sanggahan Untuk Pendapat Bahwa Puasa Harus Mencocoki Wukuf & Puasa Arofah Di Persimpangan Jalan

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Polemik Puasa Arafah

2. Puasa Arafah berbeda dengan hari Arafah

3.Panduan Shalat Idul Adha dan Idul Fitri

4. Sibukkanlah Dirimu dalam Amal Shalih

5.Keutamaan Hari Arafah

Seputar Puasa Arafah dan Iedul Adha-Ust Abdul Hakim Amir Abdat

Kesalahan dalam Meninggalkanshalat jum’at-Ust Mizan Qudsiyah 

Nasehat Emasbagi Panitia Kajian-Ust Abdul Hakim Amir Abdat

Bagaimana Cara MencintaiNabi-Ust Ali Musri MA

Demi Fajardan Malam yang Kesepuluh-Ust Syafiq Basalamah

.

ebook

Amalan Awal Dzulhijjah Hingga Hari Tasyrik

Beberapa Kesalahan Saat Menunaikan Ibadah Haj

Sembilan Nasehat Buat Anda Yang Menunaikan Ibadah Haji

Agama Adalah Nasehat

Petunjuk Haji dan Umroh

Puasa Arafah

Puasa Sunnah

Problem pelaksanaan Idul Adha yang tidak bersesuaian

=====

  • Puasa Arafah

dlm puasa arafah, itu masuk dalam bab ilmu ushul fikih: “taklifu ma la yuthoq”** apabila diterapkan di zaman dahulu, yakni zamandisabdakannya hadits tentang keutamaan puasa arafah.

Dan kl di zaman dulu tdk mungkin dijalankan, bagaimana di.zaman ini menjadi diwajibkan?!

Ingatlah bahwa agama Islam ini mudah dari asalnya, dan bisa.diterapkan oleh siapapun dan kapanpun.

—–

** “Taklifu ma la yuthooq”, adalah membebani seorang hamba dgmsesuatu yg tidak dimampui olehnya .. ini tidak ada dalam syariat.Islam yg Allah penuhi dg kemudahan.

Allah berfirman:

ﻟَﺎ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ

Allah tidaklah membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya. [Al-Baqarah, 286]

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ad Dariny

===

  • PUASA AROFAH DI PERSIMPANGAN JALAN

Dalam mensikapi Puasa arofah tahun ini (Dzulhujjah 1439 H), manusia terbagi kpada 4 golongan :

  • 1-Ada yang mengikuti penetapan hasil ru’yah negara saudi, dengan alasan puasa arafah itu berkaitan dg peristiwa wukuf di Arofah, sehingga mereka berpuasa hari SENIN dan idul adha nya hari SELASA
  • 2-Ada yang mengikuti hasil penetapan ru’yah hilal pemerintah , sehingga mereka berpuasa hari SELASA dan iedul Adhanya hari RABU
  • 3-Ada yang mengambil jalan tengah dan sebagai bentuk kehati hatian, sehingga mereka puasanya dua hari yaitu hari SENIN dan hari SELASA, sementara iedul adhanya tetap ikut pemerintah, yaitu hari RABU
  • 4-Ada juga yang megambil jalan tengah juga yaitu puasa arafahnya ikut penetapan ru’yah hilal negeri saudi, namun iedul adhanya ikut penetapan ru’yah hilal pemerintah, sehingga mereka berpuasa arafah hari SENIN dan iedul adhanya hari RABU

Dalam hal ini, terlepas di kelompok dan bagian mana anda berpendapat, hendaklah lapang dada, karena masalah ini adalah masalah khilafiyah ijtihadiyah yg mu’tabar, tidak boleh saling menyesatkan, walaupun tetap kita pilih pendapat yang rojih secara ilmiyyah, lagipula tidak berpuasa arofahpun tidak berdosa karena puasa arofah sepakat para ulama hukumnya sunnah, hanya saja jika tidak puasa pastinya rugi kehilangan pahala dan keutamaan,,

➡Saya sendiri lebih memilih pendapat yang nomor 2 (dua) , karena :

1-Setiap negeri punya mathla’ hilal masing masing, maka bisa jadi antara negara Saudi Arabia dan indonesia kadang terjadi perbedaan ru’yah hilal, bahkan jika mendungpun misalnya sehingga tidak tampak hilal, maka hal ini dianggap tidak adanya hilal dan wajib menggenapkan bulan sebelumnya menjadi 30 hari.

2-Ibadah ijtima’iyyah (bersama) semisal puasa, lebaran, dan berkurban itu penetapan waktunya nya haruslah penguasa dan bukan kelompok apalagi perorangan.

3-Puasa hari arofah tidaklah harus identik dengan bertepatannya dengan peristiwa wukuf di arofah , karena yang di maksud oleh hadits puasa hari arofah adalah sekedar menunjukan hari yang ke-9 bulan Dzulhijjah, sebagaimana hari ke-8 dzulhijjah dinamakan hari tarwiyah, hari ke-10 dinamakan hari nahar, hari ke-11 sampai 13 dzulhijjah dinamakan hari tasyriq, hal ini sebagaimana kebiasaan orang arab menamakan sesuatu waktu kepada peristiwanya

4-Rasulullah bersabda tentang penentuan awal ramadan:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” ( HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

Karena munculnya hilal dinegara- negara itu berbeda- beda waktunya, maka masing negara merujuk hasil rukyah masing- masing yang berbeda dan itulah perintah Nab shalallahu alaihi wasallam

5-Sudah terjadi sejak zaman para sahabat perbedaan awal bulan karena perbedaan waktu terlihatnya hilal, sebagai bukti, dahulu Ummu Fadhl menyuruh Kuraib menemui Muawiyah di negeri Syam, untuk menyelesaikan urusan. Setelah selesai urusan Kuraib melihat hilal ramadan malam jumat di negeri Syam, Kemudian setibanya di Madinah, Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma- bertanya kepada Kuraib“Kapan kamu melihat hilal?”. Kuraib menjawab,” malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk negeriku melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib.

✅Ibnu Abbas menjelaskan

لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ

“Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah ldi negeri Syam)?”

✅Jawab Ibnu Abbas,

لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

Tidak, seperti inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah kepada kami.” (HR. Muslim 1087).

Kisah ini menunjukkan bahwa hilal di negeri kita tidak harus sama dengan hilal Saudi Arabia,

Demikian pula untuk hilal bulan selain ramadan seperti 1dzulhijjah dan lainnya.

6-Sejak dulu dan ini sudah berulang-ulang sekian lama, terjadinya perbedaan tanggal antara satu negara dengan negara yang lain disebabkan perbedaan waktu munculnya hilal, dan dipastikan berita wukuf di Arafah tidak akan sampai ke negeri lain kecuali setelah berhari-hari, atau berpekan-pekan, bahkan berbulan- bulan, karena terkendalanya alat komunikasi yang belum canggih seperti sekarang, dan Allah maha mengetahui kondisi seperti ini, dan ternyata Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengoreksi perbedaan tanggal ini karena memang ini tidak perlu disoal, dan syariat dulu dengan sekarang ini berlaku sama, meskipun sekarang alat komunikasi sudah canggih.

7-Mengikuti hilal lokal, dan kalender negeri masing- masing itu lebih memudahkan kaum muslimin dalam pelaksanaan ibadah mereka , dan lebih menyatukan umat, apalagi Nabi menganjurkan supaya masyarakat berpuasa dengan cara bersamaan, tidak berbeda- beda, beliau bersabda;

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Puasa itu dilakukan pada hari ketika masyarakat berpuasa. Berhari raya (Idul Fitri) dilakukan ketika masyarakat berhari raya Idul Fitri, dan hari raya Idul Adha itu dilaksanakan ketika masyarakat berhari raya Idul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697)

8-Sudah dimaklumi bahwa hilal itu bisa berbeda- beda waktu munculnya di negara- negara yang berbeda, jika puasa arafah harus mengikuti waktu wukuf di arafah, maka tidak berlaku hadits berikut;

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً

Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut kepala dan rambut badannya (diartikan juga: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1977)

Karena larangan yang disebut dalam hadits berlaku jika sudah terlihat hilal Dzulhijjah, maka demikian pula untuk puasa Arafah berpatokan pada hilal lokal yang terlihat dan bukan pada waktu pelaksanaan wukuf

9-Syaikh Muhammad bin Salih Al ‘Utsaimin -rahimahullah– ketika ditanya tentang puasa arafah tatkala ada perbedaan penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit) hilal karena pengaruh perbedaan daerah, apakah puasa arafah mengikuti ru’yah negeri sendiri ataukah mengikuti ru’yah Haramain (dua tanah suci)?”

Syaikh menjawab, yang kesimpulannya; “Permasalahan ini adalah turunan dari perbedaan ulama apakah hilal yang tampak itu berlaku untuk seluruh dunia, ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Maka Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah? Puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan hilal di negeri masing-masing dan tidak harus mengikuti wukuf di Arafah. Begitu pula dalam Idul Adha, sebaiknya mengikuti negeri masing-masing. Kita harus berlapang dada karena para ulama berselisih dalam memberikan jawaban masalah ini, berlapang dada itu baik, namun mengikuti keputusan pemerintah itu lebih baik karena mereka telah menjalankan sunnah Rasul (dalam menentukan masuk awal dan akhir bulan) (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh al-utsaimin 20/47-48) (Tambahan faedah dari guru kami Al Ustadz Muhammad Ali Abu Ibrahim -hafidzahullah-)

Abu Ghozie As Sundawie

==

  • SANGGAHAN UNTUK PENDAPAT BAHWA PUASA HARUS MENCOCOKI WUKUF

Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Khalil

(Ringkasan dari tulisan beliau)

Dalil-dalil mereka adalah:

1. Dalil pertama, yang dimaksud hari Arafah adalah hari ketika jama’ah hari wukuf di Arafah. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa dalil:

Dari ‘Atha’ rahimahullah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( أضحاكم يوم تضحون ) وأراه قال : ( وعرفة يوم تعرفون )

Hari ‘Idhul Adha kalian adalah hari di mana kalian berkurban” Dan aku mengira beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”dan hari ‘Arafah adalah hari ketika kalian melakukan wukuf ‘Arafah” (HR. AlBaihaqi dalam Sunan Al Kubra 5/176 dan Asy Syafi’i dalam Al-Umm 1/264 dari ‘Atha’ secara mursal dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 4224)

✅Dari Ibnul Munkadir, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عرفة يوم يعرف الإمام

hari ‘Arafah adalah hari ketika imam melakukan wukuf ‘Arafah” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 5/175, Ibnu Hajar dalam At Talkhis berkata: “dalam riwayat ini Mujahid bersendirian, lalu Al Baihaqi berkata bahwa periwayatan Muhammad bin Al Munkadir dari ‘Aisyah statusnya mursal. Dan perkataan Al Baihaqi ini benar. Walaupun At Tirmidzi telah menukil dari Imam Bukhari bahwa beliau berkata bahwa Ibnul Munkadir mendengar hadits dari ‘Asiyah”)

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah dalam tahqiq beliau terhadap tulisan Imam Ibnu Rajab yang berjudul Ahkamul Ikhtilaf fi Ru’yatil Hilal Dzulhijjah (hal. 24), beliau berkata: “sanad hadits ini lemah, Muhammad bin Ismail Al Farisi disebutkan dalam Ibnu Hibban dalam kitab Ats Tsiqat (9/78): ‘ia sering meriwayatkan hadits gharib‘ dan lihat juga Lisanul Mizan (5/77). Namun walau demikian, Asy Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini dalam tulisan beliau yang berjudul Awa’ilus Syuhur Al ‘Arabiyyah Hal Yajuz Syar’an Itsbatuha bil Hisab Al Falakiy (hal. 26)“.

Dari Masruq, beliau menemui ‘Aisyah radhiallahu’anha di hari Arafah, kemudian Masruq berkata: ‘beri aku minum‘. Lalu ‘Aisyah berkata: ‘wahai budak, berilah ia minuman madu. wahai Masruq, apakah engkau tidak puasa?’. Masruq berkata: ‘tidak, saya khawatir ini sudah hari Idul Adha’. Lalu ‘Aisyah berkata:

ليس ذلك إنما عرفة يوم يعرف الإمام ، ويوم النحر يوم ينحر الإمام ، أو ما سمعت يا مسروق أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعدله بألف يوم

bukan demikian, sesungguhnya hari ‘Arafah adalah hari ketika imam melakukan wukuf ‘Arafah dan hari idul adha adalah hari ketika imam berkurban. Atau mungkin engkau belum mendengar wahai Masruq, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyamakan puasa Arafah dengan puasa 1000 hari?” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/190) berkata: “dalam sanadnya ada Dalham bin Shalih ia dianggap lemah oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban, sehingga sanadnya hasan”, dan hadits ini dilemahkan oleh Syaikh Al Albani dalam Dha’if At Targhib wat Tarhib).

✅Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Khalid bin Usaid ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يوم عرفة اليوم الذي يعرف الناس فيه

hari Arafah adalah hari ketika orang-orang berwukuf di Arafah ketika itu” (HR. Ad Daruquthni dalam Sunan-nya (2/224) dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra (5/176) dan ia berkata: ‘hadits ini mursal jayyid di keluarkan oleh Abu Daud dalam Al Marasil”).

  • SANGGAHAN:

Jika kita perhatikan dengan seksama dalil-dalil yang ada, tidak ada dalil yang sharih (tegas) menyatakan bahwa puasa Arafah itu mengikuti wukufnya jama’ah haji. Yang ada adalah penyebutan hari Arafah sebagai hari wukufnya jama’ah haji. Dan hadits-hadits tersebut semisal dengan hadits:

صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ , وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

Kalian berpuasa ketika kalian semuanya berpuasa, dan kalian berbuka ketika kalian semua berbuka” (HR Ad Daruquthni 385, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya 238).

Oleh karena itu, karena hadits-hadits ini semisal, mengapa membedakan antara ini dan itu. Semestinya berlakukan kaidah yang sama antara puasa Arafah dan puasa Ramadhan dan Idul Fitri. Yaitu mengikuti hilal masing-masing negeri.

***(lanjut ke halaman 2)