘…Katakanlah: Aku beriman, kemudian.istiqamahlah’-Abdurrazaq Abdul Muhsin al-’Ibbad Al-Badr

Syarah Hadits Halal, Haram Dan Syubhat-Abdurrazaq Abdul Muhsin al-’Ibbad Al-Badr

Makna Hadits” Barangsiapa yang Allah kehendaki.kebaikan maka Allah pahamkan tentang agama islam” Abdurrazaq Abdul Muhsin al-’Ibbad Al-Badr

Ebook Mengkafirkan Orang-Orang Yang Menyimpang

Ebook Kapan Seseorang Keluar Dari Ahlus Sunnah

Ebook Pembahasan Seputar Aqidah

Ebook Mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala Dan Hukum Orang Yang Mencela-Nya

Ebook Lorong Hati

Ebook Ringkasan Zad al Ma’ad

EbookPETUNJUK RASULULLAH ( Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ) Dalam Ibadah, Muamalah dan Akhlaknya

Ebook Akidah Setiap Muslim

Ebook DIINUL-HAQ (membahas tentang konsep-konsep.dalam Islam yang berkaitan dengan praktek peribadatan,.aqidah, serta muamalah)

Ebook Hak-Hak Yang Sesuai Dengan Fitrah dan Dikuatkan Oleh Syar’iat

Ebook SYARH PRINSIP-PRINSIP DASAR KEIMANAN

Ebook WALA’ DAN BARA ’ DALAM ISLAM

Ebook TUNTUNAN THAHARAH DAN SHALAT

EbookPRINSIP-PRINSIP AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

======

  • ➡Beda Pengkafiran Secara Umum dan Individu

Ketika para ulama menegaskan bahwa “menghina Allah dan Nabi adalah kekufuran dan pelakunya adalah murtad dari agama dengan kesepakatan ulama”. Jangan dipahami langsung menvonis individu pelakunya sebagai orang kafir murtad dari agama Islam.

Termasuk kaidah dalam takfir adalah membedakan antara takfir secara umum dan takfir secara khusus karena tidak semua orang yang mengatakan atau melakukan kafir pasti dia kafir disebabkan adanya beberapa penghalang atau tidak terpenuhinya beberapa syarat pada dirinya, seperti kalau dia baru masuk Islam atau tidak mengerti hukumnya dan lain sebagainya. (Lihat kitab Dhowabit Takfir oleh Dr. Ibrahim ar Ruhaili)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Pengkafiran itu memiliki syarat-syarat dan penghalang. Maka pengkafiran secara mutlak tidak mengharuskan pengkafiran secara individu orang kecuali apabila terpenuhi syarat dan hilang segala penghalangnya. Hal yang menunjukkan hal ini bahwa Imam Ahmad dan mayoritas para imam yang sering mengatakan secara umum bahwa barangsiapa yang mengatakan atau melakukan ini adalah kafir, namun mereka tidak mengkafirkan kebanyakan orang yang mengatakan ucapan tersebut”.(Majmu Fatawa 12/487).
Di antara dalil yang membuktikan kaidah ini adalah kisah Muadz bin Jabal tatkala ada beberapa gadis kecil yang menabuh rebana dan mengingat ayah-ayah mereka yang meninggal pada perang Badr, tiba-tiba ada seorang diantara mereka mengatakan: “Di tengah-tengah kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari”. Mendengar hal itu, maka Nabi bersabda: “Tinggalkanlah ini, katakanlah yang lain saja seperti tadi”. (HR. Bukhori 5147)
Perhatikanlah hadits ini, Nabi tidak mengkafirkan gadis tersebut karena kejahilannya, beliau hanya melarangnya saja, padahal kita tahu semua bahwa mengatakan akan adanya selain Allah yang mengetahui ilmu ghoib adalah suatu kekufuran. (Lihat Ahkamul Qur’an 2/259 oleh Ibnul Arabi).
Sungguh, ini kaidah yang sangat penting sekali, banyak orang tidak memahaminya, sehingga tak aneh mereka terjatuh dalam kesalahan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Barangsiapa yang tidak memperhatikan perbedaan antara mengkafirkan secara umum dan ta’yin (vonis perorangan) niscaya dia akan jatuh dalam banyak ketimpangan, dia menyangka bahwa ucapan salaf: “Barangsiapa yang mengatakan seperti ini kafir, atau barangsiapa yang melakukan ini maka kafir mencakup semua orang yang mengatakannya tanpa dia renungi terlebih dahulu, sebab mengkafirkan itu memiliki syarat-syarat dan penghalang pada hukum pereorangan, jadi mengkafirkan secara umum tidak mengharuskan mengkafirkan secara individu orang kecuali apabila terpenuhi persyaratannya dan hilang segala penghalangnya”. (Majmu Fatawa 12/489).



Barangsiapa yang memperhatikan siroh ulama salaf, niscaya dia akan mengetahui kebenaran kaidah ini dan mengetahui bahwa mereka di atas kebenaran.

Dan sungguh menakjubkanku ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Saya sering mengatakan kepada kaum Jahmiyyah dari Hululiyyah yang mengingkari ketinggian Allah di atas langit: “Saya kalau menyetujui kalian, maka saya kafir” karena saya mengetahui bahwa pendapat kalian ini adalah kekufuran, sedangkan kalian menurutku tidak kafir karena kalian adalah orang-orang bodoh”. (Ar-Radd ‘ala al-Bakri hlm. 47).

  • ➡Siapapun Yang Salah, Harus Diluruskan

Menyikapi komentar manusia di sosmed, maka gunakan kaidah “ambil baiknya, tinggalkan buruknya“. Tidak perlu pembenaran dan pembelaan atas kesalahan dg alasan “Dia banyak jasanya ini dan itu”, karena kesalahan tetaplah kesalahan yg harus diingatkan siapapun pelakunya walau dia ulama, ustadz, kyai, dengan ilmu dan adab. Agama ini adalah nasehat. Terimalah nasehat dan kebenaran dari siapapun yang menyampaikan kepadamu. Jangan engkau angkuh menerima nasehat karena itu termasuk kesombongan.

Catatan @abiubaidah

  • ➡Aqidah Imam Sufi Muhammad bin Khafif Asy-Syairaziy

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menukil dalam kitab beliau Al-Hamawiyyah aqidah Imam Sufi di zamannya Abu Abdillah Muhammad bin Khafif Asy-Syairaziy (wafat tahun 371 H yang beliau merupakan murid langsung dari Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy, Imam Ath-Thabariy dan lainnya para ulama) dalam kitab beliau “I’tiqadut-Tauhid bi itsbatil-Asma was-Shifat”.

Imam Ibnu Khafif jelaskan dalam kitab tsb bahwa para Sahabat tidak khilâf dalam Ushuluddin serta Asmâ dan Sifat Allah dan beliau jelaskan bahwa yang jadi pedoman dalam Bab Asmâ dan Sifat Allah adalah sebagaimana yang Allah firmankan dalam Kitab-Nya dan sebagaimana yang Nabi صلى الله عليه وسلم sebutkan dalam Sunah nya dan tidak boleh berpatokan kepada akal dalam rangka mencari kaifiyat nya.

Lalu beliau bahwa seluruh Sifat Allah tersebut ditetapkan di atas pondasi zhahir ayat :
ليس كمثله شيء
Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan-Nya…” (QS Asy-Syura:11).

✅Dan beliau katakan :
فنقول ونعتقد إن الله عز وجل له عرش، وهو على عرشه فوق سبع سماواته بكل أسمائه وصفاته، كما قال تعالى : (الرحمن على العرش استوى)

Maka kami katakan dan kami meyakini bahwasanya Allah memiliki Arsy dan Dia di atas Arsy-Nya di atas tujuh langit dengan seluruh Asmâ dan Sifat-Nya, sebagaimana yang Allah firmankan : “Ar-Rahman di atas Arsy beristiwa” (QS Thaha:5).

✅Dan beliau pun berkata :
ومما نعتقد أن الله ينزل كل ليلة إلى السماء الدنيا في ثلث الليل الآخر، فيبسط يده فيقول : “ألا هل من سائل…”

Dan antara yang kami yakini adalah bahwasanya Allah turun tiap ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir lalu membentangkan Tangan-Nya seraya berfirman : “Apakah ada hamba yang meminta…”

✅Dan beliau pun berkata :
وأن مما نعتقده ترك إطلاق (العشق) على الله تعالى…

Dan di antara yang kami yakini meninggalkan penisbatan “Al-‘Isyq” kepada Allah... Dan Syaikhul Islam jelaskan bahwasanya hal tsb tidak boleh karena isytiqaq nya dan karena tidak ada dalilnya dalam syari’at…

Demikianlah kedua imam bersepakat bahkan seluruh para ulama Ahlussunnah bahwasanya tidak boleh mensifati Allah dengan sesuatu yang tidak ada dalam dalil syar’iy.

فاريان غني هيرما

  • ➡Kemanakah hilangnya ta’zhim kepada Allah, para nabi dan rasulNya, dan para sahabat?

Sungguh tidak pantas bagi seorang muslim — terlebih lagi jika ia dikenal sebagai seorang da’i — untuk menyifati Allah dengan kata “online 24 jam”, “mak comblang”, “ngejapri Allah”, dan sederetan sifat-sifat yang tidak layak disematkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula tidak pantas untuk menggelari Nabi Musa ‘alaihis-salam sebagai “preman”, Nabi Dawud ‘alaihis-salam sebagai “vokalis” yang ketika beliau bertilawah kemudian disamakan dengan lagi “konser, single show Nabi Dawud”.

Apalagi sampai menyifati ibunda kita ummul-mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan sebutan “cewek gaul”. Kemudian membawakan perkataan tak berdalil bahwa “ciri cewek shalihah itu berat badannya harus di bawah 55 kg”.

Inilah perbuatan yang dapat merusak agama walaupun tidak da’i tersebut sadari. Ini bukan sekedar kesalahan diksi, tetapi diksi bisa salah karena rusaknya prinsip akidah tauhid asma’ wa shifat, yang berakibat pada hilangnya ta’zhim (pengagungan) pada Allah, dan kemudian beruntun pada hilangnya ta’zhim pada nabi dan rasulNya, serta pada para sahabat.

Dakwah adalah mengajak dan mengangkat manusia ke derajat yang lebih tinggi, yaitu agar mereka bisa mencontoh teladan Rasulullah dan para sahabatnya. Bukan dengan menurunkan derajat kita sehingga menjadi sama seperti orang yang didakwahi, yaitu masih sama-sama suka musik dan suka hedon. Boleh saja menyesuaikan bahasa dakwah kita dengan bahasa orang yang didakwahi, tetapi tentu selama tidak ada konsekuensi negatif atas pemilihan bahasa tersebut. Jika kita memilih kata yang kemudian mengakibatkan orang-orang kehilangan ta’zhim pada nabi dan rasulNya, pada para sahabat, terlebih lagi pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ketahuilah bahwa kita telah tergelincir pada kesalahan.

Semoga Allah senantiasa memberi kita dan mereka hidayah

@Andy Latif

➡Bukan alasan untuk menolak kritikan.

“Para da’i lulusan sekolah yang Anda kritik itu telah berjasa berdakwah di pedalaman…”

Kami ucapkan terima kasih dan semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan balasan yang banyak. Namun maaf, itu bukan alasan untuk menolak kritikan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:

ﻗﺪ ﺫﻫﺐ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻣﺒﺘﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﺍﻟﻰﺑﻼﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﺄﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻳﺪﻳﻪ ﺧﻠﻖ ﻛﺜﻴﺮ ﻭﺍﻧﺘﻔﻌﻮﺍ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺻﺎﺭﻭﺍ ﻣﺴﻠﻤﻴﻦﻣﺒﺘﺪﻋﻴﻦ ﻭﻫﻮ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﻛﻔﺎﺭﺍ
Banyak ahlul bid’ah kaum muslimin dari kalangan Syi’ah Rafidhah, Jahmiyyah, dan yang lainnya pergi ke negeri-negeri kafir, lalu banyak orang yang masuk Islam di tangan mereka dan mereka mengambil manfaat dengan hal itu, sehingga orang- orang tersebut menjadi orang-orang muslim pelaku bid’ah, dan.itu lebih baik daripada mereka berstatus orang kafir”.[Majmu’ Fatawa 13/96]

Kenyataan di atas tidak membuat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berhenti mengkritik firqah-firqah sesat.

Banyak yang keliru menyamakan antara aib dengan penyimpangan. Padahal keduanya beda jauh. Aib seorang muslim sifatnya pribadi, dan orang lain tidaklah dirugikan dengan aib itu secara umum. Contoh, seseorang dengan masa lalu sebagai preman, perampok, dll. Kalau dia sudah tidak melakukan itu lagi, ya aib itu tidak boleh dibuka kecuali ada mashlahat yang rajih (kuat) yang mengharuskan dibuka, dan karena sifatnya darurat, tentu harus sesuai porsinya. Misalnya dalam hal penilaian perawi hadits, mau tak mau yang lemah hafalannya itu harus disebutkan, walaupun sebenarnya itu aib pribadi.

Adapun penyimpangan, apalagi yang terdakwahkan, maka ini justru mafsadah atau kerusakannya lebih banyak ke orang lain, sehingga wajib dijelaskan kepada umat. Karena pentingnya perkara ini bahkan ghibah yang asalnya adalah dosa besar, menjadi dibolehkan karenanya.

ﺍﻷﺻﻞ ﺑﻘﺎﺀ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ

Hukum asal sesuatu adalah tetap pada keadaannya semula”
Kalau seseorang belum jelas apakah sudah bertaubat dari kekeliruan atau penyimpangannya, maka dianggap keadaannya masih seperti itu sampai sekarang. Itulah bedanya.

Sebenarnya tak terlalu mengherankan kalau Koh Felix terlihat tidak menganggap besar masalah adab terhadap sahabat Nabi, sebab panutannya sendiri tak beradab ke sahabat Mu’awiyah. Hizbut Tahrir berkata tentang sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu:
ﻛﺎﻥ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻳﺤﺘﺎﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ

Mu’awiyah melakukan tipu daya terhadap nash-nash syariat”



ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳَﺘﻘﻴّﺪ ﺑﺎﻹﺳﻼﻡ

Dia tidak mengikatkan diri pada Islam
ﺇﻥ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﺴﻴﺎﺳﻴﺔ ﺗﻘﻮﻡ ﻋﻠﻰ ﺃﺳﺎﺱ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ

Metode ijtihad Mu’awiyah dalam perkara politik, didasarkan atas asas cari untung.

Semua ini ada di kitab Nizhamul Hukmi fil Islam, kitab resmi mereka. Belum lagi celaan mantan syabab HT bernama Al Mis’ari yang menyebut Mu’awiyah sebagai perampas. Dan tak pula mengherankan kalau Koh Felix bisa berimajinasisejauh itu sampai menciptakan sosok manusia yang menganggap gurunya paling hebat, paling nyunnah, yang kalau shalat jamaah ngitung dulu jumlah jamaah yang berjenggot dan celanacingkrang, dst… Sampai ngitung kesalahan Al Fatihah saja dibahas, padahal sebagai yang disebut sebagai ustadz, mestinya dia tau kalau bacaan rusak akan mempengaruhi keabsahan shalat. Ya karena kapasitas akal dan ilmu beliau memang sebatas itu. Kalau ngga fallacy dan mengada-ada, ya ngga jadi kuat argumennya. Intelektualitasnya terjun bebas sampai level yang gak jauh beda dari Abu Janda.Sakne.

@Ristiyan Ragil Putradianto

  • ➡Inkonsisten, mencla-mencle itu menyebalkan mas

—————-

Sebenarnya, lebih parah mana sih olok-olok dan celaan antara ataki dan Bu Sukmawati ?

Antara ataki dengan Ust. Abdullah Taslim yang dikafirkan karena menyebutkan Syaikh pembela kesyirikan sebagai ulama ahlis Sunnah (situasi “disidang”) ?

Kok bisa ataki diberi udzur sedangkan Bu Suk, ust Abdullah Taslim (sebagaimana yang saya dengar, cmiiw) kelar sudah ? Katanya komitmen dengan fatwa para aimmah dakwah dalam masalah ini ?nOh iya, saya mendapatkan kutipan ini dengan copas di internet.(terjemahan bebas versi saya), mari kita simak

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺁﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ :” ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻬﺰﺃ ﺑﺎﻟﻠﻪ ، ﺃﻭ ﺑﻜﺘﺎﺑﻪ ، ﺃﻭ ﺑﺮﺳﻮﻟﻪ ، ﺃﻭ ﺑﺪﻳﻨﻪ : ﻛﻔﺮ ، ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ

ﺣﻘﻴﻘﺔ ﺍﻻﺳﺘﻬﺰﺍﺀ ، ﺇﺟﻤﺎﻋﺎً .” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺗﻴﺴﻴﺮ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺤﻤﻴﺪ ” ﺻـ617 .

Asy-Syaikh Sulaiman Aalu Syaikh berujar, “Barangsiapa yang mengolok-olok Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, agama-Nya maka ia telah kafir berdasarkan konsensus para ulama, meskipun ia tidak bermaksud untuk benar-benar mengolok-olok.”(Selesai kutipan dari kitab Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid hal. 167)

Wahai kaum, berlaku adillah ! Karena ia lebih dekat kepada ketakwaan.

@Abu Hanifah Jandriyadi Yasin

Sptny mereka intinya menyerang dakwah salafiah, kalau sesama 1 koalisi politik, kalau salah ya diberi udzur bahkan dibela dgn bijak. Apapun salahnya termasuk bab akidah, kompak dari mulai takfiri, haroki, bahkan sufi kuburi nyerang salafi .Tidak mau rujuk dari kesalahan adalah talbis Iblis bagi para ahli ilmu

  • ➡Tip Daya Iblis

Asy-Syekh Abdul Azis as-Sadhan hafizhahullah menuturkan:
من تلبيس إبليس على بعض الناس أنه عندما يتبين خطؤه في مسألة ما ويتصح له أن الصواب خلاف كلامه أو فعله فإنه يجد صعوبة بالغة في التراجع عن خطئه ذاك، بل يظن رجوعه منقصة في حقه.

Termasuk di antara tipu daya Iblis terhadap sebagian manusia adalah jika seseorang telah jelas kesalahannya dan telah nyata baginya bahwa kebenaran ada pada selain perkataan atau perbuatannya, ia sangat menjumpai kesulitan untuk rujuk dari kesalahannya, bahkan ia menganggap rujuknya ia merupakan kekurangannya. (Ma’alim fi Thariq al-Ishlah, Abdul Azis as-Sadhan: 15).



Telah di riwayatkan bahwa terjadi perdebatan antara Imam Malik dan Imam Abu Yusuf (teman dan murid Imam Abu Hanifah) tentang ukuran sho’, kemudian telah nampak bahwa kebenaran ada pada pendapat Imam malik, maka Imam Abu Yusuf berkata
رَجَعْتُ إلَى قَوْلِك يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ وَلَوْ رَأَى صَاحِبِي مَا رَأَيْت لَرَجَعَ كَمَا رَجَعْتُ

Aku telah rujuk (dari pendapatku) menuju pendapatmu wahai Abu Abdillah (Imam Malik), andai saja sekiranya temanku (guruku) Abu Hanifah melihat sebagaimana yang aku lihat, maka beliau akan rujuk sebagaimana akupun rujuk. (Al-Fatawa al-Kubra, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah: 1/223, cet. Dar Kutub al-Ilmiyyah)



Diriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu kemudian dijawab oleh beliau, setelah itu beliau menyadari kesalahan fatwanya, maka beliau mengejar orang tersebut akan tetapi beliau tidak menemukannya, maka beliau masuk pasar dan berkata: sesungguhnya Abu Hurairah pernah berfatwa dalam masalah ini dan itu, dan ia salah dalam fatwanya. (Al-Ma’alim: 15).

@fadlanfahamsyah