Bershalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Faedah Shalawat Nabi & Hukum Menyingkat Tulisan Shalawat

2. Shalawat Nabi Antara Sunnah dan Bid’ah

3. Shalawat Nabi Antara Sunnah dan Bid’ah 2

4. Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah

5. Shalawat-shalawat Bid’ah

6. Surat buat tetangga : Shalawat Nariyyah

7.Fatwa Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Menyingkat Shalawat

8.Tidak Boleh Baca Shalawat Ini

9. Keutamaan Shalawat Nabi

Shalwat Kepada Nabi-Ust Mizan Qudsiyah

BerShalawat Kepada Nabi-Ust Ahmad Zainuddin

Sifat Shalawat Nabi-Ust Abdul Hakim Amir Abdat Sesi1

lSesi2:

Untukmu Lombokku-Ust Syafiq Basalamah

Apakah betul orang tidak berdoa itu sombong-Ust Syafiq Basalamah

Syafiq Basalamah · Syukur Ridha dan Qanaah Yang Pudar

Kumpulan Ebook

Shalawat Yang Ternoda

Keutamaan Shalawat Untuk Nabi

Shalawat Nabi

Faidah Shalawat

Keutamaan Shalawat Untuk Nabi Bag.1

Keutamaan Shalawat Untuk Nabi Bag.2

Keutamaan Shalawat Untuk NABI(Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)

Shalawat Bid’ah Nariyah

Awas Liburan Datang

Tradisi Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam

Memperingati Maulid Nabi

Allah pun Bersalawat kepada NabiAbbas Aziz

Orang-orang Yang Didoakan MalaikatSyaikh Dr Fadhl Ilahi

===

Bershalawat Kepada Nabi

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Bershalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Bag. 1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini pembahasan tentang bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

  • Perintah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

✅ Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzaab: 56)

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberikan shalawat untuknya sepuluh kali.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan[i], dan janganlah kalian menjadikan  kuburku sebagai hari raya. Bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawatmu akan sampai kepadaku di mana saja kamu berada.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al Albani).

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

Tidak ada seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku sehingga aku dapat menjawab salamnya.” (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al Albani)

  • Makna bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam Bukhari berkata: Abul ‘Aliyah mengatakan, “Shalawat Allah Ta’ala (kepada Nabi) adalah pujian-Nya di hadapan para malaikat, sedangkan shalawat para malaikat adalah doa.”

✅ Ibnu Abbas berkata, “Memberikan shalawat berarti melimpahkan keberkahan.”

Abu Isa At Tirmidzi berkata: Telah diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri dan lebih dari seorang Ahli Ilmu, mereka mengatakan, “Shalawat Allah adalah rahmat, sedangkan shalawat para malaikat adalah istighfar (permohonan ampunan).”

  • ➡ Sifat (bentuk) shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling lengkap dan utama adalah seperti yang akan disebutkan dalam beberapa hadits di bawah ini. Sedangkan yang paling pendeknya adalah hanya mengucapkan shalawat dan salam kepada Beliau, misalnya, “Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” atau “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad,” atau, “Alaihish shalatu wassalam.”[ii]

➡ Berikut ini beberapa sifat (bentuk) shalawat yang disebutkan dalam hadits[iii]:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad, kepada keluarganya, kepada istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana engkau memberikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad, kepada keluarganya, istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.” (HR. Ahmad dan Thahawi dengan sanad yang shahih)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia. Dan berikanlah keberkahan kepada keluarga Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Abu Ya’la)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ [النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ] وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ [النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ] وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْدٌ

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad seorang Nabi Yang Ummi dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad seorang Nabi Yang Ummi dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu sebagaimana Engkau berikan shalawat kepada Ibrahim, dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.” (HR. Bukhari, Nasa’i, Thahawi, dan Ahmad)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ، وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ، وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad, kepada istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau berikan shalawat kepada Ibrahim, dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad, kepada istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau berikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.” (HR. Nasa’i dan Thahawi)

Dan ada beberapa lafaz lain yang shahih dalam bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang disebutkan oleh Isma’il bin Ishaq Al Qadhi dalam Juz Fadhlush Shalati ‘Alan Nabi yang ditahqiq oleh Al Albani.

  • Keutamaan bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Adapun keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka telah disebutkan sebagian dalilnya pada pembahasan tentang perintah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keutamaan lainnya adalah sebagaimana dalam hadits-hadits berikut[iv]:

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ

Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang sering berkelana di bumi, dimana mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (HR. Nasa’i dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani)

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Sungguh hinalah seseorang yang disebut namaku di dekatnya, namun tidak bershalawat kepadaku. Sungguh hinalah, seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya sudah tua namun tidak membuatnya masuk surga, dan sungguh hinalah seseorang yang kedatangan bulan Ramadhan kemudian berlalu namun dosanya belum diampuni.” (HR. Ismail bin Ishaq, dan dishahihkan oleh Al Albani)

صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ وَلَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، لَعَنَ اللَّهُ يَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، وَصَلُّوا عَلَيَّ؛ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُمَا كُنْتُمْ

Shalatlah di rumah kalian dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan. Allah melaknat orang-orang Yahudi yang menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid. Dan bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawatmu akan sampai kepadaku dimana saja kalian berada.” (HR. Isma’il Al Qadhi, dan dinyatakan shahih isnadnya oleh Al Albani)

إِنَّ الْبَخِيلَ لَمَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Sesungguhnya orang yang bakhil adalah orang yang disebut namaku di dekatnya namun tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Isma’il Al Qadhi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

مَنْ يَنْسَى الصَّلَاةَ عَلَيَّ خَطِئَ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ

Orang yang lupa bershalawat kepadaku akan salah memasuki pintu-pintu surga.” (HR. Isma’il Al Qadhi, dan dinyatakan shahih lighairih oleh Al Albani)

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَوْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَقَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barang siapa yang bershalawat kepadaku atau memintakan wasilah (kedudukan tertinggi di surga) untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Isma’il Al Qadhi, dan dishahihkan oleh Al Albani).

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ مَجْلِسُهُمْ عَلَيْهِمْ تِرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُمْ وَإِنْ شَاءَ أَخَذَهُمْ

Tidaklah suatu kaum duduk di sebuah majlis yang mereka tidak menyebut nama Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan majlis mereka akan menjadi penyesalan pada hari Kiamat. Jika Dia menghendaki, maka Dia memaafkan mereka, dan jika Dia menghendaki, maka Dia mengazab mereka.” (HR. Isma’il Al Qadhi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقْعُدُونَ ثُمَّ يَقُومُونَ وَلَا يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَسْرَةً، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ

Tidak ada sebuah kaum yang duduk lalu bangun tanapa bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari Kiamat meskipun mereka masuk surga karena pahala.” (HR. Isma’il Al Qadhi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ فِي ثُلُثَيِ اللَّيْلِ فَيَقُولُ: «جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ» ، وَقَالَ أُبَيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ أَفَأَجْعَلُ لَكَ ثُلُثَ صَلَاتِي قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الشَّطْرُ» قَالَ: أَفَأَجْعَلُ لَكَ شَطْرَ صَلَاتِي قَالَ رَسُولُ اللَّهِ «الثُّلُثَانِ أَكْثَرُ» قَالَ: أَفَأَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذَنْ يُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ كُلُّهُ»

Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada dua pertiga malam dan bersabda, “Akan datang tiupan yang mengguncangkan alam dan diiringi oleh tiupan kedua, akan datang kematian beserta sesuatu yang ada di dalamnya,” Ubay berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku shalat malam, lalu aku berikan sepertiga shalat(doa)ku untukmu,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Separuhnya,” Ubay berkata, “Atau aku jadikan separuh shalat(doa)ku untukmu?” Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua pertiga lebih banyak lagi.” Ubay berkata, “Atau aku berikan seluruh shalat(doa)ku untukmu,” Beliau bersabda, “Kalau demikian, dosamu semuanya akan diampuni.” (HR. Isma’il bin Ishaq Al Qadhi, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani dalam Tahqiq Fadhlush Shalati ‘Alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Bersambung…

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa

Maraji’: Al Qur’anul Karim, Maktabah Syamilah versi 3.45, Mausu’ah Haditsiyyah Mushaghgharah dan Mausu’ah Ruwathil Hadits (Markaz Nurul Islam), Jalaa’ul Afhaam (Ibnul Qayyim), Al Mishbahul Munir fii Tahdzib Tafsir Ibni Katsir (Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri),  Al Adzkar (Imam Nawawi), Shifat Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (M. Nashirrudin Al Albani), Fadhlush Shalati ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Abdul Muhsin Al ‘Abbad), Fadhlush Shalati ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Isma’il bin Ishaq, tahqiq Al Albani), Hishnul Muslim (Sa’id bin Ali Al Qahthani), Qaamusul Bida’ (Masyhur bin Hasan Alu Salman), dll.

Note:

[i] Yakni kosong dari ibadah dan membaca Al Qur’an seperti halnya kuburan.

[ii] Al Fairuz Abadiy berkata, “Dan tidak patut membuat tanda untuk shalawat sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang malas, orang yang jahil, dan para penuntut ilmu yang awam, mereka tulis dengan bentuk ” صلعم ” sebagai ganti dari ” صلى الله عليه وسلم “.

[iii] Lihat Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya M. Nashiruuddin Al Albani

[iv] Kami banyak mengambil hadits-haditsnya dari kitab Fadhlush shalati ‘Alan Nabi karya Isma’il bin Ishaq Al Qadhi yang ditahqiq oleh Syaikh Al Albani.

(Lanjut Ke Halaman 2)