Inti Tafsir.Dan Tiga Pembahasan Tentang Al-Qur’an

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1. Hukum Tidak Membaca Al-Qur’an

2. Hajrul(Mengabaikan) Al Qur’an & Macamnya

3. Tadabburi Al-Qur’an

4. Waktu Terbaik Untuk Tadabbur Alqur’an

5. Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur’an

6.Tadabbur Satu Hari 1 Juz

7. Perbedaan Tafsir dan Tadabbur

8. Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan Iman

9.LIMA METODOLOGI YANG MENUNJANG Tadabbur Al-Qur’an

Kaidah dalam Tafsir-Ust Abdullah Zaen

Tafsir Mishbahul Muniir-Ust M. Nurul Dzikri

Pemuda Al Qur’an :No Qur’an,No life” OlehUstadz Afifi Abdul WadudBA

Kembali Kepada Al-Qur’an-Ust Syafiq Basalamh

Menyelami Keutamaan AlQur’an” (Syarah KitabFadha’ilul Qur’an Karya Syaikh Muhammad binAbdul Wahhab) Oleh Ustadz Dzulqarnain M.Sanusi 6 Sesi Pertemuan

Al-Qur’an Pedoman Hidupku-Ust Jauhari

Sebaik-baik dzikir adalah Al-Qur’an – Ustadz Ahmad Zainuddin , Lc

Agungnya Mempelajari Al-Qur’an – Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry,Lc

Buruknya Menafsirkan Al Qur’an Tanpa Ilmu –Ustadz Muhtarom

Keistimewaan Al-Qur’an (Mizan Qudsiyah, Lc)


Ebook

.

Tafsir Al Quran Al Karim Hidayatul Insan Jilid

Tafsir Al Quran Al Karim Hidayatul Insan Jilid 2

Tafsir Al Quran Al Karim Hidayatul Insan Jilid 3

Tafsir Al Quran Al Karim Hidayatul Insan Jilid 4

Ebook Islam Bermanfaat

Kitab TafsirAdwa’ul Bayan, At Tafsirul Muyassar, Taisiru Karimir Rahman, Tafsir Ibnu ‘Utsaimin, Tafsir Ibnu Katsir, dl

Tafsir Al Baghawi, Tafsir Al Khazin, Tafsir AthThabari, Tafsir Al Qurthubiy, Zaadul Masir, Fathul Qadir, dll.

Perpustakaan Islam Elektronik

Tafsir Al-Qur’an Jalalayn

tafsir Ibnu Katsir lengkap 30 Juz versi PDF5698 halaman(30Mb) b.arab

Daftar Murottal Al-Qur’an

Empat Kalimah didalam Al Quran – AbulAala Aal Maududi

Larangan Riba di Dalam Al-Quran

Buku Pintar Ayat Ayat Al-Qur’an

Dalam mempelajari Al-Qur’an, kita kerap menemui kendala ketika ingin membahas tema-tema.tertentu, misalnya ketika ingin mencari ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan.puasa, jihad, sedekah, dan lainnya. Hal ini karena tema-tema tersebut tersebar di berbagai surat dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu buku ini ditulis, guna membantu para pembaca untuklebih mengenal dan memahami firman-firman Allah Ta’ala dengan cara yang lebih mudah dan lebih pintar.

Koreksi Kesalahan Pembaca Al-Quran

===

➡TIGA PEMBAHASAN TENTANG AL-QUR’AN

  • ➡1. PEMBAHASAN PERTAMA: HAJRUL QUR’AN (MENGABAIKAN AL-QUR’AN)

✅[1]- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Dan Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.” (QS. Al-Furqan: 30)

➡Dalam ayat ini Allah mengabarkan tentang seruan dan keluhan dari Rasul-Nya, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alihi wa sallam. Yaitu: bahwa kaum musyrikin; mereka tidak mau memperhatikan dan mendengarkan Al-Qur’an. Jika dibacakan Al-Qur’an; mereka membuat kegaduhan dan keributan agar tidak mendengarkannya.

  1. Inilah yang dinamakan mengabaikan Al-Qur’an.
  2. ➡Tidak mempelajari Al-Qur’an dan tidak menghafalnya juga termasuk mengabaikan Al-Qur’an.
  3. ➡Tidak beriman terhadap Al-Qur’an dan tidak membenarkannya juga termasuk mengabaikan Al-Qur’an.
  4. ➡Tidak mentadabburi Al-Qur’an dan tidak berusaha memahaminya juga termasuk mengabaikan Al-Qur’an.
  5. ➡Tidak mengamalkan Al-Qur’an, tidak melaksanakan perintah-perintah Allah yang terdapat di dalamnya, dan tidak menjauhi larangan-larangan-Nya, juga termasuk mengabaikan Al-Qur’an
  6. ➡Berpaling kepada selain Al-Qur’an; berupa sya’ir, nyanyian, perrmainan dan lain-lain, ini juga termasuk mengabaikan Al-Qur’an.[Lihat: Tafsiir Ibni Katsiir (hlm. 963-al-Mishbaahul Muniir) dan Taisiirul Kariimir Rahmaan (hlm. 582-cet. Muassasah ar-Risaalah)]

➡[2]- Dari sini kita mengetahui bahwa orang yang tidak mau memahami Al-Qur’an dan tidak mau mengamalkannya; maka dia telah mengabaikan Al-Qur’an.

➡ Allah telah mewajibkan atas manusia untuk mentadabburi Al-Qur’an dan mencela mereka yang tidak mau mentadabburinya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka tidakkah mereka menghayati (mentadabburi) Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

[Lihat: Aysarut Tafaasiir (hlm. 1481)]

  • 2. PEMBAHASAN KEDUA: TADABBUR AL-QUR’AN

✅[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati (mentadabburi) ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shaad: 29)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata dalam tafsirnya:

Inilah hikmah diturunkannya (Al-Qur’an); yaitu: agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya, sehingga mereka dapat mengeluarkan ilmu yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut, serta memperhatikan rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya. Karena dengan mentadabburinya, memperhatikan makna-maknanya, dan mengulang-ulang tafakkur (memikirkan) ayat-ayat Al-Qur’an berkali-kali; dengan itu semua maka akan diraih keberkahan Al-Qur’an dan kebaikannya.”[Taisiirul Kariimir Rahmaan (hlm. 712)]

✅[2]- Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

Tidak ada hal yang lebih bermanfaat bagi hati selain membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan tafakkur…

Kalau lah manusia mengetahui (manfaat) yang terdapat pada membaca Al-Qur’an dengan tadabbur; tentulah mereka akan sibuk dengannya dan meninggalkan yang lainnya…

Karena membaca Al-Qur’an dengan tafakkur merupakan pokok kebaikan hati…

Oleh karena itulah, Allah menurunkan Al-Qur’an agar ditadabburi, difikirkan, kemudian diamalkan, bukan sekedar untuk dibaca akan tetapi berpaling darinya (tidak difahami dan diamalkan-pent)

Hasan Al-Bashri berkata: “Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, akan tetapi mereka (manusia) menjadikan bacaannya sebagai amalan (yakni: mencukupkan amalan dengan hanya membacanya saja-pent).”.”[Miftaah Daaris Sa’aadah (I/550-552)]

✅[3]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

Janganlah (seseorang) menjadikan semangatnya dalam ilmu-ilmu yang telah menghalangi kebanyakan manusia dari hakikat-hakikat Al-Qur’an. Apakah: dengan was-was dalam mengeluarkan huruf-hurufnya, atau tarqiiq, tafkhiim, imaalah, mengucapkan madd thawiil, qhashiir dan mutawassith, dan lain-lain. Maka sungguh, hal-hal ini menghalangi hati dan memotongnya dari memahami maksud Allah dari firman-Nya. Demikian juga kesibukkan dalam mengucapkan:

أَأَنْذَرْتَهُمْ

Dan (sibuk dalam masalah) men-dhommah-kan huruf Miim dalam:

عَلَيْهِمْ

dan menyambungnya dengan huruf Waawu, atau (masalah) meng-kasroh-kan huruf Raa’ atau men-dhommah-kannya, dan (masalah-masalah) yang semisalnya. Demikian juga (sibuk dengan) memperhatikan nada dan memperbagus suara.”[Majmuu’ul Fataawa (XVI/50)]

  • ➡3. PEMBAHASAN KETIGA: TADABBUR PERMISALAN

✅[1]- Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- berkata:

Allah -Subhaanahu- telah membuat permisalan-permisalan untuk hamba-hamba-Nya; di berbagai tempat dalam Kitab-Nya, Allah perintahkan (hamba-hamba-Nya) untuk mendengarkan permisalan-permisalan-Nya, dan Dia mengajak hamba-hamba-Nya untuk memahaminya, memikirkannya dan mengambil pelajaran darinya; dan inilah tujuan dari dibuatnya (permisalan-permisalan) tersebut.”

✅[2]- “Di antaranya adalah: Firman Allah -Ta’aalaa-:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Al-Jumu’ah: 5)

Allah mengabarkan tentang orang yang dipikulkan kitab-Nya agar diimani, ditadabburi, diamalkan dan didakwahkan; akan tetapi orang tersebut menyelisihinya, tidak lah dia memukulnya MELAINKAN HANYA HAFALAN SAJA, maka bacaannya yang tanpa disertai tadabbur, tanpa pemahaman, tanpa ittiba, tidak menjadikannya sebagai sumber hukum dan tanpa pengamalan; Allah misalkan orang semacam ini seperti keledai yang di punggungnya ada setumpuk buku; akan tetapi dia tidak tahu apa isinya, dia cuma memikulnya saja.

Jadi orang yang demikian; bagiannya dari Kitabullah adalah seperti keledai ini yang memikul buku-buku di punggungnya.

Permisalan ini walaupun asalnya untuk Orang-Orang Yahudi; akan tetapi -secara makna- mencakup juga orang yang memikul Al-Qur’an; akan tetapi tidak mengamalkannya, tidak memberikan haknya, dan tidak memperhatikannya dengan sepenuh perhatian.”[I’laamul Muwaqqi’iin (1/329-330 & 288)]

(Lanjut ke Halaman 2)