Sebab-Sebab Keselamatan Pada Hari Kiamat

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1. Qalbu vs Kebatilan

2.Allâh Subhanahu Wa Ta’ala Bersamamu,Dimanapun Kamu Berada

3.Meneladani Nabi Ibrahim Alaihissallam

4.Apakah Malaikat Masuk Surga?

5.Hukum Laki-laki Memakai Pakaian Wanita untuk Pentas Seni Drama dan Karnaval

6.Gambaran Kengerian Hari Kiamat

7.Bentuk Hisab Di Akhirat

8. Kaum Mukminin Kelak Akan.Melihat Allah di Hari Kiamat/Akhirat (Ru’yatullah)

Sebab-sebab Keselamatan di Hari Kiamat – Syaikh Prof. Dr..Abdurrazzaq Al-Badr

Penolong di Hari Kiamat (Abuz Zubair Hawaary, Lc)

Suasana Hari Kiamat-Ust Ali Musri MA

Ringkasan Tafsir Hari Kiamat (DR. Syafiq Reza Basalamah, MA)

Huru-Hara Hari Kiamat (Yazid bin Abdul Qadir Jawas)


Ebook

Hari Kiamat

Tanda Kiamat Besar dan Kecil

Mengenal Tanda Kiamat DJVU

Kiamat Diambang Pintu

Tanda Kecil Hari Kiamat CHM

Bekal Terbaik Demi Menyongsong Kehidupan Akhirat

Kaya Dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah?

Kondisi Orang-Orang Yang Celaka di Dunia dan Akhirat

Ada Apa Di Hari Kiamat

Beberapa Sebab Keselamatan Umat Islam

Keselamatan

Mengenal Tanda Kiamat

Ada Apa Setelah Kematian-Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin(1,4 MB)

Hari Akhir

=====

Sebab-Sebab Keselamatan Pada Hari Kiamat

بسم الله الرحمن الرحيم

  • ➡ Sebab-Sebab Keselamatan Pada Hari Kiamat

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang sebab-sebab keselamatan pada hari Kiamat yang kami simpulkan dari ceramah Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr dengan judul Asbabun Najah Yaumal Qiyamah, semoga Allah menjadikan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.

  • Pengantar

Imam Ahmad meriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Umar pernah lewat di hadapanku dan mengucapkan salam, namun aku tidak mendengarnya,” maka Umar pergi menemui Abu Bakar di masa pemerintahannya dan berkata, “Tahukah engkau apa yang dilakukan Utsman? Aku mengucapkan salam kepadanya, namun ia tidak menjawabnya.” Maka Abu Bakar dan Umar pun pergi menemui Utsman. Ketika sampai, Abu Bakar berkata kepada Utsman, “Sesungguhnya saudaramu Umar telah memberikan salamnya kepadamu, tetapi engkau tidak menjawab salamnya, apa sebabnya?” Utsman menjawab, “Aku tidak mendengarnya.” Maka Abu Bakar berkata, “Utsman benar.” Selanjutnya Abu Bakar berkata kepada Utsman, “Sepertinya engkau disibukkan oleh masalah yang besar.” Utsman menjawab, “Ya. Sesungguhnya aku sedang memikirkan bagaimana cara memperoleh keselamatan di hari itu (hari Kiamat). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, namun aku belum sempat menanyakan bagaimana cara memperoleh keselamatan pada hari itu?” Abu Bakar berkata, “Aku telah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu.” Utsman menjawab, “Biarlah ayah dan ibuku menjadi penebus dirimu, sesungguhnya engkau adalah orang yang paling berhak menanyakan hal itu, lalu apa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu?” Abu Bakar menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَبِلَ مِنِّي الْكَلِمَةَ الَّتِي عَرَضْتُ عَلَى عَمِّي، فَرَدَّهَا عَلَيَّ، فَهِيَ لَهُ نَجَاةٌ

Barang siapa yang menerima kalimat (tauhid) yang pernah aku tawarkan kepada pamanku yang menolak kalimat itu, maka ia akan memperoleh keselamatan (pada hari Kiamat).” (Hadits ini marfu’nya dinyatakan shahih karena syahawidnya oleh pentahqiq Musnad Ahmad 1/201 cet. Ar Risalah)

Hadits di atas menunjukkan perhatian besar para sahabat terhadap keselamatan diri mereka pada hari Kiamat. Apalagi para pelaku kisah pada hadits di atas adalah tiga orang sahabat terbaik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin masuk surga oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun begitu, mereka memiliki rasa kekhawatiran yang tinggi terhadap keselamatan diri mereka pada hari Kiamat, sehingga Utsman radhiyallahu ‘anhu sampai tidak mendengar ucapan salam yang disampaikan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.

Adapun kita, terkadang disibukkan oleh suatu masalah sehingga tidak sempat memperhatikan sapaan orang lain, tetapi masalah yang kita pikirkan hanya masalah dunia.

➡ Sebab-Sebab Keselamatan Pada Hari Kiamat

  • 1. Mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.

Dalil terhadap sebab ini telah disebutkan dalam kisah di atas, yaitu pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang menerima kalimat (tauhid) yang pernah aku tawarkan kepada pamanku yang menolak kalimat itu, maka ia akan memperoleh keselamatan (pada hari Kiamat).”

Kalimat tauhid di sini adalah Laailaahaillallah, dimana seseorang tidak akan selamat pada hari Kiamat kecuali dengan kalimat itu. Akan tetapi, kalimat ini tidak sekedar diucapkan tanpa dipahami maknanya dan tanpa diamalkan konsekwensinya. Karena Laailaahaillallah akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya ketika ia mengucapkannya dalam keadaan mengetahui maknanya, mengamalkan konsekwensinya, dan jujur dalam mengucapkannya dari hatinya. Karena dengan mengetahui maknanya, maka dia terlepas dari jalannya orang-orang Nasrani, dan dengan mengamalkan konsekwensinya dia terlepas dari jalannya orang-orang Yahudi, dan dengan jujur dalam mengucapkannya dia terlepas dari jalannya orang-orang munafik.

Nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan, bahwa Laailaahaillallah akan bermanfaat bagi seseorang ketika terpenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syaratnya adalah:

a. Ilmu (mengetahui makna Laailaahaillah)

Makna Laailaahaillallah adalah tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.

b. Yaqin (yakin; tidak ragu-ragu)

c. Shidq (jujur; tidak berdusta)

d. Mahabbah (cinta; tidak membenci)

e. Inqiyad (tunduk mengamalkan konsekwensinya)

Konsekwensinya adalah meniadakan sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah saja.

f. Qabul (menerima; tidak menolaknya)

g. Ikhlas (karena Allah; bukan karena riya)

  • 2. Beribadah sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “As Sunnah itu seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya, maka akan selamat dan barang siapa yang meninggalkannya, maka akan tenggelam.”

Perbuatan bid’ah (tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) bukanlah termasuk sebab keselamatan meskipun banyak dilakukan. Karena Allah Azza wa Jalla hanya menerima amalan atau ibadah apabila sesuai dengan petunjuk Rasul-NYa shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Oleh karenanya, pada hari Kiamat ada sebagian manusia yang diusir dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka berbuat bid’ah dalam agamanya (sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sederhana di atas Sunnah lebih baik daripada banyak namun di atas bid’ah.”

  • 3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Takut kepada-Nya, dan bertakwa kepada-Nya.

✅ Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (QS. An Nuur: 52)

Yang dimaksud dengan takut kepada Allah adalah takut kepada Allah baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dimana jika rasa takut ini ada dalam diri seorang hamba, maka amalnya akan menjadi baik dan dirinya akan jauh dari maksiat. Adapun yang dimaksud dengan takwa adalah menaati Allah di atas ilmu dari-Nya karena mengharap pahala-Nya dan meninggalkan larangan Allah di atas ilmu dari-Nya kaena takut terhadap siksa-Nya.

  • 3. Mengerjakan kewajiban-kewajiban dalam Islam dan menjauhi yang haram

Dari Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram dan saya tidak menambah lagi, apakah saya akan masuk surga?”. Beliau menjawab, “Ya.” (HR. Muslim)

4. Selalu mengingat bahwa kita akan berhadapan dengan Allah Azza wa Jalla pada hari Kiamat, kita akan dihisab-Nya dan akan diberikan balasan terhadap amal perbuatan kita, dan bahwa Dia akan bertanya kepada kita tentang hidup kita semuanya.

Mengingat hal ini akan membantu kita memperbaiki amalan, dan jika amal kita sudah baik, maka kita akan memperoleh keselamatan pada hari Kiamat. Oleh karenanya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman menerangkan keadaan orang yang berbahagia pada hari Kiamat; yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kanannya, bahwa ia dahulu selalu merasakan akan berhadapan dengan Allah Azza wa Jalla untuk dihisab-Nya,

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19) إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (21)

Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini).–Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.”--Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. (QS. Al Haaqqah: 19-21)

5. Berhati-hati agar tidak ujub terhadap amal yang dikerjakan meskipun banyak, dan senantiasa bersungguh-sungguh dalam beramal disertai rasa harap dan cemas.

✅ Allah Azza wa Jalla berfirman menyebutkan sifat hamba-hamba-Nya yang saleh,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60)

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)

Imam Hakim meriwayatkan dalam Mustadraknya, bahwa Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu ketika berada di rumahnya dalam kondisi sakit ditemani istrinya, maka ia pun menangis, lalu istrinya ikut menangis, maka Abdullah bin Rawahah bertanya kepada istrinya tentang sebab dirinya menangis, istrinya menjawab, “Aku melihat engkau menangis, maka aku pun ikut menangis,” lalu istrinya balik bertanya kepada suaminya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Abdullah bin Rawahah menjawab, “Aku ingat firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72)

Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.-72. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS. Maryam: 71)

Abdullah bin Rawahah melanjutkan kata-katanya, “Aku tidak tahu, apakah aku termasuk mereka yang bertakwa atau bukan?”

Iklan