Haid, Istihadhah dan Nifas

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1.Perbedaan antara Darah Haid, Istihadhah , dan Darah Nifas

2. Bingung Darah Haid atau Istihadhah

3. Darah Nifas

4.Nifas Dan Hukum-Hukumnya | Nifas

5.Membedakan Darah Haid dan Istihadhah

6.Membedakan Haid dengan Istihadhah

•••••

Masalah Haid dan Istihadhoh (Bag-2)(Armen Halim Naro, Lc)

Masalah Haid dan Istihadhoh (Bag-1)(Armen Halim Naro, Lc)

Shahih Fikih Sunnah Wanita-Ust M. Abduh Tuasikal

Haidh, Istihadhah, Dan Nifas-Ust Dzulqarnain

Hukum Seputar Haidh dan Nifas-Ust Abu Qotadah

Haid Nifas Ust.M Abduh Tuasikal

Kumpulan Ebook

Haid, Istihadhah, Nifas

Hukum Haid

Tanda Suci Dari Haid

Darah Kebiasaan Wanita (Haid, Istihadhah, Nifas)

Hukum Haid Istihadhah Nifas Dan Berkabung.

Tanya Jawab Seputar Wanita

52 Persoalan Sekitar Hukum Haid

Hukum-Hukum Seputar Nifas

Wanita dan Thaharah

••

  • HAID DAN NIFAS

Apakah yang Dimaksud dengan Haid?

Jawab:

Haid secara bahasa artinya adalah sesuatu yang mengalir. Sedangkan secara istilah, haid adalah keluarnya darah yang berasal dari rahim wanita dewasa sebagai suatu kebiasaan (bukan karena luka, penyakit, keguguran, atau kelahiran) pada waktu tertentu.  

Darah haid berasal dari penebalan dinding rahim. Gumpalan darah tersebut sebagai persiapan makanan bagi janin. Jika tidak hamil, darah itu akan dikeluarkan sebagai darah kotor yang tidak bermanfaat bagi tubuh. Namun, pada wanita hamil, darah itu bermanfaat bagi janin sebagai sumber makanan. Karena itu wanita yang hamil tidak mengalami haid.  

Haid adalah fitrah kewanitaan yang Allah tetapkan bagi wanita keturunan Adam. Pada saat berangkat haji bersama rombongan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, ibunda kaum beriman Aisyah radhiyallahu anha mengalami haid dan beliau menangis. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menghiburnya dan menyatakan bahwa itu adalah ketetapan Allah untuk para wanita:

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Sesungguhnya ini adalah ketetapan Allah untuk putri-putri (keturunan) Adam (H.R al-Bukhari dan Muslim) 

  • Apakah Darah Haid Memiliki Ciri-Ciri Khusus?

Jawab:

Ciri-ciri darah haid: merah pekat kehitam-hitaman, kental terkadang bergumpal-gumpal, dan baunya khas (amis). Ciri khas tersebut sudah dikenal oleh para wanita.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ

Sesungguhnya darah haid adalah darah kehitam-hitaman yang sudah dikenal (H.R Abu Dawud dan anNasaai, dishahihkan Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Albany) 

  • Apa Saja yang Tidak Boleh Dilakukan oleh Wanita yang Haid?

Jawab:

Wanita haid tidak boleh:

  • 1.Sholat

✅Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ

Jika datang (masa) haid, tinggalkanlah sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

  • 2. Berpuasa (shoum)

✅Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

Bukankah seorang wanita jika haid ia tidak sholat dan tidak berpuasa? (H.R al-Bukhari dari Abu Said al-Khudry)

  • 3.Berdiam diri di masjid

Sebagaimana perintah Nabi agar wanita yang haid menjauhi tempat sholat (Musholla tanah lapang) saat Ied (H.R al-Bukhari dari Hafshah)

  • 4. Memegang mushaf al-Quran 

لَا تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Janganlah menyentuh al-Quran kecuali engkau dalam keadaan suci (H.R al-Hakim, dishahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahaby, Ibnul Mulaqqin, al-Munawy). 

  • 5. Berhubungan suami istri

Sebagaimana dalam al-Quran surat al-Baqoroh ayat 222. Meski suci dari haid namun belum mandi, belum boleh berhubungan suami istri. 

  • 6. Thawaf di Baitullah (Ka’bah)

Pada saat Aisyah mengalami haid dalam perjalanan haji, Rasul menyatakan:

فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

Lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji selain thawaf di Baitullah, hingga engkau suci (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah) 

  • ➡Bolehkah Bagi Seorang Wanita Haid Membaca al-Quran Tanpa Menyentuh Mushaf?

Jawab:

Ya, boleh. Karena Nabi memerintahkan kepada Aisyah yang mengalami haid untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh Haji kecuali thawaf. Telah dimaklumi bahwa para jamaah haji juga tidak terlepas dari membaca al-Quran. Hal ini sebagaimana difatwakan Syaikh Bin Baz (Fataawa Islamiyyah 4/25)). 

  • Apakah Tanda- Tanda Berhentinya Haid?

Jawab:

Tanda berhentinya haid ada 2:

1.Munculnya lendir putih agak keruh sebagai pertanda suci (al-Qoshshotul baidha’). Cairan tersebut sudah dikenal oleh para wanita sebagai pertanda berhentinya masa haid.

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ أَبِي عَلْقَمَةَ عَنْ أُمِّهِ مَوْلَاةِ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ بِالدِّرَجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ يَسْأَلْنَهَا عَنِ الصَّلَاةِ فَتَقُولُ لَهُنَّ لَا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنْ الْحَيْضَةِ

Dari Alqomah bin Abi Alqomah dari ibunya bekas budak Aisyah –Ummul Mukminin- bahwasanya ia berkata: para wanita mengirimkan kepada Aisyah ‘dirojah’ (potongan kain terlipat) yang di dalamnya terdapat kapas yang mengandung darah haid kekuningan. Mereka bertanya tentang sholat (jika darah haidnya seperti dalam contoh tersebut). Aisyah menyatakan: Janganlah tergesa-gesa sebelum ia melihat al-Qoshshotul baidha’. Yang beliau maksudkan adalah suci dari haid (H.R Malik dalam al-Muwaththa’) 

2. Berhentinya darah dari kemaluan. Jika diletakkan pembalut atau kapas putih pada kemaluan, tidak ada darah sama sekali (tetap putih bersih). Adakalanya wanita tidak mengeluarkan al-Qoshshotul baidho’ sebagai tanda suci, maka cukup dengan berhentinya darah mengalir menunjukkan telah sucinya wanita tersebut. 

  • Bagaimana Jika Warna Darah Berubah, Seperti Menjadi Kekuning-kuningan dan Keruh. Apakah Itu Darah Haid?

Jawab:

Jika kekuning-kuningan dan keruh atau perubahan warna darah itu masih di masa haid, maka terhitung haid. Namun jika terjadi setelah masa suci, maka bukan darah haid tapi darah penyakit (istihadhah). Wanita itu dianggap telah suci (penjelasan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam syarh Sunan Abi Dawud).

Ummu Athiyyah radhiyallahu anha menyatakan:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا

Kami tidak menganggap kekeruhan dan (warna) kekuningan setelah suci (sebagai haid)(H.R al-Bukhari dan Abu Dawud, lafadz hadits berdasarkan riwayat Abu Dawud) 

  • Apakah Wanita yang Terhenti Haidnya Bisa Langsung Sholat?

Jawab:

Ia tidak bisa langsung sholat sebelum mandi wajib terlebih dahulu. Tata cara dan ketentuan mandinya sama dengan mandi janabah.

Demikian juga terkait hubungan suami istri, belum boleh dilakukan setelah berhentinya haid hingga wanita tersebut mandi wajib terlebih dahulu.

…وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ…

Janganlah kalian mendekati mereka (istri-istri kalian) sampai mereka suci. Jika mereka telah bersuci (mandi) maka datangilah mereka (gaulilah mereka) sesuai dengan yang Allah perintahkan…(Q.S al-Baqoroh:222) 

  • Apakah Wanita Harus Mengganti Sholat dan Puasa yang Tidak Bisa Dilakukan Di Waktu Haid?

Jawab: Ia harus mengganti puasa wajib namun tidak perlu mengganti sholat.

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

Dari Muadzah beliau berkata: Aku bertanya kepada Aisyah –radhiyallahu anha-: Mengapa wanita haid diperintah untuk mengganti puasa dan tidak mengganti sholat? Aisyah berkata: Apakah engkau wanita Haruri (Khawarij)? (Muadzah berkata): Aku bukan wanita Haruri. Hanya saja aku sekedar bertanya. Aisyah berkata: Kami mengalami hal itu (haid). Kami diperintah untuk mengganti puasa dan tidak diperintah mengganti sholat (H.R Muslim)  

  • Jika Seseorang Telah Suci dari Haid dan Telah Mandi, Sholat Apa Saja yang Ia Lakukan?

Jawab:

Jika ia suci di waktu Ashar, maka ia melakukan sholat Dzhuhur dan Ashar. Jika ia suci di waktu Isya’ maka ia melakukan sholat Maghrib dan Isya. Itulah pendapat yang diriwayatkan dari Sahabat Nabi Abdurrahman bin Auf dan Ibnu Abbas dalam al-Awsath karya Ibnul Mundzir dan Mushonnaf Ibn Abi Syaibah. Pendapat ini adalah pendapat Jumhur Ulama’ (Malik, asy-Syafii, dan Ahmad). Al-Imam Ahmad menyatakan bahwa mayoritas Tabi’in selain al-Hasan al-Basri berpendapat demikian. Pendapat ini juga didukung oleh al-Lajnah ad-Daimah dalam Fatwanya.   

Sedangkan Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa jika seorang wanita hanya melakukan sholat yang tidak dilakukan di satu waktu itu maka tidak mengapa. Namun jika ia melakukan sholat dua waktu (pada sholat yang bisa dijamak) maka yang demikian lebih baik. Misalkan, ia suci di saat setelah Ashar menjelang Maghrib, maka ia sebenarnya hanya wajib untuk sholat Ashar saja. Salah satu dalilnya adalah berdasarkan hadits Muadzah di atas. Namun kalau ia memilih untuk sholat Dzhuhur dan Ashar maka itu lebih baik sebagai bentuk kehati-hatian. 

Atsar Ibnu Abbas dan Abdurrohman bin Auf adalah atsar yang lemah, namun bisa jadi pendapat para Tabi’i seperti Mujahid, Atha’, Thowus, Ibrohim, yang riwayat dari mereka shahih maqthu’, bisa sebagai penguat.  

Ada juga riwayat dari Muadz bin Jabal bahwa wanita hanya diharuskan untuk sholat pada satu waktu saja, dan beliau menyatakan: demikianlah kami diperintah Rasulullah untuk mengajari para wanita kami. Hadits itu diriwayatkan oleh adDaraquthny dan beliau sendiri melemahkannya, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Sa’id yang matruk (ditinggalkan). 

Kesimpulan: sebagai bentuk kehati-hatian pendapat Jumhur dalam hal ini adalah pendapat yang terbaik untuk diamalkan. Wallaahu A’lam. 

(Lanjut Ke Hal…2)