Kisah 10 Orang Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1. Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Adalah Orang-orang Pilihan 

2. Para Pemetik Janji Surga dan Orang-orang yang Pasti Masuk Neraka

3. Siapakah Sepuluh Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga

4. Zubair bin Awwam Radhiallahu ‘Anhu

5. Saad bin Abi Waqqash Pemilik Doa Mustajab

6. Abu Ubaidah Al-Jarrah, Orang Kepercayaan Umat Ini

7. Said Bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu

8. Abdurrahman Bin Auf (Sahabat Yang Sangat Dermawan)

9.Keutamaan Ustman Bin Affan

10. Thalhah bin ‘Ubaidiullah

11.Keutamaan Ali bin Abi Thalib

12.Keutamaan Umar Bin Khattab

13.Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq

10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga– Kitab Al-Intishar (Ustadz Badrusalam, Lc.)

SepuluhSahabat yang Dijamin Masuk Surga-Ust Abu Ubaidah As Sidawy

Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka-Ust Firanda Andirja

Madrasah Karakter –Ustadz Syafiq Bin Riza Basalamah

Pesona Kenikmatan Akhirat – UstadzFiranda Andirja, M.A

Ust. Abdurrahman – CiriLelaki Shalih


Ebook

Buku Biografi 60 Sahabat Nabi (Ummul Qura)

10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Sejarah Rasulullah

Kisah Abu Bakar SiddiqRadhiyallahu ‘Anhu

Kisah Ali Bin Abi ThalibRadhiyallahu ‘Anhu

Kisah Umar Bin KhattabRadhiyallahu ‘Anhu

===

Kisah 10 Orang Yang Dijamin Masuk Surga

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Ringkasan Kisah 10 Orang Yang Dijamin Masuk Surga (1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini kisah singkat 10 orang yang dijamin masuk surga, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.

  • Siapakah 10 orang yang dijamin masuk surga?

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«أَبُو بَكْرٍ فِي الجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ فِي الجَنَّةِ»

Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani).

  • Abu Bakar Ash Shiddiq

Namanya adalah Abdullah bin Abi Quhafah. Awalnya bernama Abdul Ka’bah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya dengan Abdullah. Ia juga disebut Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagi ‘atiq (orang yang dibebaskan dari neraka), dan disebut Ash Shiddiq (sangat membenarkan), karena membenarkan peristiwa isra’ dan mi’raj ketika orang-orang mendustakan. Ia selalu hadir dalam semua peperangan yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tetap tegar pada perang Uhud dan perang Hunain ketika orang-orang melarikan diri. Melalui Abu Bakar, masuk ke dalam Islam Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair, Thalhah dan lain-lain. Ia adalah orang terbaik umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah seorang dermawan yang menyedekahkan semua hartanya di jalan Allah. Ia adalah kawan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa Jahhiliyyah maupun di masa Islam. Demikian pula orang yang menemani Beliau ketika berhijrah. Di masa khilafahnya, ia memerangi orang-orang yang murtad, orang-orang yang enggan membayar zakat, dan orang yang mengaku nabi. Banyak hadits-hadits yang datang yang menyebutkan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

  • Umar bin Khaththab Al Faruq

Panggilan Umar adalah Abu Hafsh, dan digelari dengan Al Faruq (karena dengannya Allah memisahkan antara yang hak dan yang batil). Sebelumnya, Ia termasuk pemuka Quraisy dan juru bicara mereka antar beberapa kabilah. Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar memusuhi Beliau dan para pengikutnya, kemudian Allah memberikan kepadanya hidayah kepada Islam, lalu ia masuk Islam di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah Al Arqam pada bulan Dzulhijjah tahun ke-6 setelah kenabian; kira-kira tiga hari setelah masuk Islamnya Hamzah. Umar masuk Islam setelah membaca surat Thaha dari lembaran yang dipegang saudarinya Fathimah binti Khaththab radhiyallahu ‘anha. Dengan masuk Islamnya Umar, maka kaum muslimin semakin kuat. Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Umar, ia berkata, “Ketika aku masuk Islam, maka penduduk Mekkah membicarakan orang yang paling keras memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abu Jahal, maka aku mendatanginya dan memukul pintunya, kemudian ia keluar menemuiku, lalu ia berkata, “Selamat datang! Apa yang membuatmu datang?” Aku menjawab, “Aku datang untuk memberitahukan dirimu, bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad serta membenarkan apa yang Beliau bawa,” maka Abu Jahal menutup pintunya di hadapanku dan berkata, “Semoga Allah menburukkanmu dan memburukkan alasan kamu datang.” Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Keislaman Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Sebelumnya kami tidak sanggup shalat di Baitullah sampai Umar masuk Islam. Setelah ia masuk Islam, maka Umar melawan mereka sehingga kami dapat shalat (di sana).” Pada saat ada perintah hijrah, maka Umar berhijrah secara terang-terangan. Umar selalu hadir dalam semua peperangan yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak ayat Al Qur’an yang turun sejalan dengan pandangan Umar. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kalau ada nabi setelahku, maka dia adalah Umar bin Khaththab.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim dari Uqbah bin Amir, dan diriwayatkan oleh Thabrani dari Ishmah bin Malik, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 5284).

Umar dikenal sebagai orang yang zuhud, luas ilmunya, berani dalam menampakkan kebenaran, dan setelah diangkat sebagai khalifah, ia menjadi contoh keadilan pada zamannya dan contoh keadilan sampai sekarang. Pada masa khilafahnya, wilayah Islam semakin luas, dua negara adidaya dunia (Persia dan Romawi) berhasil dipatahkan kekuatannya, bahkan kekuasaan Persia lenyap pada zamannya. Pada zamannya, Irak, Syam, Mesir, Al Jazirah, wilayah Bakr, Armenia, Araniyah, berbagai wilayah Al Jibal, berbagai wilayah Persia, Khuzstan, dan lainnya berhasil ditaklukkan. Ia adalah orang yang pertama menyebut Amirul Mu’minin (pemimpin kaum mukmin) untuk dirinya, orang yang pertama menetapkan kalender Hijriah, dan orang yang pertama membentuk dewan dalam pemerintahannya. Ia wafat sebagai syahid tiga hari setelah ditikam oleh Abu Lu’luah Al Majusi saat mengimami shalat. Saat diketahui pembunuhnya, Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku muslim.” Ia dimakamkan di samping kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kawannya Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

  • Utsman bin Affan Dzunnurain

Utsman masuk Islam melalui ajakan Abu Bakar Ash Shiddiq. Disebut Dzunnurain (pemilik dua cahaya), karena ia menikahi puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Ruqayyah. Setelah Ruqayyah wafat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkannya dengan puterinya, yaitu Ummu Kultsum. Ia berhijrah dua kali; ke Habasyah dan ke Madinah. Utsman adalah orang yang kaya dan banyak berinfak, ia yang menyiapkan separuh perlengkapan Jaisyul ‘Usrah untuk melawan Romawi, yang membeli sumur Rumah untuk kaum muslimin, dan sebagai seorang pemalu sehingga para malaikat malu kepadanya. Di akhir kehidupannya, Utsman difitnah sehingga orang-orang Mesir, Basrah, Kufah, dan Madinah yang termakan fitnah mengepung rumahnya. Utsman tidak mau melawan mereka padahal ia mampu, untuk menjaga darah kaum muslimin, hingga akhirnya sebagian mereka menaiki rumahnya dan membunuhnya saat ia sedang membaca Al Qur’an.

  • Ali bin Abi Thalib

Ali adalah putera paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan puterinya, Fatimah –pemimpin wanita surga- kepadanya, dan ia adalah ayah dari dua pemimpin pemuda surga, yaitu Al Hasan dan Al Husain. Ia adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Ia pernah tidur di kasur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau berhijrah dan mengenakan burdahnya untuk mengelabui kaum musyrikin yang mengepung rumah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, ia diperintahkan juga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan semua barang titipan kepada pemiliknya. Setelahnya, ia menyusul berhijrah dengan berjalan kaki sehingga kakinya bengkak. Ia hadir dalam perang Badar dan memberikan jasa besar dalam peperangan itu, ia juga hadir dalam perang Uhud dan mendapat beberapa luka, serta yang memegang panji perang Uhud saat Mush’ab bin Umair syahid. Ia hadir dalam semua perangan yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain perang Tabuk, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya untuk mengurus keluarganya di Madinah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya, “Tidak ridhakah engkau, bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa. Hanyasaja tidak ada lagi nabi setelahku.” Pada perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan panji kepadanya setelah sebelumnya menyerahkan kepada Abu Bakar dan Umar namun belum berhasil menaklukkannya, hingga kemudian diserahkan kepadanya, dan akhirnya ia berhasil menaklukkannya. Ali berhasil membunuh tokoh kaum musyrik ksatria bangsa Arab, yaitu Amr bin Abdi Wud dalam perang Khandaq. Setelah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, maka ia membaiat Abu Bakar, demikian pula membaiat Umar, dan membaiat Utsman radhiyallahu ‘anhum. Di akhir masa khilafah Utsman, saat rumahnya dikepung, maka Ali menawarkan Utsman untuk memberikan perlindungan kepadanya dengan membawa anak-anaknya, tetapi Utsman menolaknya untuk menjaga darah kaum muslimin. Saat Utsman dibunuh, maka sebagian besar orang sepakat untuk membaiatnya, namun sebagian lagi menolak untuk membaiatnya. Mu’awiyah sempat memeranginya karena menuntut agar pembunuh Utsman segera diqishas, sedangkan Ali memandang untuk pembaiatan harus lebih dahulu dilakukan agar kaum muslim bersatu, kemudian dicari pembunuh Utsman sehingga terjadilah perang Shiffin. Setelah itu, Ali dan Mu’awiyah berdamai kembali, namun sebagian pengikuti Ali menolak damai dan malah memerangi Ali karena mau berdamai dengan Mu’awiyah. Mereka ini adalah orang-orang Khawarij yang kemudian diperangi oleh Ali. Kemudian ada tiga orang Khawarij yang membuat makar untuk membunuh Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin Ash, namun mereka tidak berhasil membunuh selain Ali bin Abi Thalib, ia berhasil dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljim saat Ali sedang berjalan ke masjid untuk shalat Subuh. Ali radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang cerdas dan banyak orang yang bertanya kepadanya tentang masalah agama.

  • Zubair bin Awam

Zubair bin Awam bin Khuwailid, panggilannya Abu Abdillah. Ia adalah pembela (hawariy) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putera bibi Beliau, yaitu Shafiyyah. Ia masuk Islam saat berusia 12 atau 15 tahun, dan termasuk As Sabiqunal Awwalun. Istrinya bernama Asma’ binti Abi Bakar yang membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau berhijrah. Zubair adalah orang yang pertama menghunus pedangnya dalam Islam, yaitu ketika di Mekkah saat ada berita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibunuh, maka Zubair segera menghunus pedangnya dan mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di area atas Mekkah, kemudian Beliau bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu wahai Zubair?” Zubair menjawab, “Aku diberitahukan, bahwa engkau ditangkap.” Maka Beliau mendoakannya dan mendoakan pedangnya. Zubair berhijrah dua kali; ke Habasyah dan ke Mekkah. Ia hadir dalam semua peperangan dan termasuk ksatria Islam serta orang yang paling berani di antara mereka. Tentang Zubair, Umar berkata, “Zubair termasuk rukun di antara rukun-rukun agama.” Zubair dikenal sebagai orang yang dermawan dan mulia. Ia termasuk salah seorang di antara mereka yang dijamin masuk surga dan termasuk di antara enam orang yang dipilih Umar untuk menjadi khalifah setelahnya. Ia menamai anak-anaknya dengan nama para sahabat yang gugur sebagai syahid. Ia hadir dalam perang Jamal melawan Ali, lalu Ali berdialog dengannya, kemudian ia mengerti dan meninggalkan peperangan itu. Tetapi Abdullah bin Jurmudz membuntutinya dan membunuhnya diam-diam, kemudian membawa kepalanya kepada Ali, maka Ali menangis karenanya dan tidak mengizinkan pembunuhnya masuk menemuinya serta menyampaikan kabar neraka kepadanya. Hal ini terjadi pada tahun ke-36 H, sedangkan usia Zubair ketika itu 67 tahun.

  • ➡ Sa’ad bin Abi Waqqash

Sa’ad bin Malik bin Wuhaib Al Qurasyi Az Zuhri. Ia termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam. Ia masuk Islam saat berusia 17 tahun, dan termasuk salah seorang yang dijamin masuk surga, dan termasuk orang-orang yang dipilih Umar dalam dewan syura untuk memilih khalifah setelahnya. Ia adalah orang yang pertama menumpahkan darah di jalan Allah, yaitu ketika kaum musyrik menghalangi jalan kaum muslim saat mereka hendak shalat di salah satu perbukitan Mekkah, lalu Sa’ad memukul salah seorang musyrik dengan tulang unta serta melukainya. Ia juga orang pertama yang melempar panahnya di jalan Allah. Ia didoakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad apabila ia berdoa kepada-Mu.” Oleh karena itu, Sa’ad tidaklah berdoa kecuali dikabulkan. Ia hadir dalam semua peperangan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memberikan jasa dalam perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lepaslah panahmu, biarkanlah bapak dan ibuku sebagai tebusanmu.” Diriwayatkan, bahwa pada perang itu, ia berhasil melepaskan 1000 panah. Umar pernah mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan untuk memerangi Persia. Ia adalah komandan pasukan yang berhasil mengalahkan orang-orang Persia di Qadisiyah. Ia juga yang menaklukkan kota-kota Kisra, dan yang membangun kota Kufah. Umar mengangkatnya sebagai gubernur Irak, Utsman juga sama mengangkatnya sebagai gubernur Kufah. Pada zaman fitnah, Sa’ad memisahkan diri dari kedua kelompok yang bertikai itu. Sa’ad radhiyallau ‘anhu wafat kira-kira pada tahun 55 H dan dimakamkan di Madinah. Ia adalah orang Muhajirin yang terakhir wafat.

===(lanjut ke Halaman 2)

Iklan