Hukum Merayakan 17-An & Mengikuti Lombanya

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Hukum Acara Agustusan

2.17 Agustus Bukanlah Hari Raya Islam |

3.Hukum Merayakan Hari Kemerdekaan

4. Batas Kesabaran Saat Ditimpa Musibah

5.Menjelang 17 Agustus,Disekolah dan PerumahanSering Mengadakan Lomba; -BagaimanakahMenyikapinya?-

6. Sholat Jumat Boleh di lapangan

7. Hadiah Perlombaan Pada Acara-acara Bid’a

8. Lomba Memasak

Hukum Mengikuti Lomba-Ust Erwandi Tirmidzi

Perlombaan yang Boleh dan dilarang-Ust Abu Yassir

(Mensyukuri NikmatKemerdekaan, Ustadz Syamsul)

Mengenal Jalan Salaf-Ust Dzulqarnain

Berbedalah Dengan Yahudi – UstadzAbu Haidar As Sundawy

Nikmat Allah dan KeagunganNya –Ustadz Abu Haidar as-Sundawy

Lemah Lembut & Sabar (Adab Amar-Ma’ruf Nahi Munkar)*Ust Abu Umar

Perkara Awal Yang Akan Di Qishash-Ustadz Abu Haidar

Aqidah Pondasi Amal – Ustadz AbuHaidar as-Sundawy

Meninggikan Kuburan – Ustadz AbuHaidar as Sundawy


Kumpulan Ebook

Petunjuk Anda Menuju Ketaatan

SYARH PRINSIP-PRINSIP DASAR KEIMANAN

Sarana Hidup Bahagia

Sepuluh Kaidah Penting Tentang istiqomah

WALA’ DAN BARA ‘ DALAM ISLAM

Adab Berbekam,Berolahraga dan Naik Kendaraan

Masyarakat Merdeka

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

===

  • ➡HUKUM MERAYAKAN 17-AN DAN MENGIKUTI LOMBANYA

Ust. Dr. Sufyan Baswedan -hafizhahullah-

Terkait lomba 17-an maka perlu dilihat dari sisi berikut:

1) 17 Agustus bukanlah hari raya Islam, sehingga tidak boleh disikapi secara khusus seperti menyikapi hari raya Islam (Idul Fitri dan Idul Adha), seperti meluapkan perasaan bahagia, menjadikannya sebagai ajang bagi-bagi uang atau hadiah, atau mengkhususkan ibadah tertentu pada hari tersebut karena meyakini keistimewaan hari tersebut. Karena hari raya (‘ied) artinya ialah setiap hari yang diulang-ulang. Dan ini juga bisa berlaku pada tempat tertentu ketika dikhususkan sebagai tempat kunjungan, maka ia dianggap ‘ied. Nah, berdasarkan fatwa Hai’ah Kibaarul Ulama, merayakan hari raya kenegaraan termasuk perbuatan yang dilarang -walaupun tidak dijadikan ajang beribadah-, karena itu menyerupai kebiasaan orang-orang kafir.

✅2) Lomba 17-an, biasanya hanya sebatas lomba-lomba yang tidak bermutu dan tidak memberi manfaat dari segi keilmuan syar’i, keimanan, atau ketangkasan fisik. Bahkan tidak jarang mengandung hal-hal yang bertentangan dengan adab-adab Islami, seperti lomba makan kerupuk sambil berdiri, lomba menyanyi, dan semisalnya.

Saya tidak tahu dengan lomba yang diadakan oleh sekolah, apa bentuknya. Namun yang diadakan oleh RT semuanya tidak bermutu dan tidak lepas dari hal-hal yang tidak syar’i.

Terkait dengan hukum mengikuti perlombaan, maka dilihat dari jenis lombanya dulu. Kalau ia termasuk perlombaan yang dikecualikan oleh Nabi, yaitu lomba memanah, lomba balap unta, dan lomba balap kuda; maka tidak mengapa diikuti. Lantas bagaimana dengan lomba lainnya? Ibnul Qayyim mengatakan bahwa lomba-lomba yang berkaitan dengan ilmu syar’i dapat dikiaskan dengan ketiga lomba tersebut; karena dibolehkannya lomba berhadiah berupa lomba memanah, balap unta, dan balap kuda ialah demi melatih ketangkasan kaum muslimin dalam berjihad. Sedangkan jihad itu sendiri ada dua macam: jihad dengan senjata dan jihad dengan ilmu. Adapun selain lomba-lomba yang bermanfaat untuk kedua macam jihad tadi; maka kembali kepada hukum asalnya, yaitu dilarang. Karena Nabi bersabda:

لَا سَبَقَ إِلَّا فِي نَصْلٍ، أَوْ حَافِرٍ، أَوْ خُفٍّ

Tidak boleh ada perlombaan berhadiah, kecuali lomba memanah, berkuda, atau menunggang unta” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)

Apalagi jika syarat mengikuti lomba tersebut ialah dengan membayar terlebih dahulu; maka ia lebih diharamkan lagi karena termasuk perjudian. Apalagi jika jenis lombanya mengandung hal-hal yang tidak syar’i atau berkonsekuensi terlibatnya seseorang dalam hal-hal yang tidak syar’i; maka semakin dilarang pula.

Adapun lomba-lomba yang diperbolehkan ialah yang disebutkan dalam hadits Nabi di atas, atau yang semakna dengannya, seperti lomba menghafal Al Qur’an, menghafal hadits, cerdas cermat dalam ilmu-ilmu keislaman (bukan sekedar ilmu umum), lomba meresensi atau meringkas kitab-kitab tertentu, lomba menulis karya ilmiah, dan semisalnya. Namun dengan syarat tidak ada biaya yang dipungut dari peserta lomba dalam hal ini.

Kesimpulannya: mengingat tipikal lomba 17-an yg seperti itu, maka mengikuti lomba semacam ini dilarang baik dengan biaya, atau tanpa biaya, dan walaupun jenis lombanya tergolong bermanfaat untuk jihad fi sabilillah (baik secara fisik maupun ilmiah); karena mengikuti lomba berarti turut merayakan suatu hari yang dalam islam tidak dianggap sebagai hari raya, dan ini terlarang.

Dan bila lombanya terlarang, maka hadiah yang didapat dari lomba itu pun otomatis terlarang pula.

والله تعالى أعلم

Sumber: https://bimbinganislam.com/hukum-menerima-hadiah-lomba-17-agustus

  • ➡Tambahan dari kami:

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang ummatnya membuat ‘Id baru selain dua hari ‘Id yang sudah ditetapkan syariat. Hal ini diceritakan oleh Anas bin Malik Radhiallahu’anhu:

قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال ما هذان اليومان قالوا كنا نلعب فيهما في الجاهلية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر

“Di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka bersenang-senang. Rasulullah bertanya: ‘Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?’. Warga madinah menjawab: ‘Pada dua hari raya ini, dahulu di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang’. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan ‘Idul Fithri’ ” (HR. Abu Daud, 1134, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/119, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud, 1134)

Dalam hadits ini, ‘Id yang dirayakan oleh warga Madinah ketika itu bukanlah hari raya yang terkait ibadah, bahkan hari raya yang hanya hura-hura dan senang-senang. Namun tetap dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Ini menunjukkan terlarangnya membuat ‘Id baru selain dua hari ‘Id yang sudah ditetapkan syariat, baik ‘Id tersebut tidak terkait dengan ibadah, maupun terkait dengan ibadah.

Terlebih lagi isi kegiatan 17-an ini banyak mengandung pelanggaran syariat: lomba-lomba yang mengandung unsur judi, musik, joget-joget, campur-baur lelaki dan wanita, dll.

Maka hendaknya tidak ikut atau membantu acara yang demikian, takutlah kepada Allah, sayangi harta dan waktu kita. Gunakan dalam kebaikan.

Kita cinta tanah air dan cinta Indonesia serta bersyukur dengan kemerdekaan, namun tidak kita ungkapkan dengan cara-cara yang melanggar syariat.

(Lanjut ke Halaman dua)

Iklan