Ringkasan & Keistimewaan Manhaj Kaum Salaf Dalam Akidah



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Manhaj Kaum Salaf Dalam Akidah

2.Konsep Ketuhanan Dalam Islam

3.Jalan Ahlussunnah wal Jama’ah

4.Mengenal Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah

5. Pelajaran Penting Untuk Seorang Muslim

6. Beberapa Larangan Dalam Aqidah

7.Menyikapi Perselisihan Ulama

8. Tanya Jawab Ringkas Aqidah Islam

9. Tanya Jawab Singkat Akidah Islam

Apa itu Manhaj Salaf-Ust Hasan Al Jaizy

Amalan Bulan Dzulhijjah-Abu Haidar as Sundawy ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Jalan Selamat dari Ujian-Ust Mizan Qudsiyah

Mati Diatas aqidah Yang.Benar” Oleh UstadzAhmad Zainuddin Lc

Aqidah Imam Bukhari” Oleh Ustadz DzulqarnainM.Sanusi

Sesi1

Sesi2

Sesi3

Bentuk Bentuk Perusak Iman-Ust Mizan Qudsiyah

Penjelasan 3 Landasan Utama-Ust Muflih Safitra

Mulia Manhaj Salaf- Ust Muflih Safitra

Ancaman Berdusta Atas Nama Nabi-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.m4a

Kumpulan Ebook

 ‘Aqidah Untuk Anak:

Syarah Al-Qawaa-‘id Al-Arba’, karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Mengenal Manhaj Salafi, karya Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali

Perselisihan Ulama, karya Syaikh Muhammad bin ShalihAl-‘Utsaimin

Kaidah Dasar Islam, karya Ahmad Hendrix

Syarah Ushuulus Sunnah Imam Ahmad bin Hanbal, karyaAhmad Hendrix

50 soal jawab seputar aqidah – Muhammadbin Sulaiman At-Tamimi

Aqidah Mukmin

Aqidah AhlusSunnah WalJamaah Tentang Sahabat

koreksi aqidah kh said aqil sirajd- jangansamakan tauhid islam dengan trinitas kristen

Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah -Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin

Aqidah Salaf Ashabul Hadits & AhlusSunnah Wa I’tiqodud Dien – Imam Abu Ismail ash Shobuni

(Aqidah) Syarhus Sunnah oleh Imam AlBarbahary

dakwah salafiyah istilah yang syar’i, bukanhizbi!!

Dasar-Dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf 1

lDasar-Dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf 2

===

Manhaj Salaf Dalam Akidah

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Ringkasan Manhaj Kaum Salaf Dalam Akidah dan Keistimewaan Manhaj Mereka

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ringkasan tentang manhaj Salaf dalam berakidah, yang poin-poinnya banyak kami rujuk dari kitab Kun Salafiyyan Alal Jaddah karya Abdussalam As Suhaimiy, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Ringkasan Manhaj Kaum Salaf (Generasi Pertama Islam) Dalam Akidah

  • ➡1. Sumber rujukan mereka dalam akidah adalah kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, serta memahami nash-nash dengan pemahaman kaum salafush shalih.

✅Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ   وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Sesungguhnya, barang siapa yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), maka ia akan menyaksikan banyak perselisihan. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah dengan geraham (genggamlah dengan kuat). Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena semua perkara bid’ah adalah sesat.“ (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dia (Tirmidzi) berkata, “Hasan shahih”)

Imam Syathibiy rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, wajib bagi orang yang memperhatikan dalil syar’i untuk melihat apa yang difahami generasi terdahulu, dan apa yang mereka kerjakan, karena hal itu lebih membuatnya dekat dengan kebenaran.” (Al Muwafaqat 3/77)

✅Contoh firman Allah Ta’ala,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Ar Rahman bersemayam di atas Arsy.” (Qs. Thaha: 5)

Tidak ada kaum salaf yang menafsirkan ‘istawa’ dengan istawla (menguasai).

Mujahid (w. 102 H) saat menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Ar Rahman bersemayam di atas Arsy.” (Qs. Thaha: 5) mengatakan, “Tinggi di atas Arsyi.

Bisyr bin Umar Az Zahrani (w. 207 H) berkata, “Aku mendengar lebih dari seorang mufassir saat menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Ar Rahman bersemayam di atas Arsy.” (Qs. Thaha: 5) mengatakan, “Irtafa’a” (berada di atas).

Imam Malik (w. 179 H) berkata, “Istiwa (bersemayam) itu jelas, bagaimana hakikatnya ghairu ma’qul (tidak dimengerti), menanyakannya bid’ah, dan mengimaninya wajib.”

Demikian pula dalam memahami hadits,

لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah seseorang berzina ketika dia sebagai seorang mukmin.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada para sahabat yang memahami, bahwa hadits ini menunjukkan pelaku dosa besar adalah kafir sebagaimana pemahaman kaum Khawarij.

Catatan:

  • Qaul Sahabiy (pendapat seorang sahabat)

Tentang qaul Sahabiy ada beberapa keadaan sebagai berikut:

✅a. Qaul sahabiy adalah hujjah terhadap perkara yang tidak ada ruang bagi ra’yu (pendapat) di sana (seperti terkait masalah gaib), sehingga dihukumi marfu’ (dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam) sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu hadits. Oleh karena itu, qaul tersebut didahulukan daripada qiyas, dan bisa ditakhshish dengannya keumuman suatu dalil jika sahabat tersebut tidak sebagai sahabat yang terkenal mengambil riwayat Israiliyyat (dari Bani Isaril) (Lihat Mudzakkkirah Ushulil Fiqh karya Asy Syinqithi hal. 256).

✅b. Jika pendapat sahabat menyelisihi nash (dalil) syar’i, maka didahulukan nash, dan tidak dipakai pendapat sahabat.

✅c. Jika seorang sahabat berpendapat, dan tidak ada yang menyelisihinya, sedangkan pendapat itu masyhur di tengah-tengah mereka, maka menurut mayoritas fuqaha (Ahli Fiqih), bahwa hal itu menjadi ijma’ (sukuti) dan sebagai hujjah..

✅d. Jika kita tidak mengetahui apakah pendapat itu masyhur atau tidak, maka menurut mayoritas Ahli Ilmu adalah diterima pendapatnya dan dijadikan pegangan.

✅e. Namun jika di antara sahabat terjadi perbedaan pendapat, maka dipilih pendapat yang rajih, dan tidak keluar dari pendapat itu.

  • ➡2. Berhujjah dengan hadits yang shahih dalam masalah akidah, baik hadits tersebut ahad maupun mutawatir.

✅Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al Hujurat: 6)

Ayat ini menunjukkan diterimanya berita dari seorang yang tsiqah (terpercaya), dan bahwa terhadap orang ini tidak perlu diteliti, karena tidak sebagai orang yang fasik.

Lihat pembahasan secara lebih luas di sini: http://wawasankeislaman.blogspot.co.id/2016/06/kehujjahan-hadits-ahad-dalam-menetapkan.html

Imam Abul Hasan Al Asy’ari rahimahullah berkata, “Kesimpulan yang dipegang Ahli Hadits dan Ahlussunnah adalah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan kepada apa yang datang dari sisi Allah, serta yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqah (terpercaya) dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka tidak menolak sedikit pun itu semua.” (http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=45633)

  • ➡3. Menerima apa yang disebutkan dalam wahyu dan tidak menolaknya dengan akal, serta tidak membicarakan masalah ghaib yang tidak dijangkau oleh akal.

Ini adalah salah satu prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, yakni mengedepankan wahyu di atas akal, tidak seperti kaum Mu’tazilah yang mengedepankan akal di atas wahyu. dan jika ada kesan pertentangan antara dalil dengan akal, maka yang didahulukan adalah dalil atau wahyu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Hujurat: 1)

Perlu diketahui, bahwa tidak mungkin wahyu bertentangan dengan akal, karena wahyu memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya, memuji mereka yang menggunakan akalnya, dan mencela mereka yang tidak mau menggunakan akalnya (Lihat Qs. Az Zumar: 17-18 dan Al Mulk: 10). Kalau pun terkesan bertentangan karena keterbatasan pengetahuan kita, maka wahyu didahulukan, karena wahyu adalah ilmu Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui, sedangkan akal adalah ilmu makhluk yang terbatas.

Adapun dalil tidak membicarakan masalah ghaib yang tidak dijangkau oleh akal adalah firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah, “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu serta (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al A’raaf: 33)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.” (Qs. Al Israa: 36)

  • ➡4. Tidak mendalami ilmu kalam dan filsafat.

Karena di dalam ilmu tersebut manusia berbicara tentang Allah bersandar kepada akal, padahal jangkaun akal sangat terbatas, dan dapat membuat seseorang berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar Raziy -dimana sebelumnya ia adalah seorang tokoh Ahli Kalam- berkata,

نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُولِ عِقَالُ – وَغَايَةُ سَعْيِ الْعَالَمِينَ ضَلَالُ

وَأَرْوَاحُنَا فِي وَحْشَةٍ مِنْ جُسُومِنَا – وَحَاصِلُ دُنْيَانَا أَذَى وَوَبَالُوَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُولَ عُمْرِنَا – سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيهِ: قِيلَ وَقَالُوا

Akhir dari mendahulukan akal adalah iqal (berputar-putar seperti ikat kepala)

Akhir dari usahanya adalah kesesatan

Ruh yang ada di jasad kami merasakan kerisauan

Hasil yang diperoleh dari dunia kami hanyalah penderitaan dan kesusahan

Kami tidak memperoleh dari penelitian kami sepanjang usia

Selain hanya mengumpulkan qiila wa qaalu (dikatakan dan katanya).

(Lanjut ke hal…..2)