Sifat-Sifat Para Sahabat radhiyallahu anhum  

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Wajibnya Memahami Kedua Wahyu DenganPemahaman Para Sahabat

2. Keutamaan Para Sahabat

3. Keutamaan Sahabat dalam Al-Qur’an

4. Membenci Sahabat Nabi, Tanda Kekafiran

5. Hakekat Pencela Sahabat

6. Sifat-sifat Sahabat Rasul shallallahu ‘alaihiwa sallam

Aqidah Ahlus Sunnah Terhadap Sahabat Nabi-Ust Mizan Qudsiyah

Keutamaan Sahabat Nabi dan Aqidah Ahlus Sunnah terhadap Para Sahabat-Ust M. Nur Ihsan

Kisah Para Sahabat-Ust Abdurrahman Attamimi

Kisah Sahabat-UstSufyan Bafin Zen

Sejarah Sahabat Nabi-Ust Khalid Basalamah

“Mengenal Generasi Terbaik Umat Ini (Kumpulan Siroh Sahabat Nabi Radhiyallahu’anhum Ajma’in)” Oleh Ustadz Abu Zubair Hawaary Lc

Kewajiban Mencintai Para Sahabat.Nabi” Oleh Syaikh Prof Dr.Ibrahim Ar Ruhaily [Penerjemah Ustadz Beni Sarbeni Lc]

Mengenal Sahabat Nabi”.Oleh Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa Lc

“Sifat-sifat Ibadurrahman” Oleh Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani

sesi1 sesi2 sesi3

Beginilah Para Sahabat Menggapai Ridha Allah” Oleh Ustadz Ahmad Zainuddin Lc


Kumpulan Ebook

Mengenal Nabimu Muhammad danPara Sahabatnya

Siapakah Pembunuh Husein Radhiyallahu ‘anhu Yang Sebenarnya?

Keteladanan Salafusshalih

Abu Bakr Al-Siddiq Radhiallahu anhu

Sikap Muslim Terhadap Para Sahabat Yang Mulia

Biografi Singkat Umar Bin Khattab

Biografi Khalid bin Walid Radhiyallahu’anhu

Abdullah Nashih Ulwan – Saat Mu’minMerasakan Kelezatan Iman

Abu Hurairoh Pribadi yg Mengagumkan

Abu Hurairoh Teraniaya

tashfiyah dan tarbiyah

Biografi 60 Sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam (30Mb)(610Hlm)

65 Kisah Teladan Sahabat Nabi

Karasteristik hidup 60 sahabatRosululloh(7Mb)

AL-BIDAYAH WAN NIHAYAH Masa Khulafa’urRasyidin(43Mb)

=====

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Sifat-Sifat Para Sahabat radhiyallahu anhum 

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang sifat para sahabat sehingga mereka memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

  • Pengantar

Para sahabat radhiyallahu anhum adalah hasil didikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam langsung, sehingga mereka menjadi generasi terbaik. Hal ini dibuktikan dengan keadaan mereka yang menjadi teladan dalam ibadah, dalam zuhud terhadap dunia, kesabaran, akhlak yang mulia, jihad, pengorbanan dan sebagainya sehingga melalui mereka dakwah Islam tersebar, Al Qur’an dan As Sunnah tersampaikan, wilayah Islam meluas, dan manusia merasakan rahmat Islam terhadap alam semesta.

Belum pernah ada dalam sejarah umat manusia seperti sejarah para sahabat dimana dalam waktu yang singkat (kurang lebih 30 tahun masa Khulafaurrasyidin, dari 11-40 H/632-661 M) mereka dapat menguasai beberapa wilayah secara luas di dunia seperti Irak, Persia, Syam, Mesir, dan lain-lain, bahkan negara adidaya dunia ketika itu, yaitu Persia dan Romawi luluh lantak oleh mereka.

Coba perhatikan salah seorang murid hasil didikan Rasulullah shallahu alaihi wa sallam yang kemudian menjadi gubernur Basrah, yaitu Utbah bin Ghazwan radhiyallahu ‘anhu, ia pernah berkhutbah setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, “Amma ba’du, sesungguhnya dunia telah memberitahukan akan kefanaannya dan akan pergi dengan segera, dan tidak tersisa kecuali seperti sisa air dari wadah yang dikumpulkan pemiliknya. Sesungguhnya kalian akan berpindah dari dunia ke tempat yang tidak akan binasa, maka pindahlah dengan membawa amal yang terbaik yang bisa kalian siapkan.

Sesungguhnya telah diberitahukan kepada kami, bahwa batu jika dijatuhkan dari tepi neraka Jahannam akan jatuh selama tujuh puluh tahun, namun belum sampai ke dasarnya. Demi Allah, neraka itu akan dipenuhi. Apakah kalian heran? Sesungguhnya telah disampaikan kepada kami bahwa jarak antara dua daun pintu surga sejauh jarak perjalanan 40 tahun. Pada suatu saat akan tiba hari ia didatangi oleh banyak orang dengan berdesakan. Sungguh, aku melihat diriku adalah salah seorang dari tujuh orang yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, kami tidak mempunyai makanan selain dedaunan pohon sehingga rahang kami terluka. Aku pernah menemukan kain selimut, lalu aku belah menjadi dua bagian; untukku dan untuk Sa’ad bin Malik; aku pakai separuhnya, sedangkan Sa’ad bin Malik memakai separuhnya lagi. Namun pada hari ini, tidak ada seorang pun dari kami kecuali telah menjadi salah seorang gubernur di beberapa negeri. Aku berlindung kepada Allah merasa besar dalam diriku, namun hina di sisi Allah.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Sifat-Sifat Para Sahabat radhiyallahu anhum

  • ➡ 1. Memuliakan perintah Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam

Para sahabat adalah orang-orang yang bersegera menyambut perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Berikut contohnya:

Setelah para sahabat banyak yang terluka dalam perang Uhud, dan kaum musyrik pulang ke negeri mereka, tetapi dalam perjalanan pulang, mereka merasa menyesal karena tidak menuntaskan perang terhadap penduduk Madinah dan menghabiskannya. Saat berita itu sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau menganjurkan kaum muslim untuk mengejar mereka dari belakang untuk menakut-nakuti mereka serta memperlihatkan kepada mereka, bahwa mereka masih mampu dan kuat melawan mereka, maka para sahabat menyambut seruan itu sebagaimana yang disebutkan kisahnya di ayat berikut,

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ (172) الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (174)

“(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam perang Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.–(yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung.”–Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Qs. Ali Imran: 172-174)

Contoh lainnya adalah saat istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Aisyah radhiyallahu anha dituduh oleh orang-orang munafik dalam kisah Ifki, sehingga sebagian kaum muslimin termakan tuduhan itu, di antaranya Misthah bin Utsatsah seorang yang biasa mendapatkan santunan dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu, maka Abu Bakar bersumpah tidak akan memberikan santunan lagi kepada Misthah, maka Allah menurunkan ayat memerintahkan untuk memaafkan Misthah dan memberikan santunan lagi kepadanya, Dia berfirman,

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nuur: 22)

Ketika Abu Bakar mendengar ayat ini, ia berkata, “Demi Allah, wahai Rabb kami, kami ingin Engkau mengampuni kami.” Lalu Abu Bakar memberikan santunan lagi seperti biasanya (Lihat Shahih Bukhari 8/347).

  • ➡ 2. Kejujuran iman, ucapan, dan perbuatan mereka

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Pamanku Anas bin An Nadhr tidak hadir dalam perang Badar. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku pernah tidak hadir dalam peperangan pertama yang engkau lakukan terhadap orang-orang musyrik. Sungguh, jika Allah menghadirkan aku dalam peperangan dengan kaum musyrik, tentu Allah akan melihat apa yang aku lakukan.” Ketika tiba perang Uhud, dan kaum muslimin terpukul mundur, ia berkata, “Ya Allah, aku meminta uzur kepadamu terhadap perbuatan mereka ini –yakni kawan-kawannya-, dan aku berlepas diri kepada-Mu dari mereka ini,” yakni kaum musyrik. Ia kemudian maju, lalu ditemui Sa’ad bin Mu’adz, kemudian ia berkata kepadanya, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz! Surga. Demi Tuhan si Nadhr, sesungguhnya aku mencium wanginya di balik Uhud.” Sa’ad berkata, “Aku tidak sanggup melakukan seperti yang dilakukannya.” Anas berkata, “Ketika itu kami dapati dirinya dipenuhi 80 lebih sabetan pedang, tusukan tombak, atau lemparan panah. Kami temukan dia telah terbunuh dan dicincang oleh kaum musyrik. Tidak ada yang mengetahuinya selain saudarinya berdasarkan jari-jamarinya.” Anas melanjutkan kata-katanya, “Kami mengira atau menyangka bahwa ayat (tersebut) ini turun berkenaan dengan dirinya dan orang yang semisalnya,

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah…dst.” (Terj. QS. Al Ahzaab: 23).

  • ➡ 3. Zuhudnya mereka terhadap dunia

Disebutkan dalam kitab Az Zuhd karya Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata, “Umar pernah datang ke Syam, lalu disambut oleh para gubernur dan kaum bangsawan, Beliau bertanya, “Di mana saudaraku Abu Ubaidah?” Mereka menjawab, “Sekarang ia akan datang.” Lalu Abu Ubaidah datang mengendarai unta yang bertali kekang sambil memberi salam, kemudian ia berkata kepada orang banyak, “Silahkan kalian meninggalkan kami.” Lalu Umar pergi bersama Abu Ubaidah hingga tiba di rumahnya dan tinggal di sana. Ternyata Umar hanya melihat di rumahnya pedang, perisai, dan pelana.” Umar berkata, “Seandainya saja engkau memiliki perabot atau sesuatu di rumahmu?” Abu Ubaidah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, semua inilah yang mengantarkan kita ke tempat peristirahatan (kuburan).” (Siyar A’lamin Nubala 1/16).

  • ➡ 4. Keberanian

Dalam perang Badar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Maka Umair bin Al Hammam Al Anshariy berkata, “Wahai Rasulullah, apakah surga itu seluas langit dan bumi?” Beliau menjawab, “Ya.” Ia pun berkata, “Wah! Wah!” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam balik bertanya, “Apa yang membuatmu mengatakan ‘wah-wah’?” Ia menjawab, “Tidak apa-apa wahai Rasulullah, demi Allah, saya hanya berharap termasuk penghuninya.” Beliau bersabda, “Engkau termasuk penghuninya.” Lalu ia pun mengeluarkan beberapa butir kurma dari kantong anak panah dan memakan kurma itu, kemudian berkata, “Jika aku masih hidup sampai habis kurma-kurma ini, berarti hal itu adalah kehidupan yang panjang,” ia pun melempar kurma yang ada padanya lalu maju berperang hingga tewas.” (Hr. Muslim)

Dalam perang Yamamah, Bani Hanifah para pembela Musailmah Al Kadzdzab menutup benteng mereka, lalu para sahabat mengepungnya, maka Barra bin Malik (saudara Anas bin Malik) radhiyallahu anhu  berkata, “Wahai kaum muslimin, jatuhkanlah aku ke dalam benteng mereka!” Lalu kaum muslimin menaikkannya ke atas tameng dan mengangkatnya dengan tombak dan berhasil menjatuhkannya ke dalam benteng dari atas pagarnya, ia pun melawan mereka di dekat pintu benteng hingga berhasil membuka pintu itu dan kaum muslimin berhasil masuk ke dalamnya dan membunuh penduduk Yamamah yang murtad hingga akhirnya mereka berhasil membunuh Musailamah Al Kadzdzab la’natullah alaihi.

Imam Adz Dzahabiy rahimahullah berkata, “Sampai berita kepada kami bahwa Al Barra pada saat memerangi pasukan Musailamah meminta kawan-kawannya menaikkannya ke atas tameng di atas tombak-tombak mereka dan menjatuhkannya ke dalam benteng, lalu ia menyerang musuh dan memerangi mereka hingga berhasil membuka pintu benteng, sehingga ia terluka ketika itu delapan puluh lebih luka, sehingga Khalid bin Walid mengobatinya selama sebulan.” (Siyar A’lamin Nubala 1/196).

  • ➡ 5. Memutuskan ikatan Jahiliyyah dan berwala (setia) kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam

✅ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itu adalah golongan yang beruntung.” (Qs. Al Mujadilah: 22)

Contoh dalam hal ini adalah Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, ketika ia mendengar berita bahwa ayahnya, yaitu Abdullah bin Ubay pernah didatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa saalm saat ia berada di bawah naungan bangunan tinggi, ia berkata dengan lancang, “Ibnu Abi Kabsyah (maksudnya Rasulullah shallalalhu alaihi wa sallam) membuat kami tertimpa debu,” lalu anaknya mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah memuliakanmu. Jika engkau berkenan, aku akan membawa kepalanya ke hadapanmu,” maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarangnya dan berkata, “Jangan, bahkan berbaktilah kepada ayahmu dan bergaullah dengan baik.” (Disebutkan oleh Al Haitsami dalam Al Majma’ (9/308), ia berkata, “Diriwayatkan oleh Al Bazzar, para perawinya adalah tsiqah.”)

Hanzhalah bin Abi Amir pernah meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk membunuh ayahnya ketika ayahnya menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan kaum muslimin, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarangnya. (Sebagaimana disebutkan oleh Al Hafizh dalam Al Ishabah 1/360, ia berkata, “Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dengan isnad yang hasan.”)

Disebutkan dalam Sirah Ibnu Hisyam, bahwa Abu Aziz bin Umair bin Hisyam saudara seayah Mush’ab bin Umair tertawan dalam perang Badar. Abu Aziz berkata, “Mush’ab bin Umair melewatiku, sedangkan orang Anshar sedang menawanku, lalu Mush’ab berkata, “Ikat dengan kuat tangannya. Sesungguhnya ibunya orang kaya, mungkin ia akan menebusnya.” Abu Aziz berkata, “Wahai saudaraku, apakah begini pesanmu terhadapku?” Mush’ab berkata, “Sesungguhnya dia saudaraku; bukan kamu.” Lalu ibunya bertanya tentang tebusan orang Quraisy yang paling mahal, maka disampaikan, yaitu empat ribu dirham,” ibunya pun mengirimkan empat ribu dirham untuk menebus anaknya.” (Sirah Ibnu Hisyam 1/646)

Bahkan Abu Ubaidah terpaksa membunuh ayahnya pada perang Badar ketika ayahnya hendak membunuh dirinya, sedangkan Abu Ubaidah terus menghindar, namun karena ayahnya berusaha terus untuk membunuhnya, maka Abu Ubaidah pun terpaksa membunuh ayahnya.

  • ➡ 6. Tidak tertipunya mereka oleh gemerlap kesenangan dunia

Suatu ketika Sa’ad bin Abi Waqqash mengirimkan Rib’i bin Amir ke Qadisiyyah untuk menemuri Rustum komandan pasukan Persia. Rib’i menemui Rustum di ruangannya yang dihiasi bantal dan permadani dari sutra  yang bercampur mutiara dan yaqut. Rustum juga mengenakan mahkota sambil duduk di ranjang emas, sedangkan Rib’i menemuinya dengan mengenakan pakaian tebal, tameng, dan berasa di atas kuda yang pendek. Ia terus memasukinya hingga berada di atas permadani, lalu turun dan mengikat kudanya dengan bantal-bantal yang ada, ia mendatangi Rustum sambil mengenakan senjata, baju besi dan penutup kepala dari besi, lalu para prajuritnya berkata, “Letakkan senjatamu.” Rib’i menjawab, “Bukan aku yang datang sendiri ke sini, tetapi aku datang karena undanganmu. Jika engkau membiarkanku begini, maka aku akan lanjutkan, dan jika kalian menolak, maka aku akan kembali.” Rustum pun berkata, “Izinkan dia masuk.” Maka Rib’i masuk sambil bersandar dengan tombaknya di atas bantal-bantal yang ada sehingga bantal-bantal itu robek.” Rustum bertanya, “Apa yang kalian bawa?” Rib’i menjawab, “Allah mengirim kami untuk mengeluarkan siapa yang dikehendaki-Nya dari peribadatan kepada hamba menuju peribadatan kepada Allah, dari sempitnya dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman berbagai agama menuju keadilan Islam.” (Tarikh Ath Thabari 3/520 cet. Darul Ma’arif)

  • ➡ 7. Cintanya mereka terhadap persatuan dan tidak berpecah belah

Para sahabat radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang berusaha melakukan sebab-sebab kemenangan yang di antaranya bersatu dan tidak berpecah-belah karena mengikuti firman Allah Ta’ala,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…dst.” (Qs. Ali Imran: 103)

Imam Abdurrazzaq meriwayatkan dalam Al Mushannaf dari hadits Qatadah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman di awal kekhilafahannya melakukan shalat di Mekah dan Mina dua rakaat (diqashar), namun Utsman setelah itu melakukannya empat rakaat, lalu berita ini sampai kepada Ibnu Mas’ud, ia pun mengucapkan istirja (innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’un), lalu ia berdiri shalat dan melakukannya empat rakaat, kemudian dirinya ditanya, “Mengapa engkau istirja lalu melakukan shalat empat rakaat?” Ia menjawab, “Perselisihan itu buruk.” (Hr. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al Albani)

  • ➡ 8. Segera bertaubat dan kembali kepada Allah Azza wa Jalla ketika tergelincir

Contohnya adalah Abu Lubabah bin Abdul Mundzir yang mengikat dirinya di salah satu tiang masjid ketika dirinya merasa telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam sehingga turu ayat yang menunjukkan diterima taubatnya.

Demikian pula tiga orang yang tidak ikut perang Tabuk tanpa alasan, lalu mereka mengakui kesalahan mereka di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan tidak pura-pura berudzur atau mengemukakan alasan dusta sebagaimana yang dilakukan kaum munafik, mereka pun dijauhi selama lima puluh hari, hingga kemudian turun ayat yang menunjukkan diterimanya taubat mereka.

  • ➡ 9. Saling menanggung derita satu sama lain dan saling tolong-menolong

Mereka bersikap demikian sebagai bentuk pengamalan terhadap firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (Qs. Al Hujurat: 11)

✅ Allah menyebut tentang kaum Anshar dalam firman-Nya,

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.“ (Qs. Al Hasyr: 9)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya aku sedang kesusahan.” Maka Beliau membawa kepada salah seorang istrinya dan istrinya berkata, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak punya apa-apa selain air.

Lalu Beliau membawa kepada istrinya yang lain, dan istrinya yang lain mengucapkan kata-kata yang sama, yaitu, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak punya apa-apa selain air.” Maka Beliau bersabda (kepada para sahabat), “Siapakah yang mau menjamu orang ini pada malam ini semoga Allah merahmatinya?” Lalu salah seorang dari Anshar bangun dan berkata, “Saya wahai Rasulullah,” maka ia membawanya ke rumahnya, dan bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu punya sesuatu?” Istrinya menjawab, “Tidak, selain makanan untuk anak-anak kita.” Orang Anshar itu berkata (kepada istrinya), “Sibukkanlah mereka (anak-anaknya) dengan sesuatu.” Jika tamu kita masuk, maka padamkanlah lampu dan tunjukkanlah kepadanya bahwa kita sedang makan. Jika ia duduk untuk makan, maka bangunlah menuju lampu hingga kamu memadamkannya. Maka mereka semua duduk dan tamu itu pun makan. Ketika pagi harinya, orang Anshar itu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Allah kagum terhadap tindakan kamu berdua kepada tamumu pada malam tadi.” (HR. Muslim)  

Dari Ibrahim bin Sa’ad, dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Saat kaum Muhajirin tiba di Madinah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Ar Rabi, lalu Sa’ad berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Sesungguhnya aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, maka aku akan bagi hartaku dua bagian, dan aku memiliki dua istri, maka silahkan perhatikan, maka yang paling menarik bagimu lalu sampaikan kepadaku agar aku talak, dan jika sudah habis masa iddahnya, silahkan engkau nikahi,” maka Abdurrahman bin Auf berkata, “Semoga Allah memberkahi dirimu,keluargamu, dan hartamu. Tolong tunjukkan di mana pasar?” Maka ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa. Ketika itu, setiap kali Abdurrahman bin Auf pulang ia selalu membawa kelebihan aqith (semacam keju) dan samin, dan terus begitu hingga tiba suatu hari dimana pada dirinya tedapat bekas warna kuning, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Ada apa denganmu?” Ia menjawab, “Aku telah menikah.” Beliau bertanya, “Apa (mahar) yang engkau berikan kepadanya?” Ia menjawab, “Sebuah emas.” (Hr. Bukhari)

Lihat pula Abu Bakar yang menikahi Asma bin Umais untuk mengurus keperluannya dan keperluan anak-anak Asma setelah Ja’far bin Abi Thalib gugur sebagai syahid dalam perang Mu’tah.

(Lanjut Ke Hal…2)