Faidah dan Nasehat Ulama Pada Daurah Syar’iyyah Batu



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

Audio MP3 dari RingkasanLanjutan Dauroh Syar’iyyah ke -19 Dalam Masalah Aqidah dan Manhaj. Bersama : Syaikh Prof Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar Ruhaily dan Syaikh Prof Dr. Sholih bin Abdul Aziz Sindy atau ini

Walimatul Ursy – Manten Dunia Akhirat – Ustadz Dr. Firanda Andirja MA Hafizhahullah

Celupan Akhirat – Ustadz Khanif Muslim Hafizhahullah

RAGAM MANUSIA PASCA RAMADHAN – Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA. Hafidzhahullah

Hak-Hak Suami Istri –Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafidzahullaahu ta’aala

Renungan Setelah Ramadhan – Ustadz Abu Salman Hafizhahullah

••

Kumpulan Ebook


Ebook (Akhlak) Nasehat Dari Hati Ke.Hati oleh Abdullah Haidir

Siapa Ingin Cahaya Yang Sempurna…?

Tekanan Jiwa (stres)

Cara Menyampaikan Kritik Di Antara Para Da`i

Hukum Nyanyian

Keutamaan Berdakwah Kepada Allah

Urgensi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Mengapa Kita Harus Berdakwah?

==

  • ➡NASEHAT ULAMA KEPADA SETIAP DA’I

Syaikh Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan nasehat:

Bersyukurlah kepada Allah dengan segala nikmat yang telah Allah berikan, Hendaknya kita senantiasa bertawadhu, kita telah mempelajari berbagai hal yang manfaat yang kebanyakan orang tidak mengetahui bahkann sebagian tholibil ilmu itupun tidak pernah terbersit untuk mempelajarinya.

Sesungguhnya manhaj salaf adalah manhaj mulia yang terpilih dari berbagai manhaj yang tersebar. Dengan mengikuti para salafus sholih kita terbimbing dengan generasi terbaik yang pernah ada di dunia.

Manhaj salaf masih asing dan yang mengikutinya masih sedikit, diganggu, dan bersabar diatasnya adalah bentuk pertolongan yang besar. Dan hendaknya kita mendoakan kebaikan kepada orang-orang sholih terdahulu yang pernah berjihad di dalam dakwah jauh lebih besar daripada apa yang kita lakukan sekarang

Menjadi keharusan kita untuk mempelajari agama ini dari sumber awalnya.

Setiap orang setelah Nabi ﷺ pasti ada kesalahan, namun hendaknya kita menghormati dan menghargai ulama-ulama ahlus Sunnah, mendoakan kebaikan kepada mereka.

Ketika ada yang salah hendaknya menghubunginya dengan cara yang hikmah dan menjelaskan sekiranya ada yang salah dari fatwanya bukan mengupas dan mengekspos di medsos. Sekiranya nasehat itu didengarkan dan bisa diperbaiki kesalahan ataupun kekurangan maka itu adalah kebaikan, dan sekiranya itu belum diterima maka semoga itu telah dianggap menjadi kebaikan kita kepada ulama, guru kita.

Akhir obat itu adalah kay (sundutan api) maka kita tidak menjelekkan guru kita di depan umum. Sekiranya guru kita salah maka kita doakan dan nasehati dengan cara yang hikmah, dan`lembah lembut.

Termasuk perkara kebaikan adalah membentuk grub komunikasi diantara para penuntut ilmu untuk bermusyawarah, membantu saudara yang membutuhkan dan apa saja yang diperlukan untuk mempermudah dakwah kebaikan, bahkan mengajak orang kafir kepada islam.

Dan yang paling baik dari dakwah tersebut adalah pentingnya tauhid, dahsyatnya akibat syirik, berbagai hukum syar’i dengan hikmah.

Bagi para dai tidak boleh lalai dari tugas dakwah tersebut, sebagaimana berdakwah kepada para pelaku bid’ah dengan Sunnah disertai lemah lembut lagi hikmah, menjelaskan bahwa memegang teguh Sunnah itu adalah kebaikan bagi negeri, negara, membawa keselamatan.

Semoga Allah memberikan kita hidayah, dimudahkan kita untuk membuka kebaikan dan menutup kejelekan.

Semoga bermanfaat

Zaki Rakhmawan Abu Kayyisa

TABURAN BINTANG DALAM LIQA’ MAFTUH SYAIKH SHALIH SINDI | DAUROH SYAR’IYYAH 19 | BATU, 2-7 JULI 2018

  • 1. Kebatilan akan sirna dengan penjelasan ilmu dari para Ahlussunnah.
  • 2. Musafir harus tetap menyempurnakan 4 rakaat jika shalat di belakang imam mukim meskipun imam tersebut ada di rakaat terakhir.
  • 3. Dua kata yang dilarang dalam dua perkara: “Bagaimana” dalam perkara ghaib dan “mengapa” dalam perkara takdir.
  • 4. Seorang Ahlussunnah adalah Ahlussunnah meskipun pada suatu masalah dia salah. Ahli bid’ah adalah ahli bid’ah meskipun pada sebagian masalah mereka benar.
  • 5. Tolonglah sesama da’i Ahlussunnah yang memiliki kekurangan dalam ilmunya (misalnya bahasa Arab), bukan dikucilkan, tidak dianggap apalagi disebarkan kekurangannya. Yang terpenting adalah dia dikenal berada di atas sunnah.
  • 6. Dakwah yang tidak dimulai, berada dan diakhiri dengan tauhid bukanlah dakwah yang berharga dan tidak akan dapat mencapai tujuannya.
  • 7. Tidak boleh seorang wanita tetap menjadi istri seorang dukun. Dia harus berpisah dari suaminya jika si suami tidak bertaubat.
  • 8. Tak seorang sahabat pun yang menta’wil ayat-ayat sifat Allah. Riwayat bahwa Ibnu Abbas menta’wil sifat Saaq adalah riwayat yang tidak shahih. Seandainya pun benar, maka Ibnu Abbas berbicara tentang ayatnya dan bukan sifatnya.
  • 9. Setiap bentuk ta’wil terhadap nama dan sifat Allah adalah penyimpangan yang tercela.
  • 10. Tidak boleh shalat di belakang orang yang jatuh dalam syirik besar.
  • 11. Sebagian ulama yang banyak terpengaruh dan membela pemikiran Asy’ariyyah mengakui adanya kitab Al-Ibanah.

(ditulis secara makna dan hanya inti jawaban | Ust. Muflih Safitra)

  • ➡Faidah Daurah Syar’iyyah Batu 1

Yang menjadi pokok dalam hal yang diniatkan haruslah ikhlas (tidak digabung dengan yang lainnya, maka… Tidak sah niat tasyrik (menggabungkan beberapa ibadah) dalam perkara yang dinukil ini (dari para ulama).

واستُثْنيتْ أشياء كالتحيّة… معْ غيرها تصحّ فيها النّيّة

Namun dikecualikan dalam hal ini (menggabungkan beberapa ibadah dengan 1 niat) beberapa ibadah seperti (shalat) tahiyyat dan juga yang lainnya maka sah niat di dalamnya (jika digabungkan).

Kedua bait ini membahas tentang tasyrik niat yakni menggabungkan 2 niat ibadah yang 1 bentuk dengan 1 perbuatan saja, apakah boleh atau tidak? Dalam hal ini ada perincian.

Tasyrik niat secara global adakalanya pada tujuan untuk siapa ibadah tsb, adakalanya pada amal yang dilakukan.

Jika seseorang melakukan tasyrik niat pada tujuan untuk siapa ibadah tsb, ia niat ibadah untuk Allah dan untuk selain Allah sejak awal ibadah maka ibadahnya tidak sah, seperti seorang jomblo yang menghafal Qur’an dengan niat kepada Allah dan niat memikat calon mertua bahkan si akhwat maka ibadahnya tsb tidak sah. Begitu pula jika niat awalnya ikhlas namun muncul niat untuk selain Allah dan terus menerus hingga akhir ibadah maka tidak sah. Sebaliknya jika niat tidak ikhlas nya muncul di tengah ibadah dan ia berusaha melawannya dan ibadah berakhir dalam keadaan ikhlas maka sah ibadahnya.

Tasyrik niat adakalanya dicampuri dengan keinginan dunia maka diperinci lagi :

✅1. Jika sesuatu duniawi tsb disebutkan dalam dalil syar’i maka tasyrik boleh untuk menggapai keinginan dunia yang disebutkan dalam dalil tsb seperti keutamaan silaturrahim yang dalam dalil bahwa faidahnya memanjangkan umur dan meluaskan rezeki maka boleh untuk memiliki keinginan duniawi tsb.

Qultu : Panjangnya umur memiliki beberapa penafsiran : Panjang secara hakiki yakni dalam catatan malaikat ditambah umurnya, panjang umur secara maknawi berupa harumnya nama orang tsb setelah meninggal, seperti harumnya nama para ulama, panjang umur dengan cara Allah berikan ia keturunan yang shalih yang masih jadi penambah amal shalih nya setelah ia meninggal, terdapat riwayat Imam Ibnu Abi Hatim dalam hal ini, Wallahu a’lam.

✅2. Adapun jika tercampur keinginan duniawi dan itu tidak diiming-imingi oleh dalil maka dilihat, jika motif utamanya karena dunia maka tidak sah ibadah tsb, disini maka cukup ‘berbahaya’ iming-iming ratib besar bagi Imam shalat Tarawih tempo hari, namun jika motif utamanya karena Allah dan diikuti motif lainnya maka berkurang pahalanya.

Tasyrik niat adakalanya pada niat amal yang dilakukan, jika meniatkan suatu ibadah wajib dan sunah maka yang berlaku adalah ibadah wajib saja, seperti orang yang menghajikan orang lain sedangkan ia belum haji maka haji tsb berlaku bagi ia sendiri karena ia masih memiliki kewajiban haji. Jika tasyrik niat antara 2 ibadah yang masih 1 hukum namun berbeda tingkat penekanan (muakkadah dan ghairu muakkadah atau yang khilâf antara sunah dan wajibnya) maka sah kedua ibadah tsb, seperti orang yang mandi pada Jum’at pagi dengan niat mandi janabah dan mandi Jum’at atau orang yang shalat tahiyyat masjid dengan sunah rawatib maka sah kedua ibadah yang diniatkan tsb.

Sebenarnya materi Aqidah yang diampu Syaikh Shalih As-Sindiy juga sarat faidah namun kiranya ana tidak akan banyak share faidah beliau karena :

1. Materi merupakan bab munaqasyah dan rudud yang kiranya hanya bisa dipahami oleh yang sudah khatam level Aqidah Wasithiyyah dan Tadmuriyyah

2. Dipenuhi ibarat manthiq dari nukilan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maupun ahli manthiq, sehingga faidah beliau hanya bisa dinikmati oleh kalangan khusu

  • ➡Faidah Daurah Syar’iyyah Batu 2

Syaikh Shalih As-Sindiy jelaskan mazhab Ahlussunnah dalam sikap terhadap akal dan naql (dalil Qur’an dan Sunnah) yang terangkum dalam poin-poin berikut :

Akal memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan sangat menganjurkan untuk menggunakan akal, oleh karena itu banyak dalil mengajak kepada tadabbur dan berpikir, sebagaimana dalam ayat:

أفلا يتدبّرُون القرآن أَنْ عَلَى قُلُوْبٍ أقْفَالُهَا؟

Mengapa mereka tidak mau mentadabburi Qur’an, apakah di hati mereka sudah ada gemboknya” (QS Muhammad:24),bahkan Imam Asy-Syawkâniy menegaskan bahwa ayat ini dan juga yang semakna dalam surat An-Nisa menunjukkan wajibnya tadabbur.

Dan dalam hukum hudud, barangsiapa yang memukul seseorang hingga hilang akal dan gila maka wajib bayar diyat sempurna seperti diyat membunuh tidak sengaja.

Tidak mungkin terjadi kontradiksi antara akal dengan naql, dari kaidah ini bercabang menjadi poin-poin :

Mustahil terjadi kontradiksi antara akal dengan naql karena yang menurunkan naql adalah Zat Yang menciptakan akal.

➡ Jika ada dugaan kontradiksi antara akal dengan naql maka wajib dahulukan naql.

➡ Tiap kali ada dugaan kontradiksi antara akal dengan naql maka yang terjadi adalah salah satu dari 3 kemungkinan :

  1. A. Naql yang tidak shahih (seperti hadits palsu)
  2. B. Pemahaman yang tidak benar terhadap naql
  3. C. Akal yang tidak sehat (yakni terkena syubhat).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Kedudukan akal dengan naql seperti kedudukan orang awam dengan mufti.

  • ➡Faidah Daurah Syar’iyyah Batu 3

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily حفظه الله ketika menjelaskan kaidah :

العَادَةُ مُحَكّمَةٌ

Adat kebiasaan bisa menjadi pemutus hukum”, namun kaidah ini memiliki syarat-syarat dan pengecualian, di antara pengecualian adalah :

ما يُوجد تَصْرِيْحٌ

Selama tidak ada penegasan (yang berbeda dari salah satu orang yang melakukan akad).

Kemudian Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily membuat permisalan, seperti cukur rambut, misalnya ongkos biasa cukur rambut 10 rb, lalu pergilah sang lelaki ke tukang cukur namun tukang cukur bilang :

Ongkos cukur saya 20 rb karena saya mahir dalam cukur rambut dan pernah cukur Fulan dan ‘Allan, beberapa artis terkenal”, si pendatang mau cukur bilang : “OK“… Setelah cukur lalu ia bayar 10 rb, lalu tukang cukur bilang : “Ongkos saya 20 rb”.

Lalu yang dicukur jawab :

العادة محكّمة

Adat kebiasaan menjadi pemutus hukum” biasanya cukur 10 rb.

Kemudian sang tukang cukur yang ternyata pernah belajar fiqh menjawab :

أنْتَ نِصْفُ فقِيه، العادة محكّمة ما لمْ يُوجد تَصْرِيْحٌ

“Ente faqih setengah-setengah, adat kebiasaan menjadi pemutus hukum selama tidak ada penegasan (yang berbeda)”.

Maka تصريح = penegasan dari orang yang melakukan akad lebih didahulukan daripada adat kebiasaan yang berlaku

Kemudian Syaikh Sulaiman mewasiatkan agar sungguh-sungguh belajar fiqh dan jangan jadi faqih setengah-setengah karena yang model setengah-setengah seperti ini lebih merusak agama daripada dokter setengah-setengah merusak badan.

Qultu : pernyataan demikian dimaktubkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Hamawiyyah.

  • ➡FAedah Daurah Syar’iyyah Batu 5

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily ketika menjelaskan kaidah pokok dalam Qawa’id Fiqhiyyah :

اليقين لَا يَزُوْلُ بِالشّكّ

Keyakinan tidak bisa dikalahkan dengan keraguan”

Keraguan yang menimpa seorang muslim ada 3 macam :

1. Keraguan yang muncul pada sesuatu yang hukum asalnya haram, seperti seorang jomblo yang menikah dengan diwakilkan dan belum pernah melihat wajah calon istrinya kemudian masuk ke rumah dan didapati wanita yang tidak ia kenal tanpa ada saksi maupun bukti bahwa itu adalah wanita yang telah ia nikahi maka tidak boleh ia ‘sikat’ hingga yakin bahwa itu adalah istrinya, karena hukum asal kemaluan adalah haram hingga tercapai akad yang menghalalkan kemaluan tsb.

Dan ini termasuk dalam kaidah yang disebutkan oleh Al-‘Allamah Abu Bakar Al-Ahdal :

الشّكُّ أَضْرُبٌ ثلاثةٌ جَرَى# شكٌّ عَلَى أَصْلِ مُحَرّمٍ طَرَا

Keraguan yang terjadi ada tiga macam # keraguan yang terjadi pada (sesuatu yang hukum) asalnya haram

✅2. Keraguan yang muncul pada sesuatu yang hukum asalnya adalah mubah, seperti ketika bertamu kepada rumah seorang muslim kemudian dihidangkan daging maka boleh kita langsung memakannya tanpa perlu menanyakan apakah disembelih dengan cara syar’iy atau tidak karena hukum asal sembelihan muslim adalah halal.

Dan ini disebutkan oleh Al-‘Allamah Al-Ahdal dalam manzhumah nya :

وَمَا عَلَى أصْلٍ مُبَاحٍ يَطرَا

Dan (keraguan) yang muncul pada sesuatu (yang hukum asalnya) mubah”

(Lanjut ke hal..2)