Bid’ah dan Kemusyrikan di Indonesia
(Bag.1)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1. Bahaya Syirik 2

2. Dakwah Tauhid

3.Apa itu Takhayul dan Khurafat ? •

4.Kemusyrikan di Indonesia

5.Definisi Sesat(Dholalah) dan Sebabnya

6.Pandangan Islam Terhadap Kebudayaan

7.Mengenal Syirik dan Bahayanya

8. Ajarkan Tauhid Sejak Dini

Cinta yg Menyebabkan Kesyirikan-Ust Lalu Ahmad Yani

Bukan Sekedar Ucapan-Ust Mizan Qudsiyah

Cara Melawan Iblis-Ust Mizan Qudsiyah

Gambaran NgeriPadang Mahsyar-Ust Mizan Qudsiyah

Tafsir Mimpi-Ust Mizan Qudsiyah

mimpi bertemu arwah-Ust Mizan Qudsiyah

Teguran Bagi yg membuatIbadah Baru(Bid’ah)- Ust Ali MusriMA

Tradisi Non Muslimdi Dalam Tubuh Islam (Khurafat,Syirik,Bid’ah,Tahayyur,dll)-Ust Zainal Abidin Syamsudin

Bidah Hasanahdalam pandangan Islam-Ust Zainal Abidin Syamsudin


Ebook

.

Fenomena Kesyirikan Jahiliyyah yangterlupakan

Hakikat islam dan Hakikat syirik

Hakikat Syirik Dan Macam-Macamnya

Istana Iblis

Macam Macam Syirik

Karakter Syaithan Dalam Al-Qur’an

Makna Taghut

Misteri Kehadiran Arwah

Metode Syaithan Dalam Menyesatkan Manusia

Takutlah Kepada Syirik

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Taimimi(6 MB)

Tiga Hal Yang Harus Anda Ketahui( 3 Landasan Utama, 4 Kaidah Penting dan Syarat Sahnya Shalat) -Muhammad bin Sulaiman At-Tamimi

Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman Sulaiman bin Nashir bin Abdullah al-Ulwan(PDF).(4,3 MB)

[Muhammad At-Tamimi] Tiga LandasanUtama.pdf

Kaidah Memahami Tauhid

Hakikat Tauhid

Hal Hal Yang Merusak Aqidah

Inti Ajaran Islam

==

  • Bid’ah dan Kemusyrikan di Indonesia

Sebagian orang menganggap bahwa upacara adat lah yang bisa menjaga keamanan dan kesejahteraan mereka. Meninggalkannya berarti, siap menuai petaka.

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَاۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ  (١٧٠) ﴾ [ البقرة:170]

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.( Qs Albaqarah 170)

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَاۗ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ  (٢١) ﴾ [ لقمان: 21]

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah“. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?Qs ( Luqman:21 )

﴿وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ  (١١٦) ﴾ [ الأنعام:116-116]

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Qs (Al-An’Aam:116)

Banyak masih di temui bentuk bentuk Ibadah yang masih dilakukan oleh masyarakat kita baik di Pedalaman maupun perkotaa diantaranya adalah sebagai Berikut :

Tempat2 keramat  yang ada di jalan, yang katanya kalau dipindah bisa menimbulkan korban.

  • MENGENAL BID’AH

Mirip Syari’at Tetapi Sesat

Pengertian bid’ah secara bahasa berarti sesuatu yang baru atau membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Dalam tinjauan bahasa memang mobil itu bid’ah, microphone itu bid’ah, computer itu bid’ah, hanphone juga bid’ah. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud oleh Nabi. Bid’ah yang dimaksud Nabi adalah bid’ah dalam tinjauan syar’i.

Adapun bid’ah dalam tinjaun syar’i, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy-Syatibi dalam kitab Al-I’tisham, Bid’ah adalah suatu cara beragama yang mirip dengan syari’at yang dengan melakukannya seseorang bermaksud melakukan ibadah kepada  Allah.

  • Bid’ah Adalah Musibah

Berkembangnya bid’ah-bid’ah adalah musibah. Bahkan tak ada yang lebih menyesakkan dada para ulama melebihi kesedihan mereka ketika melihat munculnya bid’ah. Ibnul Mubarak berkata: “kita mengadu kepada Allah akan perkara besar yang menimpa umat ini, yakni wafatnya para ulama’ dan orang-orang yang berpegang kepada sunnah, serta bermunculannya bid’ah-bid’ah.”

Abu Idris Al-Khaulani berkata: “Sungguh melihat api yang tak biasa kupadamkan lebih baik bagiku daripada melihat bid’ah yang tak mampu aku padamkan.”

Bid’ah menjadikan pelakunya semakin jauh dari Allah. Hasan Al-Bashri mengungkapkan, “Bagi para pelaku bid’ah, bertambahnya kesungguhan ibadah (yang dilandasi bid’ah), hanya akan menambah jauhnya kepada Allah.”

Mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap bid’ah ini, mendekati wafatnya, Nabi memberikan beberapa wasiat, diantaranya,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

  • Antara Bid’ah dan Ikhtilaf Ulama’ (Perbedaan Pendapat Ulama)

Bid’ah tidaklah sama dengan ikhtilaf para ulama. Bid’ah harus diingkari dan dicegah, sedangkan ikhtilaf yang merupakan hasil ijtihad di kalangan ulama tidak boleh dicegah atau diingkari sebagaimana mengingkari maksiat. Qunut subuh misalnya, tidak selayaknya kita mengingkari orang yang melakukannya seperti kita mengingkari kemungkaran atau bid’ah. Karena nyatanya hal itu diperselisihkan ulama tentang kesunnahannya. Begitupun juga dengan ikhtilaf dalam hal tahiyat, menggerakkan jari atau tidak. Juga ketika berdiri dari rukuk, bersedekap atau tidak.

Hal ini berbeda dengan perkara bid’ah yang nyata diada-adakan. Seperti berkumpul pada hari ke-7, ke-40 atau ke-100 hari orang yang meninggal dunia. Karena tidak ada dalil ke-sunnahannya, tidak ada pula ulama terdahulu yang menganjurkannya. Bahkan para sahabat menganggapnya sebagai niyahah (meratapi mayit). Jarir bin Abdillah al-Bajali berkata,

كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنْ النِّيَاحَةِ

Kami (para sahabat) menganggap bahwa kumpul-kumpul di tempat keluarga mayit dan membuat makanan (jamuan) setelah dikuburkannya mayit termasuk niyahah (meratapi mayit).” (HR. Ibnu Majah no. 1601, disahihkan oleh Al-Albani dalam Talkhish Ahkam Al-Jana’iz, hal. 73)

  • Menyoal Bid’ah Hasanah

Sebagian orang berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah (bid’ah baik) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah buruk). Padahal Nabi tidak pernah memperkenalkan kepada umatnya tentan pembagian bid’ah ini. Dengan tegas Rasulullah bersabda

وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“…..karena sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits ini merupakan kaidah agama yang berlaku mutlak.

Adanya bid’ah hasanah sering dialamatkan kepada sahabat Umar bin Khothab yang mengatakan tentang shalat tarawih, “Ni’matul bid’ah hadzihi,” sebaik-baik bid’ah adalah ini. Hal ini dapat terbantahkan dari berbagai sisi.

Pertama: kalaupun maksud perkataan Umar adalah yang seperti mereka maksudkan, maka tidak boleh mengkonfrontir hadits Nabi dengan perkataan sahabat. Abdullah bin Abbas pernah berkata, “Hampir-hampir hujan batu menjatuhi kalian dari langit, aku katakan ‘Rasulullah bersabda’, kalian menyanggahnya dengan ‘Abu Bakar berkata’.”

Kedua: yang dimaksud Umar adalah bid’ah dengan pengertian bahasa, bukan bid’ah secara syar’i.

Ketiga: shalat tarawih berjama’ah yang dianjurkan Umar, tidak dikatakan sebagai bid’ah secara syar’i. karena amalan itu ada contohnya dari Nabi.

  • Beda Bid’ah dengan Al-Maslahah Al-Mursalah

Pembolehan bid’ah sering dialamatkan kepada para sahabat maupun tabi’in, lalu itu dijadikan alasan untuk membuat syariat-syariat baru. Yang paling sering dijadikan alasan mereka adalah sejarah Jam’ul Qur’an (pengumpulan Al-Qur’an), yang termasuk bentuk dari al-maslahah al-mursalah.

Al-Maslahah al-Mursalah diberlakukan untuk menjaga perkara yang bersifat dharuri dan bertujuan untuk raf’ul haraj (menghilangkan keberatan) dalam menjalankan ketentuan syari’at. Hal ini berbeda dengan bid’ah yang diada-adakan meskipun dianggap sebagai maslahah mursalah oleh orang yang tidak memahami perbedaan diantara keduanya.

KHURAFAT MENURUT ISLAM:

  • Pengaruh dan Kesannya Kepada Aqidah Umat Islam

Pendahuluan

Sebelum kedatangan Islam, penduduk di Nusantara mempunyai pegangan dan keyakinan tentang adanya kuasa ghaib yang mereka tidak nampak tapi dapat mereka rasai kesannya.

  • DINAMISME

Kepercayaan adanya tenaga yang tak berperibadi dalam diri manusia, haiwan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda dan kata-kata.

Tenaga yang tak berperibadi ‘MANA’ Prestasi yang luar biasa yang dipunyai pemiliknya, Kulit Limau Besar, Daun Silat, Inggu, Besi Berani, Keris dll.

  • ANIMISME

Kepercayaan adanya jiwa dan ruh yang dapat mempengaruhi alam manusia

  • 1. Ruh atau anasir halus yang mempunyai kekuatan dan kehendak .
  • 2. Kesenangan ruh perlu dijaga dan dipelihara.
  • 3. Ruh org mati, gunung, sungai, batu dll.
  • HINDU

Kepercayaan kepada dewa-dewa

1. Dewa lebih berkuasa, lebih tinggi & mulia.

2. Penyembahan dewa lebih umum

3. Mempunyai pekerjaan-pekerjaan tertentu

  • DEFINISI KHURAFAT

Kamus Bahasa Arab:

(al-Mu’jam al-Wasit) Cerita-cerita yang mempesonakan yang dicampuradukkan dengan perkara dusta (al-Marbawi) Cerita karut (karut marut)

Kamus Dewan : KHURAFAT

Kepercayaan karut yang diada-adakan berpandukan kepada perbuatan-perbuatan dan kejadian-kejadian alam yang berlaku.

Kesimpulannya : KHURAFAT

Semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang larang, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam

  • Khurafat adalah bid’ah akidah

Apa saja kepercayaan kepada sesuatu perkara yang menyalahi ajaran Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

  • ➡CIRI-CIRI KHURAFAT

1. Tidak didasarkan pada nas-nas syarak (al-Quran atau hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.

2. Cerita-cerita rekaan, dongeng, khayalan atau karut.

3. Bersumberkan kepada kepercayaan-kepercayaan lama dan bercanggah (bertentangan) dengan Islam.

4. Menggunakan objek-objek tertentu seperti kubur, pokok (pohon) dan sebagainya.

5. Mempunyai unsur-unsur negatif dari segi akidah dan syariah.

6. Berbentuk pemujaan dan permohonan kepada makhluk halus

  • BENTUK-BENTUK KHURAFAT

Kepercayaan kepada keramat seperti kubur, pokok kayu, telaga, batu, bukit, tongkat dan sebagainya.

  • KERAMAT

1. Perkara yang luar biasa.

2. Anugerah Allah kepada hambanya yang salih.

3. Terjadi daripada orang salih.

4. Bukan dari benda-benda seperti tembikar, kubur, pokok kayu dll.

5. Bukan dari orang fasik.

6. Kepercayaan kepada sial majal seperti adat mandi safar, adat mandi membuang sial dan sebagainya.

7. Kepercayaan kepada kekuasaan jin dan memohon pertolongan darinya seperti adat memuja kampung, adat merenjis tepung tawar, adat pantai dan sebagainya

  • Tidak Ada Sangkaan Sial dalam Islam

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

✅Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ

yang Bermaksud:

 “Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial (tathoyyur)*, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220).

✅Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  • JIN

1. Makhluk alam ghaib yang berakal, berkehendak, sadar dan ada kewajiban.

2. Ia berjasad halus dan hidup bersama-sama manusia di dunia ini.

3. Jin dicipta lebih dahulu daripada manusia.

4. Ia dicipta daripada api. Firman Allah dlm Al-Hijr 15: 26-27 yang bermaksud

Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia daripada tanah liat yg kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami menciptakan jin, sebelum itu, dari. api yg sangat panas.

✅Firman Allah:

﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا  (٦) ﴾ [ الجن: 6]

Maksudnya

Dan sesungguhnya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa orang di antara jin, maka jin-jin itu menambah dosa dan kesalahan bagi mereka. (Al-Jin 72: 6)

Kepercayaan kepada bertambah dan berkurangnya rezeki seperti adat memuja ‘semangat padi’ yang dilakukan oleh petani-petani seperti bersemah (memuja semangat padi) dan membuang ancak di sungai dan laut dan bermain pantai. 

  • rezeki Pemberian Allah

Firman-Nya Yg Bermaksud: Kamilah Yg Memberi Rezeki (Hud : 6)

Hendaklah Berusaha Banyak / Sedikit Ketentuan Allah Kepercayaan kepada petanda-petanda, pantang larang dan mimpi. Contohnya seperti tidak boleh keluar ketika gagak berbunyi, takut mendapat sial atau bala dan sebagainya. Sabda rasululullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bermaksud: mimpi ada tiga jenis: mimpi yg datang dari Allah, mimpi kesedihan yang datang dari syaitan dan mimpi yg datang dari kesan bisikan hati seseorang di waktu sedar, lalu dilihatnya dalam mimpi. Memuja objek-objek tertentu, pohon, roh nenek moyang, kubur-kubur yang dianggap wali dan sebagainya. Percaya kepada ramalan-ramalan bintang, angka-angka atau rajah-rajah tertentu.

✅Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (yang disembah). Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai temnpat ibadah” (HR. Ahmad no. 7358. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Tahdziirus Saajid, hal. 25)

(Lanjut ke halaman 2)