Lapang Dada Dalam Permasalahan Khilaf (Bag.1)

 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1.Khilaf Ulama Bukan Dalil

2.Contoh Khilaf diantara Ahlusunnah

3.Macam Ikhtilaf(Perselisihan Pendapa Ulama)

4. Penuntut Ilmu dan Orang Awam Lebih Baik Tidak Ikut-Ikutan Berkomentar dalam Perselisihan Ulama

5.Memilih Pendapat yang Berbeda dari ParaUlama

6.Adakah Khilaf Dalam Masalah Aqidah

7.Tidak Semua Pendapat Dalam Khilafiyah Ditoleransi

Adab Berkhilaf dan Menyikapi Khilaf Ulama-Ust Arifin Badri

Kaidah dan adab Berkhilaf-Ust Abul Abbas

Khilaf yg Terjadi Diantara Ahlus Sunnah Pemateri : Ust. Abul Hasan As-Sidawi

(Fiqhul Khilaf (Bagaimana Menyikapi Perbedaan ?), Ustadz Hafidz Musthofa ,Lc),

Menyikapi Khilaf-Ust Nurul Dzikri

Jual Beli Dengan Dua Harga-Ust Abdul Hakim

Keutamaan Menuntut Ilmu-Ust Anas Burhanuddin

 Bahaya Menyebarkan Hadist Palsu-Ust Mizan Qudsiyah

Akibat Lancang Terhadap Nabi-Ust Mizan Qudsiyah

Al I’tisham Bil Kitab Wa Sunnah 1-Abdul Hakim amir Abdat.m4a

Al I’tisham Bil Kitab Wa Sunnah 2-Abdul Hakim amir Abdat.m4a


Kumpulan Ebook

Perselisihan Ulama, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin

Ilmu dan Ulama

[Salim Ie’d Al-Hilali] Wasiat-wasiat UlamaTerdahulu.pdf

[Rabie’ bin Hadi Al-Madkhali] Obyektifitasdalam Mengkritik.pdf

Kapan Seseorang Keluar Dari Ahlusunnah

[Muhammad Ahmad ar-Rasyid] Al-Munthalaq.pdf

[Shalih Bin Fauzan Al Fauzan] Loyalitas DalamIslam.pdf

Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan

Meluruskan Sikap Menepis syubhat

Menelanjangi Ikhwanul Muslimin-AL-USTAZ ABU FAR0UQ RASUL

muna haddad yakan – Hati-Hati TerhadapMedia yang Merusak Anak.

Muslim Kaffah TeladanUmmat.pdf

Tentang Kedzaliman.pdf

Ragu Menikah (Karya Ustadz Ali Nur,Lc).PDF

Salman bin Fahd al-Audah – ShifatulGhuraba, al-Firqatun Najiyah wa ath-Thaifah al-Manshurah.pdf

Panah Panah Syetan

Pnjelasan 50 Hadits Inti Ajaran Islam – Syaikh’Abdul-Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr.p

SAQIFAH PENYELAMAT PERSATUAN UMAT Penulis : Saleh A. Nahdi( Bantahan untuk Buku Saqifah Awal Perselisihan Umat Yang mencemar-kan nama baik para khalifah dan sahabat Rasul yang dihormati )

Revolusi Sejarah Manusia ; Peran Rasul sebagai Agen Perubahan : Dr. Munzir Hitami, MA.

==

  • LAPANG DADA DALAM PERMASALAHAN KHILAF (Bag1)

Syaikh muhammad bin sholih al-Utsaimin berkata dalam kitabul ilmi (hlm 30-33) menjelaskan adab penuntut ilmu:

Perkara yang ke empat: LAPANG DADA DALAM PERMASALAHAN KHILAF

Hendaknya dadanya lapang dalam permasalahan khilaf yang bersumber dari ijtihad; karena permasalahan khilaf di antara ulama: bisa termasuk ke dalam permasalahan yang tidak boleh ijtihad di dalamnya dan perkaranya jelas, maka permasalahan ini tidak diberikan uzur bagi orang yang menyelisihinya. Dan bisa termasuk ke dalam perkara yang boleh ijtihad, maka permasalahan ini diberikan uzur bagi orang yang menyelisihinya. Dan pendapatmu tidak bisa menghujat orang yang menyelisihinya; karena apabila kita menetapkan demikian maka kita akan katakan sebaliknya, pendapat dia menjadi hujjah untuk menghujat dirimu.

Dan saya menginginkan dalam permasalahan ini adalah permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya. Dan manusia diberikan keluasan untuk berbeda pendapat. Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan aqidah, maka permasalahan ini tidak diterima bagi seorang pun untuk menyelisihi segala sesuatu yang salafus sholih berada di atasnya. Akan tetapi dalam permasalahan lain yang dibolehkan berpendapat di dalamnya, maka tidaklah layak apabila perbedaan ini dijadikan sebagai tikaman bagi yang lain. Atau dijadikan sebagai sebab permusuhan dan kebencian.

Maka para sahabat –radhiyallah anhum- mereka berbeda pendapat dalam banyak permasalahan. Barang siapa yang ingin melihat kepada perselisihan mereka maka silahkan kembali kepada atsar yang datang dari mereka, niscaya ia akan mendapati perbedaan pendapat dalam permasalahan yang banyak. Dan dia lebih besar dari permasalahan-permasalahan yang dijadikan manusia sebagai agama pada hari-hari ini untuk berselisih, sampai mereka membuat kelompok/golongan dengan perbedaan ini dengan mengatakan: saya bersama fulan dan saya bersama fulan seakan-akan permasalahan ini adalah pemasalahan perbedaan golongan, dan ini adalah kesalahan.

Di antara contohnya seperti seseorang mengatakan: “apabila engkau bangun dari ruku’ maka janganlah kamu letakkan tangan kananmu di atas tangan kirimu, akan tetapi lepaskanlah di samping kedua pahamu, apabila kamu tidak melakukannya maka engkau adalah MUBTADI’ (ahli bid’ah)”

Perkataan mubtadi’ bukanlah perkataan yang ringan bagi jiwa. Apabila ia berkata kepada diriku perkataan ini akan terjadi kebencian dalam hatiku; karena manusia adalah manusia (yang memiliki perasaan) dan kami katakan: “ini adalah permasalahan yang di dalamnya ada kelapangan, bisa engkau letakkan atau engkau lepaskan. Oleh karena itu Imam Ahmad –rahimahullah- menyatakan boleh memilih antara meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan melepaskan. Karena perkaranya luas dalam masalah ini. Akan tetapi apa yang sunah dalam menguraikan permasalahan ini?

Maka jawabnya: sunah (dalam masalah ini) engkau letakkan tangan kananmu di atas tangan kirimu ketika engkau bangun dari ruku’ sebagaimana engkau lakukan ketika berdiri.

Dan dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sahl bin Sa’d ia berkata: “dahulu manusia diperintahkan agar meletakan tangan kanan di atas lengan tangan kirinya di dalam sholat” maka perhatikan! Apakah ia meninginkan ketika sujud? Atau menginginkannya ketika ruku’ atau menginginkan ketika duduk? Tidak! Bahkan ia menginginkan ketika berdiri, dan ini mencakup berdiri sebelum ruku’ dan sesudah ruku’.

Maka wajib untuk tidak menjadikan perselisihan di antara ulama dalam masalah ini sebagai sebab keretakan dan pertikaian; karena setiap kita menginginkan kebenaran, dan setiap kita mengamalkan apa yang dituntut dari ijtihadnya. Maka selama seperti ini keadaanyya maka tidak boleh kita menjadikan ini sebagai sebab permusuhan dan perpecahan antara ahli ilmu. Karena para ulama senantiasa berbeda pendapat sejak jaman Nabi –shallallahu alaihi wa salam-. (bersambung)

Alih bahasa

Dika wahyudi lc.

====

  • JANGAN MELAMPAUI BATAS KEILMUAN!

✅ [1]- Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas -radhiyallaahu ‘anhumaa-, dia berkata: Pada zaman Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ada seseorang yang terluka [di kepalanya], kemudian dia mimpi basah (junub), maka ada yang memerintahkannya untuk mandi, dan dia pun mandi, lalu mati. Hal itu kemudian sampai kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau bersabda:

قَتَلُوهُ، قَتَلَهُمُ اللهُ! أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ؟! [قَدْ جَعَلَ اللهُ الصَّعِيْدَ -أَوْ التَّيَمُّمَ- طَهُوْرًا]

Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka! Bukankah obat kebodohan adalah bertanya?! [Allah telah menjadikan sha’iid (permukaan bumi) -atau tayammum- untuk bersuci].”

[HASAN SHAHIH: HR. Abu Dawud (no. 337), Ibnu Majah (no. 572), Ahmad (no. 3057- cet. Daarul Hadiits), Ad-Darimi (no. 756- cet. Daarul Ma’rifah), Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 759), Ibnu Khuzaimah (no. 273), Ibnu Hibban (no. 1311- At-Ta’liiqaatul Hisaan), dan Al-Hakim (I/165) -dan dia menshahihkannya, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi-]

✅ [2]- Orang yang salah bisa mendapat pahala -dan dosanya diampuni-; kalau dia salah setelah berijtihad -sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 7352) dan Muslim (no. 1716)-.

Adapun mereka -yang disebutkan dalam hadits-; maka mereka salah dan dicela karena mereka bukan ahli ilmu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

Mereka telah salah tanpa ijtihad; karena mereka memang bukan ahli ilmu.

[Raf’ul Malaam ‘An A-immatil A’laam (hlm. 48- cet. Al-Maktab Al-Islami)]

Dan ilmu yang dimaksud; adalah seperti apa yang dikatakan oleh Imam As-Syafi’i -rahimahullaah-:

Tidak boleh bagi seorang pun -selama-lamanya- untuk bicara halal dan haram kecuali dengan disertai ilmu. Dan ilmu adalah: Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas.”

[Ar-Risaalah (no. 120)]

✅ [3]- Maka, bagi orang yang tidak berilmu; janganlah dia melampaui batasnya, janganlah berusaha untuk berijtihad sendiri, akan tetapi bertanyalah kepada ahli ilmu; sebagaimana firman Allah -Ta’aalaa-:

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ahludz dzikri adalah ahli ilmu –sebagaimana disebutkan dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 758)-.

✅ [4]- Kalau seorang yang tidak berilmu kemudian dia tidak mau bersandar kepada orang yang berilmu; maka dia akan menjadi:

هَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ يَمِيْلُوْنَ مَعَ كُلِّ رِيْحٍ؛ لَمْ يَسْتَضِيْئُوْا بِنُوْرِ الْعِلْمِ وَلَمْ يَلْجَأُوْا إِلَى رُكْنٍ وَثِيْقٍ

Manusia bodoh yang mengikuti setiap seruan, condong mengikuti setiap angin, tidak mempunyai cahaya ilmu dan tidak bersandar kepada tiang yang kokoh.”

-sebagaimana dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Thalib dalam wasiatnya kepada Kumail bin Ziyad- [Lihat: Al-Maqaalaat 1, makalah ke-30].

Dan yang lebih tepat dari maksud ‘Ali -radhiyallaahu ‘anhu- adalah: bahwa mereka bukan orang-orang yang memiliki bashirah (ilmu yakin) yang bisa mengambil cahaya dari ilmu tersebut, dan mereka tidak mau menuju kepada orang berilmu yang memiliki bashirah untuk taqlid kepadanya, sehingga dia menjadi orang yang tidak mempunyai bashirah dan tidak mau mengikuti orang yang memiliki bashirah.”

[Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- dalam “Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/410).

Akan tetapi bukan berarti beliau menganjurkan untuk bertaqlid bagi orang yang mampu memahami dalil (seperti para penuntut ilmu) atau berijtihad di dalamnya (seperti para ulama), karena beliau membagi manusia menjadi 3: (1)muqallid (orang yang taqlid), (2)ulama, dan (3)para penuntut ilmu yang bisa mempelajari dalil. Lihat: I’laamul Muwaqqi’iin (II/538- cet. III)]

✅ [5]- Dan kita lihat dalam realita dakwah; banyak sekali orang yang melampaui batas kelimuannya: seorang yang hanya pantas menjadi makmum; dia justru memilih untuk menjadi imam, orang awam yang harusnya diam; dia justru membahas dan merajihkan (menguatkan) pendapat dengan mengikuti hawa nafsu dan perasaan, dan lain-lain -apalagi dengan adanya Medsos-, juga orang-orang kaya dan panitia pengajian; tampil untuk mengatur jalannya Dakwah, serta artis dan pejabat -yang jelas tidak berilmu-; menjadi pembicara dan pengarah bagi para penuntut ilmu??!!. Hal-hal inilah yang menjadikan keadaan semakin membingungkan dan menjadikan api fitnah semakin besar dan berkobar.

بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ * وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (Al-Qiyamah: 14-15)

Di antara pujian Imam Al-Albani -rahimahullaah- terhadap salah seorang muridnya:

لاَ يَقُوْلُ إِلاَّ مَا وَصَلَ إِلَيْهِ عِلْمُهُ

Dia tidak mengatakan kecuali apa yang ilmunya sampai kepadanya.”

[Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah (I/32)]

-AL-MAQAALAAT 2 (hlm. 109-113), karya: Ahmad Hendrix-

===

  • ➡ KAPAN SEORANG TERCELA DALAM MASALAH IJTIHADIYYAH?

Syaikh ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi -rahimahullaah– (wafat th. 1386 H) berkata:

“(Dalam menghadapi) masalah ijtihadiyyah: cukup padanya seseorang mengerahkan usahanya untuk mengetahui mana yang kuat, atau lebih kuat, atau yang lebih berhati-hati; untuk kemudian diambil (pendapat) tersebut.

Musibah hanya datang dalam masalah ijtihadiyyah pada beberapa segi:

Pertama: Kurang maksimal dalam mengerahkan usaha (untuk mencari kebenaran).

Kedua: Berpegang dengan sesuatu yang (dia tahu bahwa itu) bukan kebenaran.

Ketiga: Menggunakan tarjiih (menguatkan pendapat) dengan menggunakan perasaan yang sumbernya adalah hawa nafsu.

Keempat: Tidak meninggalkan (pendapat sendiri) yang telah jelas bahwa selain (pendapatnya)nya adalah lebih benar daripada pendapatnya.

Kelima: Memusuhi orang yang menyelisihinya padahal ada kemungkinan bahwa dialah yang benar, dan (memusuhi orang yang) tampak padanya bahwa kalaupun dia salah; maka dia memiliki udzur.”

[“Al-Qaa-id Ilaa Tash-hiihi Al-‘Aqaa-id” (hlm. 23)]

-diterjemahkan oleh: Ahmad Hendrix-

====(lanjut ke Halaman 2)