As Siyasah Asy Syar’iyah- Politik Syar’i (Bag.2)



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Kewajiban Taat Kepada Pemimpin Muslim yang AdilMaupun Zalim

2. Taat Kepada Pemimpin Muslim

3.Wajibkah Taat Kepada Pemerintah?

4.Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

5. Ahlus Sunnah Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin

6. Taat Kepada Pemerintah

7.Taat pada Pemimpin yang Zalim

AQIDAH YANG TERLUPAKAN (Wajibnya Taat Kepada Pemimpin-Ust Abdurrahman Thayyib

Taat Kepada Pemimpin yang Sah-Ust Abu Abdillah

Kewajiban Taat Kepada Pemimpin-Ust Abu Qatadah

Ketaatan Kepada Pemimpin dan Larangan Kudeta-Ust Muhammad Nur Ihsan

Sesi1:

Sesi2:

Kewajiban Taat Kepada Pemimpin Muslim-Ahmad Zainudin

Taat pada Pemimpin dan MasalahBidah-Ust M. Abduh Tuasikal

Taat Pada Pemerintah-Ust Sofyan C.Ruray

Meniti Jalan Salaf Dengan Taat.Kepada Pemerintah.by Radio Al I’tishom

Ketaatan Kepada Pemerintah-Ust Mukhtar

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah-Ust Muhammad Na’im


Kumpulan Ebook

40 Hadits Tentang Kewajiban Taat KepadaPemimpin

Fatwa Ulama Seputar Penguasa Di Era Kontemporer

Berserah Diri Pada Allah

•••••

ASSIYASAH ASY SYAR’IYAH (BAGIAN KEDUA)

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafidhahullah wasadda khutahu

  • ➡PRINSIP KEDUA

Harus ta’at kepada penguasa dan harus sabar dengan berbagai kedhalimannya dan tidak boleh memberontak kepadanya selama penguasa itu tidak berbuat dengan kekafiran yang nyata dihadapan kaum Muslimin.

Ubadah bin As Shamit radhiyallhu anhu meriwayatkan :

دعانا النبي صلى الله عليه وآله وسلم فبايعناه فقال فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة فى منشطنا ومكرهنا وعسرنا و يسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان – رواه البخاري فى صحيحه الحديث رقم ٧٠٥٥ – ٧٠٥٦

Telah memanggil kami Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam, maka kami membai’atnya. Beliau menyatakan dalam membai’at kami : “Agar kami tetap mendengar perintah penguasa kami dan mentaatinya, dalam keadaan kami senang dengan penguasa itu ataupun dalam keadaan kami tidak suka dengannya, dalam keadaan hidup kami yang sulit dibawah penguasa itu, ataupun dalam keadaan hidup kami serba mudah, dan walaupun penguasa kami mengabaikan hak kami. Juga kami dibai’at untuk tidak merebut kekuasaan dari penguasa kami, kecuali kalau kalian melihat pada penguasa itu kekafiran yang nyata, dimana kalian mempunyai kepastian dalil tentang kekafirannya itu dari sisi Allah (yakni dari Al Qur’an dan As Sunnah As Shahihah) dan kalian mempunyai kejelasan ilmiyah tentang kekafiran penguasa kalian itu“. Hr. Bukhari dalam Shahihnya (hadis ke 7055 – 7056).

Al Hafidl Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fat-hul Bari jilid 13 hal. 8, beliau membawakan riwayat Ahmad dan At Thabrani dan Al Hakim dari Ubadah bin As Shamit radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

سيلي أموركم من بعدي رجال يعرفونكم ما تنكرون وينكرون عليكم ما تعرفون ، فلا طاعة لمن عصى الله

Akan dipimpin kalian sepeninggalku oleh orang-orang yang akan memperkenalkan kepada kalian amalan yang akan kalian ingkari dan akan mengingkari amalan agama kalian yang telah kalian yakini kebenarannya, Maka tidak ada kemestian taat terhadap penguasa yang durhaka kepada Allah”.

✅Juga beliau meriwayatkan dari Abi Syaibah dari jalan riwayat Azhar bin Abdillah dari Ubadah bin As Shamit bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

سيكون عليكم أمراء يأمرونكم بما لا تعرفون ويفعلون ما تنكرون فليس لأولئك عليكم طاعة

Akan ada para penguasa yang memipin kalian dimana dia akam memerintahkan kalian perkara yang kalian tidak pernah mengetahuinya dari agama dan dia berbuat dengan perbuatan yang kalian ingkari dari sudut agama, maka tidak ada kewajiban taat atas kalian kepada para penguasa yang demikian itu”.

Tentang kekafiran yang nyata pada penguasa yang menjadi sebab kita boleh memberontak kepadanya bila kita mempunyai kemampuan, adalah bila penguasa itu mengingkari hukum Allah Ta’ala dan hukum RasulNya shallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Allah Ta’ala menegaskan :

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون – المائدة ٤٤

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. S. Maidah 44.

✅Juga Allah Ta’ala menegaskan :

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا فى أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما – النساء ٦٥.

Maka tidak, demi Tuhanmu, tidaklah mereka beriman, sehingga mereka mau menjadikanmu hai Muhammad sebagai hakim dalam memutuskan perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati di hati mereka ganjalan pada apa yang telah engkau putuskan dan mereka tunduk melaksanakan keputusanmu dengan setunduk-tunduknya”. S. An Nisa’ 65.

✅Juga Allah Ta’ala menegaskan :

أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن حكما من الله لقوم يوقنون – المائدة ٥٠

Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan, siapakah hukumnya yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang berkeyakinan”. Al Maidah 50.

Al Hafidl Ibnu Katsir Ad Dimasyqi rahimahullah menerangkan dalam tafsir beliau : “Allah Ta’ala mengingkari orang-orang yang keluar dari hukum Allah yang telah jelas yang mengandung segala kebaikan dan melarang segala kejelekan, keluar dari hukum Islam yang demikian itu dan kemudian beralih kepada hukum yang lainnya yang merupakan produk pikiran manusia dan selera hawa nafsu mereka serta berbagai istilah yang dibuat oleh mereka dengan tidak bersandar samasekali kepada hukum Allah sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang di zaman jahiliyah dimana mereka mengatur hidup masyarakat dengan berbagai kesesatan dan kebodohan dari produk pikiran dan hawa nafsu mereka sendiri, dan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Tartar (nenek moyang bangsa Mogal) dalam mengatur politik kerajaan yang diambil dari pikiran-pikiran raja mereka, yaitu Jenghis Khan yang telah mewariskan kepada mereka kitab AL YASIQ, dimana kitab tersebut adalah kumpulan hukum-hukum yang diambil dari berbagai syari’ah agama-agama yang beraneka ragam, yaitu dari syari’ah Yahudi, syari’ah Nasrani, dan Syari’ah Islamiyah serta syari’ah agama-agama lainnya. Padanya terdapat pula berbagai ketentuan hukum yang diambil dari semata-mata pikiran dan hawa nafsu Jenghis Khan, sehingga jadilah kitab ini dikalangan anak turunannya (yaitu para penguasa bangsa Mogal) sebagai syari’ah yang diikuti dan sangat diutamakan, dimana hukum yang diambil dari AL YASIQ ini dianggap lebih tinggi dari hukum yang ada didalam KITABILLAH dan SUNNAH RASULULLAH shallahu alaihi wa aalihi wasallam. Maka siapa saja yang berbuat demikian, sungguh dia telah kafir dan harus diperangi terus-menerus, sampai mau kembali kepada hukum Allah dan RasulNya, dan sampai dia tidak berhukum dengan hukum yang selain Islam dalam perkara kecil maupun dalam perkara yang besar”.

Demikian Ibnu Katsir menerangkan.

Keadaan pemerintahan Mogal yang berpegang dengan KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Perdata) AL YASIQ, persis sama dengan keadaan pemerintahan Indonesia, sejak kemerdekaan (th. 1945) sampai sekarang, yang berpegang dengan KUHP warisan penjajah Belanda kafir. Bahkan KUHP yang sah menjadi rujukan hukum di Indonesia, adalah KUHP berbahasa Belanda yang disimpan di perpustakaan fakultas hukum Unifersitas Leiden Belanda. Bak kata pepatah Arab :

ما أشبه اليل البارحة

Betapa serupanya malam ini dengan malam kemaren”.

Coba lihat, sistem hukumnya adalah sistem hukum warisan penjajah kafir

  • ➡Sistem Politik Demokrasi

Kemudian sistem politiknya DEMOKRATISME, dimana sistem ini menyatakan bahwa kekuasaan tertinggi itu pada “rakyat”. Bahkan DEMOKRATISME menyatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Karena teori politik ini menafikan kedudukan Allah Ta’ala di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga Allah Ta’ala tidak dianggap ada dalam keputusan ataupun kebijakan politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan rakyat semesta. Karena itu diputuskan adanya pluralisme beragama yang berarti bahwa semua penganut agama apapun, kedudukannya sama dalam hak hukum dan hak politiknya. Sehingga penganut agama apapun, berhak menjabat jabatan apapun di negara ini. Dengan ketentuan ini, maka kaum Muslimin dipaksa untuk larut dalam perjuangan politik di arena DEMOKRATISME dalam rangka untuk mendudukkan para pejabat Muslim diposisi-posisi penting di negara ini. Namun karena pluralisme beragama menolak Syari’ah Islamiyah, maka semua pejabat Muslim harus menjauhkan dirinya dari kemungkinan menggunakan wewenangnya untuk menjalankan Syari’ah Islamiyah dalam mengatur kehidupan bernegara.

Sebagai contoh, propinsi NTB sebagai propinsi yang dipimpin oleh seorang “Ulama’ Muda”, yaitu Tuan Guru Bajang Zainal Majdi dalam dua periode masa kepemimpinan, ditambah lagi walikota Mataram (ibukota propinsi NTB) juga dijabat oleh seorang “Ulama” yaitu Tuan Guru Akhyar, namun kehidupan rakyat tetap saja jauh dari ketentuan Syari’ah Islamiyah dalam perkara aqidah, ibadah, maupun akhlaq. Pantai-pantai wisata di NTB yang biasa dikunjungi wisatawan asing, tetap saja disana berjajar wanita-wanita bule yang telanjang menjemur diri, bahkan tambah banyak. Pawai ogoh-ogoh berupa karnafal keliling kota Mataram mengarak patung-patung Hindu, sehari sebelum hari nyepi, tambah ramai dan kaum Muslimin menjadi penonton semua acara yang dibuka oleh walikota Mataram yang notane adalah seorang “Ulama’ “

  • ➡Ekonomi Kapitalisme

Aturan ekonomi sepenuhnya diatur dengan sistem kapitalisme yang dibangun diatas dasar hak monopoli pemegang modal dan fluktualisasi mata uang dalam aturan ribawi. Kedua dasar ekonomi tersebut diperangi dan dibenci oleh Allah dan RasulNya dan bertentangan secara frontal dengan Syari’ah Islamiyah. Meskipun ada bank-bank “Syari’ah“, namun semua itu harus menginduk ke Bank Indonesia, yang berpegang dengan aturan ribawi. Aturan ekonomi yang demikian memaksa Muslimin untuk tenggelam dalam kehidupan ribawi dan kalaupun tidak terlibat dalam riba, minimal terkena debunya. Dan dengan aturan ekonomi demikian, memberi peluang yang seluas-luasnya bagi musuh-musuh negara yang sekaligus musuh-musuh Muslimin, untuk memonopoli sumber daya ekonomi dan sumberdaya alam, yang pada gilirannya menindas segala kebijakan dan keputusan politik pemerintah serta lembaga-lembaga tinggi negara.

  • ➡Kehancuran Akhlak

Belum lagi kehancuran akhlaq kaum Muslimin, yang diajak dalam suasana pergaulan bebas nilai, sehingga mereka hancur dalam kebebasan seks dan dijejali oleh ratusan ton sabu-sabu, ratusan ribu botol minuman keras, jutaan keping cd filem porno dan berbagai keharaman yang mewabah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian Mahkamah Konstitusi memutuskan : Bahwa LGBT (LESBIANISME / homo seks wanita, GAY /homo seks pria , BISEKS / zina dan homo, DAN TRAS JENDER / ganti kelamin), adalah perbuatan yang tidak melanggar hukum yang berlaku. Juga dibangkitkannya dan dibiyayai dengan dana yang besar, budaya-budaya syirik dan bid’ah, dengan atas nama “KEARIFAL LOKAL”.

Allah Ta’ala mengajak kita memahami situasi bangsa dan negara ini dengan firmanNya :

ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم ءآمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا – وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول رأيت المنافقين يصدون عنك صدودا – فكيف إذا أصابتهم مصيبة بما قدمت أيديهم ثم جاءوك يحلفون بالله إن أردنا إلا إحسانا وتوفيقا – أولئك الذين يعلم الله ما في قلوبهم فأعرض عنهم وعظهم وقل لهم فى أنفسهم قولا بليغا – النساء ٦٠ – ٦٣

Tidakkah engkau melihat keadaan orang-orang yang mengaku bahwa mereka beriman kepada apa yang Allah turunkan kepadamu hai Muhammad (yakni mengaku beriman kepada Al Qur’an dan As Sunnah) dan beriman kepada apa yang diturunkan sebelummu, tetapi mereka menginginkan untuk bertahkim (mencari keputusan hukum) kepada para thaghut, padahal mereka telah diperintah untuk ingkar kepadanya, dan syaithan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh. Dan apabila dikatakan kepada mereka : Kemarilah kalian untuk berhukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah dan kepada Rasul itu (yani Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam), engkau akan melihat orang-orang munafiq itu menghalangimu untuk berhukum dengan keduanya dengan sekuat-kuat penghalangan. Maka bagaimana pula nantinya bila mereka ditimpa bala bencana sebagai akibat dari apa yang mereka lakukan kemudian mereka akan datang kepadamu hai Muhammad, mereka bersumpah dengan menyebut nama Allah, bahwa apa yang kami lakukan selama ini tidak lain adalah bertujuan baik dan mengharap bimbingan Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah telah ketahui isi hatinya penuh dengan kekafiran, maka berpalinglah kamu dari mereka dan beri nasehat mereka dan katakan kepada mereka dengan kata-kata yang lugas dan tegas”. S. An Nisa’ 60 – 63.

(Lanjut ke Halaman 2)