10 Pembahasan Dasar Tentang Hadist & Ahli Hadist (Bag.2)



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1. Sejarah Penulisan Hadits (1)

2. Sejarah Penulisan Hadits (2)

3.Pentadwinan (Pengumpulan/Pembukuan) As-Sunnah |

4. Keutamaan Menghafal dan Menyampaikan Hadits Nabi

5.SeBAB MUNCULNYA HADITS PALSU

6.Kaum Syiah, Golongan Pemalsu Hadits Terdepan | 

7.Penjagaan Dan Pembelaan Para Ulama Ahli Hadits

12 Audio mp3 Kajian Kitab Musthalah al-Hadits-Ust Hasan Al Jaizy

Audio Mp3 Kajian sanad dan matan SHAHIH AL-BUKHARY bersama Hasan al-Jaizy

Ustadz Abdurrahman Al Atsary-Belajar Ringkas Ilmu Mustholah Hadits 1

83 Audio mp3 Kajian Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Syarah Hadist Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu

.”Bagaimana Mengetahui Hadits Palsu” Oleh Ustadz Abu Yahya Badrussalam Lc

Badrusalam · Ilmu Musthalah Hadist

Abdullah Taslim · Mustholah Hadits (Kajian Kitab Nukhbatul Fikr)

Kumpulan Ebook 

1. Al-Majmuu’ah Al-Hadiitsiyyah (1)Kitab Takhrij Hadits (1 s/d 180), berbahasa Arab.

2. Al-Majmuu’ah Al-Hadiitsiyyah (2)Kitab Takhrij Hadits (181 s/d 368), berbahasa Arab.

3. Catatan Atas Kitab Al-Muuqizhah, karya Imam Adz-Dzahabi Buku Tentang Mushthalah Hadits

4. Matan Nukhbatul Fikar, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Kitab Tentang Mushthalah Hadits

5. Syarah Nukhbatul Fikar(B. Indonesia)

6. Hafalan Hadits Untuk Anak:

7.Muslim Kecil Belajar Hadist

8.Menghafal dan Menulis Hadits Arbain

9. Biografi Ulama Ahli Hadist

10.Penjelasan 50 Hadits Inti Ajaran Islam Terjemah Kitab Fat-hul Qawiyyil Matin fiSyarhil Arba’in wa Tatimmatul Khamsin -Syaikh ‘Abdul-Muhsin bin HamdAl-’Abbad Al-Badr

11.Pengantar Sejarah Tadwin.(Pengumpulan).Hadist

===

  • ➡6..PENULISAN HADITS

[Diringkas dari Kitab “Al-Anwaar Al-Kaasyifah” (hlm. 38-58), karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi (wafat th. 1386 H) -rahimahullaah-]

✅[1]- Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah memerintahkan untuk menulis hadits, beliau bersabda kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash -radhiyallaahu ‘anhumaa-:

اُكْـــتُبْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا يَـخْرُجُ مِنْهُ إِلَّا حَــقٌّ

Tulislah! Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (mulutku) kecuali kebenaran.” [HR. Abu Dawud (no. 3646), dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

✅Dan Abu Hurairah berkata: “Tidak ada shahabat Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang lebih banyak haditsnya daripada aku, kecuali apa yang ada pada ‘Abdullah bin ‘Amr; karena dia menulis sedangkan aku tidak menulis. [HR. Al-Bukhari (no. 113)]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada para Shahabatnya ketika Abu Syah minta dituliskan khuthbah beliau pada Fat-hu Makkah:

اُكْــتُــبُــوْا لِأَبِـيْ شَــاهٍ

Tuliskanlah untuk Abu Syah!” [HR. Al-Bukhari (no. 2434) & Muslim (no. 1355)]

Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan adanya penulisan hadits pada zaman Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

✅[2]- Akan tetapi perintah untuk menulis hadits tidaklah menyeluruh, dikarenakan: orang-orang Arab ketika itu adalah Ummiyy (tidak bisa baca tulis), dan alat-alat tulis pun ketika itu masih jarang ditemukan, terbukti ketika mereka mengumpulkan Al-Qur’an; maka mereka menulisnya pada apa-apa yang mudah bagi mereka. Zaid bin Tsabit berkata -ketika diperintahkan oleh Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an-: “Maka saya mencari-cari Al-Qur’an untuk dikumpulkan, (maka ada yang ditulis) pada pelepah kurma, batu yang tipis, dan ada juga yang dihafal.” [HR. Al-Bukhari (no. 4989)]

Disamping itu: para Shahabat memiliki kesibukkan untuk urusan keduniaan (mencari nafkah), dan lainnya, sehingga kalau diharuskan untuk menulis hadits pada zaman itu; maka akan sangat menyulitkan. Karena itu berarti harus menulis semua perkataan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, perbuatan-perbuatan beliau, dan juga keadaan-keadaan beliau, serta apa yang dikatakan atau dilakukan orang di hadapan beliau; kemudian bagaiamana beliau menyikapinya.

Dan maksud syar’i dari hadits adalah: maknanya, berbeda dari Al-Qur’an yang maksud syar’i-nya adalah: lafazh dan maknanya. Sehingga, ketika itu yang ditulis adalah: ayat-ayat Al-Qur’an yang turun, sedikit demi sedikit -dengan alat tulis seadanya-.

✅[3]- Adapun larangan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dari menulis hadits, yakni sabda beliau:

لَا تَــكْــتُــبُوْا عَــنِّـيْ، وَمـَنْ كَــتَـبَ عَــنِّـيْ غَـيْـرَ الْــقُــرْآنِ فَـلْـيَـمْـحُـهُ

Janganlah kalian menulis (hadits) dariku, dan barangsiapa yang (terlanjur) menulis (hadits) dariku; maka hendaknya dia menghapusnya!” [HR. Muslim (no. 3004)]

Maka hal ini dikarenakan para Shahabat yang menulis Al-Qur’an; maka mereka menulisnya pada potongan-potongan (pelepah kurma, atau batu tipis, dan lainnya). Sehingga terkumpullah pada masing-masing Shahabat yang menulis tersebut: satu atau dua ayat atau lebih pada masing-masing potongan tersebut, dan memang inilah yang mampu mereka lakukan. Maka umumnya kalau mereka menulis hadits; niscaya mereka akan menulisnya pada potongan tersebut, sehingga dikhawatirkan sebagian mereka mencampur antara tulisan ayat dengan tulisan hadits. Oleh karena itulah: mereka dilarang dari menulis hadits.

Akan tetapi telah disebutkan pada point pertama bahwa Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk menulis hadits, yakni: ketika tidak ada kekhawatiran tercampur dengan ayat.

✅[4]- Dan Awalnya sebagian Salaf tidak mau menulis hadits, karena dikhawatirkan mereka akan sibuk dengan hadits dan meninggalkan Al-Qur’an. Dan yang sudah terlanjur menulis; maka mereka hapus. Akan tetapi sebagian mereka kemudian menyesalinya; karena ketika tidak ada kekhawatiran akan meninggalkan Al-Qur’an: maka tulisan hadits sangatlah dibutuhkan.

Urwah bin Zubair bin ‘Awwam (seorang tabi’in besar, wafat th. 94 H) -rahimahullaah- berkata: “Dulunya kami (para Salaf) berkata: ‘Kita tidak akan menjadikan (menulis) kitab bersama Kitabullah’. Maka aku pun menghapus kitab-kitabku yang ada padaku. Padahal (sekarang) Kitabullah telah tetap perkaranya.” [“Tahdziibut Tahdziib” (III/93- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah)]



✅Yakni: Perkara Al-Qur’an telah tetap, dan telah diketahui tentang keistimewaannya. Telah tetap dalam pikiran manusia bahwa Al-Qur’an adalah pokok, dan As-Sunnah sebagai penjelas baginya. Sehingga telah hilang apa yang dahulunya dikhawatirkan berupa: dengan adanya kitab hadits; maka akan menjadikan mereka sibuk dengannya sampai meninggalkan Al-Qur’an.

Dan kebutuhan untuk menulis hadits semakin besar ketika jumlah Shahabat Nabi mulai sedikit (banyak yang sudah wafat pada zaman Tabi’in), sehingga umat Islam kemudian sepakat atas bolehnya menulis hadits.

  • ➡7. MENGHAFAL LAFAZH ADALAH KEUTAMAAN & MENGHAFAL MAKNA ADALAH KEWAJIBAN

✅[1]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نَضَّـرَ اللهُ امْــرَأً سَـمِـعَ مِــنَّا شَــيْــئًا، فَــبَـلَّــغَـهُ كَــمَا سَـمِـعَ، فَــرُبَّ مُــبَــلَّــغٍ أَوْعَـى مِـنْ سَـامِـعٍ

Semoga Allah membaguskan wajah seorang yang mendengar sesuatu (hadits) dari kami, kemudian dia sampaikan kepada orang lain SEBAGAIMANA DIA DENGARKAN. Sungguh, terkadang orang yang disampaikan hadits kepadanya: lebih menampung (hafal & faham) dari yang mendengar langsung.”

[HR. At-Tirmidzi (no. 2657), dari ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu-. At-Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”]

Maka hadits ini menunjukkan atas: keutamaan orang yang menyampaikan hadits dengan lafazhnya (persis sama), dimana ketika mendengarnya; dia menghafalnya dengan sempurna.

(Lanjut ke halman 2)

Iklan