Antara Ust HA, Allah Maha Keren ,Mujasimmah, Mengikuti Semua Pemahaman, Manhaj Salaf, dan Diksi Gaul

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Syi’ah = Mujassimah

2. Al-Qaadliy Abu Ya’laa Bukan Seorang Mujassim !!

3. ‘Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dalamSifat Allah ta’ala

4. Nama-Nama Allah yang Indah Beserta Dalil-Dalilnya

5. Kaidah Penetapan Nama dan Sifat Allah

6. Siapa Abdul Qadir Al-Jailani

•••

Bro, Adab…
Yuk Belajar Adab

Judul Kitab : Kitaabul Adab

Penulis : Fuad ‘Abdul Aziiz Asy Syalhuub

Penjelasan oleh Al Ustadz Aris Munandar hafidzahullah

Download kitab :

Klik untuk mengakses SDL1818.pdf

Download rekaman kajian :

https://drive.google.com/drive/folders/0B5bIC9ycJvEvYVJQREhIbFN6TWc?tid=0B5bIC9ycJvEvYTFmUVpvcWNwWUE

Semoga bermanfaat.

Kemuliaan Nama dan Sifat Allah-Ust Dzulqarnain

Kaidah Penetapan Nama dan sifat Allah, Makna Tawil, Muhkam, Mutasyabbih-Ust Dzulqarnain

Kajian Lengkap Lumatul Itiqad

Ke 19 – Nama dan Sifat Allah Bukan Makhluk(Aqidah Imam Ahlul Hadits)

Ust Mubarak Bamualim · Penghalang Hidayah

Ust Ali Musri Semjan Putra· Fitnah Pada Generasi Muda

Ust Ali Musri · Samakah Antara Orang Alim dengan Orang Jahil

Umat Islam Dikepung dari Segala Penjuru-Ust Ali MusriBag1:

Bag2:

Metode Berdakwah-Ust Ali Musri

Ust Ali Musri · Jadilah Muslim yang Berilmu

Telah Datang Zamannya Bag2-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.m4a

Tujuan dan Cara Berdakwah yang Benar-Ust Lalu Ahmad Yani.m4a

Telah Datang Zamannya Bag1-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.m4a

Mulia Manhaj Salaf-Muflih Safitra.m4a

syarat-syarat dalam berdakwah-Lalu Ahmad Yani.m4a

penjelasan 3 landasan utama Muflih Safitra

Bantahan Kelompok Musyabbihah, Mujasimmah, Muaththilab-Ust Dzulqarnain 

.

Ebook

1. Meluruskan Kekeliruan Imam

2.Kemahasempurnaan Nama dan Sifat Allah

3 .Tawassul Dengan Nama-nama dan Sifat-sifatAllah Ta’ala

4. Kaidah Memahami Sifat Allah

5. Memahami Tauhid Asma’was Sifat

6. Penyimpangan dalamTauhid Asma’ was Sifat 

7.Kaidah-kaidah Utama tentang Asma` dan Sifat Allah

8. Syarah Lum’atul I’tiqad

Nama eBook: Syarah Lum’atul I’tiqad

Penyusun: Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Pensyarah: Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ

==

  • SYIAR AHLUSSUNNAH ADALAH MENGIKUTI DALIL

_Di antara ciri khas Ahlussunnah wal-Jama‘ah adalah mengagungkan dalil. Mereka berputar mengikuti dalil sekalipun harus dengan meninggalkan ucapan manusia. Al-Imam Ibnu Qayyim alJauziyyah berkata, “Ahlussunnah meninggalkan ucapan manusia karena dalil. Adapun ahli bid‘ah meninggalkan dalil karena ucapan manusia.” Ash-Shawa‘iqul-Mursalah (4:1603)._

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman al-Mu’allimi berkata, “Orang yang mengerti agama tidak menaati dalam agama kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka menerima ucapan para ulama sebagai penyampai firman Allah dan (sabda) Rasul-Nya. Oleh karena itu, me reka tidak menaati seorang pun dari ulama tatkala jelas bagi me reka bahwa pendapatnya menyelisihi al-Qur’an dan Rasul-Nya. Dan jika mereka telah menerima ucapan seorang ulama kemudian jelas baginya bahwa pendapat tersebut menyelisihi al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya maka mereka meninggalkan pendapat tersebut. Siapa pun di kalangan kaum Muslimin yang tidak mengikuti prinsip ini maka dia menyelisihi syari‘at dan tidak dianggap.” Raf‘ul-Isytibah ‘An Ma‘na ‘Ibadah wal-Ilah (2:835), cet. Dar ‘Alamil-Fawa’id.

_Maka agungkanlah kebenaran dalam hatimu, sibukkanlah dirimu belajar bukan banyak komentar, sibuklah dengan ilmu agar engkau bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Apabila engkau mendapati kebenaran dalam kritikan ini maka terimalah dengan senang hati tanpa melirik siapa yang mengucapkannya, perhatikan apa yang dia ucapkan, bukan orangnya. Sesungguhnya Allah telah Mencela orang yang menolak kebenaran hanya karena datang dari orang yang dibencinya dan mau menerima kebenaran kalau datang dari orang yang dicintainya karena itu adalah perangai umat yang tercela. Sebagian shahabat pernah mengatakan, ‘Terimalah kebenaran walaupun datangnya dari orang yang kamu benci dan tolaklah kebathilan sekalipun datangnya dari orang kamu cintai.’ Sebagaimana apabila kamu mendapati kesalahan di dalamnya, maka sesungguhnya kami telah berusaha sekuat tenaga, karena hanya Allah-lah yang Mahasempurna.” Madarijus-Salikin Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (3:545)._

_Kami berdo‘a kepada Allah agar Menjadikan tulisan ini sebagai amal yang ikhlas demi mengharapkan wajah Allah sebagai bentuk penunaian nasihat dan amar makruf nahi mungkar, karena di antara adab penting dalam mengkritik adalah “Hendaknya pertama kali yang harus ditanamkan pada diri seorang pengkritik adalah meniatkan bantahan dan kritikannya tersebut dalam rangka taqarrub kepada Allah .dan mencari ridha-Nya untuk menegakkan pilar amal makruf nahi mungkar; berusaha sekuat tenaganya untuk menguak kebathilan dan menampakkan kebenaran; dia tidak mengharapkan popularitas, kedudukan, riya’, kemenangan, dan dunia; dia juga sangat takut pedihnya siksaan Allah dan tidak bertujuan mengalahkan musuh atau gembira akan kemenangannya.” Lihat al-Kafiyah Fil-Jadl karya al-Juwaini (hlm. 529)!_

_Sebagaimana tak lupa kami berdo‘a kepada Allah agar Membimbing Ustadz Hanan Attaki kepada kebaikan dan menjadikan beliau termasuk para da‘i yang menyebarkan alQur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf shalih, serta melapangkan hati beliau dan para jama‘ah beliau untuk mengikuti al-Haq. Amin ya Rabbal‘alamin._

  • ➡AGAR PERKATAAN KITA TIDAK SALING BERTENTANGAN…

✅[1]- Hamba akan berat untuk mengingat SEMUA hal:

(1)- yang telah ia katakan,

(2)- atau yang telah ia lakukan,

(3)- atau bahkan yang telah ia yakini.

Sehingga hasilnya: sering muncul kontradiksi: antara apa yang ia katakan hari ini, berbeda dengan apa yang ia tetapkan pada tahun dulu, bulan kemarin, atau bahkan pekan yang lalu. Dan ini hal yang tercela menurut Salaf, sebagaimana telah diisyaratkan oleh Shahabat yang mulia, pemilik rahasia Nabi: Hudzaifah bin Al-Yaman -radhiyallaahu ‘anhumaa-, dalam perkataannya:

إنَّ الضَّلَالَةَ حَقَّ الضَّلَالَةِ: أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ، وتُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ، وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فِي الدِّيْنِ؛ فَإِنَّ دِيْنَ اللهِ وَاحِدٌ

Sungguh kesesatan yang sebenar-benarnya adalah: engkau menganggap ma’ruf kepada sesuatu yang sebelumnya engkau anggap mungkar, atau engkau menganggap mungkar kepada sesuatu yang sebelumnya engkau anggap ma’ruf. Janganlah berubah-ubah dalam agama! Karena agama Allah itu satu.”

[“Al-Ibaanah Al-Kubra’ (I/190), karya Ibnu Baththah (wafat th. 387 H)]

✅[2]- Kontradiksi itu; yakni: saling bertentangan antara perkataan sekarang dengan ketetapan yang dahulu: hal itu akan bisa dihindari JIKA kita berpegang kepada prinsip-prinsip syar’i; yakni: apa yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan mengikuti Manhaj Salaf. Karena yang datang dari Allah; maka tidak akan ada pertentangan di dalamnya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{أَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا}

Maka tidakkah mereka mentadabburi (menghayati) Al Qur’an? Sekiranya (Al Qur’an) itu bukan dari Allah; pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82)

Maka, perkataan-perkataan yang saling bertentangan: menunjukkan “bahwa itu bukan dari Allah. Karena apa yang dibawa oleh Rasul: adalah serasi dan sepakat, serta saling membenarkan sebagiannya dengan sebagian lainnya, dan saling sesuai antara satu dengan yang lainnya. Dan ini menunjukkan bahwa itulah kebenaran yang hakiki.”

[Perkataan Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- dalam “Ash-Shawaa-‘iq al-Mursalah” (III/1158)]

✅[3]- Sehingga, ketika seseorang berpegang kepada “al-Ushuul asy-Syar’iyyah” (prinsip-prinsip syar’i) dan “at-Ta’shiilaat al-‘Ilmiyyah” (pondasi-pondasi ‘ilmiyah): maka akan muncul keserasian dan kesatuan dalam perkataan dan perbuatannya, bahkan juga keyakinannya.

Dan bahkan: jika masing-masing orang berpegang kepada prinsip dan pondasi tersebut; maka akan muncul persatuan dan menghilangkan perpecahan.

“Karena saya meyakini bahwa untuk keluar dari berbagai kesempitan (karena perselisihan) ini: JIKA kita berpegang kepada “al-Qawaa’id asy-Syar’iyyah” (kaidah-kaidah syar’i ) yang sampai kepada kita dalam Al-Kitab dan As-Sunnah serta Manhaj Salafush Shalih, dan kita mengikuti “al-‘Ushuul al-‘Ilmiyyah” yang sampai kepada kita melalui jalan para ulama dan para imam; kita ikuti secara: ilmu dan kesabaran, serta secara: perkataan dan perbuatan, disertai keikhlasan kepada Allah dan kejujuran jiwa: NISCAYA akan tercerahkan mendung perpecahan, dan hilang ekor (akibat) dari ujian, sehingga jadilah kita seperti yang Allah inginkan:..

{…رُحَـمَاءُ بَيْنَهُمْ…}

“…saling berkasih sayang sesama mereka…” (QS. Al-Fath: 29)

Dan seperti yang diridhai oleh Nabi kita -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

((مَثَلُ الْمُؤْمِنِ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا))

Permisalan seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Agar hal itu semua menjadi jalan untuk: keselamatan di masa sekarang dan kebaikan di masa yang akan datang.”

[Perkataan Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah- dalam “Manhaj as-Salaf ash-Shaalih…” (hlm. 68 -cet. II)]

-Ahmad Hendrix-

•••

  • ➡“nanti dilike sama Allah”


kalau Anda mendengar kata-kata ini, besar kemungkinan Anda akan berpikiran “ngelike” layaknya di FB bukan? Tidak mungkin selain itu karena kata “ngelike” dalam persepsi kita hanya terkait dengan FB dalam bahasa yg ma’ruf di masyarakat. ketika Anda mulai berpikir spt itu, maka Anda bisa jadi telah melangkahkan kaki Anda ke jalannya orang-orang MUSYABIHAH,

mereka yg menyerupakan Allah dengan makhluk. mungkin bisa jadi semakin jauh Anda melangkah ke jalan itu, Anda akan bertemu jalan akhirnya atau malah sejalan akhirnya dengan orang-orang kafir yang membuat patung-patung tuhan mereka.

Ketika Anda membaca “Allah nge-read”, “Allah dijapri”, “Allah baper” dan seterusnya…tidakkah terbetik di hati Anda bahwa terbayang Allah sedang berbuat layaknya manusia?

Nah itu adalah pintu pertama dari para pemuja berhala…mereka mem-bagaimana-kan Allah kemudian menyerupakan Allah dengan makhlukNya… di sisi lain, ketika Anda mendengar “Allah istawa di atas Arsy”, sekonyong-konyong Anda sebut orang yang menyakini itu sebagai mujassimah (penyerupanAllah dengan makhlukNya)....

  • ➡Tahukah dosa besar yg terbesar?

Itu adalah “berkata-kata atas Allah tanpa ilmu” kurangkah ini untuk membuatmu berpikir?

ﻗُﻞۡ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺣَﺮَّﻡَ ﺭَﺑِّﻲَ ﭐﻟۡﻔَﻮَٰﺣِﺶَ ﻣَﺎ ﻇَﻬَﺮَ ﻣِﻨۡﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻄَﻦَ ﻭَﭐﻟۡﺈِﺛۡﻢَ ﻭَﭐﻟۡﺒَﻐۡﻲَ ﺑِﻐَﻴۡﺮِ ﭐﻟۡﺤَﻖِّﻭَﺃَﻥ ﺗُﺸۡﺮِﻛُﻮﺍْ ﺑِﭑﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﻢۡ ﻳُﻨَﺰِّﻝۡ ﺑِﻪِۦ ﺳُﻠۡﻄَٰﻨٗﺎ ﻭَﺃَﻥ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍْ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﺗَﻌۡﻠَﻤُﻮﻥَ ٣٣

Katakanlah (wahai Muhammad), sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan perbuatan keji yang yang tampak ataupun tidak, (juga mengharamkan) dosa, berbuat zalim tanpa sebab yang haq, mensekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalil dari Allah dan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-A’raf: 33 ‏)

@Andy Bangkit Setiawan

  • ➡Penyebutan Nama dan Sifat Allah

Sebagaimana yang telah kita ketahui dikitab-kitab aqidah para ulama, bahwa penyebutan tentang nama dan sifat Allah hanya terbatas pada apa yang telah disebutkan di Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.

Kemudian selain penyebutan nama dan sifat yang terkait dengan Allah Ta’la, juga terdapat penyebutan tentang Allah dalam bentuk Khabar. Artinya kabar tentang Allah selama bentuk kabar tersebut ialah kabar yang mengandung kesempurnaan nama dan sifat-Nya, tidak mengandung makna yang buruk atau sifat yang kurang dan mengandung aib, serta tidak ada dalil yang melarangnya. Kemudian penyebutan tentang Allah dalam bentuk Khabar ini bukanlah bagian dari nama dan sifat Allah, karena tidak terdapat penyebutan lafazh tersebut dalam Nash.

Para ulama pun tidak mengingkari hal ini (penyebutan Allah dalam bentuk Khabar) selama syarat-syarat diatas terpenuhi. Contohnya ialah bait-bait awal dari Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah-nya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di :.

الحمدُ لله العلـــــــــــــــي الأَرفق وجـامع الأشيــــاء والمفرق

ذي النعم الواسعــــــــــة الغزيرة والحـكم البـــــــاهرة الكثيرة

Segala puji bagi Allah yang Maha Tinggi dan Maha Lembut….SANG PENGGABUNG DAN PEMISAH segala sesuatu SANG PEMILIK NIKMAT YANG LUAS DAN MELIMPAH, serta hikmah-hikmah yang bersinar nan banyak”

Namun penyebutan Allah dalam bentuk Khabar ini hanyalah dilakukan oleh para ulama yang kokoh ilmunya, karena mereka mengetahui batasan-batasan antara yang dilarang dan tidak. Tidak seperti orang-orang zaman sekarang yang serampangan dan tanpa kehati-hatian berbicara semaunya tentang bab ini.

Allah Maha keren” katanya, jujurlah jika anda telah memahami makna “keren” dalam bahasa Indonesia sekalipun, apakah kata tersebut layak disandangkan pada Allah ‘Azza wa Jalla ?

Apabila anda tidak mengetahui hukumnya, kenapa tidak bertanya kepada para ahli ilmu mengenai hal ini ? Apakah hanya karena ingin diterima suatu kaum (anak muda) anda rela berkata tentang Allah pada suatu perkataan yang sangat rawan terjatuh kedalam bab berbicara tentang Allah tanpa ilmu ?!

Seribu alasan dapat dilontarkan untuk membela diri dan berkelit, namun qalbu yang masih mengagungkan Allah Ta’la, ia akan takut dan menyesal, serta berani meralat atas ucapan tanpa adab kepada Rabunna ‘Azza wa Jalla

@Abu Hanifah Jandriadi Yasin

  • ➡Kesalahan Dalam Pokok

Kesalahan diksi atau pemilihan kata itu memang bisa saja terjadi pada setiap orang.. Tapi apakah benar itu hanya sekedar salah diksi, lalu selesai?

Satu hal yang terlupakan adalah: Bahwa kesalahan yang BANYAK dalam cabang-cabang permasalahan, adalah pertanda adanya kesalahan dalam POKOK.

Coba kumpulkan semua diksi yang tidak tepat terkait para sahabat Nabi, seperti “anaknya gaul”, “cewe”, traveler, geng, nenek-nenek, Dije (khadijah), boneka (Ibnu Mas’ud). dll.

Ini menunjukkan adanya masalah pada POKOK-nya, yaitu pengagungan dan penghormatan terhadap sahabat Nabi. Ahlus Sunnah tidaklah asing terhadap aqidah ini di kitab2 aqidah mereka.

Lalu diksi terkait para Nabi semisal “di-like”, vokalis, konser, preman, dsb.

Lalu yang paling parah adalah terkait Allah Tabaraka wa Ta’ala.. Dengan sifat2 makhluk seperti online, read, dijapri, mak comblang, dsb.

Ini jelas bermasalah di POKOK-nya, yaitu minimnya pengagungan dan penyucian Allah dari segala kekurangan, serta sifat-sifat yang tidak pernah Dia sifatkan untuk diri-Nya. Ini salah satu di antara tauhid yang tiga, Asma dan Sifat. Bukan hal yang remeh sama sekali !!

Kalau orang yang bermasalah dalam masalah cabang yang sangat banyak sehingga menunjukkan bahwa ia bermasalah di POKOK-nya, maka kaidah2 terkait timbangan baik-buruk sudah tidak relevan lagi.

Yang relevan adalah kaidah yang disebutkan oleh Imam Asy Syathibi bahwa seseorang keluar dari Ahlus Sunnah jika ia mempunyai kesalahan yang bersifat KULLI atau pokok, yang dari pokok tersebut akan ada banyak kesalahan turunan atau disebut dengan JUZ’I. Contohnya adalah seperti di atas.

Oleh sebab itu beliau mengatakan sebagaimana yang kami jelaskan di atas:

ويجرى مجرى القاعدة الكلية كثرة الجزئيات

Dan kekeliruan yang banyak dalam masalah cabang menempati kedudukan kesalahan (tunggal) dalam masalah pokok”

Oleh karena itu bukanlah tindakan bijak ketika dalam hal seperti ini malah SOK bijak. Kita memang tidak setuju dengan pengkafiran ke da’i tsb sebagaimana yang dilakukan seorang ISISER, atau yang mengolok2 serta melampaui batas.

Tapi juga jangan anggap ringan kesalahan itu seolah sekedar salah diksi saja, lalu tetap merekomendasikannya untuk didengarkan, dan seterusnya. Bijakmu kebablasan! Malah risih membacanya.


Sudah gak kaget dengan yang baru-baru ini ditemukan.. Seperti istilah Allah Maha Keren (cek kamus arti keren), atau pernyataan “Allah mendekap”, dsb. karena sejak awal memang bermasalah di pokok-nya, yaitu tauhid asma dan sifat.

Dan tahukah Anda, kekeliruan dalam beberapa masalah pokok (kulli) seperti asma dan sifat, ta’zhim kepada para Nabi, ta’zhim kepada sahabat dan istri Nabi.. dll, dimana setiap pokok mempunyai cabang-cabang kesalahan yang banyak..

Ternyata pokok-pokok tersebut mempunyai sumber lagi, alias akarnya.

Dan akar itu adalah: Ketidakmauan untuk mengikuti MANHAJ SALAF. Ibnu Taimiyyah mengatakan:

فعلم أن شعار أهل البدع : هو ترك انتحال اتباع السلف

Telah diketahui bahwa di antara syi’ar ahlul bid’ah adalah meninggalkan peneladanan kepada salaf.”

Itu sebabnya, orang yang secara asal dia berusaha mengikuti salaf, lalu dia keliru pada sebagian permasalahan aqidah seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hajar, An Nawawi, dll, mereka tetap disebut Ahlus Sunnah.. Bahkan Ibnu Hazm yang terjatuh dalam banyak permasalahan sifat pun tetap diakui keimamannya karena penghormatan dan kesungguhan usaha beliau dalam mengikuti aqidah Imam Ahmad..

Beda halnya dengan yang sejak awal tidak ada komitmen untuk mengikuti manhaj salaf, tidak berusaha mengkaji aqidah-aqidah salaf..

Maka sangat wajar jika kita selalu mewanti-wanti untuk ngaji ke yang bermanhaj salaf, tidak harus ke ustadz radio tertentu, yayasan tertentu, afiliasi tertentu.. Asal betul2 jujur dalam mengikuti manhaj salaf, insyaallah dia ustadz yang kita rekomendasikan untuk diambil ilmunya.

Ristiyan Ragil Putradianto

Lanjut ke Halaman 2)