Takbir Di Awal Dzhul-Hijjah, Idul-Adha, & Hari Tasyriq 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Takbir di Awal Bulan Dzulhijjah

2. Takbiran Hari Raya

3.Banyak Bertakbir dari Awal Dzulhijjah?

4.Takbir Mulai dari Shubuh Hari Arafah

5.Amalan di Hari Tasyrik •

6.Takbiran Sebelum Idul Adha •

7.Hukum Takbir Jama’i Di Masjid-Masjid Sebelum Shalat Ied

8.Lafal Takbir Pada Idul Fithri Dan Idul Adha |

Renungan Takbir-Ustadz Abu.Yahya Badrussalam Lc

Hukum Takbir-Ust Ahmad Sabiq

Takbir-Ust Abu Fairuz

Download MP3 Takbiran (Suara Takbir ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri)


Kumpulan Ebook

Keutamaan 10 hari pertama dzulhijjah

Petunjuk Lengkap Tentang Shalat

Adab Berpuasa dan Shalat Ied

Tafsir Sepersepuluh Terakhir dari Al-Quran Al Karim

Panduan Shalat Ied Lengkap

Shalat Id Pada 2 Hari Raya

====

  • ➡TAKBIR DI AWAL DZHUL-HIJJAH, IDHUL-ADHA & HARI TASYRIQ

بسم الله الرحمن الرحيم

Ketahuilah, bahwa diantara amalan shaleh yang sangat dianjurkan di awal Dzulhijjah sampai Idhul-Adha dan hari-hari tasyriq adalah Takbir.

➡Masalah Pertama; Jenis-Jenis Takbir

  • ➡Pertama: Takbir Mutlak

Yaitu takbir yang tidak terikat dengan waktu selesai Shalat. Takbir jenis ini boleh bagi seorang untuk bertakbir kapan saja dia kehendaki, di tempat mana saja baik itu di masjid, rumah, ataupun sedang berjalan, dan ketika menuju masjid untuk shalat Idhul-Adha. Waktunya sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).

➡Dalil-dalilnya:

✅1. Keumuman Firman Allah Ta’ala:

{…وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّام ممَّعْلُومَات}

Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang ditentukan. (QS.Al-Hajj:28)

Hari-hari yang ditentukan adalah 10 hari pertama bulan dzulhijjah sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Dan telah dinukil dari sebagian sahabat seperti Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma bahwa mereka bertakbir pada hari-hari itu .(Lihat Shahih Al-Bukhari Bab Fadhul-Amal Fi Ayyam At-Tasyriq, Syarhul-Mumti’:5/162)

✅2. Hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Tidak ada satu hari yang pahala dihari itu lebih besar di sisi Allah dan beramal di hari itu lebih dicintai di sisi Allah daripada sepuluh hari ini. Oleh sebab itu, perbanyaklah kalian bertahlil, bertakbir dan bertahmid.”(HR.Ahmad no.5446 Tahqiq Syaikh Syu’aib, Shahih Lighairih)

✅3. Dan dari Nafi rahimahullah:

ﺃﻥ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﺑﻤﻨﻰ ﺗﻠﻚ اﻷﻳﺎﻡ ﺧﻠﻒ اﻟﺼﻠﻮاﺕ ، ﻭﻋﻠﻰ ﻓﺮاﺷﻪ ، ﻭﻓﻲ ﻓﺴﻄﺎﻃﻪ ، ﻭﻓﻲ ﻣﻤﺸﺎﺋﻪ ﺗﻠﻚ اﻷﻳﺎﻡ ﺟﻤﻴﻌﺎ

Bahwasanya Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bertakbir di Mina pada hari-hari (Tasyriq) setelah Shalat, di tempat tidurnya, di tendanya, dan ketika berjalan pada semua hari-hari itu.(Dikeluarkan Al-Fakihi dalam Akhbar Makkah no.2583, Ibnul-Mundzir dalam Al-Ausath;4/299, dan Al-Bukhari secara Muallaq dengan sighah Jazm, Shahih)

  • ➡Kedua: Takbir Muqayyad,

Yaitu takbir yang dilakukan di setiap selesai Shalat lima waktu.

Tentang disyariatkannya Takbir Muqayyad maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

✅Berkata Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah:

ﻓﺎﺗﻔﻖ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺸﺮﻉ اﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻋﻘﻴﺐ اﻟﺼﻠﻮاﺕ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﻳﺎﻡ ﻓﻲ اﻟﺠﻤﻠﺔ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺣﺪﻳﺚ ﻣﺮﻓﻮﻉ ﺻﺤﻴﺢ ، ﺑﻞ ﺇﻧﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﺁﺛﺎﺭ ﻋﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﻣﻦ ﺑﻌﺪﻫﻢ ، ﻭﻋﻤﻞ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻋﻠﻴﻪ .

Telah sepakat para Ulama bahwasanya disyariatkan takbir setelah Shalat (lima waktu) di hari-hari ini secara global (adapun perinciannya maka terjadi khilaf, pen-). Akan tetapi, tidak ada hadits marfu (dari Nabi ﷺ) yang shahih, namun telah datang atsar-atsar dari para Sahabat dan setelah mereka, dan itulah yang diamalkan oleh kaum muslimin.(Fathul-Bari:6/124)

Para ulama hanya berbeda pendapat tentang waktu takbir tersebut kapan dimulai dan selesainya. Pendapat yang kuat dan merupakan pendapat mayoritas ulama adalah dimulai dari selesai shalat Fajar (Shubuh) hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).

✅Dari Syaqiq ibn Salamah rahimahullah ia berkata:

ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﻔﺠﺮ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ , ﺇﻟﻰ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ , ﻭﻳﻜﺒﺮ ﺑﻌﺪ اﻟﻌﺼﺮ

Ali radhiyallahu anhu bertakbir setelah shalat Fajar di waktu shubuh hari Arafah, lalu beliau tidak terputus (maksudnya: melakukannya terus) sampai Imam shalat di hari terakhir dari hari Tasyriq, lalu beliau bertakbir setelah Asar.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah no.5677, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra:no.6275, dishahihkan Al-Albani dalam Irwaul-Ghalîl:3/125)

✅Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

ﺃﺻﺢ اﻷﻗﻮاﻝ ﻓﻲ اﻟﺘﻜﺒﻴﺮ اﻟﺬﻱ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻤﻬﻮﺭ اﻟﺴﻠﻒ ﻭاﻟﻔﻘﻬﺎء ﻣﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭاﻷﺋﻤﺔ : ﺃﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﻣﻦ ﻓﺠﺮ ﻋﺮﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻋﻘﺐ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ .. ”

Pendapat yang paling shahih tentang takbir adalah yang dipegang oleh mayoritas Salaf dan Fuqaha dari kalangan Sahabat dan para Imam yaitu: bertakbir dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari tasyriq di setiap selesai Shalat.(Majmu Al-Fatawa:24/220)

✅Dan berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah:

ﻭﺃﺻﺢ ﻣﺎ ﻭﺭﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻗﻮﻝ ﻋﻠﻲ ﻭاﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ: ﺇﻧﻪ ﻣﻦ ﺻﺒﺢ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻨﻰ.

(Atsar) yang paling shahih yang datang dari Sahabat adalah pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud bahwasanya (waktunya) dari waktu Subuh hari Arafah sampai hari terakhir hari Mina (Tasyriq).(Fathul-Bari:2/462)

Masalah:

  • ➡1. Apakah Takbir Muqayyad ini pada Shalat Fardhu dan Sunnah?

Mayoritas Ulama berpendapat bahwa takbir muqayyad ini hanya pada shalat fardhu saja, adapun shalat sunnah maka tidak disyariatkan.

Berkata Az-Zarkasyi rahimahullah:

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺤﻠﻪ ﻓﻌﻘﺐ اﻟﺼﻠﻮاﺕ اﻟﻤﻔﺮﻭﺿﺎﺕ ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺑاﻹﺟﻤﺎﻉ اﻟﺜﺎﺑﺖ ﺑﻨﻘﻞ اﻟﺨﻠﻒ ﻋﻦ اﻟﺴﻠﻒ ، ﻻ اﻟﻨﻮاﻓﻞ ﻭﺇﻥ ﺻﻠﻴﺖ ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ

Adapun waktunya maka setelah Shalat-shalat fardhu berjamaah berdasarkan Ijma yang shahih dari penukilan khalaf dari Salaf, bukan pada shalat-shalat sunnah sekalipun berjamaah.

(Syarh Az-Zarkasyi Limatni Al-Khiraqi:1/293)

Akan tetapi, yang benarnya tidak ada ijma dalam masalah ini. Telah dinukil dari Abu Ja’far, dan pendapat yang masyhur dari Asy-Syafi’i, dan Ibnul-Mundzir mereka berpendapat disyariatkannya setelah shalat sunnah. (lihat Fathul-Bari LIbni Rajab:6/128-129)

  • ➡2. Apakah Perempuan Juga Bertakbir?

Mayoritas Ulama berpendapat disunnahkannya bertakbir bagi perempuan, baik itu mereka bersama laki-laki (di masjid) atau bersendiri. Namun, merendahkan suara takbir jika bersama laki-laki.

✅Dalilnya adalah hadits Ummu Atiyyah radhiyallahu anha:

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ

Pada hari Raya ‘Id kami diperintahkan untuk keluar sampai-sampai kami mengajak para anak gadis dari kamarnya dan juga para wanita yang sedang haid. Mereka duduk di belakang barisan kaum laki-laki dan mengucapkan takbir mengikuti takbirnya kaum laki-laki, dan berdoa mengikuti doanya kaum laki-laki dengan mengharap barakah dan kesucian hari raya tersebut.”(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

(Syarh Bulugh Al-Marãm, Lisy-Syaikh Taufiq Al-Ba’dani)

  • ➡3. Lafaz-Lafaz Takbir

Tidak ada lafaz takbir khusus yang datang dari Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, telah shahih dari sebagian Salaf diantaranya:

Takbir Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:

اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻛﺒﻴﺮا اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻛﺒﻴﺮا اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﺃﺟﻞ، اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﻟﻠﻪ اﻟﺤﻤﺪ

Allãhu Akbar Kabîra, Allãhu Akbar Kabîra, Allãhu Akbar wa Ajal, Allahu Akbar wa Lillahil-hamd.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah no.5692, shahih)

Dan lafaz:

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد، الله أكبر وأجل، الله أكبر على ما هدانا

Allãhu Akbar, Allãhu Akbar, Allãhu Akbar, Wa Lillãhil-hamd, Allãhu Akbar wa Ajal, Allãhu Akbar Alâ Mã Hadãnã.(dikeluarkan Al-Baihaqi, dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwã:3/125)

➡Takbir Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu:

اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻛﺒﻴﺮا

Allãhu Akbar, Allãhu Akbar, Allãhu Akbar Kabîra

(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Kubra:no.6282, shahih, namun dengan lafaz yang panjang. Dan disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar lafaz di atas, Fathul-Bari:2/462)

➡Takbir Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu:

اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ، ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﻟﻠﻪ اﻟﺤﻤﺪ

Allãhu Akbar, Allãhu Akbar, Lã Ilãha Illallãh, Wallãhu Akbar, Wa Lillãhil-hamd.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah no.5697 dan selainnya, dalam sanadnya ada kelemahan)

Atsar Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah:

ﻛﺎﻧﻮا ﻳﻜﺒﺮﻭﻥ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﺃﺣﺪﻫﻢ ﻣﺴﺘﻘﺒﻞ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻓﻲ ﺩﺑﺮ اﻟﺼﻼﺓ : اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ، ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﻟﻠﻪ اﻟﺤﻤﺪ

Dahulu orang-orang (para Tabi’in) bertakbir pada hari Arafah dan salah seorang dari mereka menghadap kiblat di setiap selesai Shalat:

Allãhu Akbar, Allãhu Akbar, Lã Ilãha Illallãh, Wallãhu Akbar, Allãhu Akbar, Wa Lillãhil-hamd.

(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah no.5696, Shahih)

Semua lafaz Takbir di atas boleh diucapkan.

  • ➡4. Bolehkah Mencukupkan dengan lafaz “Allâhu Akbar”?

Boleh mencukupkan takbir dengan lafaz “Allãhu Akbar” dibaca berulang-ulang.

Hal ini berdasarkan firman Allah:

كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ

Demikianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kalian bertakbir kepada Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu.(QS.Al-Hajj:37)

(Lanjut ke halaman 2)