10 Pembahasan Dasar Tentang Hadist & Ahli Hadist (Bag.3)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Mengapa Abu Hurairah Lebih Banyak Meriwayatkan Hadits

2. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Teraniaya(1) 

3. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Teraniaya(2) 

4. Syarat Hadits Shahih

5. Shahih Al-Bukhari

6.Mengenal Shahih Bukhari Dan Shahih Muslim

7. Mengenal Imam Muslim

8.Mewaspadai Sifat Munafik

Kitab Musthalahah.Hadits Matan Al Mandzumah Al Baiquniyah” Oleh Ustadz Mustofa Al Buthony

Muqodimmah dan pembahasan Hadits Shahih

Pembahasan Hadits Hasan dan Dhoif

Ilmu Mustalahah.Hadits (Ilmu SeputarIstilah-istilah,dasar dan kaidah seputar Hadits)”Oleh Ustadz Abu Yahya Badrussalam Lc [ Pertemuan 1 – 41 ]

Keutamaan Abu Hurairah-Ust Ali Basuki

Abu Hurairah-Ust Abdurrahman

Sifat Sifat Munafik-Ust Firanda Andirja

Munafik Sayakah Orangnya-Ust Ahmad Zainuddin

Macam Macam Kemunafikan-Ust Abu Hammam

Keadaan Orang Kafir dan Munafik di Akhirat-Ust Abdullah Zaen

Kumpulan Ebook

Matan & Terjemahan Nukhbatul Fikar, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar (Kitab Tentang Mushthalah Hadits)

Syarah Nukhbatul Fikar, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar (Kitab Tentang Mushthalah Hadits)

Ilmu Hadis.pdf

Hadits Ahad

Hadits Ahad dan Mutawatir

HadisAhadDanMutawatir.pdf

Seputar Hadist Ahad

Muttafaqun ‘Alaih Shahih Bukhari MuslimHimpunan Hadits Shahih Yang Disepakati Imam Bukhari Dan Imam Muslim

Buku Kitab Muttafaqun ‘Alaih ini dilengkapi syarh lafzhiyyah—semacam tafsir singkat— untuk kata-kata atau kalimat-kalimat yang dipandang penting.

Sejumlah fitur unggulan yang memberi nilai tambah dalam Buku Kitab Muttafaqun ‘Alaih ini, seperti:

Biografi Imam Bukhari Muslim serta parasahabat periwayat.hadits terbanyak.

• Rekomendasi dan keterangan para ulama terkait hadits-hadits yang disepakati Bukhari dan Muslim.

• Pengantar ringkas seputar ilmu mushthalah hadits.

• Indeks hadits serta penomoran sesuai dengan kitab Ash-Shahih yang menjadi rujukan primernya.

Kaidah Emas di dalam memahami Hadits (Syaikh.Abu Umar al-Utaibi)

Pengantar Sejarah Kodifikasi Hadits (Syaikh Abdul Ghoffar ar-Rahmani)

Syarah Hadits Arba’in

Biografi Ahlul Hadits.chm

Ijazah Hadits Imam Al Albani.pdf

===

10 Pembahasan Dasar Tentang Hadist & Ahli Hadist (Bag.3)

 

  • ➡8. KENAPA HADITS ABU HURAIRAH LEBIH BANYAK DARI PARA PEMBESAR SHAHABAT LAINNYA?

Syaikh ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi (wafat th. 1386 H) -rahimahullaah- berkata:
✅[1]- Ada 2 (dua) amalan (dalam periwayatan hadits):

Pertama: menerima (hadits) dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Kedua: menyampaikan (hadits).

✅[2]- Adapun MENERIMA HADITS; maka para Shahabat tidak mampu untuk terus menemani Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dan ketika Anas dan Abu Hurairah menemani Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk melayani beliau; maka tentunya keduanya lebih banyak menerima hadits dari beliau dibandingkan para Shahabat lainnya yang sibuk dengan perdagangan dan pertanian

Ditambah lagi Abu Hurairah sangat semangat terhadap ilmu (hadits); maka dia menerima hadits-hadits dari para Shahabat sebelumnya, sehingga terkadang dia meriwayatkannya dengan menyebutkannya dari mereka dan terkadang langsung disandarkan kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, sebagaimana hal itu -membuang nama Shahabat (ketika meriwayatkan hadits)- juga dilakukan oleh para Shahabat lainnya, karena mereka saling percaya satu sama lain.

Dan telah shahih bahwa dia bertanya kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tentang orang yang paling bahagia mendapatkan syafa’at beliau pada Hari Kiamat; maka beliau bersabda: “Saya sudah mengira wahai Abu Hurairah bahwa tidak akan bertanya kepadaku tentang hadits ini seorang pun sebelum engkau, KARENA AKU MELIHAT SEMNGATMU TERHADAP HADITS.” HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya…

✅[3]- Adapun PENYAMPAIAN (HADITS); maka Abu Bakar hidup pada masa-masa penyampaian hadits (sesudah wafatnya Nabi) sekitar dua tahun, itupun beliau disibukkan dengan mengurusi pemerintahan. Adapun ‘Umar; maka ketika Abu Bakar masih hidup: beliau sibuk membantu Abu Bakar untuk mengurusi pemerintahan dan juga sibuk dengan perdagangan. Dan setelah wafatnya Abu Bakar; maka ‘Umar disibukkan dengan mengurusi urusan kaum muslimin.

Dan dalam Kitab “Al-Mustadrak” (I/98): bahwa Mu’adz bin Jabal mewasiatkan para sahabatnya untuk untuk menuntut ilmu, dan dia menyebutkan beberapa nama: Abu Darda’, Salman, Ibnu Mas’ud, dan ‘Abdullah bin Salam. Maka Yazid bin ‘Umairah berkata: “Bagaimana dengan menuntut ilmu dari ‘Umar bin Al-Khaththab?” Mu’adz menjawab: “Jangan bertanya (ilmu) kepadanya, karena beliau sibuk.”

Adapun ‘Utsman dan ‘Ali; maka keduanya disibukkan dengan membantu pemerintahan dan lainnya, kemudian keduanya sibuk setelah menjadi khalifah dan sibuk menghadapi berbagai macam fitnah (kekacauan).

Dan orang-orang yang ingin menuntut ilmu pun segan terhadap para pembesar Shahabat tersebut dan yang semisalnya, sedangankan mereka melihat bahwa semua Shahabat adalah terpercaya dan amanah, sehingga mereka mencukupkan (mencari ilmu) dari selain pembesar Shahabat.

Dan para pembesar itu sendiri berpendapat bahwa mereka tidak harus menyampaikan hadits kecuali jika dibutuhkan, dan mereka melihat bahwa dengan apa yang mereka lakukan; maka tidak akan ada Sunnah yang hilang, karena para Shahabat banyak jumlahnya dan hidup mereka akan lama, sehingga akan ada berbagai kesempatan dimana mereka akan dibutuhkan untuk menyampaikan hadits.

Dan yang paling penting adalah: jaminan dari Allah -‘Azza Wa Jalla- untuk menjaga syari’at-Nya.”

✅[4]- “Dan di dalam Shahih Al-Bukhari dan lainnya, dari hadits Malik, dari Az-Zuhri, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah dia berkata: “Orang-orang mengatakan: “Abu Hurairah banyak (meriwayatkan) hadits.” Padahal kalaulah bukan karena dua ayat dalam Kitabullah; maka aku tidak akan menyampaikan satu hadits pun.” Kemudian dia membaca ayat:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ * إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur’an); maka mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat. Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya); maka mereka itulah yang Aku terima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 159-160).”

-diterjemahkan oleh Ahmad Hendrix dari: “Al-Anwaar Al-Kaasyifah” (hlm. 143 & 168)-

  • ➡9. ASAL DARI SYARAT HADITS SHAHIH

Asal dari syarat hadits shahih adalah dengan dilihat dari sanadnya; yakni: tsiqah (terpercaya) para perawinya dan bersambung sanadnya.

Adapun ‘illah (penyakit tersembunyi dalam hadits); maka kita tidak dibebani untuk segera mencarinya sampai ketemu baru kemudian menshahihkan hadits untuk diamalkan.

Syaikh Muhaddits ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah- berkata:

✅[1]- “Kita lihat Imam Yahya bin Muhammad bin Yahya Adz-Dzhuhli berkata:

Tidak tetap khabar (hadits) dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sampai:

  1. – diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah dari rawi yang tsiqah,
  2. – (dengan terus bersambung) sampai khabar tersebut sampai kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan sifat (para perawi yang tsiqah) ini,
  3. – dengan tidak ada perawi yang majhul (tidak ada yang mentsiqahkannya) atau majruh (ada celaan padanya).

Kalau suatu khabar telah tetap dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan sifat ini; maka wajib diterima dan diamalkan, serta tidak boleh menyelisihinya.”

Sebagaimana dalam “Al-Kifaayah” (hlm. 56) karya Al-Khathib Al-Baghdadi

✅[2]- Jadi inti dan muqaddimah dari kesemuanya ini adalah: sanad, ketsiqahan para perawinya, dan ketersambungan (sanad)nya. Kemudian baru melihat kepada apa yang tampak dari satu atau beberapa ‘illah…

Imam Syu’bah bin Al-Hajjaj berkata:

Keshahihan hadits hanya diketahui dengan keshahihan sanad.”

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “At-Tamhiid” (I/57)…”

(Lanjut ke halaman 2)

Iklan